Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Impact Of Varicella Vaccination On The Incident Of Varicella Erza Anugrah; Nurelly N Waspodo; Adharia, Adharia
Jurnal EduHealth Vol. 15 No. 02 (2024): Jurnal eduHealt, Edition April - June , 2024
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varicella is an infectious disease caused by the varicella-zoster virus (VVZ). This viral infection affects the mucosa and skin. Varicella virus is spread mainly through the respiratory route and less commonly through direct contact with the lesions. Diagnosis of varicella can be made clinically through careful history taking and physical examination. WHO recommends general vaccination in places where chickenpox is still a public health problem. In Indonesia, varicella vaccine is still an optional immunisation group, not yet a mandatory immunisation programme by the government. . In some cases, people who have had the varicella vaccine may experience chickenpox again after direct contact with a person with chickenpox or direct infection with the varicella-zoster virus. However, people who have had the varicella vaccine tend to experience milder symptoms than people who have not had the vaccine. .
Karakteristik Penderita Lepra (kusta) yang Menjalani Pengobatan Rawat Jalan di Puskesmas Tamalate Makassar Periode 2017 - 2022 Mahfud, Multazam Pratama; Yuniati, Lisa; Adharia, Adharia; Vitayani, Sri; Frisa, Selis
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14525

Abstract

Kusta adalah salah satu penyakit menular paling umum di seluruh dunia. Di beberapa negara, terutama negara berkembang, angka kusta masih tinggi, yang erat kaitannya dengan tingkat kemiskinan dan kepadatan penduduk. Minimnya pengetahuan tentang kusta dan tingginya stigma negatif yang melekat di masyarakat membuat penderita enggan berobat dan merahasiakan kondisinya. Hal ini menyebabkan penularan infeksi yang konstan dan tingkat kecacatan yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karakteristik penderita Lepra (Kusta) yang menjalani pengobatan rawat jalan di puskesmas Tamalate Makassar periode 2017 – 2022. Metode pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data di bagian rekam medis Puskesmas Tamalate Makassar . Penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan klasifikasi terbanyak pada kusta tipe Multibasiller yaitu 41 orang (82%), usia terbanyak pada kelompok usia 26-45 tahun (34%),jenis kelamin lebih banyak pada kelompok laki-laki sebanyak 39 orang (78%) dan pasien kusta yang sedang tidak bekerja yaitu 24 orang (48%). Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa ditemukan penderita kusta yang menjalani pengobatan rawat jalan terbanyak pada tipe kusta Multibasiller, kelompok usia 26-45 tahun, jenis kelamin laki-laki serta pasien yang tidak memiliki pekerjaan.
LAPORAN KASUS: PENATALAKSANAAN TINEA CAPITIS TIPE GRAYPATCH PADA ANAK USIA 10 TAHUN DAN PANDANGAN ISLAM TERHADAP PENYAKIT Afiska, Indri; Royani, Ida; Khalid, Nur Fadhillah; Adharia, Adharia
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.26875

Abstract

Dermatofita merupakan penyebab utama dari tinea kapitis yang sering ditemukan terutama pada anak. Tinea kapitis tersebar di seluruh dunia dengan insiden yang berbeda-beda tergantung letak geografi serta beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingginya kejadian tinea kapitis yaitu buruknya higiene individu, kepadatan penduduk, kondisi sosial ekonomi,  pola adat istiadat dan pelayanan kesehatan. Epidemik dalam keluarga sering terjadi dan adanya karier asimtomatik menyulitkan eradikasi penyakit ini. Laporan kasus berikut merupakan laporan kasus anak perempuan berusia 10 tahun datang dengan gatal pada kulit kepala serta mengalami kerontokan rambut dan gatal pada daerah wajah sesuai dengan gambaran klinis tinea capitis tipe greypatch. Penderita kemudian didiagnosis sebagai penyakit tinea capitis tipe greypatch. Penderita diberikan terapi Cetrizine 5  mg , Ketoconazole 100 mg,Asam Salisilat 1% + Mycomazole cr oles pada lesi di wajah,Asam Salisilat 5% + Ketokonazol cr 20gr + Desoxymethason cr 10gr oles pada lesi di kepala
KARAKTERISTIK PASIEN PSORIASIS VULGARIS DI RUMAH SAKIT IBNU SINA PERIODE TAHUN 2022-2024 Ameliah, Nabila; Vitayani, Sri; Adharia, Adharia; Abdi, Dian Amelia; Latief, Rachmat
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54205

Abstract

Psoriasis vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada kulit yang ditandai dengan plak eritematosa bersisik dan dapat berlangsung seumur hidup. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan keluhan fisik, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup dan kondisi psikososial pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien psoriasis vulgaris di RS Ibnu Sina Makassar periode tahun 2022–2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang terdiagnosis psoriasis vulgaris di RS Ibnu Sina Makassar tahun 2022–2024 dengan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, status pernikahan, lama perawatan, serta tingkat keparahan atau rekurensi penyakit. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 pasien psoriasis vulgaris, sebagian besar berada pada kelompok usia 45–64 tahun (46,7%), berjenis kelamin laki-laki (53,3%), dan berstatus menikah (83,3%). Mayoritas pasien menjalani perawatan kurang dari enam bulan (80%) dan memiliki tingkat keparahan sedang (50%), diikuti oleh kategori berat (40%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pasien psoriasis vulgaris di RS Ibnu Sina Makassar didominasi oleh usia dewasa akhir dengan derajat penyakit sedang hingga berat, sehingga diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
The Role of Malassezia Spp. in Pityrasis Versicolor: A Literature Review Umar, Zahlah Levia Redini; Abdi, Dian Amelia; Zainuddin, A. Sastri; Waspodo, Nurelly Noro; Adharia, Adharia
Journal of Community Health Provision Vol. 6 No. 1 (2026): Journal of Community Health Provision
Publisher : PSPP JOURNALS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55885/jchp.v6i1.876

Abstract

Pityriasis versicolor (PV) is a skin disease caused by the fungus Malassezia, common in tropical regions with high humidity, such as Indonesia. Pityriasis versicolor is characterized by hypopigmented or hyperpigmented patches, primarily on the chest, back, neck, and face, with some cases accompanied by itching. Risk factors include oily skin, immune conditions, genetics, and hot and humid environments. Further research is needed to understand the role of Malassezia in Pityriasis versicolor to improve treatment and prevent recurrence. To determine the role of Malassezia spp. in Pityriasis versicolor (PV) based on a literature review. Literature review with a narrative review design. Based on several reviewed journals, it can be concluded that Malassezia spp., which are part of the normal skin microbiota, can become pathogenic in individuals with certain predisposing factors. The transformation from yeast to hyphae, as well as the production of virulence factors such as lipase, protease, phospholipase, azelaic acid, melanin-like pigments, and the ability to form biofilms, play a role in the development of Pityriasis versicolor lesions. Interaction with the host occurs through direct mechanisms (irritant metabolites, keratinase) and immunological mechanisms (activation of inflammatory and allergic pathways), leading to skin barrier disruption, pigmentation changes, fine scaling, and potential alopecia. Variation in species and virulence profiles contributes to differences in clinical manifestations and responses to antifungal therapy. Malassezia spp. plays a key role in the development of Pityriasis versicolor through multifactorial virulence mechanisms and interactions with host predisposing factors, which influence clinical manifestations and treatment outcomes.
Faktor risiko dan pencegahan dermatitis kontak akibat kerja: Literature review Mutiara, Mutiara; Nurelly, Nurelly; Nurdin, Abbas Zavey; Adharia, Adharia; Setiawati, Solecha
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2816

Abstract

Background: Occupational contact dermatitis (OCD) is a significant occupational health problem, particularly among industrial workers who are routinely exposed to chemicals and irritants. Risk factors are multifactorial, including occupational factors (duration and frequency of chemical exposure, wet work), individual factors (age, gender, history of atopy, personal hygiene), and work environment factors (temperature, humidity, availability of sanitation facilities, and use of PPE). Effective prevention includes exposure control, appropriate use of PPE, worker education and training, and improving the work environment to maintain skin integrity and reduce the incidence of OCD. Purpose: To identify risk factors and prevention of occupational contact dermatitis. Method: This study used a systematic literature review method, searching PubMed, ScienceDirect, Scopus, Google Scholar, and ProQuest for articles published between 2020 and 2025. Selection was carried out through screening titles, abstracts, and full-text review according to inclusion and exclusion criteria. This resulted in 20 relevant articles for descriptive and systematic analysis. Results: Proper use of PPE, good personal hygiene, and controlling exposure to irritants were the most consistent factors in preventing DKAK. Conclusion: Prevention of occupational contact dermatitis requires an integrated and sustainable approach involving exposure control, education, use of PPE, and improvements to the work environment.   Keywords: Contact Dermatitis; Occupational Contact Dermatitis; Prevention; Risk Factors; Systematic Literature Review.   Pendahuluan: Dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) merupakan masalah kesehatan kerja yang signifikan, terutama pada pekerja industri yang rutin terpapar bahan kimia dan iritan. Faktor risiko bersifat multifaktorial, meliputi faktor pekerjaan (lama dan frekuensi kontak bahan kimia, wet work), faktor individu (usia, jenis kelamin, riwayat atopi, personal hygiene), serta faktor lingkungan kerja (suhu, kelembapan, ketersediaan sarana sanitasi, dan penggunaan APD). Pencegahan efektif meliputi pengendalian paparan, penggunaan APD yang tepat, edukasi dan pelatihan pekerja, serta perbaikan lingkungan kerja untuk menjaga integritas kulit dan menurunkan insiden DKAK. Tujuan: Untuk mengetahauhi faktor resiko dan pencegahan dermatitis kontak akibat kerja. Metode: Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan penelusuran literatur melalui PubMed, ScienceDirect, Scopus, Google Scholar, dan ProQuest terhadap artikel yang diterbitkan pada periode 2020–2025. Seleksi dilakukan melalui screening judul, abstrak, dan telaah teks lengkap sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 20 artikel relevan yang dianalisis secara deskriptif dan sistematis. Hasil: Penggunaan APD yang tepat, personal hygiene yang baik, serta pengendalian paparan bahan iritan merupakan faktor yang paling konsisten berperan dalam pencegahan DKAK. Simpulan: Pencegahan dermatitis kontak akibat kerja memerlukan pendekatan terpadu dan berkelanjutan yang melibatkan pengendalian paparan, edukasi, penggunaan APD, dan perbaikan lingkungan kerja.   Kata Kunci: Dermatitis Kontak; Faktor Risiko; Occupational Contact Dermatitis; Pencegahan; Systematic Literature Review.