PUTRA, SURYA PRADNYANA
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TERAPI CLOZAPINE PADA SKIZOFRENIA KATATONIK DENGAN KEHAMILAN: LAPORAN KASUS PUTRA, SURYA PRADNYANA; DARMAYASA, I MADE; ARYANI , LUH NYOMAN ALIT; ARIANI, NI KETUT PUTRI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v3i1.3033

Abstract

The use of clozapine in pregnant women with catatonic schizophrenia is still rarely reported and raises concerns regarding its safety. This study aims to describe the effectiveness and safety of using low-dose clozapine in pregnant women with catatonic schizophrenia. Case report of a 27 year old woman with catatonic schizophrenia who was given low dose clozapine therapy (6.25 mg/day) during the second trimester of pregnancy until delivery. The primary focus is on response to clozapine and pregnancy outcomes. Administration of low doses of clozapine resulted in significant improvements in patient communication without significant side effects. Although the dose is well below the common therapeutic dose, clozapine is effective in managing the symptoms of catatonia. The baby was born via caesarean section at 39 weeks 5 days of gestation with a weight of 3000 grams, a length of 48 cm, and an Apgar score of 8-9, without congenital abnormalities. Evaluation one month after delivery did not show any complications related to the use of clozapine in the mother and baby. The use of low-dose clozapine in this case represents a promising approach in managing catatonic schizophrenia during pregnancy, with good outcomes in both mother and baby. Clozapine appears to be effective even at very low doses, offering a balance between symptom management and fetal safety. However, further research is needed to confirm the long-term safety profile and effectiveness of low-dose clozapine in this population. ABSTRAKPenggunaan clozapine pada ibu hamil dengan skizofrenia katatonik masih jarang dilaporkan dan menimbulkan kekhawatiran terkait keamanannya. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan efektivitas dan keamanan penggunaan clozapine dosis rendah pada pasien ibu hamil dengan skizofrenia katatonik. Laporan kasus seorang wanita berusia 27 tahun dengan skizofrenia katatonik yang diberikan terapi clozapine dosis rendah (6,25 mg/hari) selama kehamilan trimester kedua hingga persalinan. Fokus utama adalah pada respons terhadap clozapine dan hasil kehamilan. Pemberian clozapine dosis rendah menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam komunikasi pasien tanpa efek samping yang berarti. Meskipun dosisnya jauh di bawah dosis terapeutik umum, clozapine efektif dalam mengelola gejala katatonia. Bayi lahir melalui sectio caesaria pada usia kehamilan 39 minggu 5 hari dengan berat 3000 gram, panjang 48 cm, dan Apgar score 8-9, tanpa kelainan kongenital. Evaluasi satu bulan pasca persalinan tidak menunjukkan adanya komplikasi terkait penggunaan clozapine pada ibu dan bayi. Penggunaan clozapine dosis rendah pada kasus ini menunjukkan pendekatan yang menjanjikan dalam mengelola skizofrenia katatonik selama kehamilan, dengan hasil yang baik pada ibu dan bayi. Clozapine tampaknya efektif bahkan pada dosis yang sangat rendah, menawarkan keseimbangan antara manajemen gejala dan keamanan janin. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi profil keamanan jangka panjang dan efektivitas clozapine dosis rendah dalam populasi ini.
SCREENING TINGKAT KECEMASAN ANAK SEKOLAH DASAR PADA PEMBELAJARAN TATAP MUKA PASCA PANDEMI COVID-19 Ardani, I Gusti Ayu Indah; Kurniawan, Lely Setyawati; Ariani, Ni Ketut Putri; Antika, Sindi; Jimmy, Jimmy; Putra, Surya Pradnyana
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10129

Abstract

The COVID-19 pandemic has disrupted not only educational processes but also the psychological well-being of children, particularly during the transition back to face-to-face learning. This study aimed to analyze anxiety levels among elementary school children during post-pandemic face-to-face learning at SD Negeri 1 and SD Negeri 2 Tanjung Benoa. A descriptive analytic study with a cross-sectional design was conducted, and participants were recruited using total sampling based on the inclusion criteria. Anxiety was assessed using the Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS). The findings revealed that nearly all respondents experienced anxiety upon returning to school, with 101 of 104 fourth-grade students and 98 of 100 fifth-grade students identified as anxious. The most dominant anxiety subtype was fear of injury or infection, reported in 98 fourth-grade students and 88 fifth-grade students, whereas separation anxiety and fear of meeting many people were found in much lower proportions. These findings suggest that children’s post-pandemic anxiety is more strongly mediated by perceived health threats than by social concerns. The study concludes that the success of post-pandemic face-to-face learning is determined not only by academic and administrative readiness, but also by children’s psychological preparedness. Therefore, early screening and school-based promotive-preventive interventions are needed to support sustainable recovery of children’s mental health. ABSTRAK Pandemi COVID-19 tidak hanya mengganggu proses pendidikan, tetapi juga memunculkan dampak psikologis yang bermakna pada anak, terutama saat transisi kembali ke pembelajaran tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecemasan anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka pasca pandemi di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Tanjung Benoa. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Sampel diambil dengan teknik total sampling terhadap siswa yang memenuhi kriteria inklusi. Pengukuran kecemasan dilakukan menggunakan Spence Children’s Anxiety Scale (SCAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden mengalami kecemasan saat kembali ke sekolah, dengan proporsi 101 dari 104 siswa kelas 4 dan 98 dari 100 siswa kelas 5 teridentifikasi cemas. Jenis kecemasan yang paling dominan adalah kecemasan terhadap cedera atau infeksi, yaitu pada 98 siswa kelas 4 dan 88 siswa kelas 5, sedangkan kecemasan perpisahan dan kecemasan bertemu banyak orang ditemukan dalam proporsi yang jauh lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan anak pada fase pasca pandemi lebih banyak dimediasi oleh persepsi ancaman terhadap kesehatan dibandingkan aspek sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pembelajaran tatap muka pasca pandemi tidak cukup ditentukan oleh kesiapan akademik dan administratif sekolah, tetapi juga oleh kesiapan psikologis anak. Oleh karena itu, diperlukan integrasi skrining dini dan intervensi promotif-preventif berbasis sekolah untuk mendukung pemulihan kesehatan mental anak secara berkelanjutan.