Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) SECARA IN VITRO DENGAN METODE HRBC (Human Red Blood Cell) Sari, Eni Kartika; Anantarini, Ni Putu Dea; Dellima, Beta Ria Erika Marita
Kartika : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/kjif.v9i1.636

Abstract

Penggunaan jangka panjang dari obat steroid dan non steroid dalam mengobati inflamasi dapat memberikan efek samping yang merugikan. Daun serai wangi (Cymbopogon nardus L.) mengandung senyawa kimia flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, steroid dan minyak atsiri yang bermanfaat sebagai antiinflamasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi dari ekstrak etanol daun serai wangi dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak etanol daun serai wangi terhadap aktivitas antiinflamasi. Uji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun serai wangi dilakukan secara in vitro dilihat berdasarkan pengaruhnya terhadap stabilitas membran sel darah merah menggunakan metode HRBC dengan darah yang dirusak larutan hipotonik sebagai media uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun serai wangi mempunyai efek antiinflamasi dari kemampuannya menjaga stabilitas sel darah merah, dimana semakin tinggi konsentrasi maka % stabilitas sel darah merah semakin besar pula. Nilai IC50 ekstrak etanol daun serai wangi dan aspirin secara berturut-turut adalah sebesar 9,302 ppm dan 15,070 ppm. Nilai IC50 ekstrak etanol daun serai wangi dan aspirin masuk ke dalam golongan aktivitas antiinflamasi sangat aktif dikarenakan nilai IC50 kurang dari 50 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun serai wangi lebih tinggi dibandingkan aspirin sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen antiinflamasi. Kata kunci: antiinflamasi, daun serai wangi, metode HRBC.   Abstract Long-term use of steroid and non-steroidal drugs in treating inflammation can have adverse side effects. Lemongrass (Cymbopogon nardus L.) leaves contain chemical compounds of flavonoids, alkaloids, tannins, saponins, steroids and essential oils which are useful as anti-inflammatories. The purpose of this study was to determine the anti-inflammatory activity of the ethanol extract of citronella leaves  and  to determine  how much influence the concentration of the ethanol extract of citronella leaves had on anti-inflammatory activity. The anti-inflammatory activity test of the ethanol extract of citronella leaves was carried out in vitro based on its effect on the stability of the red blood cell membrane using the HRBC method with blood damaged by a hypotonic solution as the test medium. The results showed that the ethanol extract of citronella leaves had an anti-inflammatory effect from its ability to maintain red blood cell stability, where the higher the concentration, the greater the % stability of red blood cells. The IC50 values of ethanol extract of citronella leaves and aspirin were 9.302 ppm and 15.070 ppm respectively. The IC50 value of ethanol extract of citronella leaves and aspirin is included in the class of very active anti-inflammatory activity because the IC50 value is less than 50 ppm. This shows that the anti-inflammatory activity of the ethanol extract of citronella leaves is higher than aspirin, so it has the potential to be developed as an anti-inflammatory agent. Keywords: anti-inflammatory, Cymbopogon nardus L., HRBC method.
Evaluasi Penggunaan Obat Psikofarmaka dan Analisis Biaya Penyakit (Cost of Illness) pada Pasien Rawat Inap dengan Gangguan Bipolar di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Tahun 2023 Nur, Ice Laila; Armytha, Shifana Tri; Anggraeni, Sheny; Maulani, Ira; Novianti, Novianti; Anantarini, Ni Putu Dea
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i3.64469

Abstract

Gangguan bipolar adalah kondisi kejiwaan kronis yang berkontribusi signifikan terhadap disabilitas dan kematian. Beban global penyakit ini menunjukkan tren peningkatan. Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan mengevaluasi penggunaan obat psikofarmaka dan menganalisis biaya pengobatan pasien dengan gangguan bipolar rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat sepanjang tahun 2023. Data sekunder periode Januari–Desember 2023 digunakan untuk mengevaluasi penggunaan obat dengan metode ATC/DDD dan Drug Utilization 90% (DU90%), serta menganalisis biaya riil dan membandingkannya dengan tarif INA-CBGs berdasarkan tingkat keparahan dan kelas perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risperidone merupakan psikofarmaka paling banyak digunakan dengan nilai DDD/100 bed days sebesar 97,75 dan DU 90% sebesar 20,3%. Hasil analisis biaya penyakit menunjukkan proporsi komponen biaya medis langsung terbesar pada Kelas 1 dan 2 adalah akomodasi. Nilai rata-rata biaya medis langsung pada Kelas 1 sebesar Rp5.271.432 dan pada Kelas 2 sebesar Rp5.903.750. Perbandingan biaya riil dengan tarif INA-CBGs berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan kelas perawatan pada Kelas 1 dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berat menunjukkan selisih biaya positif (Rp648.668; Rp4.417.968; Rp7.095.668), sedangkan pada Kelas 2 tingkat keparahan ringan, sedang, berat menunjukan selisih biaya (-Rp686.650; Rp2.583.550; Rp4.929.050). Length of stay (LOS) diduga menjadi penyebab selisih biaya negatif sehingga biaya berdasar tarif rumah sakit berbeda dengan INA-CBGs.  Temuan risperidone yang merupakan salah satu obat lini pertama terapi gangguan bipolar episode mania akut dengan ATC/DDD tertinggi menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut untuk memastikan penggunaan obat tersebut telah optimal sesuai protokol terapi serta aman. Selain itu, pertimbangan rumah sakit dalam memperpendek LOS tanpa mengorbankan kualitas perawatan menjadi hal yang penting.