Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Sosialisasi Penggunaan Bahan Aktif Alami Daun Salam (Syzygium polyanthum) Sebagai Pengobatan Bisul Sirait, Nuranti Rumela; Sitohang, Rosina; Sinaga, Arman Bemby
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 3 No. 2 (2022): JURNAL ABDIMAS MUTIARA (IN PRESS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengobatan herbal mempunyai kelebihan yang lebih menguntungkan yaitu memiliki efek samping yang kecil dibandingkan dengan pengobatan kimiawi, Kemajuan teknologi saat ini telah menciptakan banyak jenis antibiotik yang bermanfaat secara klinis, sehingga pemilihan antibiotik yang kurang tepat dapat menimbulkan bakteri yang resisten. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh antibakteri adalah bisul Menurut penelitian sebelumnya tanaman daun salam mengandung senyawa metabolit sekunder, aitu flavonoid yang memiliki aktivitas antibakteri yang cukup tinggi. Tujuan sosialisasi Pengabdian kepada Masyarakat ini untuk memberikan pemanfaatan daun salam dalam pengobatan bisul. Hasil pelaksanaan penyuluhan ini pada masyrakat dalam bentuk informasi dan edukasi pemanfaatan daun salam sebagai obat bisul. Setelah melaksakan kegiatan pelatihan ini, masyarakat lebih mengetahui bahwa Daun salam yang selama ini hanya dijadikan sebagai bumbu masak ternyata sangat bagus dalam pengobatan, salah satunya dalam pengobatan bisul.
PEMANFAATAN TANAMAN BAYAM DAN KAILAN UNTUK MENINGKATKAN PEMASUKAN MASYARAKAT MEKAR JAYA KABUPATEN LANGKAT Fikrih, Rezza; Sitohang, Rosina; Sinaga, Taruli Rohana
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 2 No. 1 (2021): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sayuran adalah tanaman hortikultura yang pada umumnya mempunyai umur yang relatif pendek, yaitu kurang dari setahun, dan pada umumnya bukan tanaman musiman. Tanaman bayam merupakan salah satu tanaman sayuran yang dapat tumbuh di dataran tinggi maupun rendah. Bayam merupakan bahan pangan sumber protein, vitamin A dan C serta vitamin B dan mengandung garam-garam mineral seperti kalsium, fospor, dan zat besi. Bayam bermanfaat untuk memperbaiki daya kerja ginjal dan melancarkan pencernaan. Tanaman kailan merupakan sayuran yang memiliki nilai jual yang tinggi. Kailin banyak mengandung vitamin dan mineral yang berguna untuk memelihara kesehatan tubuh. Kailan memiliki manfaat untuk mencegah terjadinya sakit sariawan, dan untuk memperlancar buang air besar. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk memberikan informasi dan edukasi pemanfaatan tanaman bayam dan kailan untuk meningkatkan pemasukan masyarakat mekar jaya kabupaten langkat. Hasil kegiatan Pelaksanaan pengabdian masyarakat dalam bentuk penyuluhan dalam memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan tanaman bayam dan kailan untuk meningkatkan pemasukan masyarakat mekar jaya kabupaten langkat. Di mana tanaman bayam dan kailan memiliki nilai jual yang tinggi.
PENGGUNAAN FACIAL WASH MENGGUNAKAN SARI JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia S) UNTUK MENCEGAH PERTUMBAHAN JERAWAT Fitri, Widya; Sitohang, Rosina; Roslianizar, Syarifah
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 1 No. 2 (2020): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman yang banyak terdapat di Indonesia. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh dan kecantikan diantaranya melembabkan, menjaga kesehatan kulit, dan lain-lain. Jeruk nipis mengandung vitamin C dan antioksidan yang tinggi di dalam jeruk nipis ini yang membantu sel-sel kulit wajah untuk bisa menangkal atau melawan radikal bebas penyebab penuaan dini. Manfaat jeruk nipis selanjutnya yakni untuk mengatasi permasalahan jerawat. Jeruk nipis ini memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan jerawat. Jerawat merupakan gangguan pada kulit yang timbul akibat bakteri Propionibacterium acnes. kegiatan penyuluhan ini dilakukan pada April 2020, yang berlokasi di Desa Angkup Kecamatan Silihnara Kabupaten Aceh Tengah, Aceh . Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan informasi daan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat sari jeruk nipis. Hasil pelaksanaan kegiatan ini pada masyrakat dalam bentuk informasi dan edukasi pemanfaatan sari jeruk nipis sebagai sabun wajah. Setelah melaksakan kegiatan pengabdian ini, masyarakat lebih mengetahui bahwa jeruk nipis yang selama ini hanya dijadikan perasa asam dalam gulai atau sayur mayur, saat ini diperhatikan pemnafaatannya, salah satunya dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi sabun wajah, karena Jeruk nipis mengandung vitamin C dan antioksidan yang tinggi di dalam jeruk nipis ini yang membantu sel-sel kulit wajah untuk bisa menangkal atau melawan radikal bebas penyebab penuaan dini dan jerawat.
PEMANFAATAN TUMBUHAN SIRIH CINA (Peperomin pellucida L.) SEBAGAI PENGOBATAN ANTI INFEKSI Marpaung, Jhon Kennedy; Barus, Darwita Juniwati; Sitohang, Rosina
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 1 No. 1 (2020): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen, dan bersifat sangat dinamis. Penyakit infeksi dapat diobati dengan penggunaan antibiotik. Selain masalah ini, antibiotik kadang-kadang dikaitkan dengan efek samping yang termasuk hipersensitivitas, Pemanfaatan bahan alam yang berasal dari tumbuhan sebagai obat tradisional Indonesia untuk menangani berbagai masalah kesehatan salah satunya adalah tanaman yang dapat dijadikan sebagai pengobatan infeksi, yaitu tanaman sirih Cina. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan informasi dan pengenalan pemanfaatan sirih cina sebagai antinfeksi. Kegiatan ini dilaksanakan di Panti Asuhan Taman Getsemane Kasih Medan. Hasil Kegiatan pelaksanaan ini memberikan informasi tentang manfaat tumbuhan sirih cina sebagai antibakteri. Kesimpulan dari kegiatan sosialisasi ini dapat terlaksana sesuai pelaksanaan dan rencana, mendapatkan sambutan baik oleh anak-anak di Panti Asuhan.
ANALISA KADAR LOGAM TIMBAL DAN BESI PADA SUSU KENTAL MANIS KEMASAN KALENG YANG BEREDAR DI KELURAHAN TANJUNG SARI DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA) Taruli Rohana Sinaga; Sitohang, Rosina; Bemby Sinaga, Arman
JURNAL TEKNOLOGI KESEHATAN DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS) Vol. 2 No. 2 (2020): JURNAL TEKNOLOGI, KESEHATAN, DAN ILMU SOSIAL (TEKESNOS)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sweetened condensed milk is cow's milk in which the water is removed and added sugar, resulting in milk that is very sweet in taste and can last for a year if it is not opened. Sweetened condensed milk products, powdered milk, and sterile milk are often made in packaging made of plastic and cans to avoid the influence of sunlight, packaging time, storage and others. And as a result of the packaging, the product is often damaged either microbiologically, mechanically or chemically. These cans are lined with other coating materials with certain protection. This is to prevent a reaction that could cause the can to corrode and leak. The presence of these metals, even in small levels, will endanger the health of consumers and considering that heavy metals will accumulate in the body, so that gradually the levels will increase and are very dangerous to health, including Pb and Fe metals that can act on the can. Qualitative testing is to determine the presence of the metal present in the sample and quantitative testing is to determine how much content is present in the sample. Before carrying out quantitative testing, the samples were first destroyed using wet destruction. From the results of qualitative testing, all samples contained Pb and Fe metals. From the results of quantitative testing on Pb, the lowest sample was found in sample 3 of 0.0105 mg/kg and sample 5 of 0.0105 mg/kg, this did not exceed the SNI 297.2011 threshold of 0.02 mg/kg. While the results for heavy metal Pb at large concentrations in sample 1 were 0.0239 mg/kg; sample 2 of 0.0371 mg/kg, and sample of 0.0262 mg/kg exceeds the threshold of SNI 297.2011 of 0.02 mg/kg while for heavy metal Fe is still below the threshold allowed by SNI 297.2011 which is 10.0 mg/kg, namely sample 1 of 0.0081 mg/kg; sample 2 of 0.0100 mg/kg; sample 3 of 0.0079 mg/kg; sample 4 is 0.0068 mg/kg and sample 5 is 0.0122 mg/kg.