Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan penanganan atonia uteri terhadap tindakan KBI dan KBE Rizki, Hudeni; Sihaloho, Endang; Sinulingga, Yeni Friska; Daulay, Evlindari Sentani; Ristiani, Ristiani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2286

Abstract

Background: Uterine atony is a major cause of postpartum hemorrhage, contributing significantly to maternal morbidity and mortality. Prompt and appropriate management of uterine atony, including the use of manual interventions such as Internal Bimanual Compression (IBC) and External Bimanual Compression (EBCC), is crucial for successful hemorrhage control and the prevention of further complications. However, clinical practice still finds variation in the quality of uterine atony management and the implementation of IBC and ECCC procedures. Purpose: To determine the relationship between uterine atony management and IBC and ECCC procedures. Method: This was an observational analytical study using a cross-sectional approach conducted at the Helen Tarigan Clinic, with data collected from July to November 2025. A sample of 34 women giving birth with uterine atony was selected using a total sampling technique. Data were obtained through a review of medical records and analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: There was a significant association between uterine atony management and IBC and IBC procedures, with a p-value of 0.032. Good uterine atony management was more frequently followed by IBC and IBC procedures than suboptimal management. Conclusion: Uterine atony management was significantly associated with IBC and IBC procedures, thus optimizing initial management plays a crucial role in controlling postpartum hemorrhage.   Keywords: Bimanual Compression; Postpartum Hemorrhage; Uterine Atony.   Pendahuluan: Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum yang berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Penanganan atonia uteri yang cepat dan tepat, termasuk penggunaan intervensi manual seperti Kompresi Bimanual Internal (KBI) dan Kompresi Bimanual Eksternal (KBE), sangat menentukan keberhasilan pengendalian perdarahan serta pencegahan komplikasi lanjutan. Namun, dalam praktik klinis masih ditemukan variasi dalam kualitas penanganan atonia uteri dan penerapan tindakan KBI serta KBE. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penanganan atonia uteri terhadap tindakan KBI dan KBE. Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di Klinik Helen Tarigan dengan pengumpulan data pada periode Juli hingga November 2025. Sampel berjumlah 34 ibu bersalin dengan atonia uteri yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0.05. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara penanganan atonia uteri dengan tindakan KBI dan KBE, dengan nilai p-value sebesar 0.032. Penanganan atonia uteri yang baik lebih banyak diikuti dengan pelaksanaan tindakan KBI dan KBE dibandingkan penanganan yang kurang optimal. Simpulan: Penanganan atonia uteri berhubungan secara signifikan dengan tindakan KBI dan KBE, sehingga optimalisasi penanganan awal berperan penting dalam pengendalian perdarahan postpartum.   Kata Kunci: Atonia Uteri; Kompresi Bimanual; Perdarahan Postpartum.
Optimalisasi pengetahuan status gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis pada ibu hamil Sinulingga, Yeni Friska; Daulay, Evlindari Sentani; Sihaloho, Endang; Rizki, Hudeni; Ristiani, Ristiani; Dewi, Nurfatmawati; Nazara, Titin Sundari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2605

Abstract

Background: Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women remains a public health problem with serious impacts on maternal and fetal health, such as increased risk of anemia, preterm labor, and low birth weight. One of the main factors contributing to CED is pregnant women's lack of knowledge about balanced nutrition and meeting nutritional needs during pregnancy. Therefore, ongoing educational efforts are needed to improve maternal nutritional understanding. Purpose: Optimize knowledge about nutritional status and the risk of chronic energy deficiency in pregnant women. Method: This community service activity was conducted at the Soposurung Community Health Center in December 2025. Twenty pregnant women were selected as respondents based on their Upper Arm Circumference (MUAC) screening results of <23.5 cm and their willingness to participate in all activities. The objective of this activity was to provide counseling on meeting nutritional needs for the risk of chronic energy deficiency (CED) in pregnant women. The activity was implemented using an educational and participatory approach. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation of knowledge improvement was assessed descriptively based on changes in nutritional knowledge and improvements in respondents' nutritional status indicators after the educational activity. Results: The level of knowledge of respondents regarding nutritional optimization for the risk of chronic energy deficiency before the educational activity was 5 (25.0%) in the good category, 8 (40.0%) in the sufficient category, and 7 (35.0%) in the poor category. There was a proportional change after the educational activities with 15 people (75.0%) in the good category, 4 people (20.0%) in the sufficient category, and 1 person (5.0%) in the less category. Conclusion: Community service activities through the optimization of nutrition education have proven effective in increasing nutritional knowledge and improving the weight status of pregnant women at risk of chronic energy deficiency (CED). Increased understanding of energy needs and balanced nutrition during pregnancy encourages changes in healthier eating behaviors and positively impacts improvements in nutritional status indicators. Suggestion: Nutrition education needs to be implemented routinely and integrated into antenatal care services, involving health workers, families, and health cadres to ensure the sustainability of behavior changes. Furthermore, regular monitoring of nutritional status and the development of more innovative and contextual educational media based on local foods are needed to increase the effectiveness of CED prevention programs for pregnant women. Keywords: Chronic energy deficiency; Balanced nutrition; Nutrition education; Pregnant women Pendahuluan: Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan janin, seperti meningkatnya risiko anemia, persalinan prematur, dan bayi berat lahir rendah. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian KEK adalah rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman gizi ibu hamil. Tujuan: Optimalisasi pengetahuan tentang status gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis pada ibu hamil. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Puskesmas Soposurung pada bulan Desember 2025. Melibatkan 20 orang ibu hamil untuk menjadi responden, yang dipilih berdasarkan hasil skrining Lingkar Lengan Atas (LILA) <23.5 cm dan kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sasaran dalam kegiatan ini adalah penyuluhan tentang pemenuhan kebutuhan gizi terhadap risiko mengalami kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil. Pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi peningkatan pengetahuan dinilai secara deskriptif berdasarkan perubahan pengetahuan tentang gizi dan perbaikan indikator status gizi responden setelah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai optimalisasi gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 5 orang (25.0%) dalam kategori baik, sebanyak 8 orang (40.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 7 orang (35.0%) dalam kategori kurang. Terdapat perubahan secara proporsional setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 15 orang (75.0%) dalam kategori baik, sebanyak 4 orang (20.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 1 orang (5.0%) dalam kategori kurang. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui optimalisasi edukasi gizi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan gizi serta memperbaiki status berat badan ibu hamil yang berisiko kekurangan energi kronis (KEK). Peningkatan pemahaman mengenai kebutuhan energi dan gizi seimbang selama kehamilan mendorong perubahan perilaku makan yang lebih sehat dan berdampak positif terhadap perbaikan indikator status gizi. Saran: Edukasi gizi perlu dilaksanakan secara rutin dan terintegrasi dalam pelayanan antenatal care dengan melibatkan tenaga kesehatan, keluarga, dan kader kesehatan agar keberlanjutan perubahan perilaku dapat terjaga. Selain itu, diperlukan pemantauan status gizi secara berkala serta pengembangan media edukasi yang lebih inovatif dan kontekstual berbasis pangan lokal untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan KEK pada ibu hamil.