Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Identifikasi Konstruksi dan Kualitas Kain Mori Sebagai Bahan Baku Pembuatan Batik Rumiyati, Valentina Sri Pertiwi; Putranto, Adhy Prastyo Eko; Amar, Amar; Nazar, Yunus; Oktaviani, Bintan
Jurnal Tekstil Vol 5 No 1 (2022): Vol 5 No 1 Juni 2022
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v5i1.21

Abstract

Penelitian berjudul Identifikasi Konstruksi dan Kualitas Kain Mori sebagai Bahan Baku Pembuatan Batik dilakukan karena adanya permasalahan yang timbul di home industri batik antara lain belum mengetahui jenis konstruksi kain mori dan kualitasnya yang paling sesuai untuk membuat produk batik yang berkualitas, oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan identifikasi konstruksi dan kualitas kain mori yang biasa digunakan di home industry batik. Tujuan penelitian adalah mengetahui konstruksi dan kualitas kain mori yang digunakan di home industri dan setelah diketahui konstruksi dan kualitasnya. maka para pengusaha batik mampu memilih kain mori yang berkualitas. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode experiment yaitu membandingkan hasil uji kain mori yang digunakan sebagai bahan untuk batik yang diambil dari tujuh home industry di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan SNI 08-0281-2004, Kain Mori Prima dan SNI 08-0280-2004, Kain Mori Primisima. Penelitian dilaksanakan di AK Tekstil Solo yaitu di Laboratorium pengujian. Parameter yang diuji adalah konstruksi (nomor benang dan anyaman) dan sifat fisik (lebar kain, berat kain per m2, kekuatan tarik/2,5 mm arah lusi dan pakan, serta kekuatan sobek arah lusi dan pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel B dan D memenuhi persyaratan SNI 08-0281-2014, Kain Mori Prima kelas 1. Sampel A dan C memenuhi persyaratan SNI 08-0281-2014, Kain Mori Prima kelas 2 kecuali untuk parameter berat kain, Sampel E memenuhi persyaratan SNI 08-0281-2014, Kain Mori Prima kelas 2 kecuali untuk parameter kekuatan Tarik arah pakan. Sampel F memenuhi persyaratan SNI 08-0280-2014, Kain Mori Primisima kelas 2 kecuali parameter lebar kain, nomor benang (Ne) benang lusi, dan kekuatan Tarik arah pakan. Sampel G memenuhi persayaratan SNI 08-0281-2014, Kain Mori Prima kelas 2 kecuali parameter berat kain, nomor benang (Ne) lusi dan pakan.
Pengaruh Tetal Kain Mori terhadap Penyerapan Zat Warna pada Proses Pembuatan Motif Batik dengan Teknik Pencapan Rumiyati, Valentina Sri Pertiwi; Putranto, Adhy Prastyo Eko; Amar, Amar; Nazar, Yunus; Oktaviani, Bintan
Jurnal Tekstil Vol 6 No 2 (2023): Vol 6 No 2 Desember 2023
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v6i1.51

Abstract

Kain mori adalah kain tenun kapas yang memiliki anyaman polos, tetal rapat, sudah diputihkan dan tanpa atau diberi penyempurnaan kanji, digunakan untuk bahan batik. Kain mori yang tersedia di industri tidak sesuai dengan harapan khususnya dalam hal zat warna yang terserap pada kain. Penelitian  dilakukan untuk mengetahui pengaruh tetal kain mori terhadap  penyerapan zat  warna pada proses pembuatan motif batik cap dengan teknik pencapan. Penelitian menggunakan metode experiment, sampel kain diambil di Industri Kain Tenun DIY sebanyak tiga sampel   yaitu KM 125, KM 309, KM 2243. Masing-masing sampel diperlakukan sama yaitu kain mori diproses menjadi kain motif batik dengan teknik pencapan. Proses pencelupan dikerjakan dalam media air tanah,  menggunakan pewarna naftol 3 g/l, soda kostik (NaOH teknis dalam bentuk bubuk) 1,5 g/l dan garam naftol 9 g/l. Air yang dibutuhkan untuk proses pewarnaan 3,5 l/lembar kain mori dengan panjang 2,5 m lebar 1,20 m. Kain motif batik dengan teknik pencapan, diuji ketuaan warna dan tahan luntur zat warna terhadap pencucian sabun, dinilai dengan perubahan warna menggunakan grey scale, dan penodaan menggunakan staining scale, mengacu SNI-ISO-7211:2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tetal kain yang berbeda berpengaruh terhadap penyerapan zat warna ke dalam kain motif batik dengan teknik pencapan, Semakin tinggi tetal kain, kerapatan semakin tinggi dan semakin banyak menyerap zat warna yang menjadikan warna kain semakin tua/gelap. Kain mori KM 309 dan KM 125 mempunyai warna sangat tua sedangkan KM 2243 mempunyai  warna tua. Tetal kain tidak berpengaruh terhadap ketahanan luntur zat warna terhadap pencucian.
Efisiensi pada Mesin Shuttle 75” SGA Tipe 1515 melalui Perbaikan Teropong Tidak Oper Amar, Amar; Rumiyati, Valentina Sri Pertiwi; Oktaviani, Bintan; Astutik, Rina Aprilia Puji
Jurnal Tekstil Vol 6 No 1 (2023): Vol 6 No 1 Juni 2023
Publisher : Akademi Komunitas Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59432/jute.v6i1.56

Abstract

Penyebab dominan dari mesin tenun yang sering berhenti antara lain terjadinya kerusakan mesin, salah satu kerusakan pada bagian change berupa teropong yang tidak oper. Penelitian ini menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil analisis ditemukan tiga faktor yang mempengaruhi teropong tidak oper yaitu, faktor manusia, faktor mesin, dan faktor metode. Faktor manusia disebabkan oleh mekanik kurang teliti dalam melakukan perbaikan yang menyebabkan mesin mengalami kerusakan berulang. Faktor mesin disebabkan oleh jarak cross spindle dengan cross spindle hook yang tidak sesuai akibat adanya getaran mesin.  Faktor metode disebabkan oleh penyetelan weft feeler yang kurang tepat sehingga mengakibatkan feeler tidak bisa mendeteksi benang. Cara mengatasi faktor yang menyebabkan teropong tidak oper adalah melakukan penyetelan ulang terhadap weft feeler dengan jarak antara feeler dan palet 1,5 mm, melakukan penyetelan ulang terhadap cross spindle dengan cross spindle hook dengan jarak 0,8 mm, serta melakukan pengarahan terhadap mekanik supaya lebih meningkatkan ketelitian ketika melakukan perbaikan atau pengecekan mesin. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa jumlah teropong yang tidak oper pada salah satu mesin shuttle sebanyak 29 kali selama 7 jam dan rata-rata efisiensi selama tiga shift atau sebesar 65%. Setelah dilakukan penanganan dan perbaikan, jumlah teropong yang tidak oper mengalami penurunan sebesar 79,31 % dengan jumlah 6 kali selama 7 jam, sedangkan efisiensi mesin mengalami kenaikan sebesar 13,33% dengan rata-rata efisiensi selama tiga shift yaitu 75%.
PENGARUH SUHU DALAM PROSES PENGHILANGAN KANJI POLIVINIL ALKOHOL (PVA) TERHADAP SIFAT FISIK KAIN KAPAS 100% Kurniawan, Kurniawan; Andika Ramadhan, Haza; Oktaviani, Bintan
Texere Vol 23, No 1 (2025): Texere Volume 23 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Politeknik STTT Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53298/texere.v23i1.03

Abstract

The removal of size from sarong woven fabric that has undergone yarn dyeing is very important to prepare the fabric for the next process. The handle of the sarong fabric will become stiff if the size removal process is not done perfectly. The size used to increase the strength of the yarn in the weaving of woven fabrics uses a synthetic polyvinyl alcohol size type. The size removal method is carried out using hot water by varying the process temperature of 70o C, 80o C, 90o C, and 100o C. The results of the starch removal process were evaluated for absorbency, stiffness and color difference values. The results showed that increasing the temperature of the size removal process significantly increased the effectiveness of polyvinyl alcohol removal. The optimum temperature for size removal was at 100o C, resulting in a weight reduction of 9.62%. The absorption test increased by 69.33% or 18.4 seconds. Fabric stiffness decreased drastically, with the largest decrease in stiffness of 63.15% in the warp direction and 61.3% in the weft direction. Color difference measurements showed the smallest ΔE value among other size removal temperature variations with a value of 0.36.
PENGARUH NOMOR BENANG PAKAN TERHADAP KEKUATAN FISIK KAIN DENIM RUMIYATI, V SRI PERTIWI; PUTRANTO, ADHY PRASTYO EKO; AMAR, AMAR; NAZAR, YUNUS; OKTAVIANI, BINTAN; ROSYADI , HEFNI
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v4i2.2773

Abstract

The aim of this research is to determine the type of weft thread that can be used to make denim fabric according to SNI 0560:2008 in terms of its physical properties (tensile strength and tear strength). The research method that will be used is the experimental research method. The materials used for research are one type of warp thread OE 16, three types of weft thread namely OE 9, OE 11 and OE 13, each type of thread has a different tetal, namely 46, 50 and 54. Denim fabric is made using a Rapier machine. Picanol, 2/1 twill woven, carried out at the Solo AK Textile Workshop. The resulting denim fabric was tested for tensile strength in the warp & weft direction and tear strength in the warp & weft direction. The test results were evaluated and compared with the quality requirements for denim fabric according to SNI 0560:2008 and the influence of two factors, namely number and thread retention on physical strength, was analyzed using a simple factorian. Tensile and tear strength testing was carried out at the Yogyakarta Handicraft and Batik Industry Certification and Services Center. The results of the research show that the weft thread number has a significant effect on the tensile strength of denim woven fabric in the warp direction, that is, the greater the thread number, the higher the tensile strength in the warp direction, likewise the thread number has a significant effect on the tear strength in the weft direction, namely the greater the thread number, the lower the tear strength. towards the feed. Yarn number does not have a significant effect on the tensile strength of denim woven fabric in the weft direction and the tear strength of denim woven fabric in the warp direction. Tenum denim fabric products processed using OE 16 warp threads, OE 9, 11, 13 tetal 46, 50 and 54 warp threads meet the requirements of SNI 0560:2018 in terms of fabric weight, tensile strength and tear strength. ABSTRAKTujuan penelitian  adalah mengetahui jenis benang pakan yang dapat digunakan untuk membuat kain denim sesuai SNI 0560:2008 ditinjau dari sifat fisiknya (kekuatan tarik, dan kekuatan sobek). Metode penelitian yang akan digunakan  adalah metode penelitian eksperimen. Bahan yang digunakan untuk penelitian yaitu satu jenis benang lusi OE 16, tiga jenis benang pakan yaitu OE 9, OE 11, dan OE 13, masing-masing jenis benang mempunyai tetal yang berbeda yaitu 46, 50 dan 54. Kain denim dibuat menggunakan mesin Rapier Picanol, anyaman twill 2/1, dilaksanakan di Workshop  AK-Tekstil Solo. Kain denim yang dihasilkan dilakukan uji kekuatan tarik arah lusi dan pakan serta kekuatan sobek arah lusi dan pakan. Hasil uji dievaluasi dan dibandingkan dengan syarat mutu kain denim sesuai SNI 0560:2008 serta pengaruh dua factor yaitu nomor  dan tetal benang terhadap kekuatan fisik, dianalisis menggunakan factorial sederhana. Pengujian kekuatan tarik dan sobek dilaksanakan di Balai Besar Sertifikasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan Dan Batik Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nomor benang pakan berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik kain tenun denim arah lusi yaitu semakin besar nomor benang semakin tinggi kekuatan tariknya ke arah lusi, demikian juga nomor benang berpengaruh signifikan terhadap kekuatan sobek arah pakan yaitu semakin besar nomor benang semakin rendah kekuatan sobeknya ke arah pakan. Nomor benang tidak berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik kain tenun denim arah pakan dan kekuatan sobek kain tenun denim kearah lusi. Produk kain tenum denim yang diproses menggunakan benang lusi OE 16, benang pakan OE 9, 11, 13 tetal 46, 50, dan 54 memenuhi persyaratan SNI 0560:2018 ditinjau dari berat kain, kekuatan tarik dan kekuatan sobek.