Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII pada Materi Kemampuan dan Keterbatasanku Melalui PBL di SMP Negeri 02 Ketungau Hilir Tahun Ajaran 2024/2025 Maria Mahdalena
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN DAN AGAMA Vol. 5 No. 2 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN DAN AGAMA
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo Fransiskus Assisi Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/semnaspa.v5i2.2159

Abstract

The provision of high-quality education is significantly influenced by key factors, specifically educators and students. Competent educators are likely to cultivate quality individuals, adhering to the philosophy that "people can only share and give to others what they possess." In the teaching and learning process, one of the key elements that facilitates successful learning is the Problem-Based Learning (PBL) model, which significantly enhances student independence, interest, and motivation in their educational pursuits. According to observations conducted by researchers at SMP Negeri 02 Ketungau Hilir, particularly in class VII, it has been determined that in Catholic Religious Education, teachers predominantly employ teacher-centered learning methods and have yet to implement the Problem-Based Learning (PBL) model. This approach has adversely impacted student learning outcomes, resulting in the failure to meet minimum completion criteria. Based on the findings from data analysis and discussions in this study, it can be concluded that the results regarding the enhancement of learning outcomes indicate a sustained improvement in Cycle II, where student performance rose by 82% from Cycle I to 100%. The average student score increased from 79.06 in Cycle I to 84.37 in Cycle II.
BAHASA KITA, HATI KITA – TANPA RADIKALISME, HANYA CINTA Ria Ramadhani; Farel Nur Hakim; Selvi Nada Lestari; Maria Mahdalena; Suci Rahmadhani; Ripi Hamdani
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6762

Abstract

Bahasa memiliki peran strategis dalam membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Dalam konteks masyarakat multikultural, bahasa dapat menjadi sarana pemersatu, namun juga berpotensi digunakan sebagai alat penyebaran paham radikalisme melalui ujaran kebencian, provokasi, dan narasi eksklusif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai media penanaman nilai-nilai toleransi, empati, dan cinta kemanusiaan sebagai upaya pencegahan radikalisme. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai sumber berupa buku, artikel jurnal, dan dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia yang menekankan literasi kritis, analisis wacana, serta pemilihan teks yang bermuatan nilai moderasi dan kebinekaan mampu membangun kesadaran berbahasa yang santun dan inklusif. Melalui penggunaan bahasa yang humanis dan reflektif, peserta didik didorong untuk menolak narasi kekerasan dan mengedepankan dialog berbasis kasih sayang. Dengan demikian, Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang pembentukan hati nurani yang bebas dari radikalisme dan berlandaskan cinta serta kemanusiaan
KITA SEMUA SAHABAT PANCASILA – JANGAN BIARKAN RADIKALISME PECAH PERSAHABATAN Ria Ramadhani; Farel Nur Hakim; Selvi Nada Lestari; Maria Mahdalena; Suci Ramadhani; Dodi Asmara
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): In Press
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6763

Abstract

Pancasila adalah Dasar negara serta pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan yang beraneka ragam. Prinsip-prinsip Pancasila memberikan ajaran mengenai persatuan, toleransi, kemanusiaan, dan saling menghormati. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, muncul ideologi radikalis yang dapat mengganggu persahabatan, menimbulkan kebencian, dan memecah belah persatuan bangsa, khususnya di kalangan kaum muda. Tulisan ini mengulas tentang konsep “Sahabat Pancasila” sebagai bentuk nyata dari penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif dan bahasa yang mudah dimengerti, tulisan ini mengungkapkan bahwa persahabatan, komunikasi yang sopan, dan sikap empatik adalah kunci utama untuk melawan radikalisme. Hasil analisis menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai Pancasila dapat menghasilkan lingkungan sosial yang damai, harmonis, dan terbebas dari pengaruh paham radikal. Radikalisme tidak hanya mengancam stabilitas sosial, tetapi juga merusak bahasa, hati, dan relasi antarmanusia. Oleh karena itu, menanamkan nilai Sahabat Pancasila sejak dini menjadi langkah strategis dalam menciptakan lingkungan sosial yang damai, inklusif, dan berkeadaban. Artikel ini menegaskan bahwa pengamalan Pancasila secara konsisten mampu memperkuat persatuan bangsa serta menjaga persahabatan dari pengaruh radikalisme.