Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

ANALISIS KEGIATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PENGALAMAN DALAM MENUMBAHKAN KARAKTER SISWA DI JOGJA GREEN SCHOOL Fadilah Rizki Nur Pratama; Retna Mega Kartika; Lena Sari Wulandari; Arum Puspa Kencana; Andriani Dini Prastiwi; Dini Mayada Wulan Juwita; Valentina Surya Ningrum; Taufik Muhtarom
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 01 Maret 2026 Produce
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.11734

Abstract

The purpose of this study is to determine: 1) Implementation and concrete forms of programs at Jogja Green School in the process of character building students; 2) Implementation of the flagship nature school program oriented towards practical activities (hands-on) and life skills at Jogja Green School; 3) Obstacles and challenges faced by Jogja Green School in carrying out various character education activities. This study uses a descriptive qualitative approach method. Data were collected through participant observation techniques, in-depth interviews, and documentation. Data analysis techniques were carried out systematically following the interactive model of Miles and Huberman, which includes the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. This article analyzes the Planning, Implementation, Evaluation, and Challenges of the implementation of the flagship program Oriented Hands-On and Life Skills at Jogja Green School (JGS), an inclusive nature school established in 2009 and inspired by the Totto-chan philosophy. With 80% inclusive students, JGS emphasizes a flexible curriculum and focuses on character education including tolerance, empathy, and social values such as forgiveness to achieve 0% cases of bullying. The planning and implementation of flagship programs center on experiential learning, realized through practical (hands-on) activities such as structured planting programs, experimental science, and weekly life skills classes such as washing and ironing, which foster independence. Additionally, there is an entrepreneurship program in the form of frozen products and a market day, with proceeds donated to the orphanage, emphasizing the formation of social character and environmental awareness. Evaluation is conducted through student assessments and behavioral observations within these integrated activities. Nevertheless, JGS faces major challenges in implementing inclusion, including the need for ongoing teacher training and adapting curriculum management to meet the needs of diverse students, in line with the philosophy that every child has the right to a decent education.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN EXPERIENTAL LEARNING DI SEKOLAH ALAM JOGJA GREEN SCHOOL DAN DAMPAKNYA DALAM MENUMBUH KEMBANGKAN NILAI KARAKTER SISWA Novalinda Dhea Amelia; Deftya Salfa Nurrochmah; Fatwa Saputri; Muhammad Choirul Musthofa; Nafaisya Kumala Sandy; Wahyuni Rismawati; Abdurrahman Asy’ari; Taufik Muhtarom
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2026): Volume 12 No. 01 Maret 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.11735

Abstract

This study aims to conduct a comprehensive analysis at Sekolah Alam Jogja Green School to: (1) determine the implementation of the experiential learning model in the school; (2) identify the character values developed through the implementation of the experiential learning model; and (3) examine the impact of implementing the experiential learning model on students’ character development. The method used was field research conducted on October 28, 2025, located in Dusun Jambon, RT 04/RW 22, Trihanggo Village, Gamping District, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta. A qualitative approach was employed, involving observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. The results show that the implementation of the experiential learning model at Sekolah Alam Jogja Green School provides active, hands-on learning experiences through activities that engage students physically, emotionally, and intellectually. The application of this learning model successfully fosters character values such as love for nature, entrepreneurship, independence, morality, logic, and science. The positive impact of experiential learning is evident in students’ behavioral changes, as they become more independent and responsible in their daily school activities. Based on these findings, the experiential learning model is recommended as an effective instructional strategy for character development in schools that emphasize experience-based and environmental education.
MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DI INDONESIA DALAM STUDI KOMPERATIF DENGAN NEGARA JEPANG, FINLANDIA Shilvy Anggelia; Zalfa Labibah Ridwan; Taufik Muhtarom
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 1 No. 4 (2024): Juli
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v1i4.1533

Abstract

Pada setiap negara memiliki pengembangan sistem pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan negaranya masing-masing. Pentingnya pendidikan dalam kehidupan dapat mengubah pola pikir manusia adanya pembentukan sistem pendidikan yang dirasa dapat menjadi cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Dapat dilihat dari beberapa negara dalam sistem pendidikan di dunia memiliki prinsip yang sama namun memiliki berbagai tingkatan dan cara pelaksanaan yang berbeda.Penelitian ini menggunakan metode literatur yang bertujuan mengeksplorasi strategi yang diterapkan oleh beberapa negara maju dalam meningkatan mutu pendidikan serta memberikan arahan yang relevan bagi memperbaiki mutu pendidikan di indonesia. Dalam penelitian ini kami menganalisis dari sumber-sumber terpercaya, baik dari artikel dan buku, yang berfokus mengenai pendidikan. Pada penelitian ini kami membandingkan beberapa negara yaitu Finlandia dan Jepang. Sistem pendidikan dalam beberapa negara tentunya tidak lepas dari perkembangan zaman dan kualitas masyarakat setempat. Hal ini tercermin dari perbedaan berdasarkan pendekatan kurikulum serta metode pembelajaran yang diterapkan dalam suatu negara. Tidak terlepas juga dari faktor budaya, kebijakan pemerintah, dan kondisi ekonomi yang dapat mempengaruh sistem pendidikan di negara. Maka dari itu disebabkan sistem pendidikan dalam setiap negara memiliki perbedaan.Sistem pendidikan dalam beberapa negara tentunya tidak lepas dari perkembangan zaman dan kualitas masyarakat setempat. Hal ini tercermin dari perbedaan berdasarkan pendekatan kurikulum serta metode pembelajaran yang diterapkan dalam suatu negara. Tidak terlepas juga dari faktor budaya, kebijakan pemerintah, dan kondisi ekonomi yang dapat mempengaruh sistem pendidikan di negara.
ANALIS STUDI PERBANDINGAN KURIKULUM DI INDONESIA DAN KAWASAN ASIA Maryani; Tessa Nathalia; Taufik Muhtarom
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 1 No. 4 (2024): Juli
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v1i4.1543

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk membandingkan sistem pendidikan negara yang berada dikawasan asia. Dalam penelitian ini membahas tentang kurikulum di negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang dan Korea Selatan. Metode yang digunakan adalah  metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data dan analisis data dengan menggunakan studi litelatur dari beberapa sumber artikel, jurnal dan buku serta sumber terpercaya lainnya. Kurikulum merupakan seperangkat rencana suatu pembelajaran yang terdiri dari materi-materi pelajaran yang terstruktur dan terencana dengan sangat baik yang akan berkaitan dengan berbagai macam kegiatan dan interaksi sosial di suatu lingkungan dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Hasil yang didapat adalah Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan mempunya kurikulum yang berbeda dengan Indonesia yang mereka terapkan di dunia pendidikan. Di Indonesia sendiri kurikulum masih sering berubah-ubah sehinnga Indonesia masih sedikit tertinggal di dunia pendidikan. Penelitian ini juga diharapkan dapat membuat mengadopsi sistem pendidikan negara-negara lain guna untuk meningkattkan kualitas pendidikan di Indonesia.
PERBEDAAN SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN NEGARA TETANGGA (MALAYSIA, SINGAPURA, DAN BRUNEI DARSUSSALAM) Diki Walhadi; Taufik Muhtarom
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 1 No. 4 (2024): Juli
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v1i4.1598

Abstract

Sistem pendidikan di Indonesia masih memiliki tantangan seperti infrastruktue yang belum memadai, kualitas guru yang beragam, dan kurikulum yang sering berubah menyebabkan kebingunan bagi guru, siswa, dan orang tua. Meskipun begitu, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Sistem pendidikan Indonesia memiliki tingkatan yaitu, pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang memfokuskas pada peningkatan kualitas hidup sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Sedangkan, Singapura memiliki sistem pendidikan unggul dengan kebijakan dua bahasadan kurikulum lengkap. Pendidikan wajib berlangsung selama sepuluh tahun, dan tiga belas tahun diperlukan untuk masuk universitas. Malaysia memiliki sistem pendidikan dari prasekolah hingga pendidikan tinggi dengan kurikulum yang tetap dan kesejahteraan guru yang diprioritaskan. Brunei Darussalam fokus pada pembangunan sumber daya manusia melalui sistem pendidikan dwibahasa dan Konsep Melayu Islam Beraja dengan menggunakan sistem SPN21 yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mencapai pendidikan lebih tinggi. Meskipun masing-masing negara memiliki keunggulan dan tantangan pada sistem pendidikan mereka, semuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pndidikan dan pembangunan tenaga kerja untuk masa depan yang lebih baik.
Analisis Penerapan Model Pembelajaran Inovatif (Experiental Learning, Learning by Doing, Research, Project Based Learning) dalam Penumbuhan Karakter Siswa SDIT Nurul Islam Yogyakarta Nada Khalista; Stephani Saputra; Alifah Nisa Azzahra; Niken Dwi Lestari; Vika Ardian; Diyah Nur Arafah; Ayu Dwi Astuti; Muhammad Syahrul; Zahra Althafia Yuna; Taufik Muhtarom
Pendas Mahakam : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Teacher Training and Education Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inovatif dalam penumbuhan karakter siswa di SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan fokus pada proses pembelajaran yang berlangsung secara alami di lingkungan sekolah. Model pembelajaran yang dikaji meliputi: 1) Experiential Learning, yang menekankan pengalaman langsung siswa dalam kegiatan belajar berbasis alam dan kehidupan sehari-hari; 2) Learning by Doing, yang mengarahkan siswa pada keterlibatan aktif melalui praktik nyata sehingga nilai karakter berkembang melalui tindakan; 3) Model Research, yang melibatkan siswa dalam kegiatan pengamatan, pengumpulan data, dan penyimpulan sederhana untuk menumbuhkan sikap kritis, teliti, dan bertanggung jawab; serta 4) Project Based Learning, yang mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek untuk melatih kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kegiatan pembelajaran, wawancara dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, serta dokumentasi guna memperoleh gambaran menyeluruh terkait pelaksanaan pembelajaran dan pembentukan karakter siswa. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber, yaitu membandingkan informasi dari berbagai informan dan hasil pengamatan lapangan dengan data dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bertahap, meliputi reduksi data untuk memilah informasi relevan, penyajian data dalam bentuk deskriptif naratif, serta penarikan kesimpulan berdasarkan keterkaitan antar data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan keempat model pembelajaran inovatif tersebut memberikan kontribusi positif terhadap penumbuhan karakter siswa, seperti kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian lingkungan, dan kerja sama. Integrasi pembelajaran dengan lingkungan alam memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Penelitian ini memberikan gambaran praktik pembelajaran inovatif yang berorientasi pada penguatan karakter siswa di sekolah dasar. Kata kunci: experiential learning; learning by doing; research; project based learning
Analisis Dasar Filosofis, Implementasi Program Pembelajaran, Keunggulan dan Tantangan Dari Sekolah Alam SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta dalam Menumbuhkan Karakter Siswa Septia Nur Etikasari; Azizah Putri Arseti; Maulina Dwi Yahya; Eka Mukti Rahayu; Fitria Kusuma Fadhilla; Ari Nur Fadillah; Riska Ardi Widyanti; Novia Diah Ayu Perdana; Taufik Muhtarom
Pendas Mahakam : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Teacher Training and Education Faculty, Widya Gama Mahakam Samarinda University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) dasar filosofis keberadaan sekolah alam di SDIT Alam Nurul Islam Yogyakarta; (2) implementasi program pembelajaran yang dijalankan oleh sekolah dalam rangka menumbuhkan karakter siswa; serta (3) keunggulan dan tantangan yang dihadapi sekolah dalam menjalankan model pembelajaran alam tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptiif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan pihak sekolah dan dokumentasi program sekolah. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif model Miles dan Huberman, dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara filosofis sekolah mengadopsi paradigma “khalifah fil ‘ard” yang mengintegrasikan nilai religius-Islam, kehidupan alam terbuka dan pendidikan karakter; program pembelajaran diarahkan melalui pembiasaan, kegiatan luar ruangan (outdoor learning), dan proyek bernuansa lingkungan serta kewirausahaan sehingga siswa tidak hanya memperoleh kompetensi akademik tetapi juga karakter: religius, tanggung jawab, kemandirian dan kepedulian lingkungan. Keunggulan sekolah terletak pada fasilitas alam terbuka, integrasi kurikulum islam terpadu dan sekolah alam, serta budaya sekolah yang mendukung karakter siswa. Tantangan dalam penumbuhan karakter siswa di SDIT Nurul Islam tidak hanya berasal dari lingkungan sekolah, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang berkembang di sekitar peserta didik.
Analisis Nilai Utama, Implementasi, Tantangan, dan Solusi Filsafat Pendidikan Progresivisme dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar: Sebuah Systematic Literature Review: Penelitian Silvia Astri Alfraeda; Teguh Prasetya; Elsa Nur Afrisa; Juniar Gita Permata; Vea Aprilia; Taufik Muhtarom
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.7117

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai inti, implementasi, tantangan, dan solusi filosofi progresivisme dalam Kurikulum Mandiri di tingkat sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan karena banyak sekolah dasar masih mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan kontekstual meskipun terdapat hubungan filosofis yang kuat antara progresivisme dan Kurikulum Mandiri. Penelitian ini menggunakan metode Tinjauan Pustaka Sistematis (SLR) dengan prosedur PRISMA. Data dikumpulkan dari 120 artikel jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan antara tahun 2016–2026 dari basis data Google Scholar, Scopus, ERIC, Crossref, Garuda, dan ScienceDirect. Setelah proses identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan inklusi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, 30 artikel dipilih dan dimasukkan dalam tinjauan akhir. Analisis data menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan progresif, praktik implementasi, tantangan, dan solusi pedagogis. Hasil menunjukkan bahwa 91,6% dari studi yang ditinjau menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa sebagai nilai dominan progresivisme dalam Kurikulum Mandiri. Penerapan pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran kontekstual, eksplorasi lingkungan, dan media pembelajaran digital memberikan kontribusi positif terhadap kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan motivasi belajar siswa. Namun, tantangan utama meliputi kompetensi pedagogis guru yang terbatas (85%), fasilitas pendidikan yang tidak memadai, kesulitan dalam penilaian autentik, dan budaya belajar konvensional di sekolah dasar. Studi ini menyarankan bahwa penguatan pelatihan guru, komunitas belajar kolaboratif, integrasi budaya lokal, dan pemanfaatan teknologi pendidikan merupakan strategi penting untuk mengoptimalkan pembelajaran progresif di sekolah dasar. Keterbatasan studi ini terletak pada penggunaan data sekunder dari artikel jurnal tanpa observasi lapangan atau wawancara langsung.
ANALISIS RAGAM DAN KARAKTERISTIK MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK DAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIVITAS SISWA SEKOLAH DASAR Fatima Az-Zahra Ramadhani Agustian; Fibriana Yasfala Risti; Fadhlin Ulayya; Amirul Muaminin; Daryl Ihsan Kurniawan; Taufik Muhtarom
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.12336

Abstract

This study aims to analyze the variety and trends of thematic learning models, their dominant characteristics, and their implementation in improving elementary school students’ critical thinking and creativity. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) method using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) framework. Data were collected from articles indexed in Google Scholar and SINTA published between 2016 and 2025. A total of 20 articles met the inclusion criteria and were analyzed. The findings indicate that the most dominant models used in thematic learning are Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), and Discovery Learning. PBL focuses on contextual problem-solving to foster critical thinking skills, PjBL emphasizes the creation of tangible products to enhance creativity, while Discovery Learning encourages students to construct knowledge independently through scientific inquiry. The implementation of these models places students at the center of the learning process through problem-solving, project-based activities, and concept discovery integrated within thematic learning. The study concludes that PBL, PjBL, and Discovery Learning are effective models for developing critical thinking and creativity among elementary school students in thematic learning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis ragam dan tren model pembelajaran tematik, karakteristik model yang dominan, serta implementasinya dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Data diperoleh dari artikel ilmiah yang terindeks Google Scholar dan SINTA pada rentang tahun 2016–2025. Berdasarkan proses seleksi, diperoleh 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang paling dominan digunakan dalam pembelajaran tematik SD adalah Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), dan Discovery Learning. PBL berfokus pada pemecahan masalah kontekstual untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, PjBL menekankan pembuatan produk nyata yang mendorong kreativitas, sedangkan Discovery Learning mengarahkan siswa menemukan konsep secara mandiri melalui proses ilmiah. Implementasi ketiga model tersebut menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran melalui aktivitas pemecahan masalah, pelaksanaan proyek, dan penemuan konsep yang terintegrasi dalam tema pembelajaran. Temuan penelitian menunjukkan bahwa PBL, PjBL, dan Discovery Learning merupakan model yang efektif dalam mendukung pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa sekolah dasar pada pembelajaran tematik.
ANALISIS KENDALA, FAKTOR DETERMINAN, DAN UPAYA GURU DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU DI KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR Aulia Ramadhani Ariyati; Fitriyani Nuraviah; Khoirunisa Aulia Insani; Ahmad Zaini Nahar; Taufik Muhtarom
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.12835

Abstract

This study aims to examine the obstacles, determinants, and teacher efforts in implementing integrated thematic learning in lower elementary school grades. This study used the Systematic Literature Review (SLR) method. Data collection was carried out following the Preferred Reporting Items For Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines sourced from Google Scholar indexed by SINTA with a time span of 2020–2026. Data were analyzed by identifying literature, selecting sources relevant to the topic, analyzing the content of the literature, and compiling the study results. Of the 627 articles obtained, 20 articles were found to meet the established criteria. From the results of the study, it can be concluded that several obstacles experienced by teachers in implementing integrated thematic learning are low competence in integrating subjects, minimal time, very limited facilities and learning tools, difficulty in planning and measuring learning, and lack of interest and low student motivation. Factors that influence the implementation of integrated thematic learning are teacher pedagogical competence, availability of facilities and equipment, students' physical and psychological health, reading culture, time management, and school and family support. Steps teachers have taken to overcome these various obstacles include training and workshops, the use of more varied and interactive educational methods, innovative learning media, increased collaboration with parents, and ongoing learning evaluations. Therefore, successful implementation of integrated thematic learning requires collaboration between teachers, schools, families, and a supportive learning environment to maximize learning objectives. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kendala, faktor determinan dan upaya guru dalam penerapan pembelajaran tematik terpadu di kelas rendah sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR). Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items For Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) yang bersumber dari Google Scholar yang terindeks SINTA dengan rentang waktu tahun 2020–2026. Data dianalisis dengan cara identifikasi literatur, pemilihan sumber yang relevan dengan topik, analisis isi dari literatur, dan penyusunan hasil kajian. Dari 627 artikel yang diperoleh, ditemukan 20 artikel yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa beberapa kendala yang dialami oleh guru dalam melakukan pembelajaran tematik terpadu adalah rendahnya kompetensi dalam menyatukan mata pelajaran, waktu yang minim, fasilitas dan alat pembelajaran yang sangat terbatas, sulitnya merencanakan dan mengukur pembelajaran, serta ketidaktertarikan dan rendahnya motivasi siswa. Faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran tematik terpadul adalah kompetensi pedagogik guru, ketersediaan fasilitas dan peralatan, kesehatan fisik dan psikologis siswa, budaya membaca, manajemen waktu, serta dukungan sekolah dan keluarga. Upaya yang telah diambil guru untuk mengatasi berbagai macam hambatan itu antara lain melalui pelatihan dan workshop, penggunaan metode pendidikan yang lebih variatif dan interaktif, inovasi media pembelajaran, peningkatan kerjasama dengan orang tua, dan melakukan evaluasi pembelajaran yang bertindak lanjut. Dengan demikian, keberhasilan dalam penerapan pembelajaran tematik terpadu memerlukan kolaborasi antara guru, sekolah, keluarga, dan lingkungan belajar yang mendukung agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.