Nisa'us Sholikah
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENETAPAN HARGA JUAL KAMBING DI KECAMATAN TEGALSARI KABUPATEN BANYUWANGI Muhammad Fahmi Kamaludin; Sri Susilowati; Nisa'us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 8, No 2 (2025): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pengaruh umur, berat badan, dan skor eksterior terhadap harga jual kambing. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif menggunakan analisis regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap harga jual kambing, baik secara parsial maupun simultan. Data diperoleh dari observasi lapangan langsung dan wawancara dengan pedagang dan peternak kambing. Variabel yang dianalisis meliputi umur, berat badan, dan skor eksterior sebagai variabel independen, dan harga jual kambing sebagai variabel dependen. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan SPSS. Sebelum analisis regresi, data diuji menggunakan uji asumsi klasik, termasuk uji normalitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi, untuk memastikan model regresi memenuhi kriteria kelayakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan dan skor eksterior berpengaruh signifikan terhadap harga jual kambing, sedangkan umur memiliki pengaruh yang relatif lebih kecil. Secara simultan, ketiga variabel tersebut berpengaruh terhadap harga jual kambing. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa harga jual kambing di Pasar Kabupaten Tegalsari dipengaruhi oleh faktor fisik—terutama berat badan sebagai faktor yang paling dominan—serta faktor pasar seperti jenis kelamin kambing, musim penjualan, dan saluran distribusi. Disarankan agar peternak meningkatkan bobot badan dan skor penampilan luar kambing serta memanfaatkan musim permintaan tinggi. Pedagang dan kolektor sebaiknya menerapkan penetapan harga yang lebih transparan menggunakan timbangan, sementara penelitian lebih lanjut dapat menambahkan variabel lain dan dilakukan di lokasi yang berbeda untuk hasil yang lebih komprehensif. kata kunci: harga jual kambing, bobot badan, umur kambing, skor eksterior. ANALYSIS OF FACTORS THAT AFFECT THE DETERMINATION OF THE SELLING PRICE OF GOATS IN TEGALSARI DISTRICT, BANYUWANGI REGENCY AbstrackThis study aims to analyze the effect of age, body weight, and exterior score on goat selling prices. This study was conducted using a quantitative approach using multiple linear regression analysis to test the influence of independent variables on goat selling prices, both partially and simultaneously. Data were obtained from direct field observations and interviews with goat traders and breeders. The variables analyzed included age, body weight, and exterior score as independent variables, and goat selling price as the dependent variable. Data processing was performed using Microsoft Excel and SPSS software. Prior to the regression analysis, the data were tested using classical assumption tests, including normality, heteroscedasticity, and autocorrelation tests, to ensure the regression model met the eligibility criteria. The results showed that body weight and exterior score significantly influenced goat selling prices, while age had a relatively smaller effect. Simultaneously, all three variables influenced goat selling prices. The conclusion of this study states that goat selling prices in Tegalsari Regency Market are influenced by physical factors—especially body weight as the most dominant factor—as well as market factors such as goat sex, selling season, and distribution channels. It is recommended that breeders increase goat body weight and exterior appearance scores and take advantage of high demand seasons. Traders and collectors should implement more transparent pricing using scales, while further research can add other variables and be conducted in different locations for more comprehensive results.Keywords: goat selling price, body weight, goat age, exterior score.
ANALISIS USAHA TERNAK KAMBING RAKYAT STUDI KASUS DI KECAMATAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG Moh. Farchan Maulana; Dewi Masyithoh; Nisa'us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis usaha ternak kambing rakyat di Kecamatan Singosari dengan menerapkan metode studi kasus yang dipadukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif terhadap 30 peternak kambing yang dipilih secara purposive sampling. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh peternak berjenis kelamin laki-laki dengan mayoritas berada dalam kategori usia produktif dan Pendidikan terakhir relatif rendah. Rata-rata biaya tetap usaha ternak sebesar Rp10.985.781 per tahun, sedangkan biaya variabel sebesar Rp20.271.629 per tahun, sehingga keseluruhan biaya produksi mencapai Rp31.257.410 per tahun. Sementara itu, rata-rata penerimaan usaha sebesar Rp33.385.933 per tahun dengan pendapatan bersih sebesar Rp2.128.523 per periode usaha. Analisis kelayakan menunjukkan nilai R/C Ratio 1,1 yang berarti usaha ternak kambing rakyat layak dan menguntungkan untuk dijalankan. Selain itu, nilai Payback Period (PP) sebesar 2,5 tahun menunjukkan bahwa modal investasi dapat kembali dalam waktu relatif cepat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa usaha ternak kambing rakyat di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang memiliki nilai keuntungan, dan usaha ternak kambing layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan.Kata Kunci : analisis finansial, ternak kambing rakyat, pendapatan, R/C ratio, payback period Analysis of Small-Scale Goat Farming A Case Study in Singosari District, Malang RegencyAbstractThis study analyzes small-scale goat farming businesses in Singosari District, Malang Regency, aiming to determine farmer characteristics, cost structures, revenue, income, and financial feasibility. A case study method with a quantitative descriptive approach was employed, involving 30 goat farmers selected via purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and field surveys. The results indicate that all farmers were male, with the majority in their productive years and possessing relatively low levels of education. Average fixed costs amounted to Rp10,985,781 per year and variable costs to Rp20,271,629 per year, resulting in a total production cost of Rp31,257,410 per year. Meanwhile, average business revenue was Rp33,385,933 per year, with a net income of Rp2,128,523 per production cycle. Feasibility analysis revealed an R/C ratio of 1.1, indicating that the small-scale goat farming business is viable and profitable. Furthermore, a Payback Period (PP) of 2.5 years suggests that the investment capital can be recouped relatively quickly. Based on these findings, small-scale goat farming in Singosari District has the potential for further development through improved production cost efficiency and increased livestock ownership. Keywords: financial analysis, small-scale goat farming, income, R/C ratio, payback period
PERFORMA BOBOT LAHIR DAN PERTUMBUHAN ANAK BERDASARKAN BOBOT BADAN DAN UKURAN TUBUH INDUK DOMBA CROSS TEXEL Zahrul Ustadhi; Mudawamah Mudawamah; Nisa'us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan serta keeratan antara bobot badan dan ukuran-ukuran linier tubuh induk (bobot badan, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak) terhadap performa awal keturunan (bobot lahir dan laju pertumbuhan pra-sapih) pada domba Cross Texel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei observasional dengan pendekatan kuantitatif pada populasi ternak di Pandawa Farm, Turen, Kabupaten Malang. Materi penelitian yang digunakan meliputi 30 ekor induk domba Cross Texel paritas 2–4 serta 45 ekor anak domba yang dilahirkannya. Parameter tubuh induk diukur pada fase kebuntingan tua, sedangkan bobot lahir anak ditimbang kurang dari 24 jam setelah kelahiran, dilanjutkan dengan pencatatan pertumbuhan harian hingga masa sapih. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji korelasi Pearson, serta analisis regresi linear sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir anak domba adalah 2,87 ± 0,38 kg, sedangkan rata-rata pertambahan bobot badan harian (PBBH) pra-sapih adalah 0,164 ± 0,01 kg/hari. Hasil analisis uji parsial membuktikan bahwa ukuran lingkar dada induk merupakan satu-satunya variabel morfometrik yang memiliki pengaruh signifikan (P < 0,05) terhadap bobot lahir anak dengan nilai korelasi positif (r = 0,380) dan mengikuti persamaan regresi Y1 = 1,20 + 0,023X3. Sebaliknya, variabel bobot badan, panjang badan, dan tinggi pundak induk tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P > 0,05) terhadap performa bobot lahir maupun pertumbuhan anak. Berdasarkan hasil uji simultan, dimensi tubuh induk secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 15,8% terhadap bobot lahir dan hanya 4,7% terhadap pertumbuhan harian anak. Disimpulkan bahwa karakteristik lingkar dada induk merupakan indikator morfometrik paling efektif untuk mengestimasi dan meningkatkan performa bobot lahir anak domba Cross Texel, sementara performa pertumbuhan pasca-lahir lebih didominasi oleh manajemen pakan fungsional dan kapasitas laktasi induk.Kata Kunci: Cross Texel, Lingkar Dada, Bobot Lahir, Pertumbuhan Pra-Sapih, Seleksi Induk Birth Weight and Growth Performance of Lambs Based on Body Weight and Body Measurements of Cross Texel Ewes AbstractThis study aimed to evaluate the correlation and predictive effects of ewe body weight and morphometric traits (body length, chest girth, and withers height) on the birth weight and pre-weaning growth performance of Cross Texel lambs. A quantitative observational survey was conducted on 30 ewes (parity 2–4) and 45 lambs at Pandawa Farm, Malang. Data were evaluated using Pearson correlation, alongside simple and multiple linear regression analyses. The results showed an average lamb birth weight of 2.87 ± 0.38 kg and a pre-weaning growth rate of 0.164 ± 0.01 kg/day. Crucially, ewe chest girth was the only morphometric variable that significantly influenced (P < 0.05) lamb birth weight, showing a positive correlation (r = 0.380) via the regression equation Y1 = 1.20 + 0.023X3. Conversely, ewe body weight, body length, and withers height had no significant effects (P > 0.05) on offspring traits. In conclusion, ewe chest girth serves as the most reliable morphometric selector for predicting lamb birth weight. Keywords: Cross Texel, Chest Girth, Birth Weight, Pre-Weaning Growth, Ewe Selection.
PENGARUH PENAMBAHAN MINYAK LEMURU DAN TEPUNG KAYU MANIS DALAM PAKAN TERHADAP KUALITAS KUNING TELUR AYAM Robby Andi Fauzi; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 8, No 2 (2025): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan minyak lemuru dan ekstrak kayu manis dalam pakan terhadap kualitas kuning telur ayam petelur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei–Agustus 2024 menggunakan 27 ekor ayam petelur yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan dua faktor, yaitu tingkat penambahan minyak lemuru (0%, 1,5%, dan 3%) dan ekstrak kayu manis (0%, 2%, dan 4%), dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi, panjang, dan warna kuning telur. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan penambahan minyak lemuru dan ekstrak kayu manis memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap parameter performa tinggi, panjang, dan warna kuning telur. Kombinasi perlakuan minyak lemuru dan ekstrak kayu manis mampu meningkatkan tinggi, panjang, serta intensitas warna kuning telur dibandingkan perlakuan kontrol. Minyak lemuru berperan sebagai sumber asam lemak tidak jenuh ganda yang mendukung deposisi lipid dan pigmen karotenoid, sedangkan ekstrak kayu manis berfungsi sebagai antioksidan alami yang melindungi lipid dan pigmen dari oksidasi. Kesimpulan penelitian adalah kombinasi minyak lemuru dan ekstrak kayu manis berpotensi digunakan sebagai aditif pakan untuk meningkatkan mutu internal telur ayam petelur.Kata Kunci : Minyak lemuru, kayu manis, kualitas kuning telur
PENGARUH JARAK KELAHIRAN (LAMBING INTERVAL) TERHADAP JUMLAH ANAK PER KELAHIRAN (LITTER SIZE) DAN BOBOT LAHIR DOMBA CROSS TEXEL DI PANDAWA FARM Ryamizard Ryamizard; Mudawamah Mudawamah; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produktivitas reproduksi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha pembibitan domba. Lambing interval sebagai indikator efisiensi reproduksi diduga berhubungan dengan jumlah anak per kelahiran (litter size) dan bobot lahir anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dan pengaruh lambing interval terhadap litter size dan bobot lahir pada domba Cross Texel di Pandawa Farm. Penelitian menggunakan data sekunder reproduksi dari 35 ekor induk domba Cross Texel yang telah beranak. Variabel yang diamati meliputi lambing interval, litter size, dan bobot lahir. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji korelasi Pearson, dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lambing interval, litter size, dan bobot lahir berturut-turut sebesar 241,34 ± 41,97 hari, 1,60 ± 0,695 ekor, dan 2,80 ± 0,464 kg. Analisis korelasi menunjukkan bahwa lambing interval memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap litter size (r = -0,368; P = 0,029), sedangkan hubungan terhadap bobot lahir tidak signifikan (r = -0,121; P = 0,488). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa lambing interval berpengaruh nyata terhadap litter size dengan persamaan Y₁ = 3,071 − 0,006X, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir dengan persamaan Y₂ = 3,128 − 0,001X. Disimpulkan bahwa peningkatan lambing interval cenderung menurunkan jumlah anak per kelahiran, namun tidak memengaruhi bobot lahir anak domba Cross Texel. Oleh karena itu, optimalisasi manajemen reproduksi untuk mempertahankan lambing interval yang efisien perlu dilakukan guna meningkatkan produktivitas reproduksi, khususnya litter size.. Kata Kunci: bobot lahir, domba Cross Texel, lambing interval, litter size, reproduksi. The Effect of Lambing interval on Litter size and Birth Weight of Cross Texel Sheep at Pandawa Farm AbstractReproductive performance is a key factor determining the success of sheep breeding enterprises. Lambing interval, as an indicator of reproductive efficiency, is assumed to be associated with litter size and lamb birth weight. This study aimed to evaluate the relationship and effect of lambing interval on litter size and birth weight in Cross Texel sheep at Pandawa Farm. Secondary reproductive records from 35 Cross Texel ewes were used in this study. The observed variables included lambing interval, litter size, and birth weight. Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson correlation analysis, and simple linear regression. The results showed that the average lambing interval, litter size, and birth weight were 241.34 ± 41.97 days, 1.60 ± 0.695 lambs, and 2.80 ± 0.464 kg, respectively. Pearson correlation analysis revealed a significant negative relationship between lambing interval and litter size (r = -0.368; P = 0.029), whereas the relationship between lambing interval and birth weight was not significant (r = -0.121; P = 0.488). Simple linear regression indicated that lambing interval had a significant effect on litter size (Y₁ = 3.071 − 0.006X) but no significant effect on birth weight (Y₂ = 3.128 − 0.001X). It can be concluded that a longer lambing interval tends to reduce litter size but does not affect the birth weight of Cross Texel lambs. Therefore, optimizing reproductive management to maintain an efficient lambing interval is essential to improve reproductive productivity, particularly litter size. Keywords: birth weight; Cross Texel sheep; lambing interval; litter size; reproductive performance.
PENGARUH PENAMBAHAN AIR LERI PADA PROSES FERMENTASI COMPLETE FEED OLEH EM4 TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN, KONSUMSI, DAN KONVERSI PAKAN DOMBA EKOR TIPIS M. Ali Muzaki; Badat Muwakhid; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air leri, juga disebut air cucian beras, adalah limbah rumah tangga yang dapat digunakan sebagai tambahan untuk pakan ternak. Ini karena mengandung karbohidrat, protein, dan vitamin B kompleks yang baik untuk ternak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana penambahan air leri memengaruhi fermentasi pakan lengkap oleh EM4 terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsumsi pakan, dan konversi pakan domba ekor tipis. Penelitian ini dilakukan selama 37 hari, terdiri dari 7 hari masa adaptasi dan 30 hari pemeliharaan dan pengambilan data. 12 ekor domba jantan ekor tipis berumur 5-8 bulan dengan bobot awal 16,3-20,3 kg adalah subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan pada masing-masing. Perlakuan P0 adalah fermentasi pakan lengkap dengan EM4 tanpa air leri, perlakuan P1 adalah penambahan air leri 2%, perlakuan P2 adalah penambahan air leri 4%, dan perlakuan P3 adalah penambahan air leri 6%. Data yang didapat dianalisis menggunakan (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air leri tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap PBBH, konversi pakan, dan konsumsi pakan domba ekor tipis. Rata-rata PBBH adalah 136,67–185,56 g per ekor per hari, konsumsi pakan adalah 761,59–777,78 g per ekor per hari, dan konversi pakan adalah 4,27-6,37 g per ekor per hari. Perlakuan P2 (penambahan air leri 4%) menunjukkan kecenderungan hasil FCR terbaik secara numerik, dengan konversi pakan terendah 4,27. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan air leri pada proses fermentasi complete feed oleh EM4 tidak mempengaruhi perfoma domba ekor tipis, namun taraf penambahan 4% cenderung berpotensi menjadi taraf yang paling efisien untuk diterapkan. Kata Kunci : Air Leri, EM4, Complete Feed, Domba Ekor Tipis, Pertambahan Bobot Badan Harian, Konversi Pakan, Konsumsi Pakan. EFFECT OF RICE WASHING WATER ADDITION DURING EM4-FERMENTED COMPLETE FEED ON AVERAGE DAILY GAIN, FEED INTAKE, AND FEED CONVERSION RATIO OF THIN-TAILED SHEEP AbstractRice washing water is a household by-product with the potential to be utilized as a feed additive due to its carbohydrate, protein, and B-complex vitamin content, which may support animal performance. This study aimed to evaluate the effect of rice washing water addition during the fermentation of complete feed using EM4 on average daily gain (ADG), feed intake, and feed conversion ratio (FCR) of Thin-Tailed sheep. The experiment was conducted at Cahaya Satu Ternak Farm, Gedangan Village, Mojowarno District, Jombang Regency, for 37 days, consisting of a 7-day adaptation period followed by a 30-day feeding and data collection period. The experimental animals consisted of 12 male Thin-Tailed sheep aged 5–8 months with initial body weights ranging from 16.3 to 20.3 kg. A Completely Randomized Design (CRD) was applied, consisting of four treatments with three replications each: P0 (EM4-fermented complete feed without rice washing water), P1 (2% rice washing water), P2 (4% rice washing water), and P3 (6% rice washing water). The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results showed that the addition of rice washing water had no significant effect (P>0.05) on average daily gain, feed intake, or feed conversion ratio. The average daily gain ranged from 136.67 to 185.56 g/head/day, feed intake ranged from 761.59 to 777.78 g/head/day, and the feed conversion ratio ranged from 4.27 to 6.37. Although the differences were not statistically significant, treatment P2 (4% rice washing water) produced the lowest FCR value (4.27), indicating a tendency toward better feed utilization efficiency than the other treatments. It can be concluded that the addition of rice washing water during the EM4 fermentation of complete feed did not significantly affect the performance of Thin-Tailed sheep. However, the 4% inclusion level showed the greatest potential as the most efficient treatment. Keywords: Rice Washing Water, EM4, Complete Feed, Thin-Tailed Sheep, Average Daily Gain, Feed Conversion Ratio, Feed Intake.
PERBANDINGAN KARAKTER FENOTIPE KUANTITATIF SERTA HUBUNGAN UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN PADA INDUK CROSS DORPER DAN CROSS TEXEL Khoirunnisa Saka; Mudawamah Mudawamah; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset yang telah dilakukan memiliki tujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakter fenotipe kuantitatif yang meliputi bobot badan, panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, dan lebar pinggul, serta mengetahui hubungan ukuran-ukuran tubuh tersebut dengan bobot badan pada induk domba Cross Dorper dan Cross Texel. Penelitian ini menggunakan 40 ekor induk domba berumur poel satu (memiliki sepasang gigi seri permanen), yang terdiri atas 20 ekor induk Cross Dorper dan 20 ekor induk Cross Texel. Uji-t sampel independen, analisis korelasi Pearson, dan regresi linier sederhana Adalah analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa induk Cross Dorper memiliki rataan bobot badan, lingkar dada, panjang badan, tinggi badan, dan lebar pinggul masing-masing sebesar 34,02 kg; 82,82 cm; 56,08 cm; 62,29 cm; dan 20,83 cm, sedangkan pada induk Cross Texel masing-masing sebesar 31,08 kg; 79,53 cm; 45,68 cm; 61,02 cm; dan 19,03 cm. Seluruh parameter fenotipe kuantitatif berbeda nyata antara kedua kelompok domba (P < 0,05), dengan peningkatan ukuran tubuh pada Cross Dorper dibandingkan Cross Texel berkisar antara 2,08–22,77%. Pada induk Cross Dorper, seluruh ukuran tubuh memiliki hubungan positif, sangat kuat, dan signifikan dengan bobot badan, dengan nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,802–0,906 dan koefisien determinasi sebesar 64,25–82,06%. Lingkar dada merupakan parameter terbaik dalam menduga bobot badan Cross Dorper dengan persamaan regresi Y = 1,1115X − 58,054 dan R² = 0,8206. Pada induk Cross Texel, hubungan ukuran tubuh dengan bobot badan berada pada kategori sedang dengan nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,429–0,580 dan koefisien determinasi sebesar 18,39–33,57%. Tinggi badan merupakan parameter terbaik dalam menduga bobot badan Cross Texel dengan persamaan regresi Y = 0,8594X − 21,055 dan R² = 0,3357, sedangkan hubungan lebar pinggul dengan bobot badan tidak signifikan (P > 0,05). Disimpulkan bahwa induk Cross Dorper memiliki rataan karakter fenotipe kuantitatif yang lebih tinggi daripada induk Cross Texel. Lingkar dada merupakan penduga tunggal terbaik terhadap bobot badan Cross Dorper. Pada Cross Texel, tinggi badan merupakan penduga tunggal terbaik. Kata kunci: bobot badan, Cross Dorper, Cross Texel, fenotipe kuantitatif, ukuran tubuh.
KINERJA USAHA DOMBA LOKAL STUDI KASUS DI DESA KARANGSARI KECAMATAN SEMPU KABUPATEN BANYUWANGI Cholisha Ayu Adiningsih; Dewi Masyithoh; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik peternak, manajemen pemeliharaan, serta kinerja usaha ternak domba lokal di Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2026 dengan metode studi kasus dan teknik sensus terhadap 23 peternak dengan jumlah kepemilikan ternak rata-rata 10 sampai dengan 15 ternak domba lokal sebagai responden. Data diperoleh melalui observasi, wawancara menggunakan kuisioner kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui analisis penerimaan, biaya produksi, pendapatan, efisiensi usaha menggunakan R/C Ratio dan B/C Ratio, dan faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak didominasi oleh usia produktif, pendidikan terkahir SMA, pengalaman beternak 2-5 tahun, dan kepemilikan ternak rata-rata 14-15 ekor. Manajemen pemeliharaan yang diterpakan tergolong baik, dengan sistem pemeliharaan intensif, pemberian pakan dua kali sehari, serta kinerja reproduksi yang cukup baik. Rata-rata total penerimaan usaha mencapai Rp13.560.870 per tahun, total biaya produksi sebesar Rp8.599.935 per tahun, sehingga diperoleh pendapatan rata-rata Rp4.960.935 per tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha ternak domba lokal masih memberkan keuntungan dan memiliki propek untuk terus dikembangkan melalui peningkatan produktivitas ternak serta efisiensi penggunaan faktor produksi. Hasil nilai B/C Ratio lebih dari 0 menunjukkan usaha layak untuk dikembangkan, hasil R/C Ratio lebih dari 1 menunjukkan bahwa usaha menguntungkan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa usaha ternak domba lokal di Desa Karangsari memiliki kinerja usaha cukup baik dan masih layak dijalankan. Kata Kunci : domba lokal, kinerja usaha, pendapatan, efisiensi usaha, peternak. BUSINESS PERFOMANCE OF LOCAL SHEEP FARMING A CASE STUDY IN KARANGSARI VILLAGE SEMPU DISTRICT, BANYUWANGI REGENCY Abstract This study aims to analyze the characteristics of farmers, husbandry management, and the performance of local sheep farming businesses in Karangsari Village, Sempu District, Banyuwangi Regency. Conducted in June 2026 using a case study method and a census approach, the study surveyed 23 farmers—each owning an average of 10 to 15 local sheep—as respondents. Data were collected through observation and questionnaire-based interviews, then analyzed using quantitative descriptive methods covering revenue, production costs, income, business efficiency (via R/C and B/C ratios), and factors influencing business performance. The results indicate that the farmers were predominantly of productive age, held a high school education, had 2–5 years of farming experience, and owned an average of 14–15 sheep. Husbandry management practices were rated as good, featuring an intensive rearing system, twice-daily feeding, and satisfactory reproductive performance. The average annual business revenue reached Rp13,560,870, with total production costs of Rp8,599,935, resulting in an average annual income of Rp4,960,935. Analysis shows that the local sheep farming business remains profitable and holds prospects for further development through increased livestock productivity and more efficient use of production factors. A B/C ratio greater than 0 indicates the business is viable for development, while an R/C ratio greater than 1 indicates profitability. In conclusion, local sheep farming in Karangsari Village demonstrates satisfactory business performance and remains a viable enterprise. Keywords: business performance, income, local sheep, business efficiency, farmers.
EFEKTIFITAS TEAT DIPPING DARI LARUTAN ANTISEPTIK DAUN KELOR (Moringa oleifera) PRODUKSI AMMO- TECH TERHADAP PH DAN PRODUKSI SUSU SAPI PFH TERINDIKASI MASTITIS SUBKLINIS Imron Wahyudi; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan melakukan riset ini untuk menganalisis evaluasi pemberian cairan antiseptik alami berbahan dasar ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kejadian mastitis subklinis sapi Peranakan FH (Friesian Holstein). Penelitian ini menggunakan materi adalah sapi PFH laktasi 3-5 bulan sebanyak 12 ekor,dalam masa periode laktasi 1, yang terindikasi terjangkit penyakit mastitis subklinis. Metode yang dikenakan pada riset ini adalah eksperimental dengan RAL Rancangan Acak Lengkap, yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan penelitian ini adalah teat dipping P0 : Povidene iodin 1%, P1 ; larutan antiseptik daun kelor subtitusi 15%, P2 : larutan antiseptik daun kelorsubtitusi 30%, P3 : larutan antiseptik daun kelor subtitusi 45%. Analisa data menggunakan uji Analysis of Variance ANOVA, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) jika terdapat pengaruh pada variabel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian teat dipping daun kelor tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai pH, rataan nilai pH P0 = 6,73 ; P1 = 6,74 ; P2 = 6,77 ; P3 = 6,78. Nilai tersebut masih berada pada kisaran pH susu sapi segar normal, sehingga menginterpretasikan bahwa penggunaan antiseptik larutan antiseptik daun kelor tidak merubah kualitas kimia susu. Sedangkan hasil pemberian teat dipping larutan antiseptik daun kelor berpengaruh nyata (P0,05) on pH values; the mean pH values were P0 = 6.73, P1 = 6.74, P2 = 6.77, and P3 = 6.78. These pH values remained within the normal range for fresh ,ilk, indicating that use the natural antiseptec moringa oleifera did not alter the chemical quality of the milk. However, the teat dipping treatments had a significant effect (P