Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pergulatan dalam Memperjuangkan Dasar Negara syamzan syukur; Mastanning Mastanning
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 22 No 2 (2020): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas mengenai perdebatan di seputar ideologi dasar negera yang mula-mula menjadi fokus perhatian menjelang kemerdekaan Indonesia sampai hasil akhir pergularan dasar Negara tersebut. Sidang BPUPKI mengalami perdebatan hangat saat dasar negara disentuh, iklim politik. dua kubu Islam dan nasionalis (atau kadang disebut Nasionalis Islam dan Nasionalis Sekuler) mengkristal menjadi kekuatan yang saling berhadapan. Dibentuklah “Piagam Jakarta”, yang pada dasarnya merupakan penerimaan Pancasila sebagai dasar negara dengan sila pertama “Ketuhanan, dengan    kewajiban    menjalankan    syari’at    Islam    bagi    pemeluk- pemeluknya. Akan tetapi, seorang pejabat angkatan laut Jepang datang ke Hatta dan melaporkan bahwa orang-orang Krisiten (yang sebagian besarnya berdomisili di wilayah timur Nusantara) tidak akan bergabung dengan  Republik Indonesia kecuali jika  beberapa  unsur  dari  Piagam  Jakarta  (yakni dengan  kewajiban  menjalankan syari’at   Islam   bagi   pemeluk-pemeluknya,   Islam   sebagai   agama   negara dan pernyataan bahwa presiden harus seorang Muslim) dihapuskan. Pandangan mereka kerangka konstitusi nasional semacam itu akan mengundang diambilnya langkah- langkah yang diskriminatif. Muhammad Hatta menyarankan (beberapa sumber menyebut   “mendesak”)   kelompok   Islam   agar   dibuat   penyesuaian-penyesuaian tertentu atas Piagam Jakarta dan batang tubuh UUD 1945 untuk menjamin keutuhan dan kesatuan negara nasional Indonesia yang baru saja diproklamirkan. Hasil pertemuan tersebut menhasilkan perubahan sila “Ketuhana Yang Maha Esa”.
Mattoana Arajang di Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone (Suatu Tinjauan Kebudayaan Islam) Mastanning Mastanning
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 3 No 01 (2015): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v3i01.1386

Abstract

Mattoana Arajang is a rite to offering sesajen which as a symbol of respect to memorize the respected ancestors of Ajangale-Bone Society. This ritual is still ongoing after the arrival of Islam. This ritual shows that the presence of Mattoana Arajang in Ajangale District which began to the local belief to Dewata SeuwaE. That local belief was trusted as a provider of the heritage to ensure the settlement of Buginese people in Bone. Based on people’s views about Mattoana Arajang that this ritual could be disappear by itself due to a deep understanding of Islamic teachings on the society. So, the Arajang should be stored in museum to ensure the maintenance of it. Furthermore, there is the main thing to be considered which is to do counseling due to this custom can violate the Islamic law.
Peran Dinasti Mamluk dalam Membendung Ekspansi Bangsa Mongol ke Dunia Islam Syamzan Syukur; mastanning Anning
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5455

Abstract

“Mamluk” berarti budak atau hamba yang ditawan dan dididik, pengetahuan agama dan pengetahuan militer serta ilmu pengetahuan lainnya oleh Dinasti Ayyubiyah. Dalam proses pemerintahan, Mamluk berubah menjadi Dinasti.  Sistem pemerintahannya adalah sistem militeristik  (pergantian kepemimpinan berdasarkan karir militer). Walaupun pada perkembangannya kemudian, sistem pergantian pemimpinnya, berubah menjadi sistem monarchieheredetis. Kemajuan yang diperoleh Dinasti Mamluk tidak hanya dari segi militer, tetapi ilmu pengertahuan, arsitektur dan bidang ekonomi. Sejak Mamluk berkuasa, Mesir menjadi penghubung jalur perdagangan Timur dan Barat. Kehadiran Dinasti Mamluk menambah catatan perstasi kerajaan Islam dalam pentas politik terutama peranannya dalam membendung ambisi pasukan Tartar (Bangsa Mongol) untuk menguasai Islam yang pada saat itu mengalami kemajuan peradaban. Tentara Mamluk dan Mongol saling berhadapan di Ayn Jalut dan pertempuran pun terjadi pada tanggal tahun 658 H./1260. Strategi yang digunakan oleh Dinasti Mamluk dalam mempersatukan umat Islam membuat pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Mongol.
Implementasi Ritual Addinging-dinging pada Masyarakat Modern di Tambung Batua Gowa: Tinjauan Sosio-Kultural Mastanning Mastanning; Khadijah - Tahir; Abdullah Renre
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2020): History of Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v8i2.16360

Abstract

This research aims to analyze the rituals or practices Addinging-dinging that survives in the context of modern society. This research is descriptive research using a qualistative approach. Primary data are obtained from research informants, cultural figures and community leaders, while secondary data are obtained from the relevant literatur, documents and references. The techniques of collecting data are done by interviewing, observing and documenting. This research also employs a relational social culture. The results conclude the implementation of Addinging-dinging ritual means relasing the nazar that had been said. They are grateful for the bountiful harvest and as a forms of repellent against things that are feared. The addinging-dinging ritual has been able to survive until now because it is based on religious values, spiritual values, social values, cultural values and economic values. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna impelentasi ritual (amalan) Addinging-dinging yang bertahan dalam konteks masyarakat modern. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis yang menerapkan pendekatan kualitatif. Data yang diperlukan berupa proses pelaksanaan, benda-benda yang digunakan dalam tradis serta analisis nilai yang ada dalam ritual. Data utama bersumber dari informan, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Data sekunder diperoleh dari literatur, dokumen dan referensi yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Penelitian menggunakan pendekatan teori budaya sosial. Hasil penelitian menyimpulkan impelementasi ritual addinging-dinging bermakna pelepas nazar yang pernah diucapkan sebagai tanda syukur patas hasil panen yang melimpah dan sebagai wujud penolak bala terhadap hal-hal yang ditakutkan. Adapun ritual Addinging-dinging mampu bertahan sampai sekarang karena dilandasi nilai religious, nilai kesadaran spiritual, nilai sosial, nilai budaya dan nilai ekonomi.
ADAQ MASSORONG KAPPAR PADA MASYARAKAT PAMBOANG DI MAJENE: PERSPEKTIF NILAI BUDAYA ISLAM Rahmawati Rahmawati; Mastanning mastanning; Ummul Khair
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i2.275

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai Islam dalam tradisi massorong kappar pada masyarakat pesisir di Desa Tinambung Pamboang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan data lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara (interview) kepada pelaku tradisi, dan melakukan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilainilaiIslam dalam tradisi massorong kappar diurutkan berdasakan proses pelaksanaannya. Sebelum pelaksanaan, dianjurkan diucapkan kalimat tayyibah syahadatain, istighfar, dan selawat. Perempuan memasak harus dalam keadaan suci dan menggunakan jilbab atau pakaian tertutup. Proses pertamamerendam beras dengan membaca tawassul lalu tallu sura’ (Surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, dan surah  An-Nas). Kedua membentuk tiga sokkol (ketan) seperti gunung dengan warna yang berbeda. Bacaan surah disesuaikan warna sokkol. Filosofi sokkol berwarna hitam menyimbolkan tanah, artinya manusia diciptakan dari tanah dan surah Al-Ikhlas bermakna seluruh manusia hanya menggantungkan usaha dan harapannya kepada Allah Swt. Sokkol berwarna kuning dibacakan surah Al-Falaq sebagai simbol angin atau udara karena ayat-ayat tersebut tersirat makna bahwa manusia membutuhkan udara untuk bernafas. Selain itu, angin juga bisa menjadi sarana kekuatan negatif berupa sihir yang dihembuskan melalui angin. Adapun sokkol putih dibacakan surah An-Nas sebagai simbol air sebab memiliki arti sangat penting di mana air merupakan sumber kehidupan. Ketiga, memilih tallun rupa loka (tiga macam pisang) bermakna kesuburan manusia dan segan mati sebelum berjasa. Keempat memilih tello manu kappung (telur ayam kampung) bermakna dengan ukuran kecilnya mampu sukses dan memiliki manfaat serta bermakna bahwa manusia dapat mengatasi segala halangan dan rintangannya. Kelima, kappar bermakna kebersamaan, gotong royong, penghormatan, dan pemberian gelar. Dalam tradisI massorong kappar dilakukan dengan makna segala tindakan baik harus diawali dengan ucapan yang baik. Bertawakal atas segala yang dilakukan dan memohon ampunan apabila terjadi kekhilafan.
Integrasi Budaya Islam dengan Budaya Lokal dalam Upacara Pernikahan di Desa Ummareng Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru Nurhikmah, Nurhikmah; Aksa; Mastanning
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 10 No 01 (2022): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v10i01.42163

Abstract

This research aims to find out how Islamic culture is integrated with local culture in wedding ceremonies in Ummareng Village, Tanete Rilau District, Barru Regency. This research is cultural research with qualitative data, descriptive analysis. Data was obtained through field research (field data) as a primary source and library research (library data) as a secondary source. The research approaches used are historical, sociological, anthropological and religious approaches. The application of local culture in wedding ceremonies in Tanete Rilau sub-district, Barru Regency is related to this existence, namely the beginning of the Bugis Barru wedding in Tanete Rilau sub-district, Barru Regency which is divided into two stages, namely preparation for the procession before the wedding, the marriage contract procession. Integration of the Bugis Traditional Wedding Procession with the Islamic Wedding Procession, in several stages of implementation, such as the Al-Quran mappatemme procession, barazanji, and the marriage contract. Values of Islamic Cultural Integration, mammanu-manu, ma'duta, mappetu'ada, mappasikarawa, barazanji. And the values of Islamic Cultural Integration, tolerance, justice, interconnection. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana integrasi budaya Islam dengan budaya lokal dalam upacara pernikahan di Desa Ummareng Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Penelitian ini adalah penelitian budaya dengan data kualitatif analisi deskriptif. Data diperoleh melalui field research (data lapangan) sebagai sumber primer dan library research (data pustaka) sebagai sumber sekunder. Pendekatan penelitian digunakan adalah pendekatan sejarah, sosiologi, antropologi, agama. Pelaksanan Budaya lokal dalam Upacara pernikahan di kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru terkait keberadaan tersebut, yang mana awal dilakukannya pernikahan Bugis Barru kepada Kacamatan tanete rilau Kabupaten barru yang terbagi menjadi dua tahapan yaitu, persiapan prosesi sebelum pelaksanaan pernikahan, prosesi akad nikah. Intergrasi dalam Prosesi Pernikahan Adat Bugis dengan Prosesi Pernikahan islam, dalam beberapa tahap-tahap pelaksanaannya seperti pada prosesi mappatemme Alquran, barazanji, dan akad nikah. Nilai-nilai Intergrasi Budaya islam, mammanu-manu, ma’duta, mappetu’ada, mappasikarawa, barazanji. Dan nilai-nilai Intergrasi Budaya Islam, toleransi, keadilan, Interkoneksi.
Benteng Rotterdam: Alih Fungsi Benteng Rotterdam Pasca Perjanjian Bongaya Sri Rezky Meiliana, Sri Rezky Meiliana; Mastanning; Syukur, Syamzan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 02 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i02.42992

Abstract

This research discusses the function of Fort Rotterdam which has changed several times, starting from Fort Rotterdam as a defense base which is the main function of the establishment of a fort especially during the kingdoms, to the fort which has changed and added functions tailored to the needs and interests of certain control. The results of this study indicate that the function of Fort Rotterdam experienced a transition and addition of functions in each period of control starting from the control of the Kingdom of Gowa, after the Bongaya agreement the fort was under the control of the Dutch, Japanese to the time after independence.
Pengaruh Kepemimpinan dan Kebijakan Sultan Alauddin Terhadap Kerajaan Makassar (1593 -1639 M) hikmahh, hikmahh; Mastanning; Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 11 No 01 (2023): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v11i01.43253

Abstract

Sultan Alauddin (1593-1639) adalah anak dari raja Gowa ke-12 yang bernama Karaeng Bontolangkasa atau Tunijallo, dan ibunya adalah raja Tallo yang ke-4. Ketika ia dinobatkan sebagai raja Gowa ke-14, umurnya masih sangat muda sehingga yang menjalankan roda pemerintahan diwakilkan kepada raja Tallo ke-6 atau Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo yang bernama Karaeng Matoaya. Raja Tallo yang merangkap Mangkubimi Kerajaan Gowa bernama I Malingkaang Daeng Manyonri adalah yang pertama kali menerima agama Islam dan mengucapkan dua kalimat Syahadat. Setelah pengucapan dua kalimat syahadat, beliau lalu diberi gelar Islam Sultan Abdullah Awwalul Islam, yang artinya orang yang pertama menerima agama Islam sebagai agamanya. Setelah itu menyusul raja Gowa yang bernama I Mangarangi Daeng Manra’bia raja Gowa ke-14, lalu kemudian diberi gelar Islam Sultan Alauddin. Pada 9 November 1607, dinyatakan sebagai penerimaan Islam oleh rakyat Gowa dan Tallo sebagai agamanya, dan Kerajaan Gowa menjadikan agama Islam sebagai agama resmi kerajaan. ketika pemerintahan Sultan Alauddin di Kerajaan Gowa, beliau sangat menekankan perlunya ada persamaan di antara sesama manusia, apakah itu adalah penduduk asli kerajaan ataukah mereka berasal dari luar, bahkan juga berlaku bagi bangsa asing. Hal ini tercermin dalam bidang perdagangan, dimana Pelabuhan Somba Opu dibuka selebar-lebarnya kepada siapa saja dengan tidak membedakan warna kulit. Hal inilah yang menyebabkan sehingga Kerajaan Gowa terkenal hingga ke luar negeri dan bangsa-bangsa asing berdatangan untuk melakukan perdagangan antar wilayah. Ia juga sangat menentang monopoli perdagangan di daerahnya.
Fort Rotterdam's Contribution to The Development Of Cultural Heritage Sri Rezky Meiliana, Sri Rezky Meiliana; Syukur, Syamzan; Mastanning
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 25 No 02 (2023): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v25i02.42769

Abstract

This research aims to examine the role of Fort Rotterdam as a cultural heritage development in people's lives. This research is qualitative research using library research and field research. The steps in historical research are heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The establishment of Fort Rotterdam was initiated by King Gowa IX Tumaparisi Kallonna as a royal defense base and continued by his son Karaeng Tunipalangga. The results of this research show that Fort Rotterdam continues to experience changes in function in each period. The role of Fort Rotterdam as a post-independence cultural heritage development in people's lives can be seen in several aspects of society's social, economic and political life. The role of Fort Rotterdam as a source of increasing understanding regarding history and culture, a means of building social relations, a means of maintaining the local identity of the Makassar community, and improving the community's economy.
Pinisi Maritime Traditions in The Bonto Bahari Community of Bulukumba Lisnayanti, Lisnayanti; Rahmat; Mastanning
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 26 No 01 (2024): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v26i01.42993

Abstract

This research aims to examine the elements of Islamic culture in the pinisi maritime tradition of the Bonto Bahari Bulukumba community. Pinisi boat, which originated from the Sawerigading story, is a traditional boat from South Sulawesi, precisely Bulukumba, known as Butta Panrita Lopi. Pinisi in its manufacture is still thick with the culture of the local community. In its development, the pinisi boat has been recognized as a humanitarian heritage for intangible culture authorized by UNESCO. This research is a cultural research using qualitative data obtained from field study data and literature data. The data collection methods used are interviews, observations, and through written documents. The results of this study show that in the tradition of pinisi maritime there are several rituals performed, namely, annakbang kalabiseang (keel cutting), annattara (keel connection), appasili (rejecting bad luck), ammossi (cutting the navel), and annyorong lopi (boat launching). The elements of Islamic culture contained in these rituals are religious system and religious ceremonies, community organization system, and livelihood system.