Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REVIEW 5 TAHUN KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN BENDA ASING INTRAOKULAR DI PMN RS MATA CICENDO Desrina; Virgana, Rova; Kartasasmita, Arief S.; Iskandar, Erwin; Ihsan , Grimaldi; Widyanatha, Made Indra
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Oftalmologi
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v5i1.46

Abstract

Introduction: Intraocular foreign bodies (IOFBs) are defined as intraocularly retained, unintentional projectiles that require urgent diagnosis and treatment to prevent blindness or globe loss. IOFBs account for 18–41% of open globe injuries, and frequently cause severe visual loss in patients with ocular trauma.The purpose of this study are is to describe the characteristics of open-globe injuries with posterior segment intraocular foreign bodies (IOFB). Subject and Methods: Retrospective data of all patients with posterior segment IOFBs from 2017 to 2022 was conducted. Data including demographics, mechanism of injury, type of IOFB, method of diagnosis, presenting examination, medical and surgical treatment, visual outcomes, and complications were recorded. Result: There were 39 patients (eyes) with IOFB, 38 (97,4%) were male, 10 (25,6%) were 46-55 years old. The most common IOFB occurred at workplace 30 patient (85,7%), 29 (74,3%) were insuranced, surgery were performed 1- 4 days in 15 (38,5%. The most Ocular trauma score were 3 (38,5%) and 2 (35,9%) initial VA were light perception – hand movement (25 or 64,1%), final VA with BCVA were > 20/40 (30,8%) patients and 6/60-6/15 (25,6%). The posterior segment IOFB (51,3%, metallic IOFB 25 (61,5%). Cataract 74,3% and Endophthalmitis (20,5%) were found in initial examination patient with IOFB (13 or 37,1%). Late complication in post surgery IOFB patient was glaucoma 14,4%. Conclusions: The IOFB occurred most commonly in adults, men, at the workplace. The IOFB mostly was metallic, found in the posterior segment. Cataract and endoftalmitis were common in initial finding IOFB patients.
Melacak Bahan Bakar Minyak Palsu dengan Sistem Marker Subardjo Pangarso; Desrina; Yuflinawati Away
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat jenis produk bahan bakar minyak yang dipergunakan masyarakat luas di Indonesia adalah kaerosine, solar, bensin premium, danbensin super. Perbedaan harga yang menonjol memberi dorongan untuk memetik keuntungan dengan membaurkan bahan bakar yang murah ke dalam bahan bakar yang mahal. Kerosin, bahan bakar yang harganya sangat murah, dapat dipalsukan atau dibaurkan ke dalam minyak solar atau bensin premium maupun super sekitar 20% colume.
ART THERAPY (MELUKIS) DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN KONTROL HALUSINASI PENDENGARAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA Maulid, Fika; Zulheri; Putra, Henki Adisa; Desrina
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/pxryyw67

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala utama pada pasien skizofrenia yang dapat menimbulkan distres psikologis signifikan, seperti kecemasan, depresi, isolasi sosial, serta berkontribusi terhadap rendahnya kepatuhan pengobatan dan proses rehabilitasi. Kondisi ini ditandai dengan persepsi mendengar suara atau stimulus auditori tanpa adanya rangsangan nyata dari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kemampuan kontrol halusinasi pendengaran pada pasien skizofrenia sebelum dan sesudah diberikan terapi seni melukis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus terhadap dua orang subjek. Intervensi dilakukan dalam rentang waktu 4–10 Agustus 2025. Pengukuran kemampuan kontrol halusinasi dilakukan sebelum dan setelah pemberian terapi seni melukis. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor halusinasi pada kedua subjek, yaitu dari 16 menjadi 3 pada subjek I dan dari 12 menjadi 3 pada subjek II. Temuan ini mengindikasikan bahwa terapi seni melukis berpotensi efektif dalam meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi pendengaran. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi seni melukis dapat digunakan sebagai intervensi non-farmakologis yang mendukung pengendalian halusinasi pada pasien skizofrenia. Oleh karena itu, disarankan bagi institusi pelayanan kesehatan untuk mempertimbangkan penerapan terapi seni melukis sebagai bagian dari asuhan keperawatan dalam mengurangi tanda dan gejala halusinasi pendengaran.