Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

OTITIS MEDIA AKUT PADA ANAK : LAPORAN KASUS Anugrah, Iqra; Arifuddin, Andi Tenri Sanna; Gani, Sri Wahyuni Saraswati
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43347

Abstract

Otitis media akut adalah infeksi telinga tengah yang merupakan penyakit multifaktorial seperti infeksi, alergi, dan lingkungan, yang sering diawali dengan infeksi saluran nafas atas sehingga menyebabkan gangguan fungsi tuba Eustacius. Otitis media akut sering disebebkan oleh infeksi bakteri. Otitis media dapat mengenai pada semua usia, paling sering pada usia antara 6 bulan hingga 24 bulan. Dengan demikian anak yang menderita infeksi saluran pernafasan atas perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui adakah keterlibatan otitis media. Seorang pasien anak laki-laki berusia 1 tahun datang ke poli untuk kontrol dengan riwayat keluhan keluar cairan pada kedua telinga sejak 6 minggu yang lalu SMRS. Ibu pasien mengatakan anaknya merasa kesakitan jika telinganya dipegang, rasa penuh di telinga tidak ketahui, penurunan pendengaran tidak diketahui, riwayat keluar cairan pada kedua telinga (otorrhea), cairan berwarna putih abu-abu dan tidak berbau. Riwayat demam ada disertai pilek sejak 1 minggu sebelum keluar cairan dari telinga. Pasien datang kontrol ke poli dengan keluhan otorrhea berulang dan keluhan sekarang hanya pada telinga kiri. Riwayat Pengobatan : eritromisin sirup, tremenza, metilprednisolon 4mg, ambroxol sirup. Pada pemeriksaan fisik dalam keadaan normal, pada pemeriksaan status lokalis canalis aukustikus eksterna sinistra didapatkan serumen (+), sekret (+), otore (+) putih abu-abu, membrane timpani perforasi (+), hidung dextra et sinistra didapatkan secret (+). Pasien didiagnosis dengan otitis media supuratif akut  Tatalaksana non farmakologi pada pasien dengan aural toilet dan tampon burowi, tatalaksana farmakologi yaitu eritromisin sirup kering 200 mg/5 ml 3x1, ambroxol syr 3x1, metilprednisolon 4mg (puyer), tremenza (puyer).
Karakteristik Penderita Vertigo Perifer yang Berobat di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar Tahun 2020-2022 Ardiani, Tasya; Yudhiono, Fanny; Nikmawati, Nikmawati; Sanna, Andi Tenri; Gani, Sri Wahyuni Saraswati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14024

Abstract

Vertigo merupakan perasaan yang abnormal mengenai adanya gerakan penderita terhadap sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita, tiba-tiba semuanya terasa berputar atau bergerak naik turun di hadapannya. Secara global kejadian vertigo umur 18 tahun hingga 79 tahun adalah 30%, 24% diantaranya diasumsikan karena gangguan vestibuler, 64 dari 100.000 orang dengan kecenderungan terjadi pada wanita (64%). Berdasarkan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik dari penderita vertigo perifer. Penelitian ini di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar tahun 2020-2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dari penderita vertigo perifer yang berobat di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar tahun 2020-2022. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 123 sampel yang memenuhi kriteria dan didapatkan hasil dengan usia terbanyak yaitu pada Usia 46 – 55 tahun sebanyak 37 orang (30,0%), perempuan adalah populasi terbanyak yaitu sebanyak 73 orang (59,35%), dan berdasarkan pekerjaan didapatkan hasil terbanyak pada pekerjaan tidak beresiko yaitu sebanyak 106 orang (86,18%). Kesimpulannya, penderita vertigo perifer yang berobat di Rumah Sakit Jala Ammari Lantamal VI Makassar tahun 2020-2022 terbanyak terjadi pada usia tua, perempuan, dan pada pekerjaan yang tidak beresiko.
Faktor Risiko Tuberkulosis Paru Anak di RSUD DR. LA Palaloi Maros Periode 2019 - 2023 Salsabila, Oryza Camilia; Madjid, Djauhariah; Gani, Sri Wahyuni Saraswati; Darma, Sidrah; Jafar, Muh. Alfian
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.16359

Abstract

Tuberculosis (TB) is a contagious disease that remains one of the leading causes of death worldwide and can affect children. Over time, significant changes have occurred in TB control efforts, necessitating a re-evaluation of the risk factors for tuberculosis in children. This study aims to identify the risk factors for pediatric pulmonary tuberculosis at RSUD dr. La Palaloi Maros from 2019 to 2023. This study used an observational analytic design with a cross-sectional method, utilizing secondary data from medical records of pediatric pulmonary TB patients at RSUD dr. La Palaloi Maros from 2019 to 2023. The sampling technique employed was purposive sampling. Of the 89 cases of pediatric pulmonary TB, based on age, the majority (53.9%) were 5-11 years old. Based on gender, most were male (55.1%). Regarding BCG immunization history, 57.3% had been immunized. In terms of nutritional status, 39.3% were found to have good nutritional status. Additionally, 79.8% of the samples had a history of contact with TB patients. The majority of parents were from low-income occupational groups (36.0%). Among these risk factors, a bivariate Chi-square analysis was conducted, yielding a significant p-value (<0.05) for nutritional status. In multivariate analysis, nutritional status was also found to be the most influential factor in pediatric pulmonary TB, increasing the risk by 0.096 times (CI: 0.037-0.252). In this study, the most significant risk factor was nutritional status.