Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Makna Rindu dalam Puisi “Jogja”, “Pulang”, dan “Jogja dalam Kaleng Khong Guan” Karya Joko Pinurbo Fakih, Rizki Muhamad; Lintangsari, Anisa Putri; Fatah, Rangga Kurnia; Hartati, Dian
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13546

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tiga puisi karya Joko Pinurbo berjudul “Jogja”, “Pulang”, dan “Jogja dalam Kaleng Khong Guan”. Data dalam penelitian didapatkan dari dua buku kumpulan puisi Joko Pinurbo berjudul Surat Kopi dan Perjamuan Khong Guan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu metode yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul apa adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat. Hasil penelitian menyatakan ketiga puisi memiliki makna kota Yogyakarta atau Jogja merupakan kota yang indah, mendatangkan rasa rindu, dan menjadi tempat pulang.
Nilai Pendidikan Karakter dalam Naskah Drama Kudeta Karya Joned Suryatmoko Fakih, Rizki Muhamad; Diana, Lala; Ramadini, Nadhifah; Safitri, Nurhana; Nurhasanah, Een
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i2.15119

Abstract

Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dapat dilakukan melalui pembelajaran dan pembiasaan. Terdapat berbagai macam media untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam naskah drama Kudeta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian yaitu naskah drama Kudeta karya Joned Suryatmoko. Sumber data diperoleh dari naskah drama Kudeta. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti menggunakan teknik analisis baca-catat. Naskah drama Kudeta mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang ditampilkan melalui alur peristiwa dan penokohan pada setiap dialognya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam naskah drama Kudeta ditemukan sepuluh nilai pendidikan karakter diantaranya nilai cinta damai, nilai kemandirian, nilai peduli sosial, nilai toleransi, nilai kejujuran, nilai kerendahan hati, nilai kerja sama, nilai tanggung jawab, nilai demokrasi, dan nilai persatuan.
Analisis Struktur dan Fungsi Tutunggulan di Desa Raharja: Kajian Struktur Pertunjukan dan Fungsi Folklor Fakih, Rizki Muhamad; Nuraini, Cut; Nurhasanah, Een
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 19 No 1 (2026): Article in Press
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v19i1.27868

Abstract

This study examines the structure and function of Tutunggulan performances in Raharja Village using Sims & Stephens' performance theory and Dundes' folklore function theory. The method used is descriptive analysis with a qualitative approach. Research data was obtained from observations, documentation, and interviews with Tutunggulan performers in Raharja Village. The results of the study show that 11 of the 13 performance structures of Tutunggulan in Raharja Village are present. Two indicators are not present in the Tutunggulan performance in Raharja Village because the Tutunggulan performance in Raharja Village is not a verbal performance but a musical performance and does not include text in its performance. Furthermore, 4 out of 6 indicators of folklore functions were found in the Tutunggulan performance in Raharja Village. The 2 indicators that were not fulfilled were (1) imposing social sanctions and punishments to encourage good behavior and (2) serving as a means of social criticism. A shift in the function of Tutunggulan was also found, from its original form as an activity of pounding rice to its current form as entertainment for the people of Raharja Village.