Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Self Efficacy dan Pola Tidur Dengan Stres Akademik Pada Mahasiswa Tingkat Akhir di STIKES Eka Harap Palangka Raya Anggri Saharani Tambunan; Meilitha Carolina; Nia Pristina
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.185

Abstract

Self efficacy adalah keyakinan individu tentang kemampuannya untuk mencapai hasil yang diinginkan, sementara pola tidur mencakup kebiasaan tidur yang meliputi durasi, kualitas, dan konsistensinya, yang berpengaruh pada fungsi kognitif, emosional, dan fisik. Mahasiswa yang berada dalam rentang usia 19-23 tahun, sering menghadapi stressor selama pendidikan tinggi, terutama pada mahasiswa tingkat akhir yang sering mengalami stres akademik akibat ketidakseimbangan antara tuntutan tugas dan kemampuan untuk menyelesaikannya. Terdapat hubungan erat antara Self efficacy dan pola tidur dengan stres akademik, di mana kedua faktor tersebut memengaruhi kinerja akademik mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis korelasional menggunakan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 139 mahasiswa tingkat akhir program studi sarjana keperawatan dan sarjana kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji spearman’s rho didapatkan p value <0,05, maka Ha diterima sehingga ada hubungan self efficacy dengan stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir dan ada hubungan pola tidur dengan stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya self efficacy meningkatkan stres akademik dan pola tidur buruk berkontribusi pada meningkatnya stres akademik.
Hubungan Dukungan Sosial Dengan Komunikasi Teman Sebaya Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di SDN 11 Langkai Palangka Raya Desti Rafika Sari; Meilitha Carolina; Nia Pristina
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.353

Abstract

Latar Belakang : Dukungan sosial berperan penting dalam perkembangan psikologis dan sosial Anak Berkebutuhan Khusus mencakup bantuan emosional, informasi, dan dukungan nyata dari keluarga, guru, dan teman sebaya. Dukungan ini membantu ABK beradaptasi di sekolah dan meningkatkan rasa percaya diri. Komunikasi juga merupakan keterampilan penting dalam menjalin hubungan sosial, khususnya dengan teman sebaya. Namun, ABK mengalami hambatan interaksi dan minim dukungan dari teman, termasuk di sekolah inklusi. Observasi di SDN 11 Langkai Palangka Raya pada 21 Maret 2025 menunjukkan banyak ABK mengalami kesulitan berkomunikasi, dipengaruhi perilaku khas seperti berteriak, ekspresi emosi berlebihan, yang membuat teman sebaya enggan berinteraksi. Kurangnya dukungan ini berdampak pada kepercayaan diri dan motivasi komunikasi ABK. Tujuan : Menganalisis Hubungan Dukungan Sosial Dengan Komunikasi Teman Sebaya Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di SDN 11 Langkai Palangka Raya. Metode : desain penelitiannya menggunakan Penelitian Korelasional dengan pendekatan cross-sectional, sampel berjumlah 43 responden Di SDN 11 Langkai Palangka Raya. Hasil : Berdasarkan hasil analisis data dari hasil penelitian menggunakan uji Spearman Rank diperoleh Sig. (2-tailed) 0,000 yang berarti lebih kecil dari p value 0,05 yaitu (0,000 < 0,05), maka Ho ditolak dan H1 diterima yang menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Dukungan Sosial Dengan Komunikasi Teman Sebaya Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di SDN 11 Langkai Palangka Raya. Kesimpulan: Dukungan sosial yang baik seperti perhatian, bantuan dari orang terdekat dapat meningkatkan rasa percaya diri ABK. Diharapkan teman sebaya dari ABK mau berteman, bermain bersama dan membantu ABK.
Hubungan Aktivitas Fisik dan Konsumsi Kopi dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Pahandut: The Correlation Between Physical Activity and Coffee Consumption and Blood Pressure in Hypertensive Patients in Working Area of Pahandut Health Center Febry Tri Sendy; Meilitha Carolina; Nia Pristina
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.12793

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Gaya hidup seperti aktivitas fisik dan konsumsi kopi diduga memengaruhi tekanan darah, namun pengaruhnya masih perlu diteliti lebih lanjut, terutama di wilayah kerja Puskesmas Pahandut yang memiliki karakteristik aktivitas harian dan konsumsi kopi yang bervariasi. Fenomena yang ditemukan menunjukkan tingginya angka hipertensi pada usia pralansia, di mana pasien hipertensi cenderung kurang melakukan aktivitas fisik dan mengonsumsi kopi lebih dari dua gelas per hari. Tujuan: Mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan konsumsi kopi dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Pahandut tahun 2025. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 40 responden hipertensi yang dipilih melalui total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan tekanan darah (p = 0,640), maupun antara konsumsi kopi dengan tekanan darah (p = 0,279). Mayoritas responden (92,5%) memiliki aktivitas fisik sedang dan sebagian besar (77,5%) berada dalam kategori hipertensi stage 1. Kesimpulan: Aktivitas fisik maupun konsumsi kopi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Pahandut. Diperlukan kajian lanjutan yang mempertimbangkan faktor durasi, intensitas aktivitas, serta jenis kopi dan sensitivitas individu terhadap kafein.
Hubungan Gender dengan Kejadian Komplikasi pada Penderita Diabetes Mellitus di Ruang Rawat Inap Bougenville RSUD Dr. Murjani Sampit: Correlation Between Gender and the Occurance of Complications in Patients with Diabetes Mellitus in the Impatient Unit of Dr. Murjani Hospital Sampit Hermiwatie Hermiwatie; Meilitha Carolina; Eva Priskila
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.12794

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik kronik yang dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani secara optimal. Faktor gender diketahui memiliki pengaruh terhadap variasi klinis dan komplikasi yang timbul pada pasien diabetes. Peran gender menjadi langkah krusial untuk merumuskan strategi pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi Diabetes Mellitus yang lebih tepat sasaran dan efektif. Fenomena di Ruang Rawat Bougenville RSUD Dr. Murjani menunjukkan bahwa pasien Diabetes Mellitus dengan komplikasi lebih banyak didominasi oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian komplikasi pada penderita Diabetes Mellitus di ruang rawat inap RSUD dr. Murjani Sampit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel berjumlah 46 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi rekam medis. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 responden laki-laki, sebanyak 14 orang (87,5%) mengalami komplikasi, sedangkan dari 30 responden perempuan, 14 orang (46,7%) mengalami komplikasi. Uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,007 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian komplikasi. Odds Ratio sebesar 8,000 (CI 95%: 1,542–41,493) mengindikasikan bahwa laki-laki memiliki kemungkinan 8 kali lebih besar mengalami komplikasi dibandingkan perempuan. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian komplikasi pada penderita Diabetes Mellitus di ruang rawat inap RSUD dr. Murjani Sampit.
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Pola Tidur dan Kejadian Hipertensi pada Tahanan di Ruang Tahanan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti Polda Kalimantan Tengah Eka Cahaya; Meilitha Carolina; Eva Priskila
The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research Vol. 2 No. 2 (2024): June : The Journal General Health and Pharmaceutical Sciences Research
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/tjghpsr.v2i2.424

Abstract

Smoking is the activity of inhaling or drawing in cigarette smoke using a pipe or cigarette. Smoking habits can affect sleep patterns and blood pressure. Cigarettes contain chemicals that stimulate the brain to release adrenaline, which can increase blood pressure and brain activity, making it difficult to fall asleep due to the stimulant effects of nicotine. Cigarettes that enter the bloodstream can damage blood vessel linings, leading to arteriosclerosis and high blood pressure. This study aims to examine the relationship between smoking habits, sleep patterns, and the incidence of hypertension among detainees at the Directorate of Detainees and Evidence Police Department of Central Kalimantan. Method: A correlational study with a cross-sectional approach, with a population of 46 detainees and a total sampling method involving 46 respondents. Data were collected using questionnaires. Data analysis was performed using Spearman Rank and Chi-square tests. Results: Statistical testing showed a significance value (2-tailed) of 0.00 < 0.05, indicating a relationship between smoking habits and sleep patterns. However, the p-value was 0.833 > 0.05, demonstrating no relationship between smoking habits and hypertension incidence among detainees at the Directorate of Detainees and Evidence Police Department of Central Kalimantan. Conclusion: The majority of respondents had moderate smoking habits, with 25 individuals (54.3%), and a smaller group had heavy smoking habits, with 10 individuals (21.7%). Most respondents had a good sleep pattern, with 32 individuals (69.6%), while a smaller group had poor sleep patterns, with 5 individuals (10.9%). The majority of respondents did not have hypertension, with 25 individuals (52.2%), and a smaller group had hypertension, with 22 individuals (47.8%).