This study examines cultural heritage buildings in Garut Regency as architectural historical traces that reflect the social and cultural dynamics of the community since the colonial era. Through a qualitative-descriptive approach and architectural typology analysis, this study explores the form, function, and historical value of historic buildings such as the Pendopo Building, the Old Post Office, and the Papandayan Hotel. The results show that these buildings exhibit a blend of Dutch colonial architectural styles—such as Indische Empire and Art Deco—with adaptations to the tropical climate and Sundanese culture. The building typology is not only a visual representation of the colonial period, but also a symbol of the interaction between power, local communities, and urban space. Conservation efforts still face challenges, particularly from the lack of public awareness and the pressures of modern development. However, revitalization and adaptive reuse initiatives have emerged that open opportunities for the development of heritage-based tourism. This study emphasizes that historic architecture in Garut is not merely an artifact of the past, but a living heritage that needs to be preserved as a cultural identity and a medium for historical learning for future generations. [ Penelitian ini membahas bangunan-bangunan cagar budaya di Kabupaten Garut sebagai jejak sejarah arsitektur yang merefleksikan dinamika sosial dan budaya masyarakat sejak masa kolonial. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis tipologi arsitektur, penelitian ini menelusuri bentuk, fungsi, serta nilai historis dari bangunan bersejarah seperti Gedung Pendopo, Kantor Pos Lama, dan Hotel Papandayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan-bangunan tersebut memperlihatkan perpaduan gaya arsitektur kolonial Belanda—seperti Indische Empire dan Art Deco—dengan penyesuaian terhadap iklim tropis dan budaya Sunda. Tipologi bangunan tidak hanya menjadi representasi visual masa kolonial, tetapi juga simbol interaksi antara kekuasaan, masyarakat lokal, dan ruang kota. Upaya pelestarian masih menghadapi tantangan, terutama dari minimnya kesadaran masyarakat dan tekanan pembangunan modern. Namun, muncul inisiatif revitalisasi dan pemanfaatan kembali (adaptive reuse) yang membuka peluang bagi pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa arsitektur bersejarah di Garut bukan sekadar artefak masa lalu, tetapi warisan hidup yang perlu dijaga sebagai identitas kultural dan media pembelajaran sejarah bagi generasi mendatang.]