Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Analisis Kemampuan Pengajuan Soal Calon Guru Sekolah Dasar Ditinjau dari Tingkat Disposisi Matematis Fulgensius Efrem Men; Kanisius Mandur; Silfanus Jelatu
JOURNAL OF SONGKE MATH Vol. 1 No. 2 (2018): December Edition
Publisher : UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.184 KB)

Abstract

Problem-posing ability is the ability to make and solve math problems. This research is qualitative research that aims to describe the ability to submit questions about prospective elementary school teachers concerning mathematical disposition. The subject of this research is the students of prospective school level teachers in the 6th semester, amounting to 3 people. The results of this study are (1) prospective primary school teachers with a high mathematical disposition can submit questions based on the information given related to addition and subtraction of ordinary and mixed fractions, the problem presented are in accordance material with moderate difficulty level, able to solve the problems posed with using a good language structure, (2) prospective primary school teacher with a moderate mathematical disposition level can form a story question based on additional information and subtraction of ordinary fractions, the questions submitted are in accordance material with a relatively low difficulty level and using a good language structure. However, unable to solve the problems raised, and (3) prospective primary school teachers with a low mathematical disposition level are not able to ask questions based on the two information provided. The prospective teacher has difficulty making a story question. These conditions have an impact on not fulfilling several other criteria, among others, conformity with the material, answers to the problems raised, language structure and the difficulty level of the question. The results of the study provide recommendations for policymakers on campus to help prospective students of elementary school teachers to develop problem-posing ability according to the level of mathematical disposition.
Profil Kemampuan Koneksi Matematis Siswa SMA Ditinjau Dari Disposisi Matematis Pada Masalah Fungsi Komposisi Kanisius Mandur; Fulgensius Efrem Men; Silfanus Jelatu
JOURNAL OF SONGKE MATH Vol. 2 No. 1 (2019): June Edition
Publisher : UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.536 KB)

Abstract

Kemampuan koneksi matematis merupakan kemampuan untuk mencari hubungan inter topik, antar topik, suatu topik dengan ilmu lain, atau suatu topik dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari dalam bidang matematika. Kemampuan koneksi merupakan salah satu aspek yang harus dimiliki siswa agar berprestasi dalam belajar matematika. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan profil kemampuan koneksi matematis siswa sekolah menengah atas (SMA) pada masalah fungsi komposisi. Penelitian ini melibatkan 36 orang siswa sekolah menengah atas dan dipilih 3 orang siswa sebagai subjek utama. Data kemampuan koneksi matematis dikumpulkan melalui tes, tugas, dan wawancara tidak terstruktur sesuai dengan tugas yang diberikan. Data dianalisis secara kualitatif untuk memahami, menelaah, dan menafsirkan koneksi matematis siswa sekolah menengah atas pada masalah fungsi komposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) siswa sekolah menengah atas dengan tingkat disposisi matematis tinggi memiliki kemampuan koneksi matematis yang baik. Siswa tersebut mampu melakukan koneksi baik inter topik maupun antar topik. Selain itu juga, mampu melakukan koneksi materi matematika dengan bidang lain maupun materi matematika dengan kehidupan sehari-hari, (2) siswa sekolah menengah atas dengan tingkat disposisi matematis sedang memiliki kemampuan koneksi matematis yang cukup baik. Siswa tersebut mampu melakukan koneksi baik inter maupun antar topik dalam matematika. Namun, belum dapat melakukan koneksi matematika dengan bidang lain atau koneksi materi matematika dengan kehidupan sehari-hari, dan (3) siswa sekolah menengah atas dengan tingkat disposisi matematis rendah memiliki kemampuan koneksi matematis yang kurang baik. Siswa SMA dengan tingkat disposisi matematis yang rendah mampu melakukan koneksi inter topik dalam materi matematika. Namun, siswa tersebut masih sangat kesulitan dalam melakukan koneksi antar topik dalam matematika, dan juga kesulitan dalam melakukan koneksi materi matematika baik dengan bidang lain maupun dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi berupa masukan dan rekomendasi bagi guru matematika dan penentu kebijakan di sekolah menengah atas agar membimbing dan meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa sesuai dengan tingkat disposisi matematis.
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Dan Pengaruhnya Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Fulgensius Efrem Men; Fridolin Asman Janur; Ferdinandus Adrian Ali
JOURNAL OF SONGKE MATH Vol. 3 No. 1 (2020): June Edition
Publisher : UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI APH SMK Sadar Wisata Ruteng yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menerapkan pembelajaran konvesional. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu, dengan desain Posttest Only Control Group Design. Populasi penelitian berjumlah 342 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling dan diperoleh sampel berjumlah 85orang. Data dikumpulkan menggunakan tes berbentuk uraian. Hasil analisis data penelitian menunjukkan rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran matematika kelas eksperimen mendapat nilai rata-rata 80,29 dan kelas kontrol mendapatkan nilai rata-rata 70,36. Sebelum melakukan uji analisis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Berdasarkan perhitungan uji hipotesis diperoleh hasil hitung t = 5,4709dan tabel t = 1,9889,pada taraf signifikan 0,05 . Karena thitung = 5,4709 3 ≥ ttabel = 1,9889 maka ditolak dan diterima, Artinya kemampuan berpikir kritis siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan siswa pada kelas kontrol.
Pelatihan Penyusunan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Di Smk Bina Kusuma Ruteng Viviana Murni; Fransiskus Nendi; Ricardus Jundu; Fulgensius Efrem Men; Kristianus Viktor Pantaleon; Emilianus Jehadus; Eufrasia Jeramat
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i8.6031

Abstract

ABSTRAK Asesmen Kompetensi Minimum merupakan penilaian kemampuan minimum yang dilakukan kepada peserta didik. Kemampuan minimum yang dimaksud adalah kemampuan paling dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik pada jenjang tertentu, yaitu literasi membaca dan numerasi. AKM mengukur kompetensi berpikir atau bernalar peserta didik ketika membaca teks (literasi) dan menghadapi persoalan yang membutuhkan pengetahuan matematika (numerasi). Tidak semua guru memiliki pengetahuan dan keterampilan menyusun instrumen, contohnya para guru di SMK Bina Kusuma Ruteng. Oleh karena itu, tim pengabdian kepada masyarakat melaksanakan kegiatan pelatihan penyusunan instrumen Asesmen Kompetensi Minimum untuk para guru SMK Bina Kusuma Ruteng. Pelatihan dilakukan untuk mengembangkan kompetensi guru dalam menyusun instrumen AKM sehingga mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kegiatan pelatihan diikuti oleh 30 guru SMK Bina Kusuma Ruteng. Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu wawancara, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini dapat berpengaruh positif terhadap kemampuan dan keterampilan para guru dalam menyusun instrumen  Asesmen Kompetensi Minimum. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa pelatihan memiliki kualitas dengan kategori baik sekali (4.75) dan memberikan dampak dalam kategori kategori baik sekali (4.92). Terbukti bahwa para guru bisa menyusun instrumen AKM dengan baik. Sedangkan, dampak pelaksanaan pelatihan masuk dalam kategori baik sekali (4.82). Mitra mampu menyusun instrumen PKM dengan benar, hal ini dapat dilihat pada tugas yang dipresentasikan oleh mitra. Instrumen yang dihasilkan ini diharapkan dapat menjadi penduan bagai para guru dan calon guru untuk mengembangkan dan menggunakan instrumen AKM pada proses pembelajaran dan penilaian di kelas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan ini dapat mengembangkan kompetensi guru dalam menyusun instrumen AKM, sehingga guru mampu menyelenggarakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kata Kunci: Pelatihan, Penyusunan, Instrumen, AKM  ABSTRACT Minimum Competency Assessment is a minimum ability assessment carried out on students. The minimum ability in question is the most basic ability that must be possessed by students at a certain level, namely reading literacy and numeracy. AKM measures the thinking or reasoning competence of students when reading texts (literacy) and dealing with problems that require mathematical knowledge (numbering). Not all teachers have the knowledge and skills to compose instruments, for example, teachers at SMK Bina Kusuma Ruteng. Therefore, the community service team carried out training activities for the preparation of Minimum Competency Assessment instruments for teachers of SMK Bina Kusuma Ruteng. The training was conducted to develop teacher competence in compiling the AKM instrument to support the achievement of the expected learning objectives. The training activity was attended by 30 teachers of SMK Bina Kusuma Ruteng. This activity was carried out through several stages, namely interviews, planning, implementation, and evaluation. This activity can have a positive effect on the ability and skills of teachers in preparing the Minimum Competency Assessment instrument. Based on the results of data analysis, it was found that the quality of the training was in the very good category (4.75) and had an impact in the very good category (4.92). It is proven that the teachers can arrange the AKM instrument well. Meanwhile, the impact of the implementation of the training is in the very good category (4.82). It is proven that the teachers can arrange the AKM instrument well. Meanwhile, the impact of the implementation of the training is in the very good category (4.82). Teachers can develop PKM instruments correctly, this can seen in the tasks presented by teachers. The result of instrument is expected to be a guide for teachers and prospective teachers to develop and use the AKM instrument in the learning and assessment process in the classroom. So, it can concluded that this training activity can develop teacher competence in preparing AKM instruments, so that teachers are able to organize learning effectively and efficiently. Keywords: Training, Preparation, Instruments, AKM
PEMBELAJARAN DALAM JARINGAN BAGI MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA Kanisius Mandur; Fransiskus Nendi; Fulgensius Efrem Men; Silfanus Jelatu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jpkm.v14i2.1170

Abstract

The goal of this study was to ascertain how students in mathematics education reacted to online instruction. This study employs a quantitative evaluation framework. The Systematic Random Sampling approach was used to choose the 120 respondents, all of whom are students in mathematics. Through an online survey completed utilizing a Google form, the study's data collection process involves gathering student feedback on online learning. Quantitative descriptive analysis was used to examine the data. The findings revealed that the first category, student motivation for online learning, was in the poor range, followed by the poor range for the Moodle-provided teaching materials, the fairly good range for the implementation of online learning, the fairly good range for the evaluation, and the good range for the challenges encountered during online learning. Therefore, in general, students studying mathematics education do not favor online learning.
Penggunaan ICT dan Pengaruhnya terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Siswa: Sebuah Analisis Bibliometrik Maximus Tamur; Fulgensius Efrem Men; Kalista Entika Ermi; Agustina Muliati Muhut; Rensiana Nunang; Oschar Algianok Lay
JURING (Journal for Research in Mathematics Learning) Vol 5, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/juring.v5i4.19991

Abstract

Perkembangan sosial, ekonomi, pendidikan dan teknologi yang cepat di Indonesia selama dekade terakhir telah telah menghasilkan evolusi global sehingga berdampak pada penggunaan Information and Communication Technologies (ICT) sebagai sumber dan metode pembelajaran di ruang kelas. Meskipun telah banyak studi yang menguji efektivitas ICT terhadap kemampuan penalaran matematis siswa (KPMS), namun belum ada penelitian yang secara khusus mengeksplorasi lintasan dan kesenjangan studi. Untuk itu penelitian yang menggunakan metode bibliometric ini menganalisis 101 studi terkait penggunaan ICT pada KPMS dari basis data googleshoolar tahun 2010 hingga 2022. Penggumpulan data menggunakan aplikasi publish or perish (PoP), dan analisis data menggunakan aplikasi Vosviewer. Studi ini menjawab dua masalah inti yaitu: (i) lintasan studi tentang penggunaan ICT pada KPMS; dan (ii) gambaran topik penting serta kesenjangan penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa lintasan pertumbuhan studi dimoderasi oleh factor covid-19. Beberapa topik hangat namun masih jarang dieksplorasi direkomendasikan dalam penelitian selanjutnya.
Model Pembelajaran Generatif dalam Setting Team Accelerated Instruction (TAI) Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Gabariela Purnama Ningsi; Kristianus Viktor Pantaleon; Fulgensius Efrem Men; Bedilius Gunur; Ricardus Jundu; Ifatun Izzah
Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika Volume 7 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Mathematics Education Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cendekia.v7i3.2594

Abstract

Peningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan partisipasi siswa dalam memecahkan masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran generatif dalam setting TAI dalam kegiatan pembelajaran dengan siswa yang menerapkan metode pembelajaran langsung. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Peneliti mengambil secara acak 2 kelas yang setara untuk dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Langke Rembong yang berjumlah 70 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menerapkan model pembelajaran generatif dalam setting TAI lebih baik jika dibandingkan dengan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran langsung. Hasil ini diperoleh berdasarkan hasil analisis data dalam uji hipotesis dengan menggunakan uji t-Test: Two-Sample Assuming Equal Variances dengan berbantuan Ms. Excel, dimana telah ditemukan bahwa nilai peluang (P(T<=t)) yang diperoleh baik untuk one-tail maupun two-tail kurang dari nilai α yaitu . Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang dalam pembelajarannya menerapkan pembelajaran generatif dalam setting TAI lebih tinggi/lebih baik jika dibandingkan dengan kelas yang menerapkan metode pembelajaran langsung. Selain itu, model pembelajaran ini juga dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan menyenangkan.
PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SDI KOTANDORA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR, NTT Men, Fulgensius Efrem; Ningsi, Gabariela Purnama; Jehadus, Emilianus; Sugiarti, Lana
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i2.53907

Abstract

Penerapan kurikulum merdeka dalam satuan pendidikan masih merupakan tantangan bagi beberapa sekolah. Meskipun ada sekolah yang sudah menerapkan kurikulum merdeka dalam tahapan mandiri berubah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa sekolah masih mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka ini dengan baik. Selain itu, masih ada guru-guru yang kurang termotivasi untuk menerapkan kurikulum merdeka dalam pembelajaran. Untuk mengatasi masalah ini, maka tim pengandian melaksanakan kegiatan pelatihan implementasi kurikulum merdeka di SDI Kotandora. SDI ini merupakan salah satu sekolah yang mengalami tantangan ini. Kegiatan pengabdian dilakukan dalam tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan. Kegiatan pelatihan dilakukan mulai dari pukul 08.00-16.00 WITA selama 2 hari yaitu pada tanggal 19-20 Februari 2024 dan diikuti oleh 19 peserta yang merupakan guru-guru SDI Kotandora. Dalam kegiatan ini, guru-guru telah menyusun KOSP yang sudah dapat digunakan, beberapa draf modul ajar dan modul P5 yang perlu untuk disempurnakan. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah peningkatan pengetahuan guru-guru peserta pelatihan tentang implementasi Kurikulum Merdeka serta peningkatan skills peserta dalam menyusun perangkat ajar Kurikulum Merdeka.
Pembelajaran Matematika Berbantuan Spreadsheet pada Materi Grafik Fungsi Jelatu, Silfanus; Jundu, Ricardus; Mandur, Kanisius; Men, Fulgensius Efrem
JMPM: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 5 No 2 (2020): September 2020 - February 2021
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26594/jmpm.v5i2.2104

Abstract

Dalam pembelajaran matematika, perangkat komputer berupa spreadsheet dapat berperan sebagai alat bantu belajar siswa serta sumber belajar bagi guru agar pembelajaran menjadi lebih optimal. Spreadsheet telah meluncurkan berbagai fitur yang dapat dimanfaatkan sebagai media dinamis yang dapat mensimulasikan konsep matematika selain operasi aljabar, yakni visualisasi grafik fungsi kuadrat. Melalui penelitian pengembangan, peneliti terdorong untuk mengimplementasikan pembelajaran matematika yang terintegrasi media spreadsheet demi tercapainya pemahaman tentang grafik fungsi secara optimal. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan/Research and Development (R&D). Pembuatan media pembelajaran mengacu pada model pengembangan Plomp. Subjek penelitian ini siswa kelas X SMA. Selain itu, terdapat dua subjek lain yaitu validator dan guru. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa media pembelajaran matematika berbantuan spreadsheet memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif.
Critical Thinking Profiles of Junior High School Students in Solving Plane Geometry Problems Based on Cognitive Style and Gender Men, Fulgensius Efrem; Gunur, Bedilius; Jundu, Ricardus; Raga, Polykarpus
Indonesian Journal of Science and Mathematics Education Vol. 3 No. 2 (2020): Indonesian Journal of Science and Mathematics Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijsme.v3i2.5955

Abstract

This study aimed to describe the students’ critical thinking processes in solving plane geometry problems based on cognitive styles and gender styles. This research used the descriptive qualitative method. The subjects of this study were four junior high school students selected based on differences in cognitive styles and gender styles. The instrument consisted of the main instruments are researchers and supporting instruments, namely problem-solving instruments, cognitive style instruments, and interview guidelines. The data were collected by means of tests and interviews. The results showed there is a significant difference in critical thinking based on students’ cognitive styles. Students with field independent cognitive style tend to go through critical thinking stages more fully than students with field dependent cognitive style. Besides that, gender differences also have an impact, although not as significant as the cognitive style.