Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

HUBUNGAN MEKANISME KOPING KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS RONGKOP KABUPATEN GUNUNGKIDUL Fitrianingtias, Ervina; Istichomah, Istichomah; Juni Andika, I Putu; Putranto, Dian; Wulandari, Setyo Retno
NURSING UPDATE : Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan P-ISSN : 2085-5931 e-ISSN : 2623-2871 Vol 14 No 4 (2023): DESEMBER
Publisher : NHM PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Skizofrenia merupakan kelainan jiwa yang parah sehingga mengakibatkan stress bagi penderita dan anggota keluarganya. Data statistik yang disebutkan oleh World Health Organization (WHO) tahun 2020 secara global diperkirakan 379 juta orang terkena gangguan jiwa, 20 juta diantaranya menderita skizofrenia. Tujuan : Mengetahui hubungan mekanisme koping keluarga dengan kekambuhan pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rongkop Kabupaten Gunungkidul. Metode : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 71 responden, dengan Teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner. Analisis yang digunakan uji statistic Spearman Rank. Hasil : Sebagian besar keluarga menggunakan mekanisme koping adaptif yaitu sebanyak 46 orang (64,8%) dengan kekambuhan Pasien Skizofrenia sebagian besar dalam kategori rendah sebanyak 39 orang (54,9%). Hasil uji kolerasi menunjukan adanya hubungan mekanisme koping keluarga dengan kekambuhan pasie Skizofrenia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rongkop Kabupaten Gunungkidul (p=0,000). Kesimpulan : Ada hubungan mekanisme koping keluarga dengan kekambuhan pasien Skizofrenia di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Rongkop Kabupaten Gunungkidul.
ANALISIS KESEHATAN MENTAL MAHASISWA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANTI KOSALA Yulianti, Tunjung Sri; Juni Andika, I Putu
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 12 No 2 (2024): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v12i2.368

Abstract

Masalah kesehatan mental remaja mulai disadari sebagai sesuatu yang sangat penting. Survey I-NAMHS (Indonesia- National Adolescent Mental Health Survey) pada tahun 2021 di Indonesia diperoleh hasil satu dari tiga remaja  (34,9%) setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental remaja. Meskipun kondisi gangguan mental akan sangat bergantung pada kerentanan masing-masing  individu ketika mendapatkan tekanan. Kondisi yang demikian tentu tidak dapat diabaikan karena akan menimbulkan masalah  seperti hambatan dalam proses pembelajaran, gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari, sampai dengan timbulnya masalah kesehatan yang lebih berat atau gangguan jiwa. Data studi pendahuluan menunjukkan beberapa mahasiswa mengalami masalah non akademik sehingga harus dilakukan konseling dan sejauh ini belum pernah dilakukan survey tentang kesehatan mental mahasiswa. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala. Subyek penelitian ini mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain korelasi pada 161 responden dengan random sampling, menggunakan kuesioner The Mental Health Continum-Short Form (MHC-SF), Depression Anxiety Stress Scale (DASS) dan kuesioner terkait faktor yang mempengaruhi kesehatan mental. Analisa data dengan Chi Square dan regresi logistik. Hasil penelitian : (1) secara bivariat faktor individu, faktor keluarga, faktor lingkungan dan faktor sosial mempengaruhi kesehatan mental dengan nilai p = < 0,005. (2) secara bersama-sama faktor individu lebih mempengaruhi kesehatan mental remaja dengan nilai p = 0.006 dan OR 3.612. Kesimpulan penelitian menunjukkan faktor individu lebih berpengaruh secara parsial terhadap kesehatan mental remaja. Kata kunci: faktor individu, faktor keluarga, faktor lingkungan,  faktor sosial, kesehatan mental Mental health problems in adolescents are beginning to be recognized as something very important. The I-NAMHS (Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey) survey in 2021 in Indonesia found that one in three adolescents (34.9%) equivalent to 15.5 million Indonesian adolescents had one mental health problem in the last 12 months. Many factors can affect adolescent mental health. Although the condition of mental disorders will greatly depend on the vulnerability of each individual when under pressure. Such conditions certainly cannot be ignored because they will cause problems such as obstacles in the learning process, disruption in carrying out daily activities, to the emergence of more serious health problems or mental disorders. Preliminary study data shows that some students experience non-academic problems so that counseling must be carried out and so far there has been no survey on student mental health. Research objectives: to determine the factors that influence the mental health of students at the Panti Kosala Health Sciences College. Research subjects: students at the Panti Kosala Health Sciences College. Method: observational analytical research with a correlation design on 161 respondents with random sampling, using the Mental Health Continum-Short Form (MHC-SF) questionnaire, Depression Anxiety Stress Scale (DASS) and questionnaires related to factors that influence mental health. Data analysis with Chi Square and logistic regression. Research results: (1) bivariately individual factors, family factors, environmental factors and social factors influence mental health with a p value = <0.005. (2) together individual factors influence adolescent mental health more with a p value = 0.006 and OR 3.612. Conclusion: individual factors have a greater partial influence on adolescent mental health. Keywords: adolescent mental health, environmental factors, family factors, individual factors, social factors  
Pesantren Sehat: Membangun Generasi Muda yang Peduli Kesehatan melalui Pembentukan Kader Kesehatan Remaja Sebaya Christina, Tri Yahya; Sri Yulianti, Tunjung; Sriwiyati, Lilik; Safaruddin; Juni Andika, I Putu; Catur Sukmono, Antonius; Wianti, Sri; Sandramustika, Agustina
LOSARI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LOSARI DIGITAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53860/losari.v6i2.397

Abstract

Abstract. Mentoring adolescent students who are in a period of physical and psychological preservation is very important. This community service aims to form adolescent health cadres to build a young generation who care about health through peer cadres Kholifatullah Singo ludiro Islamic Boarding School. Considering that they are far from their families and live with fellow students of the same age. The method used is cadre formation and training. Cadres are formed from active students and the students' willingness to become peer adolescent health caders. Cadres are equipped with knowledge and skills through training related to adolescent health, basic care skills, and Focus Group Discussions (FGD) as provisions for cadres to be critical of students' health problems and increase cadres' self-confidence in providing education and motivation. The results obtained were the formation of 10 peer adolescent health cadres, consisting of 3 male cadres and 7 female cadres. These results are in accordance with the needs of the Islamic boarding school where most of the health problems, both physical and psychological, found were from female students. The results of the activity also showed an increase in knowledge and skills of cadres related to adolescent health. As students who do not yet have a background in health knowledge, cadres show a good understanding of adolescent health after receiving training. With the formation of cadres who have knowledge and skills related to adolescent health, cadres can become quality promotive, preventive, curative and rehabilitative for the health of adolescents of the same age as students. Keywords: Health Cadres; Healthy Islamic Boarding School; Youth Cadres; Youth Abstrak. Pendampingan remaja santri yang sedang dalam masa peralihan baik fisik maupun psikologis sangat penting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membentuk kader kesehatan remaja sebaya santri untuk membangun generasi muda yang peduli kesehatan melalui kader sebaya Pesantren Kholifatullah Singo ludiro. Mengingat mereka jauh dengan keluarga dan tinggal bersama sesama santri sebaya. Metode yang digunakan adalah pembentukan kader dan pelatihan. Kader dibentuk dari santri yang aktif serta kesuka relaan dari santri untuk menjadi kader kesehatan remaja sebaya. Kader dibekali pengetahuan dan keterampilan/ skill melalui pelatihan terkait kesehatan remaja, keterampilan perawatan dasar, serta Focus Group Discussion (FGD) sebagai bekal kader untuk kritis terhadap masalah kesehatan santri serta meningkatkan kepercayaan diri kader dalam memberikan edukasi dan motivasi. Hasil yang didapat adalah terbentuknya 10 kader kesehatan remaja sebaya, dimana terdiri dari 3 kader laki- laki dan 7 kader perempuan. Hasil ini sesuai dengan kebutuhan Pesantren dimana sebagian besar permasalahan kesehatan baik fisik maupun psikologis yang ditemukan adalah dari santri perempuan. Hasil kegiatan juga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan maupun keterampilan/skill kader terkait kesehatan remaja. Sebagai santri yang belum memiliki latar belakang pengetahuan kesehatan, kader menunjukkan pemahaman yang baik terkait kesehatan remaja setelah mendapat pelatihan. Dengan terbentuknya kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan/skill terkait kesehatan remaja, kader dapat menjadi promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang berkualitas untuk kesehatan remaja sebaya santri. Kata kunci: Kader Kesehatan; Kader Remaja; Pesantren Sehat; Remaja
PESANTREN SEHAT “DETEKSI DINI ANEMIA PADA REMAJA DI PESESANTREN KHOLIFATULLAH SINGOLODIRO LABAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH”: PESANTREN SEHAT “DETEKSI DINI ANEMIA PADA REMAJA DI PESESANTREN KHOLIFATULLAH SINGOLODIRO LABAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH” Safaruddin, Safaruddin; Christina, Tri Yahya; Juni Andika, I Putu; Jumatul , Ana; Sukmono, Antonius Catur; Sapta, Monika Wulan; Purnamawati, Fitriani
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v4i2.409

Abstract

Program Pesantren Sehat lahir untuk meningkatkan kesehatan santri melalui perbaikan sanitasi, akses layanan kesehatan, dan edukasi gizi. Anemia menjadi masalah utama remaja, khususnya santri putri, yang berdampak pada tumbuh kembang dan prestasi belajar. Deteksi dini anemia penting dilakukan di pesantren guna mendukung pencapaian SDGs dan mencegah dampak jangka panjang. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat bertema Pesantren Sehat: Deteksi Dini Anemia pada Remaja dilaksanakan di Pesantren Kholifatullah, Mojolaban, Sukoharjo. Tujuan kegiatan ini mengidentifikasi secara dini kasus anemia, sehingga dapat dilakukan intervensi cepat dan tepat guna mencegah dampak negatif yang ditimbulkan. Metode pemeriksaan anemia pada remaja melalui skrining kadar hemoglobin. Responden terdiri dari remaja awal (9,4%), pertengahan (30,2%), dan akhir (60,4%). Dari 106 remaja putri, 63,2% memiliki hemoglobin normal, dan 36,8% tidak normal. Dapat disimpulkan Pesantren Sehat dengan fokus deteksi dini anemia adalah langkah penting untuk meningkatkan kesehatan remaja putri. Tingginya kasus anemia menunjukkan perlunya intervensi gizi dan edukasi berkelanjutan. Program ini berpotensi direplikasi di pesantren lain sebagai upaya mendukung SDGs. Kata kunci: anemia; hemoglobin; pesantren sehat; remaja The pesantren sehat (healthy islamic boarding school) program was established to improve the health of students (santri) through improved sanitation, access to health services, and nutrition education. Anemia has become a major health issue among adolescents, particularly female students, as it impacts their physical growth and academic performance. Early detection of anemia in pesantren is essential to support the achievement of the sustainable development goals (SDGs) and to prevent long-term impacts. Therefore, a community service program with the theme pesantren sehat: early detection of anemia in adolescents was carried out at pesantren kholifatullah, mojolaban, sukoharjo. The aim of this program was to identify anemia cases early so that quick and appropriate interventions can be taken to prevent the negative impacts caused. Anemia screening among adolescents through hemoglobin level testing. The result showed that respondents consisted of early adolescents (9.4%), middle adolescents (30.2%), and late adolescents (60.4%). Of the 106 female adolescents, 63.2% had normal hemoglobin levels, and 36.8% had abnormal levels. It can be conclude that Pesantren sehat, with a focus on early detection of anemia, is an important step to improve the health of adolescent girls. The high prevalence of anemia indicates the need for ongoing nutritional interventions and health education. This program has the potential to be replicated in other pesantren as part of efforts to support the SDGs. Keywords: Anemia; hemoglobin; healthy pesantren; adolescents
EDUKASI DETEKSI FAKTOR RESIKO DAN TANDA GEJALA GANGGUAN JANTUNG Lilik Sriwiyati; Safaruddin, Safaruddin; Yahya Christina, Tri; Juni Andika, I Putu; Wianti, Sri; Sapta, Monika Wulan
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2025): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v4i2.412

Abstract

Penyakit kardiovaskuler masih menjadi ancaman dunia dimana penyakit ini menjadi penyebab nomor satu kematian di dunia. Data dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta tahun 2024 menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit jantung di Kota Surakarta cukup tinggi. Pemahaman masyarakat tentang faktor resiko gangguan jantung dan tanda gejala serangan penyakit jantung koroner sebelum masuk rumah sakit masih menjadi masalah di masyarakat karena sebagian besar masyarakat belum paham tentang faktor resiko serta tanda dan gejala gangguan jantung. Pertolongan yang buruk sebelum pasien mendapatkan pertolongan di rumah sakit sampai saat ini masih menjadi masalah yang sulit dipecahkan karena masyarakat sering menyepelekan tanda dan gejala yang muncul saat serangan. Untuk itu perlu diberikan edukasi tentang deteksi faktor resiko dan tanda gejala gangguan jantung. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang faktor resiko dan tanda gejala gangguan jantung. Kegiatan ini dilakukan di RSUD Ir. Soekarno Kabupaten  Sukoharjo yang dihadiri oleh 32 pasien di poliklinik rawat jalan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah dan tanya jawab. Sebelum dan setelah kegiatan tim pengabdi memberikan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan setelah diberikan edukasi. Hasil analisis tingkat pengetahuan peserta terjadi peningkatan persentase peserta dengan tingkat pengetahuan tinggi dari 37,5% menjadi 68,75%. Dapat disimpulkan bahwa setelah diberikan edukasi pengetahuan peserta tentang faktor resiko dan tanda gejala gangguan jantung meningkat. Kata kunci: edukasi; faktor resiko; jantung; tanda dan gejala Cardiovascular disease is still a global threat as it is the number one cause of death in the world. Data from the Surakarta City Health Office in 2024 shows that the incidence of heart disease in Surakarta City is quite high. Public understanding of risk factors for heart problems and signs and symptoms of coronary heart disease attacks before hospitalization is still a problem in the community because most people do not understand the risk factors and signs and symptoms of heart problems. Poor assistance before patients get help at the hospital is still a problem that is difficult to solve because people often underestimate the signs and symptoms that appear during an attack. For this reason, it is necessary to provide education about detecting risk factors and signs and symptoms of heart problems. This community service activity aims to increase community knowledge about risk factors and signs and symptoms of heart problems. This activity was carried out at RSUD Ir Soekarno Sukoharjo Regency which was attended by 32 patients in the outpatient clinic. The methods used in this activity were lectures and question and answer sessions. Before and after the activity, the service team distributed questionnaires to measure the participants' level of knowledge before and after the education session. The results of the analysis of participants' knowledge levels showed an increase in the percentage of participants with high knowledge levels from 37.5% to 68.75%. It can be concluded that after the education session, the participants' knowledge of risk factors and symptoms of heart disease increased. Keywords: education; heart; risk factors; signs and symptoms