Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Balita Usia 12-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Padang Afzahul Rahmi; Rischa Hamdanesti; Tomi Jepisa
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 7 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data World Health Organization (WHO) secara global, jumlah anak balita yang menderita stunting sekitar 144,0 juta orang. Prevalensi stunting pada balita di dunia 54% berasal dari Asia, dan 40% berasal dari Afrika. Di Benua Asia prevalensi balita stunting tertinggi berasal dari bagian Asia Selatan sebesar 31,7% dan prevalensi terendah di bagian Asia Timur sebesar 4,5%. Sedangkan Asia Tenggara berada diurutan kedua prevalensi balita stunting sebesar 24,7%. Berdasarkan data dinas kesehatan kota Padang pada tahun 2019, menunjukan puskesmas Andalas memiliki prevalansi stunting tertinggi di kota Padang mencapai 26,9 %, Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya. Jumlah balita di puskesmas Andalas pada tahun 2021 cukup tinggi yaitu 5.664 jiwa, terdapat jumlah balita pendek sebanyak 563 (15,6 %) balita gizi kurang sebanyak 365 (10,1%) balita kurus 178 (4,9 %) Anak kerdil (pendek) atau stunting merupakan kondisi dimana anak mengalami masalah gizi kronis, dengan hasil pengukuran panjang atau tinggi badan yang lebih kurang dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian stunting pada balita usia 12-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Andalas Padang. Jenis penelitian ialah deskritif untuk menggambarkan kejadian stunting pada balita di Wilayah kerja Puskesmas Andalas. Dengan jumlah sampel sebanyak 51 orang anak ballita
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Tentang Sadari Di SMA Negeri 2 Padang Rischa Hamdanesti; Afzahul Rahmi; Tomi Jepisa
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 7 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker payudara adalah kondisi sel kanker terbentuk di jaringan payudara. Berdasarkan data WHO (World Health Organization), sekitar 9-8% wanita berpotensi mengalami kanker payudara. Dari studi Cancer Epidemiology Biomarker dari 1,7 juta insiden kanker payudara di dunia tercatat sebesar 39% terdapat di Asia, 29% di Eropa, 15% di Amerika, 8% di Afrika, dan 1,1% di Australia. Survey awal dari 10 orang siswi di SMA Negeri 2 Padang mengatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan praktik SADARI. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang SADARI di SMA Negeri 2 Padang. Jenis penelitian pre-eksperimental dengan desain one group pretest-posttest. Populasi penelitian adalah siswi kelas XI dan XII sebanyak 461 orang dengan jumlah sampel 72 orang di SMA Negeri 2 Padang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Agustus 2022. Teknik pengambilan sampel proportional random sampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik paired sample T-test. Hasil penelitian rerata pengetahuan sebelum pendidikan kesehatan dengan nilai mean 7,35 sedangkan rerata pengetahuan setelah pendidikan kesehatan dengan nilai mean 14,90. Rerata sikap sebelum pendidikan kesehatan dengan nilai mean 29,34, sedangkan rerata sikap setelah pendidikan kesehatan dengan nilai mean 30,01. Adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang SADARI di SMA Negeri 2 Padang (p = 0,000). Kesimpulan penelitian adalah adanya pengaruhnya pemberian pendidikan terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang SADARI di SMA Negeri 2 Padang. Diharapkan pihak sekolah SMA Negeri 2 Padang dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada remaja putri agar mereka mengetahui secara dini pencegahan kanker payudara.
Hubungan Self-Efficacy Dan Depresi: Studi Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Tomi Jepisa; Husni; Linda Wati
Jurnal Keperawatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jkmc.v3i2.1553

Abstract

Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada lansia, terutama mereka yang tinggal di panti sosial. Salah satu faktor psikologis yang berperan dalam memengaruhi tingkat depresi pada lansia adalah self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-efficacy dan depresi pada lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha. Penelitian ini menggunakan desain studi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian total populasi sebanyak 70 lansia. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki self-efficacy tinggi (68,57%) dan sebagian besar tidak mengalami depresi (64,29%). Analisis bivariat menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara self-efficacy dan depresi pada lansia (pp-value = 0,000). Lansia dengan self-efficacy tinggi memiliki risiko depresi yang lebih rendah dibandingkan lansia dengan self-efficacy rendah, dengan nilai odds ratio (OR) sebesar 8,14 (95% CI: 2,60–25,42). Hasil penelitian ini mendukung teori Bandura tentang self-efficacy dan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa self-efficacy tinggi dapat melindungi individu dari risiko depresi dengan meningkatkan kemampuan mengatasi stres. Penelitian ini juga sejalan dengan temuan bahwa lansia dengan self-efficacy rendah lebih rentan mengalami pola pikir negatif dan ketidakberdayaan, yang merupakan faktor risiko utama depresi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa self-efficacy merupakan faktor protektif yang signifikan terhadap depresi pada lansia. Oleh karena itu, intervensi yang bertujuan meningkatkan self-efficacy, seperti pelatihan keterampilan hidup, terapi kognitif, dan peningkatan dukungan sosial, sangat penting untuk diterapkan di panti sosial. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup lansia secara keseluruhan.
Faktor Yang Berisiko Kejadian Stunting Pada Balita Tomi Jepisa
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 2 No. 8 (2023)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi pada anak di Indonesia sampai saat ini dan beberapa negara berkembang lainnya. Hal ini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang harus ditanggapi secara serius dan berkesinambungan. Meskipun terjadi peningkatan pada tahun 2018, angka kejadian stunting di Indonesia masih cukup tinggi (36,4%) dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia (20%) dan Thailand (10,5%). Di dunia, Indonesia menempati posisi ke-17 dari 117 negara untuk kejadian stunting. Adapun jumlah balita yang ditemukan mengalami stunting sebnayak 15 orang. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan Pendidikan orang tua dengan kejadian stunting pada anak balita serta ada hubungan pengetahuan dengan kejadian stunting pada anak balita dan ada hubungan peran penghasilan orang tua dengan kejadian stunting. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Padang. Jenis penelitian ialah deskritif untuk menggambarkan kejadian stunting pada balita di Wilayah kerja Puskesmas Kuuranji. Dengan jumlah sampel sebanyak 45 orang anak ballita
Analisis Kualitas Hidup Lansia Yang Tinggal Di Pstw Dan Komunitas Tomi Jepisa; Ririn; Linda Wati
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas hidup sebagai persepsi individu sebagai laki-laki atau perempuan dalam hidup, ditinjau dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal, dan hubungan dengan standar hidup, harapan, kesenangan, dan perhatian mereka. Hal ini dipadukan secara lengkap mencakup kesehatan fisik, psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial dan hubungan mereka dengan segi ketenangan dari lingkungan. Kualitas hidup adalah keadaan yang dipersepsikan terhadap keadaan seseorang sesuai konteks budaya dan sistem nilai yang dianutnya, termasuk tujuan hidup, harapan, dan niatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup lansia yang tinggal di PSTW dan di Komunitas. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 92 responden yang dipilih dengan multistage random sampling. Uji Man Whitney dan Kruskal Wallis (alpha 0,05) digunakan untuk analisis data. Terdapat perbedaan kualitas hidup lansia di PSTW dan di Komunitas (p=0,100). Saran dalam penelitian ini diharapkan pada caregiver dan teman sebaya lansia di PSTW dalam membantu lansia yang tinggal di panti harus lebih mengupayakan suatu aktivitas sosial yang dapat mendorong para lansia dalam meningkatkan kualitas hidupnya melalui pemantaun kesehatan fisik, Kesehatan jiwa dan hubungan sosial lansia
Hubungan Dukungan Sosial Caregiver Dengan Kualitas Hidup Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Tomi Jepisa; Ririn; Husni
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 6 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas hidup lansia merupakan aspek penting yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah dukungan sosial dari caregiver. Dukungan sosial yang memadai dari caregiver dapat meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental lansia, sedangkan dukungan yang rendah dapat berdampak negative. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas hidup lansia dan dukungan sosial dari caregiver. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 70 lansia. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur kualitas hidup dan tingkat dukungan sosial dari caregiver. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dilakukan untuk menentukan hubungan antara kedua variabel tersebut. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa 81% dari lansia dengan kualitas hidup yang buruk melaporkan memiliki dukungan sosial dari caregiver yang rendah, sedangkan hanya 21,4% dari lansia dengan dukungan sosial caregiver tinggi yang melaporkan kualitas hidup yang buruk. Uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara kualitas hidup lansia dan dukungan sosial dari caregiver (p-value = 0,000; p < 0,05). Kesimpulan: Dukungan sosial dari caregiver memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas hidup lansia. Lansia yang menerima dukungan sosial rendah dari caregiver cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih buruk. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan dukungan sosial bagi lansia melalui pelatihan caregiver, program dukungan komunitas, dan kebijakan pemerintah yang mendukung.
Peningkatan Kualitas Hidup Lanjut Usia Melalui Pemberdayaan Sosial: Tinjauan Pustaka Tomi Jepisa; Ratna Wardani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 7 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring bertambahnya usia, para lansia seringkali menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Tantangan tersebut antara lain menurunnya kesehatan fisik, isolasi sosial, dan berkurangnya dukungan sosial. Kualitas hidup lansia sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk kesehatan fisik, kesejahteraan mental, dan dukungan sosial yang mereka terima. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dan model pemberdayaan sosial dalam meningkatkan kualitas hidup lansia. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka dari berbagai sumber. Artikel dikumpulkan menggunakan mesin pencari seperti Google Scholar, PubMed, Science Direct, ProQuest dan Elsevier. Artikel yang digunakan dalam penelitian diterbitkan pada tahun 2018-2023. Hasil: Peningkatan Kualitas Hidup dan Kesejahteraan Emosional Secara Keseluruhan: Para lansia yang terlibat dalam program pemberdayaan sosial melaporkan peningkatan signifikan dalam kesejahteraan emosional mereka. Mereka merasa lebih berharga, memiliki pandangan hidup yang lebih positif, dan mengalami penurunan tingkat depresi. Hubungan Sosial: Peserta menunjukkan peningkatan jumlah dan kualitas interaksi sosial. Mereka merasa lebih terhubung dengan orang lain dan tidak merasa kesepian, Peningkatan Dukungan Sosial, Dukungan Emosional: Orang lanjut usia menerima dukungan emosional yang lebih besar dari keluarga dan pengasuh, yang membantu mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari dan mengurangi perasaan terisolasi, Dukungan Informasi: Peserta juga mendapatkan manfaat informasi tentang layanan kesehatan dan sosial, yang membantu mereka mengakses sumber daya yang dibutuhkan. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan sosial mempunyai dampak positif yang signifikan terhadap kualitas hidup lansia. Dukungan emosional, peningkatan interaksi sosial, dan aktivitas fisik yang lebih tinggi berkontribusi terhadap kesejahteraan emosional dan fisik orang lanjut usia. Dengan demikian, pendekatan ini dapat diadopsi secara lebih luas untuk meningkatkan kesejahteraan lansia di masyarakat.
Edukasi Generasi Z Dan Deteksi Dini Kesehatan Mental Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuranji Padang Tomi Jepisa; Linda Wati; Ririn; Husni
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 3 No. 6 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan dan deteksi dini kesehatan mental pada generasi Z merupakan langkah krusial dalam mengatasi meningkatnya prevalensi gangguan mental di kalangan anak muda. Generasi Z, yang tumbuh di era digital, menghadapi berbagai tantangan unik seperti tekanan media sosial, ketidakstabilan ekonomi, dan perubahan sosial yang cepat. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan program edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya kesehatan mental serta strategi deteksi dini yang efektif. Program edukasi kesehatan mental harus dirancang untuk menjadi inklusif, menarik, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi Z. Menggunakan platform digital seperti edukasi dan deteksi dini dan sumber daya lainnya dapat menjadi metode yang efektif untuk menjangkau mereka. Materi edukasi harus mencakup informasi tentang tanda-tanda awal gangguan mental, cara mengelola stres, dan pentingnya mencari bantuan profesional. Deteksi dini dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, dengan menjawab pertanyaan melalui kuesioner yang disebar, aplikasi pemantauan kesehatan mental, serta pelatihan bagi generasi Z untuk mengenali tanda-tanda peringatan. Kerja sama antara sekolah, keluarga, dan komunitas sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental generasi Z. Dengan meningkatkan kesadaran dan menyediakan alat yang tepat untuk deteksi dini, diharapkan angka gangguan mental di kalangan generasi Z dapat ditekan dan kesejahteraan mereka meningkat. Program-program ini harus terus dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan terkini untuk memastikan efektivitasnya.
Peningkatan Kualitas Hidup Lansia Melalui Pendidikan Dan Skrining Kesehatan Terintegrasi Di PSTW Kasih Sayang Ibu Batusangkar Tomi Jepisa; Ratna WardanI
Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia Vol. 3 No. 9 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kualitas hidup lansia merupakan salah satu prioritas dalam pelayanan kesehatan di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pendidikan dan skrining kesehatan terintegrasi dalam meningkatkan kualitas hidup lansia di PSTW Kasih Sayang Ibu, Batusangkar. Responden dalam PKM ini adalah lansia yang tinggal di PSTW Kasih Sayang Ibu, dengan total partisipan sebanyak 40 orang. Program pendidikan kesehatan mencakup informasi tentang penyakit kronis, dan pentingnya aktivitas fisik. Sementara itu, skrining kesehatan terintegrasi dilakukan untuk mendeteksi dini penyakit kronis seperti hipertensi, dan osteoporosis. Hasil kgiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam kualitas hidup lansia setelah pelaksanaan program, khususnya pada aspek kesehatan fisik dan psikologis. Lansia yang terlibat dalam program pendidikan menunjukkan peningkatan pengetahuan kesehatan yang berkontribusi pada pengelolaan penyakit kronis yang lebih baik. Skrining kesehatan juga berhasil mendeteksi kasus-kasus penyakit yang sebelumnya tidak terdiagnosis, memungkinkan intervensi dini yang efektif. Kesimpulannya, program pendidikan dan skrining kesehatan terintegrasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas hidup lansia di PSTW. Metode yang digunakan adalah pengukuran Tekanan Darah dan Penimbangan Berat badan dan pemeriksaan serta pemberian upaya peningkatan kualitas hidup lansia melalui pendidikan. Metode kegiatan. Pengabdian masyarakat ini dapat memberikan manfaat untuk lansia.