Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat : Model Penguatan Kelembagaan Lokal Pariwisata dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Desa Lanca, Kabupaten Bone Nur Farah Fajriaty Muchlis; Andi Hasbi
Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi dan Rekayasa, Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/panrannuangku4482

Abstract

Pengembangan desa wisata berbasis masyarakat menjadi strategi penting dalam meningkatkan kesejahteraan lokal dan pelestarian budaya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat Desa Lanca melalui penguatan kelembagaan Pokdarwis sebagai motor pengelola pariwisata lokal. Metode yang digunakan mengadopsi community-based development (CBD) dengan tahapan observasi potensi, FGD, pelatihan kapasitas, pembentukan Pokdarwis, serta penyusunan rencana aksi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman SDM pariwisata, kemampuan menyusun rencana aksi berbasis potensi lokal, serta kesiapan masyarakat dalam mengelola destinasi wisata secara mandiri. Pokdarwis yang terbentuk memiliki struktur organisasi jelas, rencana kerja terarah, dan kemampuan promosi digital dasar. Model ini menekankan partisipasi aktif masyarakat, kolaborasi lintas pihak, dan evaluasi berkelanjutan, sehingga Desa Lanca berpotensi berkembang menjadi desa wisata unggulan yang mandiri, berdaya, dan berkelanjutan
PENGELOLAAN SENI PERTUNJUKAN DALAM FESTIVAL CA’MA CA’MA: STUDI PADA RUANG EKSPRESI BUDAYA URBAN DI MAKASSAR Nur Farah Fajriaty Muchlis; Raisah Nur Nitami; Andi Fatimah Maoudy A.Bakty; Mia Rahayu; Renold Renold
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i2.76510

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengelolaan event Ca’ma Ca’ma yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar sebagai ruang ekspresi seni pertunjukan dan promosi kuliner lokal. Festival ini merepresentasikan integrasi budaya tradisional dan gaya hidup urban, dengan melibatkan pertunjukan seni, musik, dan pameran kuliner khas Sulawesi Selatan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa Ca’ma Ca’ma berhasil menarik partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, namun masih menghadapi tantangan dalam aspek teknis dan manajerial. Ketiadaan backstage bagi seniman, penataan ruang yang kurang fungsional, serta minimnya mitigasi cuaca menjadi indikator lemahnya perencanaan teknis. Analisis berdasarkan kerangka manajemen event Goldblatt menunjukkan bahwa tahap riset, desain, dan perencanaan belum dilaksanakan secara optimal. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pendekatan yang lebih terstruktur dan partisipatif, guna meningkatkan kualitas pengelolaan event berbasis seni. Dengan manajemen yang lebih sensitif terhadap nilai budaya dan kebutuhan teknis, festival seperti Ca’ma Ca’ma berpotensi menjadi model pengembangan budaya urban dan pemberdayaan komunitas lokal secara berkelanjutan
Application of the Pentahelix Model in Increasing Tourist Visits to the Tempe Lake Festival in Wajo Regency I Nyoman Siryayasa; Nur Farah Fajriaty Muchlis; Ernawati Ab; Andika Isma
Jurnal Informasi dan Teknologi 2024, Vol. 6, No. 3
Publisher : SEULANGA SYSTEM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60083/jidt.v6i3.588

Abstract

This study aims to evaluate the efforts of the Tempe Lake Festival organizers in increasing tourist visits in Wajo Regency through the application of the Pentahelix model. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through observation, interviews, and literature study. The results showed that collaborative involvement between the government, academics, media, businesses, and the community proved effective in attracting tourists and promoting local cultural wealth. The Pentahelix model made a significant contribution by strengthening the network of cooperation and synergy between various related parties, thus increasing the overall attractiveness of the festival. Although the festival faced challenges in the form of weather changes that impacted accessibility and event implementation, it is recommended that organizers strengthen infrastructure and add activities that are not dependent on weather conditions. This research is expected to be an important reference in the development of collaboration-based tourism strategies and contribute to the literature related to the Tempe Lake Festival case study as a model of Pentahelix implementation in the tourism industry.