Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENDEKATAN THIRD PLACE DALAM REDEFINISI LOKASARI SEBAGAI RUANG UNTUK SENI PERTUNJUKAN Hadinata, Jason; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33916

Abstract

As a city develops, there will also be changes to the spaces within the city. Placeless Place is a phenomenon where a place loses its identity that makes it a place. One example of the placeless place phenomenon that occurred is the Lokasari Entertainment Park or what was known in the past as Prinsen Park. Lokasari experienced a very significant change in identity where in the past, Prinsen Park was known as a center of entertainment and culture, now it is known as a nightlife center that has a negative image in the eyes of the surrounding community. In an effort to improve and change the negative image of Lokasari, a redesign was carried out on part of the THR Lokasari area with the aim of redefining the Lokasari area as a space for performing arts that is closely related to the history of the area in its heyday. With the projects and programs presented, it can provide the community around the Lokasari area with a shared space that is able to encourage and build communities based on performing arts around the area so that it can foster a sense of attachment between the community and the Lokasari area. In addition, this project can also provide a forum for self-expression for the surrounding community, especially young people, provide an alternative form of entertainment other than the nightlife activities that are currently rampant in the area, and become a new attraction that can revive the THR Lokasari area. Keywords:  Lokasari, Performing Arts, Placeless Place, Prinsen Park, Redefining Abstrak Seiring berkembangnya sebuah kota, akan terjadi juga perubahan terhadap  ruang – ruang dalam kota. Fenomena Placeless Place merupakan fenomena dimana sebuah tempat kehilangan identitas yang menjadikannya tempat. Salah satu contoh kasus fenomena placeless place yang terjadi adalah Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari atau yang dikenal pada masa lampau sebagai Prinsen Park. Lokasari mengalami perubahan identitas yang sangat signifikan dimana dulunya, Prinsen Park dikenal sebagai pusat hiburan dan kebudayaan kini dikenal sebagai pusat hiburan malam yang memiliki citra negatif di pandangan masyarakat sekitar. Dalam upaya memperbaiki dan mengubah citra negatif Lokasari,  maka dilakukan perancangan ulang pada bagian dari kawasan THR Lokasari dengan tujuan untuk meredefinisi kawasan Lokasari sebagai ruang untuk seni pertunjukan yang berhubungan erat dengan sejarah kawasan di masa jayanya. Dengan adanya proyek dan program – program yang dihadirkan, dapat menyediakan masyarakat sekitar kawasan Lokasari dengan ruang milik bersama yang mampu mendorong dan membangun komunitas – komunitas dengan basis seni pertunjukan di sekitar kawasan sehingga dapat menunmbuhkan rasa keterikatan antara masyarakat dengan kawasan lokasari. Selain itu, proyek ini juga dapat memberikan wadah untuk ekspresi diri untuk fmasyarakat sekitar terutama kalangan muda, menyediakan alternatif bentuk hiburan selain kegiatan hiburan malam yang saat ini marak pada kawasan, serta menjadi daya tarik baru  yang mampu membangkitkan kembali kawasan THR Lokasari.
PENDEKATAN TRANSPROGRAMMING BERDASARKAN RUANG KESEHARIAN DALAM REDESAIN PASAR IKAN KAMAL MUARA, JAKARTA UTARA Salim, Justine; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35583

Abstract

Kamal Muara Fish Market, North Jakarta has experienced a decline in quality in terms of the environment and the number of visitors who come to buy seafood. Major problems are scattered throughout the market area, such as seafood waste, wet and dirty road conditions, and periodic flooding. This indicates an irregularity in the spatial program and the flow of activities that take place. This research aims to explore the appropriate architectural design approach in redesigning Kamal Muara Fish Market, to support the sustainability of the building's function and life cycle. Changes are made thoroughly in terms of architecture, but still rooted in the daily patterns and activities of local communities as elements that are maintained and become the basis of design. This research questions the principle of regenerative architecture integrated with the concept of daily life in the comprehensive redesign of Kamal Muara Fish Market. The research method used is a qualitative method with a case study approach, which emphasizes on understanding the strategy to solve the problem of physical degradation of Kamal Muara Fish Market. The research steps include identifying potential and problems, mapping everydayness and activities of residents, and selecting and analyzing relevant case studies. This research reveals that an everydayness-based approach that observes the way humans adapt and interact with their environment can produce designs that are not only functional but also contextual and humanistic. The transprogramming strategy is used as an adaptive and innovative design tool to comprehensively redesign Kamal Muara Fish Market. The addition of new programs rooted in the potential of the environment also strengthens the attractiveness of the area ecologically, socially, and economically. Keywords:  everydayness; Kamal Muara Fish Market; regenerative architecture; transprogramming Abstrak Pasar Ikan Kamal Muara, Jakarta Utara mengalami penurunan kualitas dari segi lingkungan dan jumlah pengunjung yang datang untuk membeli hasil laut. Permasalahan utama tersebar di sepanjang area pasar, seperti limbah hasil laut, kondisi jalan yang basah dan kotor, serta banjir yang terjadi secara berkala. Hal ini menunjukkan adanya ketidakteraturan dalam program ruang dan alur kegiatan yang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan perancangan arsitektural yang tepat dalam melakukan perancangan kembali Pasar Ikan Kamal Muara, guna mendukung keberlanjutan fungsi dan siklus hidup bangunan. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dari segi arsitektural, namun tetap berakar pada pola keseharian dan aktivitas masyarakat lokal sebagai elemen yang dipertahankan dan menjadi dasar perancangan. Penelitian ini mempertanyakan prinsip arsitektur regeneratif yang diintegrasikan dengan konsep keseharian dalam redesain menyeluruh Pasar Ikan Kamal Muara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang menekankan pada pemahaman terhadap strategi untuk memecahkan masalah degradasi fisik Pasar Ikan Kamal Muara. Langkah-langkah penelitian meliputi identifikasi potensi dan permasalahan, pemetaan keseharian (everydayness) dan kegiatan penduduk, pemilihan serta analisis studi kasus relevan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pendekatan berbasis keseharian yang mengamati cara manusia beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya dapat menghasilkan rancangan yang tidak hanya fungsional tetapi juga kontekstual dan humanistik. Strategi transprogramming digunakan sebagai alat perancangan adaptif dan inovatif untuk merancang ulang Pasar Ikan Kamal Muara secara komprehensif. Penambahan program baru yang berakar dari potensi lingkungan turut memperkuat daya tarik kawasan secara ekologis, sosial, dan ekonomi.
SISTEM AQUACULTURE DAN LUNAR HARVESTING SEBAGAI PENERAPAN ARSITEKTUR REGENERATIF PADA PERANCANGAN WISATA KAMPUNG NELAYAN CILINCING Tengganu, Celine; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35584

Abstract

Kampung Nelayan Cilincing experiences significant ecological pressure due to the accumulation of plastic waste from urban activities on the coast of North Jakarta. This plastic waste ends up in the ocean and produces microplastics, plastic particles measuring less than 5mm that endanger the marine ecosystem, food chain, and human health. This study aims to optimize Kampung Nelayan Cilincing with the concept of "regenerative architecture" through tourism design that can have a positive impact on the surrounding environment (especially in terms of ecology). The systems used include aquaculture and lunar harvesting systems. Literature reviews show that aquaculture and lunar harvesting play a role in reducing microplastics and empowering coastal communities through healthy and varied marine cultivation. The tourism design is motivated by the history of nature-based tourism in Kampung Nelayan Cilincing known as Cilincing Palm Beach. The research method is carried out qualitatively and quantitatively. Referring to the book "Notes on the Synthesis of Form" by Christopher Alexander, this study maps the variables of aquaculture, lunar harvesting, and site variables (physical, community, tourism) and analyzes the connections between variables to obtain a synthesis of form. The results of the synthesis research form that the aquaculture variable is physically close to the open sea and swamps, is socially compatible, and can be packaged as tourism. Meanwhile, the lunar harvesting variable is physically close to only the open sea and has similar physical and tourism results. Both of these systems, aquaculture and lunar harvesting are effective in implementing regenerative architecture in the design of the Kampung Nelayan Cilincing tourism. Keywords: aquaculture; Cilincing Fisherman Village; lunar harvesting; microplastic Abstrak Kampung Nelayan Cilincing mengalami tekanan ekologis yang signifikan akibat akumulasi sampah plastik dari aktivitas urban di pesisir Jakarta Utara. Sampah plastik ini bermuara ke lautan dan menghasilkan mikroplastik, sebuah partikel plastik berukuran kurang dari 5mm yang membahayakan ekosistem laut, rantai makanan, dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi Kampung Nelayan Cilincing dengan konsep “regenerative architecture” melalui perancangan wisata yang dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan di sekitarnya (khususnya dari segi ekologis). Sistem yang digunakan mencakup sistem aquaculture dan lunar harvesting. Kajian literatur menunjukkan bahwa aquaculture dan lunar harvesting berperan dalam mengurangi mikroplastik dan memberdayakan masyarakat pesisir melalui budidaya laut yang sehat dan variatif. Perancangan wisata dilatarbelakangi oleh histori wisata berbasis alam Kampung Nelayan Cilincing yang dikenal sebagai Cilincing Palm Beach. Metode penelitian dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Dengan mengacu pada buku “Notes on the Synthesis of Form” karya Christopher Alexander, penelitian ini memetakan variabel aquaculture, lunar harvesting, dan variabel tapak (fisik, masyarakat, wisata) dan melakukan analisis koneksi antar variabel untuk mendapatkan sintesis bentuk. Hasil penelitian sintesis bentuk bahwa variabel aquaculture secara fisik memiliki kedekatan dengan laut lepas dan rawa, secara masyarakat kompatibel, dan dapat dikemas secara wisata. Sementara itu, variabel lunar harvesting secara fisik memiliki kedekatan dengan hanya laut lepas, dan memiliki koneksi masyarakat dan wisata yang serupa. Kedua sistem ini, aquaculture dan lunar harvesting efektif menjadi penerapan arsitektur regeneratif pada perancangan wisata Kampung Nelayan Cilincing.
PENERAPAN KONSEP PERMAKULTUR MELALUI ARSITEKTUR BIOFILIK UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG SEHAT DI RUSUNAWA MARUNDA Hans, Elbert; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35585

Abstract

The lives of residents in Rusunawa Marunda have changed significantly following the development of coal industries around the housing area. Residents are now forced to coexist with the environmental damage caused by coal mining activities. A total of six coal industries have been established near Rusunawa Marunda, resulting in serious issues for the community, with many residents suffering from both physical and internal illnesses. These coal industries have also led to air and water pollution, as well as a decline in soil quality. Numerous plants and animals have died, and building materials have been damaged. This situation is deeply concerning, especially since there has yet to be an architectural effort capable of addressing these issues. Therefore, this study aims to discover regenerative architectural responses that can tackle these problems. The methods used include literature studies, observations, and precedent studies, followed by a design approach incorporating human-centered design, permaculture, and biophilic architecture. This research focuses on identifying various forms of permaculture application through biophilic architecture in the new design of Rusunawa Marunda, ensuring its continued relevance to the lives and activities of its residents. The results of this study are expected to contribute ideas and concepts to address existing coal pollution, improve environmental quality, and foster a healthier way of living through the new architectural design of Rusunawa Marunda. Keywords:  biophilic; permaculture; regenerative architecture; Rusunawa Marunda Abstrak Kehidupan Rusunawa Marunda kini telah berubah setelah adanya pembangunan industri batu bara di sekitar Rusunawa. Para warga Rusunawa diharuskan hidup berdampingan dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh tambang batu bara. Sebanyak enam industri batu bara telah dibangun berdekatan dengan Rusunawa Marunda. Hal tersebut menimbulkan masalah yang serius terhadap kehidupan para warga Rusunawa, di mana banyak dari mereka yang sakit luar maupun dalam. Industri batu bara tersebut juga menyebabkan pencemaran udara dan air, serta kualitas tanah yang menurun. Banyak hewan dan tumbuhan yang mati, serta kerusakan material. Hal tersebut menjadi masalah yang cukup memprihatinkan, karena belum dapat ditemukan adanya sebuah upaya dalam segi arsitektur yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan respon arsitektur regeneratif yang dapat mengatasi masalah yang ada. Metode penelitian adalah metode penelitian kualitatif dengan melakukan, observasi terhadap ruang keseharian penghuni Rusunawa Marunda, serta studi literatur dan studi preseden terkait human centered design, permakultur, dan arsitektur biofilik. Penelitian ini berfokus untuk menemukan berbagai wujud aplikasi permakultur melalui arsitektur biofilk terhadap rancangan baru Rusunawa Marunda, yang tetap relevan bagi kehidupan dan aktivitas para warga Rusunawa. . Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai kontribusi ide ataupun gagasan dalam  mengatasi pencemaran batu bara yang ada,  memperbaiki kualitas lingkungan, serta menciptakan kehidupan yang sehat, melalui perancangan Rusunawa Marunda yang baru.