Nur, Ice Laila
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Biaya Penyakit dan Evaluasi Penggunaan Obat Psikofarmaka pada Pasien Depresi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Tahun 2023 Nur, Ice Laila; Armytha, Shifana Tri; Maulani, Ira; Novianti, Novianti; Supri Antari, Komang Trisna Karang
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2024.13.3.64448

Abstract

Di Indonesia, prevalensi depresi mencapai 1,4% pada tahun 2023. Jawa Barat (3,3%), Kalimantan Timur (2,2%), dan Banten (1,7%) merupakan tiga provinsi dengan prevalensi depresi tertinggi. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data retrospektif, dilakukan untuk menganalisis biaya penyakit dan evaluasi penggunaan obat psikofarmaka pasien depresi rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan komponen biaya medis langsung pasien depresi rawat inap dari yang tertinggi meliputi biaya akomodasi Rp287.350.000 (38,3%), biaya tindakan dan asuhan keperawatan Rp228.920.000 (30,5%), biaya lain-lain Rp102.270.000 (13,6%), biaya obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai Rp96.232.329 (12,8%), biaya pemeriksaan penunjang Rp24.754.000 (3,3%), biaya rehabilitasi psikososial Rp7.565.000 (1,0%), dan biaya tindakan medik Rp3.585.000 (0,5%). Komponen biaya akomodasi memiliki persentase tertinggi kemungkinan dipengaruhi oleh lamanya hari perawatan atau length of stay. Rata-rata biaya medis langsung sebesar Rp5.361.974. Perbandingan rata-rata biaya riil rumah sakit dengan tarif Indonesian Case Base Groups pasien depresi ringan, depresi sedang, dan depresi berat, yang seluruhnya berada pada kelas 2, menunjukkan selisih biaya positif sejumlah Rp1.988.826, Rp2.184.026, dan Rp4.314.726. Evaluasi penggunaan obat psikofarmaka dengan metode Anatomical Therapeutic Chemical (ATC) Classification System dan Defined Daily Dose (DDD) menunjukkan sertraline memiliki nilai tertinggi, yaitu 120,80 DDD/100 bed days. Obat psikofarmaka yang termasuk segmen DU 90%, yaitu sertraline (24%), risperidone (17,22%), lorazepam (12,80%), aripiprazole (7,34%), olanzapine (6%), fluoxetine (5,81%), haloperidol (3,99%), quetiapine fumarate (3,60%), vortioxetine (3,49%), olanzapine parenteral (3,09%) dan clozapine (2,68%). Sertraline banyak digunakan karena merupakan terapi lini pertama untuk pasien dengan diagnosis depresi dan memiliki keamanan serta tolerabilitas yang lebih baik. 
Evaluasi Penggunaan Obat Psikofarmaka dan Analisis Biaya Penyakit (Cost of Illness) pada Pasien Rawat Inap dengan Gangguan Bipolar di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Tahun 2023 Nur, Ice Laila; Armytha, Shifana Tri; Anggraeni, Sheny; Maulani, Ira; Novianti, Novianti; Anantarini, Ni Putu Dea
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2025.v14i3.64469

Abstract

Gangguan bipolar adalah kondisi kejiwaan kronis yang berkontribusi signifikan terhadap disabilitas dan kematian. Beban global penyakit ini menunjukkan tren peningkatan. Penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan mengevaluasi penggunaan obat psikofarmaka dan menganalisis biaya pengobatan pasien dengan gangguan bipolar rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat sepanjang tahun 2023. Data sekunder periode Januari–Desember 2023 digunakan untuk mengevaluasi penggunaan obat dengan metode ATC/DDD dan Drug Utilization 90% (DU90%), serta menganalisis biaya riil dan membandingkannya dengan tarif INA-CBGs berdasarkan tingkat keparahan dan kelas perawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risperidone merupakan psikofarmaka paling banyak digunakan dengan nilai DDD/100 bed days sebesar 97,75 dan DU 90% sebesar 20,3%. Hasil analisis biaya penyakit menunjukkan proporsi komponen biaya medis langsung terbesar pada Kelas 1 dan 2 adalah akomodasi. Nilai rata-rata biaya medis langsung pada Kelas 1 sebesar Rp5.271.432 dan pada Kelas 2 sebesar Rp5.903.750. Perbandingan biaya riil dengan tarif INA-CBGs berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan kelas perawatan pada Kelas 1 dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berat menunjukkan selisih biaya positif (Rp648.668; Rp4.417.968; Rp7.095.668), sedangkan pada Kelas 2 tingkat keparahan ringan, sedang, berat menunjukan selisih biaya (-Rp686.650; Rp2.583.550; Rp4.929.050). Length of stay (LOS) diduga menjadi penyebab selisih biaya negatif sehingga biaya berdasar tarif rumah sakit berbeda dengan INA-CBGs.  Temuan risperidone yang merupakan salah satu obat lini pertama terapi gangguan bipolar episode mania akut dengan ATC/DDD tertinggi menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut untuk memastikan penggunaan obat tersebut telah optimal sesuai protokol terapi serta aman. Selain itu, pertimbangan rumah sakit dalam memperpendek LOS tanpa mengorbankan kualitas perawatan menjadi hal yang penting.