Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JOURNAL OF Qualitative Health Research

Efektivitas terapi seft dan back massage terhadap kelelahan dan spiritualitas pada pasien non-hodgkin’s lymphoma diffuse large b-cell cavum nasi dextra: Studi kasus Wulandari, Sri; Prasestiyo, Hamudi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2073

Abstract

Background: Diffuse Large B-Cell Lymphoma (DLBCL) is the most common and aggressive subtype of Non-Hodgkin's Lymphoma, with nasal cavity involvement being very rare. Non-pharmacological approaches such as Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) and back massage have been shown to reduce fatigue and improve spiritual well-being, but combination therapy has not been widely studied. Purpose: To determine the effectiveness of the combination of SEFT and back massage on fatigue and spirituality in patients with nasal DLBCL through a case study approach. Method: The research design used a quantitative descriptive pre-post case study. The subject was a 65-year-old male patient diagnosed with right nasal cavity DLBCL. The intervention was administered over three consecutive days, consisting of a combination of SEFT (15–20 minutes) and slow-stroke back massage (20–25 minutes). The instruments used were the Fatigue Assessment Scale (FAS) and the Spiritual Well-Being Scale (SWBS). Results: There was a decrease in the FAS score from 40 to 32 and an increase in the SWBS score from 69 to 98. Although both interventions were still in the severe and moderate categories, the decrease and increase in post-test scores showed a positive trend after three intervention sessions. Conclusion: The combination of SEFT and back massage effectively reduced fatigue and increased spirituality in patients with nasal cavity DLBCL. This intervention is safe, applicable, and supports a holistic nursing approach. Keywords: Back Massage; DLBCL; Fatigue; SEFT; Spirituality. Pendahuluan: Diffuse Large B-Cell Lymphoma (DLBCL) merupakan subtipe paling umum dan agresif dari Limfoma Non-Hodgkin, dengan keterlibatan kavum nasi yang sangat jarang. Pendekatan non farmakologis seperti Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) dan back massage telah terbukti dapat menurunkan kelelahan dan meningkatkan kesejahteraan spiritual, tetapi belum banyak diteliti dalam pemberian kombinasi. Tujuan: Mengetahui efektivitas kombinasi SEFT dan back massage terhadap kelelahan dan spiritualitas pada pasien DLBCL cavum nasi melalui pendekatan studi kasus. Metode: Desain penelitian studi kasus pre–post deskriptif kuantitatif. Subjek adalah pasien laki-laki, 65 tahun, dengan diagnosa DLBCL cavum nasi dextra. Intervensi diberikan selama tiga hari berturut-turut berupa kombinasi SEFT (15–20 menit) dan back massage slow-stroke (20–25 menit). Instrumen yang digunakan yaitu Fatigue Assessment Scale (FAS) dan Spiritual Well-Being Scale (SWBS). Hasil: Terjadi penurunan skor FAS dari 40 menjadi 32 dan peningkatan skor SWBS dari 69 menjadi 98. Meskipun kedua intervensi ini masih dalam kategori berat dan sedang tetapi penurunan dan peningkatan dalam skor post-test menunjukan arah yang positif setelah tiga sesi intervensi. Simpulan: Kombinasi SEFT dan back massage efektif dapat menurunkan kelelahan dan meningkatkan spiritualitas pada pasien DLBCL kavum nasi. Intervensi ini aman, aplikatif, dan mendukung pendekatan keperawatan yang holistik. Kata Kunci: Back Massage; DLBCL; Fatigue; SEFT; Spiritualitas.      
Hubungan tingkat kecemasan terhadap kualitas hidup pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi Sulastriningsih, Inda; Prasestiyo, Hamudi; Sriyati, Sriyati
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2690

Abstract

Background: Cancer is a chronic disease that affects not only physical health but also patients’ psychological well-being, including anxiety. Cancer patients undergoing chemotherapy frequently experience anxiety due to treatment side effects, uncertainty regarding prognosis, and concerns about disease recurrence, which may ultimately reduce their quality of life. Purpose: To determine the relationship between anxiety levels and quality of life among cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This study employed a quantitative approach with a descriptive correlational design using a cross-sectional method. The sample consisted of 47 cancer patients undergoing chemotherapy, selected through purposive sampling. Anxiety levels were measured using the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), while quality of life was assessed using the European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30). Data were analyzed using the Spearman Rank correlation test. Results: The findings indicated that 34.0% of patients experienced moderate anxiety, and 57.4% had a moderate level of quality of life. The Spearman Rank correlation test showed a significant relationship between anxiety level and quality of life among cancer patients undergoing chemotherapy (p-value = 0.000 [< 0.05]) with a correlation coefficient of −0.792. Conclusion: There is a statistically significant and strong negative correlation between anxiety level and quality of life among cancer patients undergoing chemotherapy.   Keywords: Anxiety; Cancer; Chemotherapy; EORTC QLQ-C30; Quality Of Life.   Pendahuluan: Kanker merupakan penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis pasien, salah satunya kecemasan. Pasien kanker yang menjalani kemoterapi sering mengalami kecemasan akibat efek samping terapi, ketidakpastian prognosis, serta kekhawatiran terhadap kekambuhan penyakit, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan terhadap kualitas hidup pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini sebanyak 47 pasien kanker yang menjalani kemoterapi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30). Teknik analisa data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Menunjukkan tingkat kecemasan sedang (34%) dan kualitas hidup sedang (57.4%). Uji korelasi spearman rank menandakan adanya hubungan antara tingkat kecemasan terhadap kualitas hidup pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi dengan p-value = 0.000 < 0.05 dan koefisien korelasi -0.792. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan terhadap kualitas hidup pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi.   Kata Kunci: EORTC QLQ-30; Kanker; Kecemasan; Kemoterapi; Kualitas Hidup.
Jenis kanker dengan kualitas hidup pada pasien kanker Aisah, Mugni; Prasestiyo, Hamudi; Widiastuti, Widiastuti
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2716

Abstract

Background: Cancer is a chronic disease that not only affects physical conditions but also influences patients’ psychological, social, and environmental aspects. Differences in cancer types may lead to variations in symptoms, treatment processes, and patients’ responses to the disease, which potentially affect quality of life. Purpose: To determine the relationship between cancer type and quality of life among cancer patients. Method: This study is a quantitative research with a descriptive-analytic design and a cross-sectional approach. The study population consisted of 173 cancer patients, with a total sample of 70 respondents selected based on inclusion and exclusion criteria using a purposive sampling technique. The type of cancer was measured using respondents’ characteristic data, while quality of life was assessed using the European Organisation for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30). Data were analyzed using Kendall’s Tau correlation test. Results: Most respondents had breast cancer (85.7%) and good quality of life (92.9%). Kendall’s Tau correlation test showed no significant relationship between cancer type and quality of life, with a p-value of 0.056 >0.05 and a correlation coefficient of -0.185. Conclusion: There was no significant relationship between cancer type and quality of life among cancer patients. The strength of the relationship between the two variables was categorized as very weak with a negative direction, indicating an inverse or non-proportional relationship.   Keywords: Cancer; Cancer Type; Quality Of Life.   Pendahuluan: Kanker merupakan penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis, sosial, dan lingkungan pasien. Perbedaan jenis kanker dapat menyebabkan variasi gejala, proses pengobatan, serta respons pasien terhadap penyakit, yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara jenis kanker dengan kualitas hidup pasien kanker. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analtik dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian berjumlah 173 pasien kanker dengan jumlah sampel sebanyak 70 responden yang dipilih dengan kriteria inklusi dan ekslusi menggunakan teknik purposive sampling. Jenis kanker diukur menggunakan data karakteristik responden, sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire (EORTC QLQ-C30). Teknik Analisa data menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau. Hasil: Sebagaian besar responden memiliki jenis kanker payudara (85,7%) dan kualitas hidup baik (92,9%). Uji korelasi Kendall’s Tau menunjukan tidak ada hubungan antara jenis kanker dengan kualitas hidup pada pasien kanker dengan nilai p-value = 0.056 < 0.05 dan koefisien korelasi -0.185. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kanker dengan kualitas hidup pada pasien kanker dan tingkat keeratan hubungan kedua variabel ini di kategorikan sangat rendah dengan arah hubungan negatif yang memiliki makna hubungan berlawanan atau tidak berbanding lurus.   Kata Kunci: Jenis Kanker; Kanker; Kualitas Hidup.
Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa Lestari, Puput Ayu; Istiqomah, Istiqomah; Prasestiyo, Hamudi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2724

Abstract

Background: Gastritis is a condition that causes inflammation of the lining of the stomach and is common in people of productive age, including college students. Purpose: To analyze factors related to the occurrence of gastritis in 5th semester nursing students, which include diet, stress levels, medication consumption, and coffee consumption. Method: This research is quantitative with a descriptive correlation design using a cross-sectional approach. The sample consisted of 70 students selected using simple random sampling from a total population of 233. Data were collected through a questionnaire and analyzed using the Chi-Square statistical test. Results: The analysis showed that there was a significant relationship between stress and the incidence of gastritis (p-value 0.014 < 0.05) and consumption of NSAIDs with the incidence of gastritis (p-value 0.000 < 0.05). In contrast, diet (p-value 0.242 > 0.05) and coffee consumption (p-value 0.065 > 0.05) did not statistically show a significant relationship with the incidence of gastritis in the respondents of this study. The characteristics of the respondents were dominated by women (87.1%) with moderate stress levels (44.3%) and poor diet (55.7%). Conclusion: Stress and medication use were the main factors contributing significantly to gastritis.   Keywords: Diet; Drug Consumption; Gastritis; Nursing Students; Stress.   Pendahuluan: Gastritis adalah kondisi yang menyebabkan peradangan pada lapisan lambung dan umum terjadi pada orang usia produktif, termasuk mahasiswa. Tujuan: Untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya gastritis pada mahasiswa yang meliputi pola makan, tingkat stres, konsumsi obat, dan konsumsi kopi. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain korelasi deskriptif menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 70 mahasiswa yang dipilih menggunakan simple random sampling dari total populasi 233 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara stres dan kejadian gastritis (nilai p 0.014 < 0.05) serta konsumsi NSAID dengan kejadian gastritis (nilai p 0.000 < 0.05). Sebaliknya, pola makan (nilai p 0.242 > 0.05) dan konsumsi kopi (nilai p 0.065 > 0.05) tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik dengan kejadian gastritis pada responden penelitian ini. Karakteristik responden didominasi oleh perempuan (87.1%) dengan tingkat stres sedang (44.3%), dan pola makan buruk (55.7%). Simpulan: Stres dan penggunaan obat-obatan merupakan faktor utama yang berkontribusi signifikan terhadap gastritis.   Kata Kunci : Gastritis; Konsumsi Obat; Mahasiswa Keperawatan; Pola Makan; Stres.
Hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan terapi hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik Meviyana, Pita; Sriyati, Sriyati; Prasestiyo, Hamudi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 5 (2026): May Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i5.2752

Abstract

Background: Chronic kidney disease is a progressive disease that requires lifelong renal replacement therapy, one of which is hemodialysis. Patient compliance in undergoing therapy is very important to prevent complications and improve quality of life. One of the factors that influence compliance is family support. Purpose: To determine the relationship between family support and adherence to hemodialysis therapy in chronic kidney failure patients. Method: Quantitative research with correlational analytical design using a cross-sectional approach. A sample of 73 respondents was selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a family support questionnaire and a hemodialysis therapy adherence questionnaire, then analyzed using the Spearman Rank test. Results: The results showed a significant relationship between family support and adherence to hemodialysis therapy with a p value = 0.000 (p <0.05) and a correlation coefficient of r = 0.495. These values ​​indicate a positive relationship with moderate strength, which means that the higher the family support, the higher the patient's adherence in undergoing hemodialysis therapy. Conclusion: There is a significant relationship between family support and adherence to hemodialysis therapy in patients with chronic kidney disease. Optimal family support plays a crucial role in improving patient adherence to hemodialysis therapy and supporting treatment success.   Keywords: Adherence; Family Support; Hemodialysis.   Pendahuluan: Gagal ginjal kronik merupakan penyakit progresif yang memerlukan terapi pengganti ginjal seumur hidup, salah satunya hemodialisa. Kepatuhan pasien dalam menjalani terapi sangat penting untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup. Salah satu faktor yang memengaruhi kepatuhan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan terapi hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik korelasional menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 73 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner kepatuhan terapi hemodialisa, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan terapi hemodialisa dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dan koefisien korelasi r = 0,495. Nilai tersebut menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sedang, yang berarti semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi kepatuhan pasien dalam menjalani terapi hemodialisa. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan terapi hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik..   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Hemodialisa; Kepatuhan.