Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENENTUAN KANDUNGAN TOTAL FLAVONOID DAN FENOLAT EKSTRAK n-HEKSANA AKAR, BATANG, DAN DAUN TUMBUHAN Crotalaria Retusa L Santos, Adelina Dos; Lulan, Theodore Y.K.; Nitti, Fidelis
Chemistry Notes Vol 6 No 2 (2024): Chem. Notes, 6(2), 2024
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/cn.v6i2.18083

Abstract

Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder, kandungan total flavonoid dan kandungan total fenolat pada ekstrak n-heksana akar, batang, dan daun tumbuhan Crotalaria retusa L. Penelitian ini meliputi pengujian kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian pada ekstrak n-heksana akar, batang, dan daun tumbuhan C. retusa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid dan fenolat. Kandungan total flavonoid pada ekstrak akar, batang, dan daun tumbuhan C. retusa secara berturut- turut yaitu; 105, 282 ± 0, 376; 13, 326 dan 97,021 ± 0,100 mg QE/g, dan kandungan total fenolat akar, batang dan daun secara berturut-turut yaitu; 220,69 ± 0,464; 152,239 ± 0,066 dan 107, 309 ± 0,066 mg GAE/g
UJI TOKSISITAS EKSTRAK AIR DAUN KELOR (Moringan oleifera, L) ASAL LAHAN KERING NUSA TENGGARA TIMUR da Cunha, Theo; Darmakusuma, Dodi; Ola, Antonius R.B.; Lulan, Theodore Y.K.
Chemistry Notes Vol 7 No 1 (2025): Chem. Notes, 7(1), 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/cn.v7i1.22611

Abstract

Tumbuhan Kelor (Moringa oleifera Lamk) banyak tumbuh di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang beriklim Lahan Kering. Daun Kelor banyak digunakan masyarakat NTT sebagai bahan makanan. Daun kelor mempunyai kandungan gizi yang tersebar mulai dari buah, sampai akarnya. Selain itu kelor mempunyai manfaat lain seperti koagulan, vitamin dan sebagai obat. Penelitian ini mempelajari efek toksik ekstrak air daun kelor terhadap larva udang Artemia Salina Leach dengan menggunakan metode BST. Metode ini sebagai pengujian awal dari efek anti bakteri dan anti kanker, penggunakan air (suhu kamar) sebagai pelarut agar dapat diaplikasikan secara langsung oleh masyarakat. Daun kelor dimaserasi selama 3 x 24 jam menggunakan air, hasil uji fitokimia teridentifikasi kandungan metabolic sekunder antara lain, Alkaloid, Flavonoid, Triterpen, dan Tanin. Hasil uji BSLT menunjukan bahwa ekstrak air (suhu kamar) daun kelor mempunyai tingkat toksisitas terhaap Artemia Salina Leach yang ditunjukan dengan nilai LC50 888, 34 kurang dari 1000 ppm. Dapat disimpulkan bahwa daun kelor mempunyai potensi sebagai tanaman yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai anti bakteri dan anti kanker.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK FONGASAMA DALAM PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK SEBAGAI PUPUK KOMPOS DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN SORGUM DI NTT Djou, Laurentius Dominicus Gadi; Murdaningsih, Murdaningsih; Lanamana, Willybrordus; Lulan, Theodore Y.K.
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 4 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i4.24424

Abstract

Abstrak: Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelaksanaan program pengabdian masyarakat dalam Program Desa Binaan (PDB) pada kelompok Fongasama di Desa Ondorea Barat dengan tujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan soft skill anggota kelompok melalui kegiatan pembangunan rumah kompos, penyuluhan dan Pelatihan pembuatan pupuk kompos. Metode yang digunakan terdiri dari penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Kegiatan diawali dengan pembangunan rumah kompos berukuran 4×6meter, dibagi dua bak untuk fermentasi. Bak pertama berukuran 1,5 x 2meter dan tinggi 2 meter, dan bak kedua berukuran 1,5 x 1,5meter dan tinggi 1,5 meter. Penyuluhan dan pelatihan dimulai dengan pre-test, dan rata-rata jawaban benar 33,3% dalam kategori rendah. Kegiatan pelatihan menggunakan alat pencacah, ember, sekop, cangkul, dan sekop, dan bahan baku yang digunakan kotoran hewan, dedak padi, sekam padi, limbah pertanian, gula pasir, EM4 dan air. Fermentasi pada bak pertama selama 14 hari dan pada bak kedua selama 8 hari. Kompos dikeluarkan dari bak kedua dan diangin-anginkan, selanjutnya diaplikasikan. Post-test dilakukan di akhir kegiatan dan hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebesar 86,7% dengan kategori tinggi.Abstract: Community empowerment activities through the implementation of community service programs in the Assisted Village Program (PDB) in the Fongasama group in West Ondorea Village with the aim of improving the skills and soft skills of group members through activities of building compost houses, counseling and training in making compost fertilizer. The methods used consist of counseling, training and mentoring. The activity began with the construction of a 4×6meter compost house, divided into two tanks for fermentation. The first tub measures 1.5 x 2 meters and 2 meters high, and the second tub measures 1.5 x 1.5 meters and 1.5 meters high. Counseling and training began with a pre-test, and the average correct answer was 33.3% in the low category. Training activities use choppers, buckets, shovels, hoes and shovels, and the raw materials used are animal waste, rice bran, rice husks, agricultural waste, granulated sugar, EM4 and water. Fermentation in the first tank for 14 days and in the second tank for 8 days. The compost is removed from the second tub and aired, then applied. The post-test was carried out at the end of the activity and the results showed an increase in knowledge and skills of 86.7% in the high category.