Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

RELATIONSHIP BETWEEN PARITY AND FAMILY SUPPORT WITH REGULARITY OF CONSUMPTION OF BLOOD ENHANCER TABLETS IN PREGNANT WOMEN Nadeak, Yasrida; Rahmadani, Ratih Sri; Panjaitan, Polma Ria; Sipayung, Ika Damayanti
Getsempena Health Science Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/ghsj.v4i1.3178

Abstract

Anemia in pregnancy is a public health problem that is still highly prevalent in Indonesia and has serious impacts on maternal health and fetal development. The impact of anemia during pregnancy is not only short-term but also long-term, both for the mother and the fetus. One of the recommended preventive efforts is regular consumption of iron tablets (TTD) during pregnancy. However, the level of compliance of pregnant women in consuming TTD is still relatively low. This study aims to analyze the relationship between parity and family support with the regularity of TTD consumption in pregnant women in Muara Batu-Batu Village, Rundeng District. The study used a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 52 respondents were selected using purposive sampling techniques based on inclusion criteria, namely pregnant women who had received TTD from health workers, did not experience pregnancy complications, and were willing to be respondents. Data collection was carried out using questionnaires and documentation, then analyzed using the chi-square test. The results showed that the majority of respondents were grandemultipara (88.5%), unemployed (88.4%), and had hemoglobin levels <11.5 gr% (65.1%). As many as 59.6% of respondents were recorded as irregular in consuming TTD. Statistical tests showed a significant relationship between family support and regularity of TTD consumption (p = 0.003), while no significant relationship was found between parity and regularity of TTD consumption (p = 0.610). This finding confirms that family support, whether in the form of emotional motivation, information, or practical assistance, is a determining factor in increasing compliance of pregnant women. In contrast, the number of previous pregnancies did not have a direct effect. Therefore, increasing education and family involvement needs to be strengthened in maternal health interventions, especially iron supplementation programs.
PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA BAYI UMUR 3-6 BULAN Manullang, Rasmi; Nadeak, Yasrida; Aruan, Lasria Yolivia; Zulzirah, Lisa Zulzirah
Getsempena Health Science Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/ghsj.v4i1.3206

Abstract

Tidur merupakan kebutuhan penting bagi tumbuh kembang bayi, terutama pada usia 3–6 bulan yang merupakan masa emas perkembangan. Gangguan tidur pada bayi dapat berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan kognitif. Pijat bayi merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat membantu meningkatkan kualitas tidur bayi melalui stimulasi sentuhan yang menenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat bayi terhadap kualitas tidur bayi usia 3–6 bulan. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group. Sampel sebanyak 32 bayi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang diberikan pijat bayi dan kelompok kontrol tanpa perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji Paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan rata-rata durasi tidur pada kelompok eksperimen dari 7,2 ± 0,8 jam menjadi 9,1 ± 0,6 jam (p = 0,000), sementara kelompok kontrol tidak mengalami perubahan signifikan (p = 0,413). Kesimpulannya, pijat bayi berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan kualitas tidur bayi.AbstractSleep is an important need for infant growth and development, especially at the age of 3–6 months which is the golden period of development. Sleep disorders in infants can have a negative impact on physical and cognitive development. Infant massage is one of the non-pharmacological interventions that can help improve infant sleep quality through soothing touch stimulation. This study aims to determine the effect of infant massage on the sleep quality of infants aged 3–6 months. The method used is a quasi-experimental method with a non-equivalent control group design. A sample of 32 infants was divided into two groups, namely the experimental group given infant massage and the control group without treatment. Data were analyzed using the Paired t-test. The results showed a significant increase in the average sleep duration in the experimental group from 7.2 ± 0.8 hours to 9.1 ± 0.6 hours (p = 0.000), while the control group did not experience any significant changes (p = 0.413). In conclusion, infant massage has a significant effect on improving infant sleep quality.
PENYULUHAN PADA IBU HAMIL YANG CEMAS DALAM PROSES PERSALINAN NORMAL DI PMB MARSHINTA SIRAIT DI MEDAN POLONIA Nadeak, Yasrida; Panjaitan, Polma
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 01 (2024): FEBRUARI 2024
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Individu yang merasa cemas akan merasa tidak nyaman atau takut, namun tidak mengetahui alasan kondisi tersebut terjadi. Kecemasan tidak memiliki stimulus yang jelas yang dapat diidentifikasi. (Videbeck, 2012) Cemas (ansietas) merupakan sebuah emosi dan pengalaman subjektif yang dialami sesorang dan berhubungan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. (Kusumawati dan Hartono, 2012) Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai dengan kekhawatiran, keprihatinan dan rasa takut yang timbul secara alami dan dalam tingkat yang berbeda-beda. (Maimunah, 2009) 2.1.2 Etiologi Kecemasan Secara umum, terdapat dua teori mengenai etiopatogenesis munculnya kecemasan, yaitu teori psikologis dan teori biologis. Teori psikologis terdiri atas tiga kelompok utama yaitu teori psikoanalitik, teori perilaku dan teori eksistensial. Sedangkan teori biologis terdiri atas sistem saraf otonom, neurotransmiter, studi pencitraan otak, dan teori genetik. (Sadock, 2015)
Faktor yang Memengaruhi Perilaku Seksual Remaja di SMA Yayasan Karya Jaya Pangururan Kabupaten Samosir Nadeak, Yasrida; Raja, Sarma Lumban; Marsaulina, Ivansri
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 8, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v8i1.1964

Abstract

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis sebelum menikah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang memengaruhi perilaku seksual remaja di SMA Yayasan Karya Jaya Pangururan Kabupaten samosir. Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan kuantitatif dan. Populasi penelitian ini 202 orang, dengan rumus Slovin diambil sampel sebanyak 67 orang. Analisis kuantitatif secara univariat, bivariat menggunakan chi- square dan multivariat menggunakan regresi logistic berganda pada taraf kepercayaan 95% (a = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan variabel yang memengaruhi perilaku seksual remaja di SMA Yayasan Karya Jaya Pangururan Kabupaten Samosir  yaitu  keluarga p=0,025, pengetahuan p=0,000 , sosial media p=0,002, status pacaran p=0,003, teman sebaya p=0,000.Variabel yang paling dominan adalah variabel sosial media mempunyai nilai Exp(B) = 11,121. Kesimpulan penelitian bahwa perilaku seksual di pengaruhi oleh keluarga, pengetahuan, sosial media, teman sebaya, dan status pacaran. Diharapkan kepada guru sebagai pendidik untuk menyampaikan informasi dan mengadakan seminar tentang pendidikan seks disekolah dan kepada Orang tua juga berperan penuh terhadap tumbuh kembang anak karena remaja memerlukan informasi yang tepat tentang seks sehingga remaja tidak mengikuti informasi yang salah, dengan tujuan mempersiapkan remaja memasuki masa reproduksi agar tercapai kehidupan reproduksi sehat baik seacara medis maupun sosial.Kata Kunci : Faktor- faktor, Perilaku seksual, RemajaSexual behavior is all behavior driven by sexual desire, both with the opposite sex and the same sex before marriage. The purpose of this study was to determine the factors that influence adolescent sexual behavior in SMA Karya Jaya Pangururan Foundation, Samosir Regency. This type of research is an analytical survey with a quantitative approach and. The study population was 202 people, with the Slovin formula taken a sample of 67 people. Quantitative analysis was univariate, bivariate using chi-square and multivariate using multiple logistic regression at the 95% confidence level (a = 0.05). The results showed that the variables that influence adolescent sexual behavior at SMA Yayasan Karya Jaya Pangururan, Samosir Regency are family p = 0.025, knowledge p = 0,000, social media p = 0.002, dating status p = 0.003, peer p = 0.000. The most dominant variable is a social media variable that has a value of Exp (B) = 11,121. The conclusion of the study is that sexual behavior is influenced by family, knowledge, social media, peers, and dating status. It is expected for teachers as educators to convey information and hold seminars on sex education in schools and for parents to also play a full role in the growth and development of children because adolescents need correct information about sex so that adolescents do not follow wrong information, with the aim of preparing adolescents to enter the reproductive period so that they achieve a healthy reproductive life both medically and socially.Keywords: factors, sexual behavior, adolescents
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG MAKANAN YANG MENGANDUNG ZAT BESI Lumbantobing, Eva Mariana; Nadeak, Yasrida
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/xwx6jf44

Abstract

Anemia pada kehamilan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu, terutama melalui peningkatan risiko perdarahan dan komplikasi kehamilan. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah pemenuhan kebutuhan zat besi melalui konsumsi makanan yang mengandung zat besi, yang sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan ibu hamil tentang makanan yang mengandung zat besi. Penelitian menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang melakukan kunjungan Ante Natal Care (ANC) di Klinik Bidan Nuraini Kecamatan Cengkareng pada periode Maret–Juni 2025, dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling dan jumlah responden sebanyak 101 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup karakteristik responden dan tingkat pengetahuan tentang makanan sumber zat besi, kemudian dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, serta multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil memiliki pengetahuan yang kurang tentang makanan yang mengandung zat besi. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, umur, dan sumber informasi dengan kepatuhan konsumsi makanan sumber zat besi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pengetahuan ibu hamil adalah umur, sumber informasi, pekerjaan, dan pengetahuan awal, sedangkan pendidikan tidak berperan sebagai faktor dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu dan akses informasi berperan penting dalam membentuk pengetahuan ibu hamil mengenai makanan yang mengandung zat besi.
Penyuluhan kesehatan mengenai metode kontrasepsi pada wanita usia subur (WUS) di wilayah terdampak banjir Aruan, Lasria Yolivia; Manullang, Rasmi; Nadeak, Yasrida; Novita, Plora; Isabella, Nova; Padilla, Erin; Aslamia, Saibatul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2608

Abstract

Background: Floods are a frequent disaster and have the potential to negatively impact health care services, including reproductive health. Women of childbearing age in flood-affected areas are at risk of limited access to contraceptive information and services, increasing the risk of unplanned pregnancies. Purpose: This community service activity aims to increase the knowledge and understanding of in flood-affected areas regarding contraceptive methods. Method: The activity was conducted in November 2025 in Bandar Klippa Village, a flood-affected area. Forty women of childbearing age and health workers in the Bandar Klippa Village area participated as respondents. This activity used a promotive-educational approach to increase women of childbearing age's knowledge regarding reproductive health, particularly regarding appropriate, safe, and healthy contraceptive method choices. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation of the activity was conducted by observing the increase in respondents' knowledge between before and after the educational activity. Mentoring and observation were conducted to assess respondents' active role during the activity, including their level of participation, active participation in activities, attendance, and interest in contraceptive use. Results: Obtaining data that the average age of respondents is 31.55 years and most respondents are in the age range of 26-30 years, namely 12 people (30.0%). A total of 34 respondents understand the types of contraception, 36 respondents were also actively involved in discussion activities during the activity, 32 respondents had an interest in using contraception, and all respondents followed the activity to completion. Table 2 shows that the level of knowledge of respondents is in the good category, 18 people (45%) in the sufficient category, and 12 people (30%) in the poor category. There is a change in the proportion of respondents' level of knowledge in the good category from 10 people (25%) before the educational activity to 30 people (75%) after the educational activity. Conclusion: Community service activities providing contraceptive counseling to women of childbearing age in flood-affected areas have proven effective and significantly increased their knowledge and ability to recognize various contraceptive methods. These activities also made a positive contribution to the community, increasing motivation, participation, and interest in appropriate, safe, and healthy contraceptive use. Suggestion: Sustainable reproductive health counseling involving health cadres, medical personnel, and village government support is needed to ensure that contraceptive information remains available to the community, especially in disaster-prone areas. Keywords: Contraceptive methods; Health counseling; Impact of flooding; Reproductive health; Women of childbearing age Pendahuluan: Banjir merupakan bencana yang sering terjadi dan berpotensi memiliki dampak buruk terhadap pelayanan pada fasilitas kesehatan menjadi terganggu, termasuk kesehatan reproduksi. Wanita usia subur (WUS) di wilayah terdampak banjir berisiko mengalami keterbatasan akses informasi dan layanan kontrasepsi, sehingga meningkatkan risiko kehamilan tidak direncanakan. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman WUS di wilayah terdampak banjir mengenai metode kontrasepsi. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan November 2025 di Desa Bandar Klippa, yang merupakan wilayah terdampak banjir. Melibatkan 40 wanita usia subur untuk menjadi responden dan tenaga kesehatan wilayah Desa Bandar Klippa. Kegiatan ini menggunakan pendekatan promotif edukatif dalam meningkatkan pengetahuan wanita usia subur terkait kesehatan reproduksi, khususnya mengenai pilihan metode kontrasepsi yang sesuai, aman, dan sehat. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melihat peningkatan pengetahuan responden antara sebelum kegiatan edukasi dan sesudah kegiatan edukasi. Pendampingan dan observasi dilakukan untuk melihat peran aktif responden selama kegiatan dilaksanakan meliputi tingkat partisipasi, keaktifan dalam mengikuti kegiatan, kehadiran dan keminatan penggunaan kontrasepsi. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 31.55 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 26-30 tahun yaitu sebanyak 12 orang (30.0%). Sebanyak 34 responden memahami jenis kontrasepsi, sebanyak 36 responden juga terlibat aktif dalam kegiatan diskusi selama kegiatan, sebanyak 32 responden memiliki keminatan untuk menggunakan kontrasepsi, dan seluruh responden mengikuti kegiatan hingga selesai. Pada tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden adalah dalam kategori baik, sebanyak 18 orang (45%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 12 orang (30%) dalam kategori kurang. Terdapat perubahan proporsi tingkat pengetahuan responden dalam kategori baik dari sebanyak 10 orang (25%) sebelum kegiatan edukasi menjadi sebanyak 30 orang (75%) setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan metode kontrasepsi pada wanita usia subur di wilayah terdampak banjir terbukti efektif dan signifikan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengenali berbagai metode kontrasepsi. Kegiatan ini juga memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan meningkatkan motivasi, partisipasi dan minat penggunaan kontrasepsi yang sesuai, aman, dan sehat. Saran: Diperlukan pelaksanaan penyuluhan kesehatan reproduksi secara berkelanjutan dengan melibatkan kader kesehatan, tenaga medis, serta dukungan pemerintah desa agar informasi kontrasepsi tetap tersedia bagi masyarakat, terutama di wilayah rawan bencana.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KETERATURAN KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH Napitu, Vinni Yuliana; Nadeak, Yasrida
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/ygch0k58

Abstract

Anemia pada kehamilan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena berdampak pada kesehatan ibu dan janin. Salah satu upaya pencegahan yang direkomendasikan adalah konsumsi tablet tambah darah (Fe), namun tingkat kepatuhan ibu hamil masih rendah dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil dengan keteraturan konsumsi tablet Fe. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 52 ibu hamil yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 20–35 tahun, berpendidikan SMA, tidak bekerja, multigravida, dan memiliki kadar Hb <11,5 gr%. Sebagian besar ibu memiliki pengetahuan kurang (42,3%) dan tidak teratur mengonsumsi tablet Fe (59,6%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu dengan keteraturan konsumsi tablet Fe (p-value = 0,003). Ibu dengan pengetahuan lebih baik cenderung lebih teratur mengonsumsi tablet Fe dibandingkan ibu dengan pengetahuan kurang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan ibu hamil sangat penting dalam meningkatkan kepatuhan konsumsi tablet Fe sebagai upaya pencegahan anemia selama kehamilan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang berkelanjutan melalui tenaga kesehatan dan program antenatal care untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku ibu hamil dalam menjaga status kesehatannya.