Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Studi Kasus: Evaluasi Pertumbuhan Dan Keberlanjutan Usaha Kecil Di Kota Makassar Burhanuddin, Burhanuddin; Normala
Maksimal Jurnal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol 1 No 6 (2024): Agustus
Publisher : Maximal Journal : Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha kecil di Indonesia memainkan peran penting dalam perekonomian, terutama selama krisis moneter 1997/1998. jenis usaha ini mampu bertahan dan pulih lebih cepat dibandingkan dengan usaha besar. Kepribadian dan inovasi usaha kecil memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerjanya, masing-masing sebesar 0,361% dan 0,340%, khususnya di Kota Makassar. Usaha kecil tidak hanya penting dalam menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Usaha kecil membantu individu memperoleh penghasilan dan meningkatkan kualitas hidup. Usaha kecil sering kali menjadi fondasi bagi pengusaha besar, yang memulai dari usaha kecil sebelum berkembang. Di Kota Makassar, usaha kecil menunjukkan inisiatif kreatif, seperti memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran melalui media sosial dan e-commerce, yang membantu mereka bersaing dan meningkatkan efisiensi operasional. Secara keseluruhan, usaha kecil memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian nasional, terutama dalam situasi krisis. Dengan terus berinovasi, mereka dapat berkembang dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Peningkatan Keterampilan Psikomotor dan Hasil Belajar Siswa melalui Model Direct Instruction berbantuan Praktikum pada Materi Pengukuran Marcelina, Susi; Cahaya, Sri; Triana, Yulia; Normala; Yulinae; Hartanto, Theo Jhoni
PendIPA Journal of Science Education Vol 8 No 3 (2024): October
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/pendipa.8.3.386-396

Abstract

The low psychomotor skills and students' learning outcomes in class VII of SMPN 1 Katingan Hilir motivate this research. The purpose of this study is to improve the psychomotor skills and learning outcomes of students through the application of the direct instruction model with the practicum method. This research is classroom action research where each cycle consists of planning, implementation, observation, and reflection stages. The subjects of the study were all 25 students of class VII of SMPN 1 Katingan Hilir. Data on students' psychomotor skills were obtained through performance tests, while data on students' learning outcomes were collected through written tests. The results showed an increase in students' psychomotor skills and learning outcomes from cycle I to cycle II. In cycle I, 44% of students achieved the expected learning outcomes, and 68% of students had good psychomotor skills. In cycle II, 92% achieved the expected learning outcomes, and 88% of students had good psychomotor skills. This increase shows that the direct instruction model with the practicum method can improve students' psychomotor skills and learning outcomes in measurement material.
Urgensi Pendidikan Tinggi dalam Perspektif Perempuan di Desa Anjir Pasar Lama Kabupaten Barito Kuala Normala; Zulaikha, Siti
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v4i2.384

Abstract

The social construction within society reflects issues of gender-based discrimination, one of which is the unequal treatment of men and women in the field of education. This study aims to explore the urgency of higher education from women's perspectives and to understand the social construction of rural communities regarding higher education for women. The research was conducted in Anjir Pasar Lama Village, Barito Kuala Regency. A qualitative method with a case study approach was employed. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis followed the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that in Anjir Pasar Lama Village, there are two prevailing perspectives on higher education for women: some members of the community believe that higher education is very important for women, while others consider it less important. Factors contributing to the low level of higher education among women in the village include early marriage, economic conditions, and a lack of awareness about the importance of higher education for women. The most dominant factor is early marriage. The social construction within the community is shaped by three dialectical processes: internalization, objectivation, and externalization. In this context, gender discrimination in Anjir Pasar Lama Village includes the marginalization of women in education, subordination of women, gender stereotypes, and violence. However, the concept of a double burden is not found, as women are primarily confined to domestic roles.
Cerdas (Cegah, Edukasi, Sayangi Diri): Program Remaja Sehat Bebas Penyakit Menular Seksual Rahmayani, Dini; Fazraningtyas, Winda Ayu; Fetriyah, Umi Hanik; Yamani, Namira Talitha; Maulida, Neli; Grencia, Neni; Andini, Ni Nyoman Jero; Sari, Niluh Putu Asti Purnama; Normala; Anisa, Nur; Nazmi, Nurlina; Salsabila, Putri; Mukti, Ranisa; Fadlianoor, Renaldy; Rinita; Shabilla, Risqina Meilin; Ritni
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 3 No 4 (2025): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v3i4.825

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan masalah kesehatan global yang berdampak besar terhadap remaja. Minimnya edukasi dan adanya stigma sosial menyebabkan rendahnya pemahaman tentang pencegahan PMS. Pentingnya edukasi sejak dini mengenai PMS adalah karena tanpa intervensi yang memadai, remaja berisiko tinggi terjangkit PMS akibat perilaku seksual berisiko, minimnya akses terhadap informasi dan layanan reproduksi, serta kesulitan mengambil keputusan sehat. Jika edukasi tidak dilakukan, konsekuensinya bisa meliputi penularan penyakit, komplikasi kesehatan jangka panjang seperti infertilitas dan komplikasi kehamilan, serta beban psikososial dan finansial bagi individu maupun sistem kesehatan. Data terbaru menunjukkan bahwa di Indonesia, remaja termasuk kelompok paling rentan terhadap IMS prevalensi IMS pada perempuan usia 15–24 tahun mencapai sekitar 17,1 %. Selain itu, tinjauan literatur periode 2015–2023 mencatat prevalensi HIV/AIDS sebesar 0,3 %, sifilis 1,2 %, serta gonore pada kelompok remaja cukup tinggi. Angka-angka ini semakin mempertegas urgensi edukasi reproduksi yang komprehensif dan berkelanjutan untuk remaja sebagai strategi preventif yang sangat dibutuhkan. Tujuan: Memberikan edukasi kepada siswa SMA 1 Sungai Tabuk terkait PMS, termasuk pengertian, jenis, penularan, dan pencegahannya. Metode: Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan edukatif-partisipatif, yang melibatkan siswa SMA 1 Sungai Tabuk sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Hasil: Terdapat peningkatan skor pengetahuan pada sebagian besar siswa. Beberapa siswa mengalami peningkatan signifikan (hingga +38 poin). Edukasi berhasil meningkatkan kesadaran mengenai risiko PMS dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Simpulan: Program edukasi berbasis sekolah efektif meningkatkan pemahaman remaja tentang PMS serta dapat dijadikan strategi preventif dalam mencegah perilaku berisiko.
Legal Awareness of Marital Rape A Comparison of Perspectives in Urban and Rural Areas Normala; Setyobowo Sangalang, Rizki; Istani
Jurnal Ilmu Hukum Tambun Bungai Vol 10 No 2 (2025): December 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61394/jihtb.v10i2.548

Abstract

Abstract: This research discusses the critical issue of marital rape in Indonesia, a form of sexual violence within households that persists despite being criminalised by the Domestic Violence Law (UU PKDRT) and the Sexual Violence Crimes Law (UU TPKS). The rising number of case reports indicates a gap between legal provisions and public perception, which is still influenced by social, cultural, and religious values. This study, which is, examines public legal awareness and the role of these values in viewing the criminalisation of marital rape, using a comparative approach between urban and rural areas. Using a juridical-empirical method, data was collected through questionnaires from 49 respondents in the city of Palangka Raya and several surrounding villages, then analysed using the approaches of legal positivism, legal realism, and natural law theory. The findings reveal a significant gap between the recognition of the term 'marital rape' and the understanding of its substantive legal aspects, particularly in rural areas. A strong patriarchal mindset was evident, with the majority of respondents rejecting bodily autonomy within marriage. Social values (57.1%) were identified as the primary influencing factor, surpassing religion (37.7%) and culture (6.1%). This study concludes that the mere presence of law is insufficient; a holistic approach that integrates massive education and cultural reconstruction is essential to align societal values with legal norms and ensure effective protection for victims. Keywords: Rape, Marriage, Criminalisation, Legal Awareness Abstrak Penelitian ini membahas mengenai isu kritis marital rape di Indonesia, yaitu bentuk kekerasan seksual dalam rumah tangga yang masih berlangsung meski telah dikriminalisasi oleh UU PKDRT dan UU TPKS. Meningkatnya laporan kasus menunjukkan kesenjangan antara ketentuan hukum dengan persepsi masyarakat yang masih dipengaruhi oleh nilai sosial, budaya dan agama. Studi ini menganalisis kesadaran hukum masyarakat dan peran nilai-nilai tersebut dalam memandang kriminalisasi marital rape secara komparatif di wilayah perkotaan dan pedesaan. Dengan metode yuridis-empiris, data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 49 responden di wilayah Kota Palangka Raya dan beberapa desa disekitarnya, lalu dianalisis dengan pendekatan teori positivisme hukum, realisme hukum, dan hukum alam. Temuan mengungkapkan kesenjangan besar antara pengenalan istilah marital rape dengan pehaman hukum substantif, khususnya di daerah pedesaan. Pola pikir patriarki yang kuat terlihat dari mayoritas responden yang menolak otonomi tubuh dalam perkawinan. Nilai sosial (57,1%) terindentifikasi sebagai faktor pengaruh utama, mengungguli agama (37,7%) dan budaya (6,1%). Studi ini menyimpulkan bahwa kehadiran hukum tidak cukup; diperlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan edukasi masif dan rekonstruksi budaya sangat penting untuk menyelaraskan nilai masyarakat dengan norma hukum dan menjamin perlindungan yang efektif bagi korban. Kata Kunci : Pemerkosaan, Perkawinan, Kriminalisasi, Kesadaran Hukum