Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Hubungan Sosiodemografi dan Pengetahuan terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi di Instalasi Bedah Sentral Rsud Karawang Suara, Mahyar; Nanlohi, Yopi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i10.19506

Abstract

ABSTRACT Preoperative is a stage that begins when there is a decision to perform surgical intervention and ends when the patient is sent to the operating table. Clients who will undergo surgery will show high stress compared to the group of clients who are treated without a surgical plan. When the client arrives in the preoperative room, it is a condition that increases the client's anxiety. The anxiety they experience is usually related to all kinds of foreign procedures that the patient must undergo and also the threat to life safety due to all kinds of surgical procedures and anesthesia. Purpose This study aims to determine the relationship between sociodemographics and knowledge of the level of anxiety of preoperative patients in the Central Surgical Installation of Karawang Hospital. The method of taking research samples used Acidental sampling. This study used a Quantitative research design with a cross-sectional approach. The data collection tool used a questionnaire sheet, data analysis used the Chi-square test. The results of the study obtained data that had low knowledge and mild anxiety were 25 respondents with a percentage of 49.0% and those with moderate knowledge and mild anxiety were 23 respondents with a percentage of 45.1%. Meanwhile, those who experienced severe anxiety and low knowledge were 2 respondents with a percentage of 33.3%. From the results of the Chi-Square Test, a P-Value of 0.034 (0.05) was obtained, meaning that there was a significant relationship between knowledge and the level of pre-operative anxiety in the Central Surgical Installation of Karawang Hospital. The conclusion of this study is that there is a relationship between sociodemographics and knowledge on the level of pre-operative patient anxiety in the Central Surgical Installation of Karawang Hospital.  Keywords: Sociodemographics, Knowledge and Anxiety Level   ABSTRAK Pre operasi merupakan tahap yang dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi. klien yang akan dilakukan pembedahan akan menunjukan stress yang tinggi dibandingkan dengan kelompok klien yang dirawat tanpa rencana tindakan pembedahan. Ketika klien tiba di ruangan pre operasi merupakan keadaan yang menambah kecemasan klien. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pelaksanaan operasi dan tindakan pembiusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sosiodemografi dan pengetahuan terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi di Instalasi bedah sentral RSUD Karawang. Pengambilan sampel penelitian menggunakan Acidental sampling. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Alat pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner, analisa data menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian didapatkan data yang memiliki pengetahuan rendah dan kecemasan ringan ada 25 responden dengan presentase 49,0% dan yang memiliki pengetahuan sedang dan kecemasan ringan ada 23 responden dengan presentase 45,1%. Sedangkan yang mengalami kecemasan berat dan berpengetahuan redah ada 2 responden dengan presntase 33,3%. Dari hasil Uji Chi-Square diperoleh P-Value 0,034 (0,05), artinya ada hubungan yang signifikan antara penegtahuan dengan tingkat kecemasan pre operasi di Instalasi bedah sentral RSUD Karawang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan sosiodemografi dan pengetahuan terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi di Instalasi bedah sentral RSUD Karawang.  Kata Kunci: Sosiodemografi, Pengetahuan dan Tingkat Kecemasan
Pengaruh Dukungan Sosial dan Stigma Masyarakat Terhadap Beban Keluarga Pasien Jiwa Suara, Mahyar; Khasanah, Siti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i9.19453

Abstract

ABSTRACT WHO in 2023 almost 1 billion people in the world live with mental health conditions, and approximately 21% of adults in the United States experience mental illness. The prevalence of mental disorders in Indonesia in 2023 is 0.73% of the total population, or around 2,023,009 people. Of the 34 provinces that reported, 8 provinces achieved above 100%, namely Aceh, Riau Islands, Jambi, Bengkulu, Kep. Bangka Belitung. Negative stigma by the environment towards mental disorders patients not only causes the patient to be isolated from the environment, but also becomes a psychological burden for their families. To determine the influence of social support and community stigma on the burden on families of mental patients. Analytical with cross sectional design. The samples in this study were some of the families of mental patients who visited the hospital. Duren Sawit in January 2025, with a sample size of 50 people. The sampling technique uses random sampling. The frequency distribution of the burden on families of mental patients is mostly moderate (48.0%), social support is lacking (42.0%) and societal stigma is moderate (44.0%). There is an influence of social support on the burden on families of mental patients at Duren Sawit Hospital (p. value 0.002). There is an influence of community stigma on the burden on families of mental patients at Duren Sawit Hospital (p. value 0.001). There is an influence of social support and community stigma on the burden on families of mental patients. It is hoped that the hospital will further improve health services, especially for families of mental patients, by providing education about the care of mental patients on a regular basis so that it can minimize the family stigma towards schizophrenic patients. Keywords: Social Support, Community Stigma, Family, Mental Patients  ABSTRAK WHO tahun 2023 hampir 1 miliar orang di dunia hidup dengan kondisi kesehatan mental, dan sekitar 21% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami penyakit mental. Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia pada tahun 2023 adalah 0,73% dari total penduduk, atau sekitar 2.023.009 jiwa. Dari 34 provinsi yang melaporkan, capaian yang diatas 100% sebanyak 8 provinsi yaitu Provinsi Aceh, Kepri, Jambi, Bengkulu, Kep. Bangka Belitung. Stigma negatif oleh lingkungan terhadap pasien gangguan jiwa tidak hanya menyebabkan terkucilkannya pasien dari lingkungan, tetapi menjadi beban psikologis bagi keluarganya. Mengetahui pengaruh dukungan sosial dan stigma masyarakat  terhadap beban keluarga pasien jiwa. Analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian keluarga pasien jiwa yang berkunjung di RS. Duren Sawit pada bulan Januari 2025, dengan jumlah sampel sejumlah 50 orang.Teknik pengambilan sampel menggunakan randoom sampling. Distribusi frekuensi beban keluarga pasien jiwa mayoritas sedang (48,0%), dukungan sosial kurang (42,0%) dan stigma masyarakat sedang (44,0%). Ada pengaruh dukungan sosial terhadap beban keluarga pasien jiwa di Rumah Sakit Duren Sawit (p. value 0,002). Ada pengaruh stigma masyarakat terhadap beban keluarga pasien jiwa di Rumah Sakit Duren Sawit (p. value 0,001). Ada pengaruh dukungan sosial dan stigma masyarakat terhadap beban keluarga pasien jiwa. Diharapkan Rumah Sakit lebih meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya untuk keluarga pasien jiwa  dengan memberikan penyuluhan tentang perawatan pasien jiwa secara rutin sehingga bisa meminimalisir adanya stigma keluarga terhadap pasien skizofrenia. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Stigma Masyarakat, Keluarga, Pasien Jiwa
Hubungan Tingkat Kecemasan dan Kepatuhan Perawatan Luka Gangren Terhadap Proses Penyembuhan di Klinik Arrahman Baros Suara, Mahyar; Awanda, Vera Talia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i9.19426

Abstract

ABSTRACT Gangrene wound healing in patients with diabetes mellitus is often hampered by various factors, one of which is the level of anxiety and patient compliance with wound care. This condition can worsen complications and prolong healing time. To analyze the relationship between anxiety level and wound care compliance to the healing process of gangrene wounds in patients at Arrahman Baros Clinic. This study used a quantitative approach with a “Cross-Sectional Study” design. The sample size was 40 respondents who were selected using purposive sampling technique. The research instruments included questionnaires on anxiety level (HARS) and compliance, as well as direct observation of the wound healing process. Data were analyzed using Pearson and Spearman correlation tests. There was a significant relationship between anxiety level and gangrene wound healing process (p=0.03; r=-0.45). In addition, a positive relationship was found between the level of wound care compliance and gangrene wound healing (p=0.01; r=0.60). Respondents with low anxiety and high compliance showed better healing progress than other respondents. Low anxiety levels and high compliance significantly contribute to the healing process of gangrene wounds. Therefore, interventions focusing on anxiety management and education on the importance of wound care compliance are needed to accelerate the healing process. Keywords: Anxiety Level, Compliance, Gangrene Wound Healing.  ABSTRAK Penyembuhan luka gangren pada pasien diabetes melitus seringkali terhambat oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tingkat kecemasan dan kepatuhan pasien terhadap perawatan luka. Kondisi ini dapat memperburuk komplikasi dan memperpanjang waktu penyembuhan. Untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dan kepatuhan perawatan luka terhadap proses penyembuhan luka gangren pada pasien di Klinik Arrahman Baros. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain "Cross-Sectional Study". Jumlah sampel adalah 40 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian mencakup kuesioner tingkat kecemasan (HARS) dan kepatuhan, serta observasi langsung proses penyembuhan luka. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan proses penyembuhan luka gangren (p=0,03; r=-0,45). Selain itu, ditemukan hubungan positif antara tingkat kepatuhan perawatan luka dengan penyembuhan luka gangren (p=0,01; r=0,60). Responden dengan tingkat kecemasan rendah dan kepatuhan tinggi menunjukkan progres penyembuhan yang lebih baik dibandingkan responden lainnya. Tingkat kecemasan yang rendah dan kepatuhan yang tinggi berkontribusi signifikan terhadap proses penyembuhan luka gangren. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang berfokus pada pengelolaan kecemasan dan edukasi mengenai pentingnya kepatuhan perawatan luka untuk mempercepat proses penyembuhan. Kata Kunci: Tingkat Kecemasan, Kepatuhan, Penyembuhan Luka Gangren.
Pengaruh Pemberian Edukasi melalui Multimedia Video Terhadap Kecemasan Pasien Pre Operasi Katarak Senilis di Instalasi Bedah Sentral RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Suara, Mahyar; Muamar, Muamar
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i10.19480

Abstract

ABSTRACT Survey data from the Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) estimates that 3 out of 100 people in Indonesia aged over 50 years are blind or around 1.6 million people.  This data also states that 80% of them are caused by cataracts, placing Indonesia as the country with the highest rate of blindness in Southeast Asia. Various studies report that the prevalence of cataracts is generally caused by aging, namely aged 65-75 years, as much as 50%. This prevalence increases at ages over 75 years (Mo'otapu et al, 2015). In 2019, according to WHO, the latest global estimate is that 314 million people in the world will experience visual impairment and 45 million will experience blindness (Wiguna, 2018). Objective: to determine the effect of providing preoperative preparation education via multimedia videos on preoperative patient anxiety. senile cataract at the RSPI Central Surgical Installation Prof. Dr. Sulianti Saroso. Research Method: quantitative research research method with a quasi-experimental design and pretest post test control group. With the Paired T-test. Research Results: Based on the results of Bivariate Analysis with paired T-test with a sample size of 30 respondents (N=30), the data showed that T-Count (3.647) > T-table (0.418) and the p.Value (0.022) < alpha value ( 0.05) which means that the results of the normality test for the preoperative anxiety level of Senili Cataract Patients in this study showed significant Symp results, namely > 0.05, so the residual value was stated in This research has a Normal distribution. Conclusion: There is an influence between providing preoperative preparation education via multimedia video on patient anxiety before senile cataract surgery at the Central Surgery Installation of RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso in 2024. Keywords: Cataract, Education, Surgery, Video Media   ABSTRAK Data survey Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) diperkirakan 3 dari 100 orang di Indonesia berusia lebih dari 50 tahun mengalami kebutaan atau sekitar 1,6 juta orang.  Data ini pula menyebutkan 80% diantaranya disebabkan oleh katarak, sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan angka kebutaan tertinggi di Asia Tenggara. Berbagai studi melaporkan jumlah prevalensi katarak penyebab umumnya akibat penuaan yaitu usia 65-75 tahun sebanyak 50%. Jumlah prevalensi ini meningkat pada usia di atas 75 tahun (Mo’otapu et al, 2015). Pada tahun 2019, menurut WHO dalam estimasi global terbaru yaitu 314 juta orang di dunia mengalami gangguan penglihatan dan 45 juta nya mengalami kebutaan (Wiguna, 2018). Untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi persiapan pre operasi melalui multimedia video terhadap kecemasan pasien pre operasi katarak senilis di Instalasi Bedah Sentral RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Metode peneliian penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dan pretest post test control group. Dengan uji Paired T-test. Berdasarkan hasil Analisis Bivariat dengan paired T-test dengan jumlah sampel 30 responden (N=30) didapatkan data bahwa T-Hitung (3,647) > T-tabel (0,418) dan nilai p.Valuenya (0,022) < nilai alpha (0,05) yang berarti hasil uji normalitas tingkat kecemasan Pre Operasi Pasien Katarak Senili  pada penelitian ini didapatkan hasil Signifikan Symp yaitu> 0,05 maka dinyatakn nilai residual dalam penelitian ini berdistribusi Normal. Ada pengaruh antara Pemberian Edukasi Persiapan Pre Operasi Melalui Multimedia Video Terhadap Kecemasan Pasien Pre Operasi Katarak Senilis Di Instalasi Bedah Sentral Rspi Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2024.  Kata Kunci: Katarak, Edukasi, Bedah, Media Video 
Correlation Between Knowledge And Interest In Carrying Out Caesarean Delivery Using The Eracs Method Sumaini, Lisa; Suara, Mahyar
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 10, No 3 (2024): Volume 10,No.3 Maret 2024
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v10i3.13946

Abstract

Latar Belakang: Angka operasi caesar di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 17,5% dari total persalinan, meningkat pada tahun 2019, angka operasi Caesar di Indonesia mencapai 40 % dari seluruh persalinan. Angka tersebut lebih tinggi dari rekomendasi WHO dan merupakan salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Sebagian besar ibu hamil merasa cemas saat mendekati Hari Perkiraan Lahir yang diharapkan (HPL). Terutama ketika memiliki indikasi medis untuk operasi SC. Kebanyakan ibu hamil yang direncanakan menjalani operasi SC tersebut merasa cemas dan takut, karena masa pemulihan operasi SC lebih lama dari persalinan normal. Metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) adalah salah satu metode yang dapat mempercepat kesembuhan pasien SC, sehingga dapat dijadikan sebagai solusi dan alternatif untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan tersebut.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil dengan minat untuk melakukan cesar  dengan metode ERACS.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan purposive sampling dengan sample 60 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan metode univariat dan bivariat menggunakan perhitungan statistik program SPSS versi 23.Hasil: Pasien Rumah Sakit Fatimah rata-rata memiliki pengetahuan yang sangat baik dan memiliki minat yang baik terhadap cesar dengan metode ERACS. Dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan minat untuk menggunakan layanan cesar dengan metode ERACS, hal tersebut ditunjukan dengan nilai sig p-value 0,00 lebih kecil dari 0,05 (0,00 < 0,05)Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan minat untuk melakukan cesar dengan metode ERACS, hal tersebut ditunjukan dengan nilai sig p-value 0,000 lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05)Saran: Pihak Rumah Sakit sudah cukup intens memberikan edukasi melalui video pendek yang dishare melalui tiktok, Instagram, dan facebook, tetapi tidak boleh hanya berhenti di situ saja, pihak rumah sakit sebaiknya melakukan edukasi melalui seminar dan webinar, dengan menghadirkan expert untuk memberikan informasi kepada public tentang cesar dengan metode ERACS, supaya informasi yang diperoleh Masyarakat lebih komprehensif dan mendalam, sehingga dapat lebih memunculkan interest mereka terhadap cesar dengan metode ERACS. penelitian ini terbatas meneliti pasien Rumah Sakit Fatimah, peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas populasi, pasien dari dua rumah sakit atau lebih, terdiri dari rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah, supaya temuan yang dihasilkan lebih kuat. Kata Kunci : Caesar; Metode ERACS; Minat; Pengetahuan; Persalinan ABSTRACT Background: The cesarean section rate in Indonesia in 2018 reached 17.5%, increasing in 2019, the cesarean section rate in Indonesia reached 40% of all births. This figure is higher than WHO recommendations and is one of the highest in Southeast Asia. Most pregnant women feel anxious when approaching their expected due date (HPL). Especially when there is a medical indication for SC surgery. Most pregnant women who are planning to undergo SC surgery feel anxious and afraid because the recovery period for SC surgery is longer than normal delivery. The ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) method is a method that can speed up the recovery of SC patients, so it can be used as a solution and alternative to overcome anxiety and fear.Purpose: To determine the relationship between pregnant women's knowledge and their interest in performing cesarean section using the ERACS method..Method: This study used descriptive quantitative method with purposive sampling with a sample of 60 people. Data collection techniques were carried out by questionnaire. The data were then analyzed using univariate and bivariate methods using statistical calculations of the SPSS version 23 program.Results: Fatimah Hospital patients on average have very good knowledge and have a good interest in cesarean delivery using the ERACS method. There is a significant relationship between knowledge and interest in using cesarean services using the ERACS method, this is indicated by a sig p-value of 0.00 which is smaller than 0.05 (0.00 < 0.05)Conclusion: There is a significant relationship between knowledge and interest in doing cesarean with the ERACS method, this is indicated by a sig p-value of 0.000 less than 0.05 (0.000 < 0.05)..Suggestion: The hospital has been quite intense in providing education through short videos shared through TikTok, Instagram, and Facebook, but it should not stop there, the hospital should conduct education through seminars and webinars, by presenting experts to provide information to the public about cesarean with the ERACS method, so that the information obtained by the public is more comprehensive and in-depth, so that it can further raise their interest in cesarean with the ERACS method. This study was limited to examining Fatimah Hospital patients, future researchers are advised to expand the population, patients from two or more hospitals, consisting of private hospitals and government hospitals, so that the findings produced are stronger. Keywords : Caesar; ERACS method; Interest; Knowledge; Labor. 
Evaluasi Intervensi keperawatan Psikoedukasi dalam penurunan stress psikologis usia lanjut selama wabah COVID-19 di Bogor Suara, Mahyar
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v14i1.852

Abstract

Coronavirus Disease (Covid-19) menjadi suatu permasalahan yang meluas di dunia karena pravelensi dan mortalitasnya yang meningkat, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang cara penularan. Pandemi Covid-19 secara psikologis menimbulkan dan meningkatkan tingkat stress  pada semua tingkat usia terutama usia lanjut, tingkat stress psikologis pada usia lanjut disebabkan dalam  kelompok rentan yang paling berisiko tertular virus Covid-19,hal ini perlu dilakukannya intervensi psikoedukasi. Tujuan dari penelitian ini adalah  diketahuinya  pengaruh intervensi keperawatan psikoedukasi untuk  menurunkan tingkat stress psikologi pada usia lanjut  selama wabah COVID-19 di Bogor. Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan intervensi komparasi  dengan desain penelitian cross Sectional,metode yang digunakan  kuantitatif dengan  analisis bivariat  Uji T. Hasil penelitian ada pengaruh  yang signifikan  intervensi keperawatan psikoedukasi dengan tingkat stress pada usia lanjut  dengan perbedaan tingkat stress lansiayang  belum dilakukan intervesi keperawatan psikoedukasi dan  sesudah dilakukan intervesi keperawatan  dengan  p value 0,001.rekomendasi  hasil penelitian perlu adanya pemdampingan secara konsisten pada lanjut usia oleh keluargaatau tenaga kesehatan dalam pemberian psikoedukasi
Pengaruh Promosi Kesehatan terhadap Deteksi Dini, Pengetahuan, Sikap, Persepsi dan Stigma Orang dalam Gangguan Jiwa Pada Remaja di RW 07 Kelurahan Kedung Pengawas Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi Rahayu, Antika; Nurpratiwi, Arfani; Putri, Tiara Puspita; Suara, Mahyar
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i1.16469

Abstract

ABSTRACT In the era of globalization and free competition, the tendency for the soul to expand is increasing, this causes stressors in life to become increasingly complex, such as the loss of a loved one, the breakdown of social relationships, unemployment, problems in marriage, the economy, work pressure and discrimination can increase. risk of suffering from mental disorders. (Suerni et al., 2023). Mental disorders are behavioral deviations resulting from deviations in emotions, thoughts, behavior, feelings, motivation, desires, self-awareness and perception so that they interfere with the life process.  (Isnaniar et al., 2022). As stated by (Anggraini, 2020), mental disorders are a manifestation of a form of behavioral deviation due to emotional distortion in behavior. The general aim of this writing is to determine the effect of health promotion on early detection of people with mental disorders in Rw 07, Kedung Supervisory Village, Babelan District, Bekasi Regency. This type of research uses descriptive analytical research with a quantitative approach with a cross-sectional observational study design. Using Pre and Post Tests and primary data obtained directly from respondents. With the variable Influence of Health Promotion on the Detection of Mental Disorders in Adolescents. There was a significant influence on teenagers' knowledge before and after being given health promotion regarding people with mental disorders with a p value ≤ 0.05. And there is a significant influence on teenagers' perceptions before and after being given health promotion regarding people with mental disorders with a p value ≤ 0.05. In this study, the characteristics of teenagers in Rw 07, Kedung Supervisory Village, Babelan District, Bekasi Regency, based on age categories, were mostly 16 years old. Based on gender categories, the majority are female. Based on educational categories, most of the respondents were in Senior High School (SMA). The average early detection of mental disorders in adolescents before was 3.4348 and after being given health promotion against mental disorders was 9.6364. There is a significant influence on teenagers' knowledge before and after being given health promotion regarding people with mental disorders with a p value ≤ 0.05. There is a significant influence on teenagers' perceptions before and after being given health promotion regarding people with mental disorders with p value ≤ 0.05. Keywords: Health Promotion, Early Detection, Mental Disorders, and AdolescentsABSTRAK Pada Era globalisasi dan persaingan bebas menambah kecenderungan jiwa semakin meluas, hal ini menyebabkan adanya stresor dalam kehidupan yang semakin kompleks, seperti kehilangan seseorang yang dicintai, putusnya hubungan sosial, pengangguran, masalah dalam pernikahan, ekonomi, tekanan pekerjaan dan diskriminasi dapat meningkatknya resiko penderita gangguan jiwa. (Suerni et al., 2023).Gangguan jiwa adalah penyimpangan perilaku akibat adanya penyimpangan emosi, pikiran, perilaku, perasaan, motivasi, keinginan, kesadaran diri sendiri, dan persepsi sehingga mengganggu dalam proses hidup.  (Isnaniar et al., 2022). Sama halnya disampaiakan oleh (Anggraini, 2020), gangguan jiwa merupakan manifestasi dari bentuk penyimpangan perilaku akibat adanya distorsi emosi dalam bertingkah laku. Tujuan umum penulisan ini untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap Deteksi Dini remaja mengenai orang dalam gangguan jiwa di Rw 07 Kelurahan Kedung Pengawas Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif dengan desain studi observasional Cross sectional. Menggunakan Pre dan Post Test dan data primer yang diperoleh langsung dari responden. Dengan variabel Pengaruh Promosi Kesehatan Kesehatan Terhadap Deteksi Gangguan Jiwa Pada Remaja. Adanya pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan mengenai orang dengan gangguan jiwa dengan p value ≤ 0,05. Serta adanya pengaruh yang signifikan terhadap persepsi remaja sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan mengenai orang dengan gangguan jiwa dengan p value ≤ 0,05. Dalam penelitian ini karakteristik remaja di Rw 07 Kelurahan Kedung Pengawas Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi berdasarkan kategorik usia sebagian besar berumur 16 tahun. Berdasarkan kategorik jenis kelamin sebagian besar berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan kategorik pendidikan sebagian besar responden berada di Sekolah Menengah Atas (SMA). Rata – rata deteksi dini gangguan jiwa pada remaja sebelum 3,4348 dan sesudah diberikan promosi kesehatan terhadap gangguan jiwa adalah 9,6364. Adanya pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan remaja sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan mengenai orang dengan gangguan jiwa dengan p value ≤ 0,05. Adanya pengaruh yang signifikan terhadap persepsi remaja sebelum dan sesudah diberikan promosi kesehatan mengenai orang dengan gangguan jiwa dengan p value ≤ 0,05. Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Deteksi Dini, Gangguan Jiwa, dan Remaja
Pengaruh Terapi Kognitif terhadap Penurunan Tingkat Halusinasi Ikhsan, Muhamad Arif; Suara, Mahyar
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i10.10913

Abstract

ABSTRACT Mental health is still a significant health problem in the world, including in Indonesia. According to WHO (2019) the prevalence of schizophrenia patients is 20 million people in the world. Mental disorder is a disease that tends to become chronic and is often accompanied by a decrease in function (disability) in the field of work, social relations and the ability to care for oneself so that it tends to depend as an aspect of life on the surrounding environment. Based on data from the results of a withdrawal study conducted by researchers at RSJ Islam Kelender in the last 3 years in 2020 there were 18 schizophrenic patients with GSP:Hallucinations, in 2021 there were 20 schizophrenic patients with GSP:Hallucinations and in 2022 until now there are 21 schizophrenic patients with GSP:Hallucinations. To determine the effect cognitive therapy for reducing the level of hallucinations. This research is an analytic research, meaning a study that aims to see a relationship or influence in the form of experimental research using the cross-sectional method, namely the type of dependent variable (dependent) and independent variable (Independent) measured in time the same as using the T-test. There is an effect on the level of hallucinations in schizophrenic patients with hallucinations after being given cognitive therapy Keywords: Hallucinations, Cognitive Therapy (2018-2021)  ABSTRAK Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut WHO (2019) bahwa prevlansi pasien Skizofrenian 20 juta orang di dunia. Gangguan jiwa merupakan salah satu penyakit yang mempunyai kecenderungan untuk menjadi kronis dan sering disertai dengan adanya penurunan fungsi (disability) dibidang pekerjaan, hubungan sosial dan kemampuan merawat diri sehingga cenderung menggantungkan sebagai aspek kehidupannya pada lingkungan sekitar, Berdasarkan data hasil study pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di RSJ Islam Kelender dalam 3 tahun terakhir pada tahun 2020 terdapat 18 pasien skizofrenia dengan GSP:Halusinasi, pada tahun 2021 terdapat 20 pasien skizofrenia  dengan GSP:Halusinasi dan pada tahun 2022 sampai sekarang terdapat 21 pasien skizofrenia dengan GSP:Halusinasi. Untuk mengetahui pengaruh terapi kognitif terhadap penurunan tingkat halusinasi. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik artinya suatu penelitian yang bertujuan untuk melihat adanya hubungan atau pengaruh  dalam bentuk penelitian eksperimen menggunakan metode crossectional yaitu jenis variabel terikat (dependen)  maupun variabel  bebas ( Independen ) diukur dalam waktu yang bersamaan dengan menggunakan uji T-test. Ada pengaruh pada tingkat halusinasi pasien skizofrenia dengan halusinasi setelah diberikan terapi kognitif Kata Kunci: Halusinasi, Terapi Kognitif (2018-2021)
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga terhadap Tingkat Cemas dalam Memberikan Perawatan Pasien Pasca Stroke di RSUD Karawang Suara, Mahyar; Subekti, Puri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i11.19646

Abstract

ABSTRACT Stroke is currently the leading cause of disability and the second leading cause of death worldwide, following heart disease. In Indonesia, this disease, which results from a blockage of blood flow to the brain, is even the primary cause of death. Post-stroke patient care requires significant support and involvement from the family. Research shows that a high level of family support tends to contribute to better recovery progress and self-efficacy in stroke patients. The general objective of this study is to determine the relationship between family knowledge and attitudes with the level of anxiety in caring for family members in post-stroke conditions at Karawang Regional General Hospital (RSUD Karawang) in 2024. The method used in this study is a correlation method with a cross-sectional approach, where dependent and independent variables are obtained from primary data collected simultaneously using a questionnaire. The collected data is then processed to determine whether there is an influence between the two variables. This study uses a random sampling technique, conducted randomly on families of post-stroke patients at RSUD Karawang. The analysis results show that most respondents are between 31-50 years old. The majority of respondents are male (63.3%). More than half of the respondents have attained secondary education, namely senior high school (46.7%) and junior high school (13.3%). The respondents' family relationships are evenly distributed across categories, and most respondents (73.3%) have no prior experience in caring for post-stroke patients. More than half of the respondents (53.3%) have a low level of knowledge, while nearly all respondents fall into the moderate or good attitude category. The majority of the respondents (80%) experience mild anxiety levels. The analysis of the effect of family knowledge on anxiety levels showed that the chi-square test resulted in a p-value of 0.870, leading to the acceptance of the null hypothesis (Ho), meaning there is no significant relationship. The same result was found in the analysis of the effect of family attitudes on anxiety levels, with a p-value of 0.816, which is greater than the alpha value of 0.05. This also leads to the acceptance of Ho and rejection of Hi, indicating no significant relationship. Keywords: Family Attitude, Family Knowledge, Anxiety Level, Post-Stroke Patients   ABSTRAK Stroke saat ini menjadi penyebab disabilitas nomor satu dan penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung. Penyakit akibat penyumbatan aliran darah ke otak ini di Indonesia bahkan adalah penyebab kematian utama saat ini. Perawatan pasien pasca stroke sangat membutuhkan dukungan dan peran keluarga. Penelitian menunjukan dukungan keluarga yang tinggi cenderung memberi dampak kemajuan pemulihan dan self-efficacy yang lebih baik pada pasien stroke. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan tingkat kecemasan dalam merawat anggota keluarga dengan kondisi pasca Stroke di RSUD Karawang tahun 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional, yaitu variable dependen dan variable independen didapat dari data primer yang di peroleh secara bersamaan dalam satu waktu menggunakan kuisioner. Dari data yang diperoleh kemudian diolah apakah ada hubungan pengaruh antara kedua variabel tersebut atau tidak. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan random sampling yang dilakukan secara acak pada keluarga pasien pasca Stroke di RSUD Karawang.  Data hasil analisis menunjukkan sebagian besar responden berusia antara 31-50 tahun, Jenis kelamin responden lebih banyak laki laki yaitu sebanyak 63,3%, lebih dari setengah responden mengenyam pendidikan sampai jenjang sekolah menengah yaitu SMA (46,7%) dan SMP (13,3%). hubungan keluarga responden tersebar merata di tiap kategori dan sebagian besar responden tidak memiliki pengalaman dalam merawat pasien pasca stroke yaitu sebanyak 73,3%. Lebih dari setengah responden tergolong memiliki pengetahuan dengan kategori rendah yaitu sebanyak 53,3% dan hampir seluruh responden masuk kategori sikap cukup dan sikap baik. Sebagian besar responden keluarga pasien menunjukan tingkat kecemasan dengan kategori cemas ringan yaitu sebanyak 80%. Hasil analisa pengaruh pengetahuan keluarga terhadap tingkat kecemasan menunjukan Nilai P yang didapat pada uji chi-kuadrat adalah 0.870 sehingga hipotesis 0 diterima yang artinya tidak ada hubungan. Hasil yang sama terjadi pada analisa hubungan pengaruh dari sikap keluarga terhadap tingkat kecemasan yang menghasilkan nilai P 0,816 lebih besar dari nilai alpa yaitu 0,05 sehingga Ho diterima dan Hi tertolak artinya tidak ada hubungan pengaruh. Kata Kunci: Sikap Keluarga, Pengetahuan Keluarga, Tingkat Kecemasan, Pasien Pasca Stroke
Pengaruh Terapi Relaksasi Benson Terhadap Penurunan Perilaku Kekerasan dengan Instrumen PANSS-EC pada Pasien dengan Perilaku Kekerasan di RSKD Duren Sawit Jakarta Timur Saputri, Tri Marlena; Suara, Mahyar
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i3.10981

Abstract

ABSTRACT Mental disorder is a condition that affects the mental health of an individual. Individuals with mental disorders have a sizable population, even one in eight people has a mental disorder. Mental disorders themselves are usually accompanied by the appearance of violent behavior both towards oneself and others. Management of violent behavior that can be done is in the form of relaxation therapy in the form of benson relaxation, which consists of deep breathing accompanied by spiritual activities. This writing aims to be able to provide insight and knowledge about the effect of benson relaxation therapy on reducing violent behavior in patients with violent behavior. This study uses a design in the form of pre-post test design, by selecting the sample in the form of a simple random sample, then the research data was analyzed using univariate and bivariate analysis with a data processing program in the form of SPSS. The results showed that there was an effect of benson relaxation therapy on patients with violent behavior, the visible effect was a decrease in violent behavior in patients with violent behavior. based on the results of the study there was an effect of benson relaxation therapy on violent behavior, in the form of a decrease in violent behavior in 24 patients. The characteristics of patients with violent behavior show that there were 26 patients experiencing acute agitation, after being given the intervention it decreased to only three people experiencing acute agitation. In addition, based on the results of the study, there was an effect of benson relaxation therapy on violent behavior, in the form of a decrease in violent behavior in 24 patients. Keywords: Benson Relaxation Techniques, Violent Behavior, Deep Breathing Techniques, Spiritual Activities  ABSTRAK Gangguan jiwa merupakan suatu kondisi yang mempengaruhi kesehatan jiwa suatu individu. Individu dengan gangguan jiwa memiliki populasi yang cukup besar bahkan satu dari delapan orang mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa sendiri biasanya disertai dengan munculnya perilaku kekerasan baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Manajemen perilaku kekerasan yang bisa dilakukan berupa terapi relaksasi berupa relaksasi benson, yang terdiri dari napas dalam disertai dengan kegiatan spiritual. Penulisan ini bertujuan agar dapat menginformasikan wawasan dan pengetahuan terhadap pengaruh terapi relaksasi benson terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien dengan perilaku kekerasan. Penelitian ini menggunakan desain berupa pre-post test design, dengan pemilihan sampel berupa sampel acak sederhana, kemudian data penelitian di analisis dengan analisis univariat dan bivariat dengan program pengolah data berupa SPSS. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya pengaruh terapi relaksasi benson terhadap pasien dengan perilaku kekerasan, pengaruh yang terlihat berupa penurunan perilaku kekerasan pada pasien dengan perilaku kekerasan. berdasarkan hasil penelitian terdapat pengaruh dari terapi relaksasi benson terhadap perilaku kekerasan, berupa penurunan perilaku kekerasan pada 24 pasien.  Karakteristik pasien dengan perilaku kekerasan menunjukan bahwa terdapat 26 pasien mengalami agitasi akut, setelah diberikan intervensi menurun hingga hanya tiga orang yang mengalami agitasi akut. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian terdapat pengaruh dari terapi relaksasi benson terhadap perilaku kekerasan, berupa penurunan perilaku kekerasan pada 24 pasien. Kata Kunci: Teknik relaksasi benson, Perilaku kekerasan, Teknik napas dalam, Kegiatan Spiritual