Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Tata Krama Makan Pada Masyarakat Bugis Mastanning, Mastanning
PUSAKA Vol 10 No 1 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i1.667

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan eksistensi tata krama makan pada masyarakat Bugis di Desa Leppangeng, Kecamatan Ajangale Kabupaten Bone. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan data lapangan sebagai sumber primer dan data Pustaka sebagai sumber sekunder untuk menguatkan temuan data. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah antropologi budaya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata krama makan masyarakat Bugis di Leppangeng masih dipertahankan secara turun temurun, meskipun ada perubahan-perubahan nilai akibat pengaruh modernisasi. Waktu makan dan minum adalah pagi, siang, dan malam. Ada pun tempatnya di ruang dapur rumah dan terkadang di teras rumah yang digunakan sebagai tempat sarapan. Pakaian dikenakan pada saat makan menggunakan pakaian rapi dan sopan. Laki-laki dewasa juga menggunakan peci. Tata cara makan biasanya mendahulukan kelompok laki-laki dewasa atau tamu, lalu kelompok perempuan. Masyarakat Bugis pedesaan umumnya menggunakan kappar (baki) dalam menyuguhkan menu makanan dan duduk melingkarinya. Isi kappar terdiri nasi, lauk pauk dan sayur yang di tata dalam bakul untuk nasi dan mangkuk atau piring untuk sayur dan laukpauk. Sikap pada waktu makan dan minum harus menggunakan tangan kanan. Pada saat makan, tidak diperbolehkan banyak berbicara terutama berbicara buruk, dilarang makan dan minum dengan berjalan atau berdiri, karena dianggap tidak beretika. Adapun, yang berteriak memanggil pada saat makan, maka tidak diperbolehkan menjawab, karena dianggap ganjen. Larangan tersebut, karena dikhawatirkan berdampak buruk pada sistem pencernaan.
Nilai Simbolik Rumah Adat Caile dalam Studi Budaya Nur, Haerani; Syukur, Syamzan; Mastanning, Mastanning
PUSAKA Vol 10 No 2 (2022): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v10i2.867

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai rumah adat Caile di Desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa dalam Perspektif Budaya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan Field Research berupa hasil wawancara, observasi langsung ke lokasi dan Library Research sebagai data pendukung yaitu mencari sumber-sumber secara tertulis yang berkaitan dengan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, Caile dibagun oleh Dampangia pada tahun 1468 atau pertengahan abad 15 M. Rumah adat Caile merupakan rumah pertama yang dibangun di wilayah itu dan setiap orang yang lewat akan menoleh sehingga nama Caile diambil dari bahasa Konjo yaitu Assaile yang berarti menoleh. Kedua, fungsi rumah adat Caile pada masa kerajaan hingga masa modern, Rumah adat Caile difungsikan sebagai tempat pelantikan raja dan orang-orang yang dipercaya sebagai pelaksana tugas pemerintahan namun pada masa modern ini Caile tidak lagi menjadi tempat pelantikan raja. Ketiga, nilai-nilai yang terkandung dalam rumah adat Caile sebagai salah satu warisan budaya yang ikonik bagi masyarakat Pao memberikan pengaruh pada pola hidup masyarakat. Oleh karena itu, rumah adat tersebut perlu dijaga dan dipertahankan. Keyakinan masyarakat terhadap kesakralan rumah adat tersebut membuat keberadaannya menjadi salah satu warisan budaya terpenting di desa Pao Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.
The Model of The Archipelago's Maritime Muslim City in Medieval Times (A Study of Somba Opu in the Kingdom of Makassar) Syukur, Syamzan; Suraya Rasyid; Rahmat; Rahmawati; Mastanning
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 26 No 02 (2024): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v26i02.52933

Abstract

The purpose of this study is to reconstruct Somba Opu as a model of the Muslim maritime city of the archipelago in medieval times. The results of this study will be useful for the government of South Sulawesi Province, especially in determining policies related to urban planning and urban governance (good urban governance). The types of research used are library research and field research. Library research focuses on reviewing, studying, and discussing literature or library sources and other sources. Filed research captures actual data and information at the research location. The research steps are Heuristics, Criticism, Interpretation, and historiography. The results of this study show that Somba Opu grew to become one of the maritime Muslim Cities in the archipelago in the 17th century. The characteristics include; Somba Opu is the center of the Makassar Kingdom government as well as an international commercial city visited by foreign traders from Asia (China, Malay, India, and Arabia) and from Europe such as Portugal, so the population grew significantly and pluralist, coastal markets grew into economic centers and private and foreign companies providing employment, the existence of the Mosque as a symbol of Islamic government with a majority Muslim population. The king with the title of Sultan was Sultan Alauddin and the kings after him. This Islamic government respects the plurality of society which is marked by the existence of non-Muslim houses of worship such as churches that are permitted by the ruler. The results of this study will complement and enrich previous studies as well as become a reference for urban managers and urban planning experts.
Kontribusi K.H. Muh. Nuh Khaeruddin dalam Pengembangan Pondok Pesantren Al-Furqan Ereng-Ereng Kabupaten Bantaeng Tahun 1986-2004 Iqmal; Mastanning; Akasa
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 27 No 01 (2025): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v27i01.56544

Abstract

This is a writing of the contributions of KH. Muh. Nuh Khaeruddin in the development of the Al-Furqan Ereng-Ereng Islamic Boarding School, Bantaeng Regency, from 1986 to 2004. The main objectives of this research are to detail the biography of KH. Muh. Nuh Khaeruddin, trace the history of the founding of the Al-Furqan Ereng-Ereng Islamic Boarding School, and analyze the contributions of KH. Muh. Nuh Khaeruddin to the school's development. This research employs a qualitative descriptive analysis method, utilizing both library and field data. The primary field data source was obtained through interviews, while the library data were collected from various relevant sources. The research approach encompasses historical, educational, religious, and anthropological perspectives. The research steps include heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results of this research are as follows: First, KH. Muh. Nuh Khaeruddin was born in the village of Ereng-Ereng, Bantaeng, on June 6, 1940. His notable works include the book "Al-Tashrif," the book "Mahu Al-Ibadah," and guidelines for Zakat and Fasting. Second, the history of the Al-Furqan Ereng-Ereng Islamic Boarding School began with the return of KH. Muh. Nuh Khaeruddin to his hometown to promote Islamic education. In 1986, he founded the Al-Furqan Ereng-Ereng Islamic Boarding School. Third, KH. Muh. Nuh Khaeruddin's focus on deepening religious knowledge had a positive impact on the students, leading to the development of a cadre of preachers to continue his missionary efforts. Implications: The author hopes that this thesis will be useful for readers to learn about KH. Muh. Nuh Khaeruddin, a scholar who significantly influenced the development of Islamic education, particularly at the Al-Furqan Ereng-Ereng Islamic Boarding School in Bantaeng Regency. Future researchers are recommended to discuss in more detail the development of Islamic boarding schools influenced by KH. Muh. Nuh Khaeruddin's thinking.
Mappatabe’ dan Moderasi Beragama: Kearifan Lokal Bugis dalam Konteks Multikultural Mastanning, Mastanning; Dahlan, M.; Jusmiati, Jusmiati; Ilham, Muhamad
Lani: Jurnal Kajian Ilmu Sejarah dan Budaya Vol 6 No 2 (2025): Lani: Jurnal Kajian Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/Lanivol6iss2page170-182

Abstract

Mappatabe’ sebagai ekspresi etika sopan santun dan penghormatan dalam budaya Bugis, merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal yang berakar kuat pada norma sosial, tanggung jawab kolektif, dan harmoni antarkelompok. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji reaktualisasi nilai-nilai Mappatabe’ dalam mendukung penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat multikultural, khususnya komunitas Bugis di Desa Jabal Kubis, Kabupaten Kolaka Utara wilayah yang secara historis merupakan permukiman awal etnis Tolaki-Mekongga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa nilai-nilai Mappatabe’ diaktualisasikan dalam berbagai sektor kehidupan, meliputi dimensi sosial-ekonomi, budaya, pendidikan moral, pemerintahan, dan keagamaan. Reaktualisasi ini tidak hanya memperkuat kohesi sosial internal masyarakat Bugis, tetapi juga mendorong terciptanya relasi antarumat beragama yang inklusif dan harmonis. Dengan demikian, Mappatabe’ berpotensi menjadi instrumen kultural yang relevan secara universal dalam pembangunan masyarakat multikultural yang moderat dan toleran. Mappatabe' as an expression of ethics, manners, and respect in Bugis culture represents local wisdom values that are deeply rooted in social norms, collective responsibility, and intergroup harmony. This study aims to examine the reactivation of Mappatabe' values in supporting the strengthening of religious moderation in a multicultural society, particularly the Bugis community in Jabal Kubis Village, North Kolaka Regency, an area that was historically the original settlement of the Tolaki-Mekongga ethnic group. This study uses a qualitative approach, with data obtained through participatory observation, in-depth interviews, and documentation studies. The results show that Mappatabe' values are actualized in various sectors of life, including socio-economic, cultural, moral education, government, and religious dimensions. This re-actualization not only strengthens the internal social cohesion of the Bugis community, but also encourages the creation of inclusive and harmonious interfaith relations. Thus, Mappatabe' has the potential to become a universally relevant cultural instrument in the development of a moderate and tolerant multicultural society.
Analysis Of Sultan Abdul Hamid Ii’s Pan-Islamism Policy Towards Asian And European Geopolitics In The 19th Century Noer Hamsah, Muh. Ilham; M, Mastanning, M. Dahlan
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana praktik politik serta kebijakan Pan-Islamisme yang dijalankan Sultan Abdul Hamid II selama menjalankan kepemimpinan sebagai sultan di Turki Utsmani. Sultan Abdul Hamid II merupakan sultan ke-34 yang memerintah pada dinasti Turki Utsmani, pemerintahannya dimulai pada tahun 1876-1909. Semasa menjabat sebagai sultan, Abdul Hamid II menerima banyak sekali gejolak politik terutama yang berasal dari pengaruh negara-negara Eropa yang waktu itu sedang berada pada fase kebangkitan pemikiran atau yang lebih dikenal dengan Renaissance yang diulai setelah revolusi Prancis berhasil dilakukan oleh Napoleon Bonaparte. Akibat banyaknya pengaruh westernisasi yang menghinggapi sebagian masyarakat Utsmani tersebut, Sultan Abdul Hamid II kemudian menerepkan taktik politik Pan-Islamisme. Kebijakan Pan-Islamisme sendiri merupakan sebuah taktik poltik yang dikomandoi oleh Sultan Abdul Hamid II guna menghalau gerakan westernisasi yang dilakukan negara-negara Eropa abad ke-XIX kepada negara-negara muslim diseluruh dunia dengan menggunakan strategi Devide et Impera dengan tujuan menguasai dan mengeksploitasi negara-negara jajahannya tersebut.