Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemanfaatan Rempah Andaliman sebagai Ice Cream Dessert Bawa Mulyono Hadi; Mahmudi; Tjhing Man Lie
The Sages Journal Vol. 1 No. 01 (2022): The Sages Journal: Culinary Science and Business_Agustus
Publisher : LPPM Akademi Sages

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61195/sages.v1i1.4

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang beragam, termasuk di antaranya rempah-rempah. Namun, masih banyak sumber daya tersebut yang belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu contohnya adalah andaliman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penggunaan andaliman sebagai bahan tambahan pada es krim. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan para chef. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rempah andaliman yang umumnya digunakan dalam masakan khas Batak Sumatera Utara yang relatif pedas, dapat diinovasikan menjadi kudapan manis yang menyegarkan seperti es krim. Karakteristik yang menonjol dari produk ini adalah rasa pedas yang memberikan citarasa baru pada kudapan yang biasanya manis. Ice Cream Dessert “Andaliman” merupakan inovasi yang menggabungkan es krim yang manis dengan rempah yang memiliki karakteristik pedas. Dengan demikian, penanaman dan pengenalan tanaman andaliman dapat lebih ditingkatkan di Indonesia.
PEMANFAATAN LABU KUNING DALAM PEMBUATAN KUE BEBAS GLUTEN Bawa Mulyono Hadi; Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Titin Lestariningsih; Elvin Adisatria Lukman
The Sages Journal Vol. 2 No. 01 (2023): The Sages Journal: Culinary Science and Business_Agustus
Publisher : LPPM Akademi Sages

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61195/sages.v2i01.7

Abstract

Kue (cake) merupakan kudapan yang berkarakteristik lembut dan halus, dengan rasa yang cenderung manis. Sebagai jajanan yang populer di kalangan masyarakat, umumnya bahan dasar yang digunakan dalam pembuatannya adalah tepung terigu yang mengandung gluten sehingga produk olahannya tidak dapat dikonsumsi oleh semua orang, khusunya penderita gluten intolerance. Melalui pendekatan eksperimental, dilakukan percobaan untuk mensubstitusikan tepung terigu dengan labu kuning yang diolah menjadi tepung. Namun, sample yang digunakan adalah tepung labu kuning yang diolah tanpa kulit dan tepung labu kuning yang diolah menggunakan kulit dengan perbandingan 1:1 dan 1:4. Untuk mengetahui tingkat kesukaan atau keberterimaannya terhadap konsumen, maka dilakukan uji organoleptik terhadap 100 panelis dengan penilaian 1-7 (amat sangat tidak suka hingga amat sangat suka), terkait rasa, aroma, tekstur, bentuk, serta keseluruhannya. Hal ini juga dilakukan untuk menemukan formulasi yang tepat terhadap kue labu kuning gluten-free tersebut. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis uji-t dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang tepat berdasarkan dari kriteria penilaian penerimaan konsumen melalui uji organoleptik penggunaan tepung labu kuning yang diolah tanpa menggunakan kulitnya. Penilaian yang dihasilkan adalah rasa 6,25 (sangat suka), aroma 5,40 (Suka), tekstur 5,20 (suka), bentuk 4,91 (suka), dan penerimaan secara keseluruhan 5,94 (sangat suka). Hasil tersebut menunjukkan bahwa labu kuning yang diyakini memiliki kandungan nilai gizi yang tinggi sangat potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan baku atau substitusi baku pada berbagai produk olahan pangan. Pemanfaatan labu kuning tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah labu kuning dan mendukung upaya pemerintah dalam penganekaragaman pangan.
Strengthening Urban Identity Through Semanggi: A Local Wisdom-Based City Branding Strategy for Surabaya Bawa Mulyono Hadi; Sugiharto Sugiharto; Tonny Hendartono; Ristanti Ristanti
Lokawati : Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset Vol. 4 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Manajemen Kewirausahaan dan Bisnis Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/lokawati.v4i1.2453

Abstract

City branding is a strategic approach to enhancing a city's competitiveness by leveraging unique local characteristics to create a strong and distinctive identity. This study examines the role of semanggi—a traditional Surabaya dish—as a cultural icon in strengthening the city's branding. Although semanggi carries deep symbolic meaning and historical significance for Surabaya’s residents, its potential as a city branding asset remains underutilized in formal tourism and marketing programs. Adopting a qualitative exploratory case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving local stakeholders, small and medium-sized culinary enterprises, cultural figures, and municipal representatives. Thematic analysis identified five key dimensions of semanggi’s role in city branding: (1) visual representation in urban spaces and promotional media; (2) cultural narratives and heritage preservation; (3) community pride and participation; (4) local economic resilience; and (5) strategic promotion by municipal authorities. The findings suggest that integrating semanggi into Surabaya’s branding strategy can reinforce cultural identity, differentiate the city in competitive tourism markets, and promote sustainable local entrepreneurship. The study contributes to the theoretical discourse on culinary-based place branding and offers practical recommendations for incorporating local wisdom into destination marketing. Limitations include the single-case scope and qualitative focus, pointing to opportunities for comparative and mixed-method research in the future.