Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menyingkap Perbedaan Mendasar: Evangelikalisme Dan Fundamentalisme – Tidak Serupa Meskipun Terkait Timotius, Timotius; Sni, Ofriana; Susanto, Johanes Lilik; Bintoro, Wahyu; Dewi, Setia
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.2 (October 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i2.23

Abstract

This writing explains the frequent misunderstanding that many evangelical figures who still like to call themselves Fundamentals, are unable to distinguish between the Evangelical and Fundamentalist movements to seem to be the same as the Fundamentalistic. Evangelical movements are different from fundamentalist movements. These evangelicals have emerged since the early 20th century as a reaction to the rejection of Modern/Liberal Theology. Fundamentalism is a movement that emphasizes the preservation of the truth of doctrine and beliefs that are considered fundamental to religion. Fundamentalists believe that religious teachings should be preserved in their original form and should not undergo adaptation or reinterpretation. They tend to be skeptical of social and cultural changes that are considered contrary to their religious beliefs and principles. Fundamentalism is often identified with a rigid attitude and rejection of modernist approaches in theology and religious life. In this article, the author uses the qualitative method of literary research as a reference in describing the problems studied. The outcome of the authors would show that the Evangelical is not the same as the fundamentalist so the equation caused by the lack of understanding of the Evangelistic can be explained.   Tulisan ini untuk menjelaskan akan kesalahpahaman yang sering terjadi dimana banyak tokoh Evangelikal masih suka menyebut dirinya sendiri Fundamentalis, mereka tidak bisa membedakan antara gerakan Evangelikal dan Fundamentalis sehingga seolah-olah gerakan Evangelikal sama dengan Fundamentalis. Padahal gerakan Evangelikal berbeda dengan Fundamentalis. Kaum Evangelical ini muncul sejak awal abad ke-20 sebagai reaksi penolakan terhadap Teologi Modern/Liberal. Sedangkan Fundamentalisme adalah gerakan yang menekankan pemeliharaan kebenaran doktrin dan keyakinan yang dianggap mendasar (fundamental) bagi agama. Para fundamentalis percaya bahwa ajaran-ajaran agama harus dijaga dalam bentuk aslinya dan tidak boleh mengalami penyesuaian atau reinterpretasi. Mereka cenderung bersikap skeptis terhadap perubahan sosial dan budaya yang dianggap bertentangan dengan keyakinan dan prinsip-prinsip agama mereka. Fundamentalisme sering kali diidentifikasi dengan sikap yang kaku dan penolakan terhadap pendekatan modernis dalam teologi dan kehidupan beragama. Dalam artikel ini,  penulis memakai metode kualitatif yaitu penelitian literatur  sebagai  acuan dalam  mendeskripsikan masalah yang  dikaji. Hasil akhir penulis akan menunjukkan bahwa Evangelikal tidak sama dengan fundamentalis sehingga penyamaan yang disebabkan oleh kurang mengertinya tentang Evangelikal bisa dijelaskan.
Membentuk Semangat Belajar Anak Melalui Metode Game Dan Nyanyi: Pendampingan Di Sekolah Minggu Jemat Kristen Indonesia Keluarga Kerajaan Salatiga Sni, Ofriana; Sumolang, Gertina Greetha; Tandana, Ester Agustini; Tan, Juan
SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i1.204

Abstract

Sekolah minggu adalah suatu kegiatan pembelajaran Alkitab kepada anak-anak Kristen yang diadakan pada hari Minggu. Di sekolah minggu juga anak-anak tidak saja belajar tentang Firman Tuhan saja tetapi anak-anak juga diajar bernyanyi, berdoa dan bermain game yang berhubungan dengan pertumbuhan iman anak-anak. Dalam penyampaian cerita guru sekolah minggu juga harus menyiapkan game dan pujian yang berhubungan dengan cerita firman Tuhan yang akan disampaikan. Tujuan pengabdian ini adalah membentuk semangat belajar anak di Sekolah Minggu Jemaat Kristen Indonesia Keluarga Kerajaan Salatiga. Metode pengabdian yang digunakan adalah game dan nyanyi yang diterapkan oleh mentor gereja anak JKI Keluarga Kerajaan untuk menambah semangat dan wawasan anak-anak dalam mengikuti ibadah sekolah minggu. Dengan adanya game dan pujian maka anak-anak tidak akan merasa bosan melainkan meningkatkan semangat belajar anak-anak akan kebenaran firman Tuhan.