Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Petrochemical Industries A.S Nasution; Abdul Haris; Morina Morina; Leni Herlina
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 33 No 2 (2010)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.33.2.818

Abstract

Petrochemical processes begin with relatively few basic raw materials, expand into a complex network of chemicals and converge into materials that serve specific functions as consumer products. Then raw material base for the petrochemical industry primarily depends upon the type of intermediates and final products required by industry and consumer. Almost all petrochemicals are derived from three sources: synthesis gas, olefin and aromatic. Production of those three petrochemical sources and the derivative chemicals are described briefly
Selective Hydrocracking Of Heavy Distillate To High Viscosity Index Lube Base Stock By Using Bi-Functional Catalysts A.S Nasution
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 28 No 1 (2005)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.28.1.869

Abstract

Hydroprocessing is the catalytic reaction of hydrogen with petroleum or other hydrocarbon materials. It may be carried out for a variety of objectives, including: saturation of olefins or aromaties, molecular rearrangement, or removal of impurity (1).Selective hydrocracking is one of this hydroprocessing to convert higherboiling distillate to lube base stock using a bi-functional catalyst containing both acid site and metal site. Those two active sites of bi-functional catalyst should promote the correct combination of hydrogenation, isomerization and limited hydrocracking function, resulting in the maximum yield of product in the lube oil range (2). The kinetics of this selective hydrocracking greatly depends on the operating conditions: such as feedstock composition, type of catalyst, temperature, pressure, hydrogen to hydrocarbon ratio, and space velocity (6).The versatility of the hydroconversion process with respect to the variety of feedstock are case to study: i.e. the feasibility of the hydroconversion of obtaining lube base stock from heavy distillate.In order to gain more information, an experiment has been carried out to study the selective hydrocracking of vacuum distillate (paraffinic and non paraffinic) by using bifunctional catalysts with various acidity at the following operating conditions: temperature: from 380 to 410 ° C, pressure: 100 kg/cm2 and hydrogen to hydrocarbon ratio: 1000 l/lt. A catatest unit operated in a continuous system was used in this experiment.Gas and liquid product samples were taken from gas and liquid samples, respectively. Liquid product was fractionated to get the following cuts: IBP-380°C and>380°C with 30 theoretical plate fractionator, operating at 4/1 reflux ratio. The >380°C bottom product was treated by dewaxing, using methylisobutyl ketone as a solvent to obtain the lube base stock and wax.
Hydroisomerization Of Paraffin Wax Of Sumatran Light Waxy Residue For Lubricating Oil And Fuel Oils Production Using The BI - Functional Catalysts With Various Acid Supports A.S Nasution
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 5 No 1 (1982)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.5.1.905

Abstract

Paraffin wax (average mol wt 750-850) of Sumatran Light Waxy Residue was hydroisomerized by bi-functional catalyst with various acidic com- ponents, using a catetest unit, operated at high temperature and pressure with continous system . The reaction products were distilled at at- mospheric pressure to 380°C and the residues subjected to a dewaxing treat ment at - 20°C. Based on this separation the reaction products were regarded as pseudo three component systems the component being lubricating oil, unconverted wax and cracked products. The lubricating oils obtained in the experiments have a-viscosity index of 122- 16S, With M/AI0-SIO2 type catalyst a maximal oil yield of 28,0 per cent wt was obtained with 25 per cent of cracked products. And at 50 percent by wt of feedstock conversion, the smoke point of kerosene and diesel index of gas oil are 34 and 87 mm respectively. The wux contents in the feedstock is an important source for high viscosity index lubricating oil produC tion obtained by hydroisomerization of this wax.
PENGEMBANGAN PROSES PENGILANGAN UNTUK PEMBUATAN SOLAR RAMAH LINGKUNGAN A.S Nasution
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 1 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.1.651

Abstract

Minyak Bumi yang tersedia cenderung meningkat kadar belerang dan massa jenisnya. Bersamaan dengan itu, kebutuhan akan bahan bakar ringan (bensin, kerosin, solar) tampaknya akan lebih tinggi dari pada bahan bakar berat (minyak bakar), menuntut agar kelebihan produksi residu dimanfaatkan dengan mengolah lebih lanjut residu dengan proses konversi. kedua maslaah tersebut dapat sekaligus diatasi dengan menciptakan minyak solar formulasi baru yang ramah lingkungan.
Gas Bumi untuk Bahan Bakar Gas dan Bahan Baku Petrokimia A.S Nasution; Abdul Haris; Morina Morina; Leni Herlina
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 45 No 2 (2011)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.45.2.691

Abstract

Gas bumi adalah suatu campuran gas hidrokarbon yang dipakai baik sebagai bahan bakar gasmaupun dapat dikonversi menjadi produk petrokimia, bahan bakar minyak sintetik dan bahan dasarpelumas sintetik. Pemakaian gas bumi untuk bahan bakar gas, bahan baku untuk industri petrokimia,bahan bakar minyak sintetik dan bahan dasar pelumas disajikan pada makalah ini.
Peranan Proses Katalitik dalam Pembuatan Bahan Bakar Minyak Ramah Lingkungan A.S Nasution; Olberin Sidjabat; Morina Morina; Herizal Herizal
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.740

Abstract

Dalam proses industrialisasi yang berwawasan lingkungan bahan bakar minyak haruslah memenuhi persyaratan ramah lingkungan yang kian meningkat ketat. Masalahnya, kualitas dan jumlah produksi minyak bumi cendrung menurun sedangkan kebutuhan dan persyaratan bahan bakar minyak (bensin dan so- lar) ramah lingkungan semangkin meningkat . Bahan bensin harus berangka oktana tinggi dengan pembatasan kadar hidrokarbon tak jenuh dan juga kadar sulfurnya. Persyaratan bahan bahan solar adalah antara lain berangka setana tinggi dan kadar hidrokarbon tak jenuh dan sulfur rendah. Pembatasan kadar hidrokarbon tersebut dan sulfur dapat menurunkan emisi gas buangnya (Tabel 1) 821 Pembuatan bahan bakar bensin dan solar ramah lingkungan tersebut memerlukan komponen- komponen bensin dan solar bermutu tinggi dengan bantuan proses-proses katalitik. PERTAMINA mengelola berbagai jenis minyak bumi sebesar 1063 MBCD pada 7 unit yang mengoperasikan 24 unit proses katalitik (Tabel 2). Produk kilang PERTAMINA meliputi bahan bakar (LPG, bensin avgas, avtur, kerosin dan solar), bahan dasar pelumas, bahan baku petrokimia (paraxylene, purified terphthalic acid (PTA), propylene) dan polypropylene 415) Pada umumnya proses-proses katalik tersebut adalah proses-proses yang cukup pelik dan rumit ditinjau baik dari segi fundamental/teori maupun dari segi operasionalnya. Pemahaman tingkah laku proses- proses katalik secara lebih terarah dan kontinu adalah salah satu usaha untuk meningkatkan unjuk kerja proses katalik tersebut. Unjuk kerja proses-proses katalik dan konfigurasi kilang minyak PERTAMINA untuk pembuatan bahan bakar bensin dan solar ramah lingkungan, karakteristik komponen bahan bakar dan komposisinya dalam pembuatan bahan bakar ramah lingkungan dan berbagai spesifikasinya serta partisipasi Puslitbangtek Migas "LEMIGAS" pada operasi dan pengembangan kilang minyak pertamina dan beberapa penelitian katalis/proses katalitik disajikan dalam makalah ini.
Pengaruh Inti Asam Katalis Bifungsional pada Produk Hidrokonversi A.S Nasution
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 39 No 3 (2005)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.39.3.742

Abstract

Salah satu proses katalitik yang cukup penting untuk pemecahan masalah Sumatran Light Waxy Residu (SLWR) dan pembuatan bahan bakar kerosin dan solar adalah proses hidrokonversi. Kajian literatur studi dan penelitian pengolahan SLWR untuk pembuatan distilat sedang dan pelumas telah dilakukan (1,2,3). Katalis hidrokonversi ini mengandung dua jenis inti aktif yaitu inti aktif metal dan inti aktif asam. Untuk mendapatkan data informasi yang lebih banyak mengenai hidrokonversi SLWR tersebut, maka telah dilakukan suatu seri penelitian hidrokonversi distilat vakum SLWR tersebut dengan bantuan dua jenis katalis bifungsional yang inti aktif asamnya berbeda. Untuk bahan pembanding, telah pula diselidiki pengaruh inti aktif asam katalis hidrokraking pada proses hidrokonversi wax dan normal heptana murni. Penelitian ini telah dilakukan pada tem- peratur dari 300°C sampai dengan 420°C dan tekanan dari 30 sampai dengan 110 kg/ cm dengan bantuan alat catatest unit. Alat catatest unit ini dilengkapi dengan alat pengatur temperatur di dalam reaktor dan dapat dijalankan secara kontinu. Makalah ini akan menguraikan hasil penelitian proses hidrokonversi distilat vakum SLWR, wax dan n. heptana dengan memakai katalis bifungsional yang inti aktif asamnya berbeda.
Pengaruh Racun Butilamina pada Dehidrogenasi Sikloheksana dan Hidroisomerisasi N.heptana dengan Katalis Bifungsional A.S Nasution; E Jasjfi; Evita H Legowo
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 38 No 3 (2004)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.38.3.756

Abstract

Merosotnya mutu minyak bumi, dan meningkatnya program langit biru yang menuntut spesifikasi bahan bakar bensin ramah lingkungan yang sangat ketat, menghasilkan penyempurnaan komposisi bensin dengan meningkatkan komponen bensin isomerat dan pembatasan proporsi reformat, bensin rengkahan katalitik, dan bensin polimer. Pencampuran komponen bensin isomerat tersebut dengan komponen bensin reformat akan meningkatkan distribusi angka oktana dengan sekaligus penurunan kadar benzena dan total aromat yang kadarnya dalam bensin dibatasi. Proses hidroisomerisasi umpan nafta dengan katalis hidroisomerisasi bi functional menghasilkan produk komponen bensin isomerat. Katalis bi functional tersebut mengandung inti aktif logam (Pt) dan inti aktif asam (A12 03 -C1,A12 O3 -SIO2 dan zeolit). Untuk meneliti mekanisme reaksi hidroisomerisasi parafin rendah, suatu penelitian dilakukan tentang pengaruh racun katalis normal butilamina pada reaksi hidroisomerisasi normal heptana dengan katalis bifungsional. Reaksi dehidrogenasi sikloheksana dilakukan untuk penelitian pengaruh racun katalis tersebut pada inti aktif logam katalis bifungsional. Penelitian dilakukan pada kondisi operasi : suhu dari 370o sampai 4000 C, takanan 20 kg/cm2 dan H2 /HC: 6 mol/mol pada alat Catatest Unit yang dioperasikan secara kontinu. Peranan inti-inti aktif katalis bifungsional pada mekanisme reaksi hidroisomerisasi parafin dan deaktivasi kedua jenis inti aktif dari katalis bifungsional oleh racun normal butil amina disajikan dalam makalah ini.
Deaktivasi Katalis oleh Kotoron Umpan Nafta Proses Reformasi A.S Nasution; E Jasjfi; Evita Legowo
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 38 No 3 (2004)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.38.3.758

Abstract

Meningkatkan kebutuhan akan bahan bakar bensin ramah lingkungan dan hidrokarbon aromatik untuk bahan baku industri untuk meningkatkan jumlah kedua jenis produk tersebut. Proses reformasi nafta dengan katalis bifungsional dapat menghasilkan komponen bensin bermutu tinggi dan hidrokarbon aromatik rendah (benzene, toulena,dan silena). Umpan nafta mengandung kotoran-kotoran molekul non-hidrokarbon senyawa organik sulfur, nitrogen, oksigen dan juga organik logam, sehingga umpan nafta tersebut perlu dimurnikan lebih dulu pada proses hidromurnian. Katalis reformer bifungsional mempunyai inti aktif logam (mono dan bi-metal) dan inti aktif asam (Al2 O3 C1). Kotoran non-hidrokarbon umpan nafta dapat menurunkan aktivitas katalis reformer bi-fungsional. Untuk meneliti masalah keracunan inti aktif logam katalis reformer bifungsional, telah dilakukan sutu penelitian tentang pengaruh senyawa tiofen, normal butyl amine, etanol dan tetra etil plumbum pada katalis reformer mono dan bi-metal dengan memakai Catatest Unit.