Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesetaraan Gender Sebagai Solusi Bagi Perempuan Sasak di Tengah Belenggu Hegemoni Budaya Nyesek Susmawati; Wahidah, Ananda; Maulida Afriani, Sukma; Mulia Ningsih, B.Sri; Harun, Ari; Nazira, Arni
Rayah Al-Islam Vol 7 No 3 (2023): Rayah Al Islam Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i3.855

Abstract

Lombok salah satunya dikenal dengan banyaknya tradisi atau budaya yang unik. Salah satu budaya unik yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah budaya nyesek. Nyesek dijadikan sebagai salah satu syarat menikah bagi kaum perempuan di Suku Sasak. Sejalan dengan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ; (1) kondisi perempuan Suku Sasak ditengah belenggu hegemoni budaya nyesek (2) kesetaraan gender yang berlaku bagi perempuan Suku Sasak. Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi secara langsung, wawancara mendalam dan dokumentasi. Kemudian data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil penelitian ini ditemukan bahwa: 1) terdapat perempuan yang terbelenggu aksesnya oleh budaya nyesek yang masih dilestarikan hingga saat ini, 2) terdapat perempuan yang sudah bebas dari budaya nyesek dan adanya kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam akses pendidikan maupun pekerjaan tanpa adanya diskriminasi. Lombok is known for its many unique traditions or cultures. One of the unique cultures that is still preserved today is the nyesek culture. Nyesek is used as one of the marriage requirements for women in the Sasak tribe. In line with this, the aim of this research is to find out; (1) the condition of Sasak women amidst the shackles of cultural hegemony sucks (2) gender equality that applies to Sasak women. In this research, the approach used is a qualitative approach using the phenomenological method. The data collection techniques used in this research are direct observation, in-depth interviews and documentation. Then the data was analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research found that: 1) there are women whose access is restricted by the sucking culture which is still perpetuated to this day, 2) there are women who are free from the sucking culture and there is gender equality between men and women in access to education and employment without there is discrimination.
NILAI SOSIAL DAN RELIGI PROSESI BISOQ MENIK (CUCI BERAS) DALAM TRADISI MAULID ADAT BAYAN hana, Hana Maulida Safitri; Maulida Afriani, Sukma; Kamalia, Ulfi; Sa’adah, Wardhatul; Nur Hafiz, Alfi; ZM, Hamidsyukrie; Utomo, Jepri
Journal of Social Education Sasambo Vol 3 No 1 (2025): Journal of Social Education Sasambo (SOCED SASAMBO)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Mataram - Sociology Education Program Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/socedsasambo.v3i1.9796

Abstract

ABSTRAK Tradisi Bisoq Menik merupakan salah satu rangkaian dalam perayaan Maulid Adat Bayan di Desa Karang Bajo, Kabupaten Lombok Utara, yang mengandung nilai sosial dan religius yang tinggi. Prosesi mencuci beras oleh perempuan adat ini bukan sekadar ritual fisik, tetapi simbol kebersihan lahir dan batin serta bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan ajaran Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengungkap makna di balik ritual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bisoq Menik mencerminkan integrasi antara nilai spiritual, nilai sosial, dan kearifan lokal masyarakat Sasak. Tradisi ini memperkuat solidaritas, menjaga stabilitas sosial, serta menjadi sarana pewarisan nilai budaya melalui mekanisme kontrol sosial yang ketat. Didasarkan pada teori fungsionalisme struktural Emile Durkheim, prosesi ini berfungsi menjaga keteraturan sosial dan identitas kolektif masyarakat di tengah arus modernisasi.