Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Shifting role of parenting from Mom’s to Dad’s : a case study of a Mix Culture Families Wulandari, Yenie
Jurnal Teori dan Praksis Pembelajaran IPS Vol. 7, No. 2
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um022v7i22022p70

Abstract

The discourse on the impact of the COVID-19 pandemic tends to focus on the health and economic aspects. Even though the secondary impact of this pandemic has also resulted in conflicts of cultural values. This qualitative study tried to get a comprehensive picture related to the dynamics of their shifting role of parenting and its impact on their children. This study used social role theory, social judgment theory, and social exchange theory. The subjects were three inter-ethnic married couples: Javanese-Minang, Bantenese-Madurese, and Javanese-Sundanese in Banten province, Indonesia. This research used data collection techniques through in-depth interviews and stays for one month with each family. The result showed that although the parents did not affect by society's judgment through their acts there was a tendency to impact the child's development after they were reaching their teenage years.
KEPUASAN AKSEPTOR TERHADAP PELAYANAN PEMASANGAN KONTRASEPSI IMPLAN DI PROVINSI BANTEN PASCA PANDEMI COVID-19 Oktriyanto, Oktriyanto; Amrullah, Hilma; Wulandari, Yenie
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 16.1
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2023.16.1.72

Abstract

Provinsi Banten merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sangat terdampak oleh pandemi Covid-19. Dampak tersebut diantaranya adalah pelayanan program keluarga berencana pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan akseptor terhadap pelayanan pemasangan kontrasepsi implan di Provinsi Banten pasca pandemi Covid-19. Desain penelitian menggunakan cross-sectional study. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei Tahun 2022 di Kota Cilegon dan Kota Serang, Provinsi Banten, dengan mempertimbangkan banyaknya jumlah calon akseptor kontrasepsi implan yang akan dilayani pada waktu pelaksanaan penelitian. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan customer satisfaction index (CSI). Hasil Penelitian menunjukan bahwa 7 dari 10 responden sudah merasa puas terhadap pelayanan pemasangan kontrasepsi implan di Provinsi Banten. CSI dari dimensi keandalan paling rendah dibandingkan dimensi lainnya, disebabkan variabel tentang petugas keluarga berencana (PLKB/Kader KB) dan pemberi layanan (dokter/bidan) dianggap belum maksimal dalam memberikan penjelasan terkait keuntungan dan kerugian (efek samping) penggunaan kontrasepsi implan sebelum pelayanan. Berdasarkan temuan tersebut, petugas keluarga berencana maupun pemberi layanan perlu memberikan komunikasi, informasi dan edukasi secara menyeluruh pada akseptor sebelum pelayanan pemasangan kontrasepsi implan.
Stunting dan Infeksi pada Balita di Provinsi Banten Wulandari, Yenie; Ismiyati, Ismiyati
Journal of Midwifery and Health Research Vol. 2 No. 02 (2024): Journal of Midwifery and Health Research
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36743/jmhr.v2i02.694

Abstract

Permasalahan tumbuh kembang anak yang saat ini menjadi perhatian adalah stunting. Kejadian stunting di Indonesia mencapai 24,4%. Sedangkan di Provinsi Banten kejadian stunting melebihi nasional yaitu 24,5%. Stunting disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah adanya riwayat infeksi seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA),diare, maupun cacingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan infeksi dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik kasus kontrol yang menggunakan data sekunder dari hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021 untuk wilayah Provinsi Banten yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jumlah sampel sebanyak 3671 balita. Analisis data menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian stunting banyak terjadi pada balita yang pernah mengalami infeksi (28.8%) bila dibandingkan dengan balita stunting yang tidak mengalami infeksi (20.9%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p-valeu = 0.001, sehingga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stunting dengan infeksi pada balita. Balita yang terinfeksi memiliki risiko (OR) 1.532 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang tidak mengalami infeksi. Balita dengan riwayat infeksi lebih besar berisiko untuk terjadi stunting.
Berat Badan Lahir, Panjang Badan Lahir, dan Jenis Kelamin Sebagai Faktor Kejadian Stunting di Provinsi Banten Rodiah, Dina; Ismiyati, Ismiyati; Wulandari, Yenie; Kuswandi, Kadar; Lindawati, Ida
Journal of Midwifery and Health Research Vol. 4 No. 01 (2025): Journal of Midwifery and Health Research
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36743/jmhr.v4i01.946

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia meskipun prevalensinya menunjukkan penurunan secara bertahap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara berat badan lahir, panjang badan lahir, dan jenis kelamin bayi dengan kejadian stunting pada balita di Provinsi Banten. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 3.671 balita. Berat badan lahir diklasifikasikan menjadi berat badan lahir rendah dan normal, sedangkan panjang badan lahir dibedakan menjadi <48 cm dan ≥48 cm. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan lahir rendah berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (p=0,001; OR=2,473). Balita dengan panjang badan lahir <48 cm memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting (p=0,001; OR=2,413). Selain itu, balita laki-laki lebih berisiko mengalami stunting dibandingkan perempuan (p=0,007; OR=1,238). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan intervensi kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan dan awal kehidupan untuk mencegah stunting.