Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PELATIHAN PEMBUATAN TEMPE INOVATIF BERBAHAN KACANG KORO SEBAGAI PRODUK PANGAN UNGGULAN UMKM Pardi Pardi; Herawati Herawati; Susila Ulfa; Munazar Munazar
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Pelatihan Pembuatan Tempe Inovatif Berbahan Kacang Koro sebagai Produk Pangan Unggulan UMKM” dilaksanakan di Rumah Tempe Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat serta pelaku UMKM dalam mengolah kacang koro sebagai bahan baku alternatif pembuatan tempe yang bergizi, ekonomis, dan berpotensi menjadi produk unggulan daerah. Pelatihan berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 25–26 Juli 2025, diikuti oleh 17 peserta yang terdiri atas pengusaha tempe lokal, pelaku UMKM, dan pegiat tempe rumahan. Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Sosial Sains dan Ilmu Pendidikan Universitas Ubudiyah Indonesia yang berperan sebagai pembantu lapangan dan dokumentasi. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi empat tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan pelatihan, evaluasi, dan refleksi. Selama kegiatan, peserta mengikuti tiga sesi utama yang terdiri atas penyampaian materi, praktik langsung pembuatan tempe kacang koro, serta diskusi dan evaluasi hasil produk. Kegiatan berjalan dengan lancar dan mendapat respon positif dari peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap sesi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta memahami dengan baik proses fermentasi tempe, teknik pengemasan, dan potensi pemasaran produk tempe kacang koro sebagai inovasi pangan lokal. Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam menumbuhkan semangat berwirausaha berbasis bahan lokal, memperluas wawasan inovasi pangan, serta memperkuat potensi UMKM di Banda Aceh. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan peserta mampu memproduksi tempe kacang koro secara mandiri, menciptakan nilai tambah ekonomi, dan mendukung pengembangan produk pangan fungsional yang berkelanjutan. Kata Kunci: Pelatihan, tempe inovatif, kacang koro, UMKM. Abstract The community service activity titled “Training on Innovative Tempe Production Using Koro Beans as a Leading MSME Food Product” was conducted at Rumah Tempe Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh. This program aimed to enhance the knowledge and skills of local communities and micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in processing koro beans as an alternative raw material for tempe production that is nutritious, economical, and has the potential to become a regional flagship product. The training was held over two days, on July 25–26, 2025, and was attended by 17 participants, including local tempe producers, MSME owners, and home-based tempe entrepreneurs. The activity also involved two students from the Faculty of Health Sciences and the Faculty of Social Sciences and Education, Universitas Ubudiyah Indonesia, who assisted as field and documentation support. The implementation method consisted of four stages: preparation, training execution, evaluation, and reflection. The program included three main sessions—material presentation, hands-on practice in koro bean tempe production, and product evaluation and discussion. The participants demonstrated great enthusiasm throughout the activity and actively engaged in every session. The evaluation results indicated that participants gained a solid understanding of the fermentation process, hygienic packaging techniques, and product marketing strategies for innovative koro bean tempe. This activity had a positive impact on the local community by encouraging entrepreneurship based on local resources, expanding food innovation insights, and strengthening the potential of MSMEs in Banda Aceh. Through this training, participants are expected to be able to independently produce koro bean tempe, increase its economic value, and support the sustainable development of functional local food products. Keywords: Training, innovative tempe, koro beans, MSM.
SOSIALISASI PEMILAHAN SAMPAH DI SIT FAJAR HIDAYAH INTEGRATED BOARDING SCHOOL BLANG BINTANG ACEH BESAR Pardi Pardi; Herawati Herawati; Muhammad Rizky Ananda; Nurmaida Nurmaida
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 6, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Perguruan Tinggi wajib melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Program pengabdian kepada masyarakat juga dilaksanakan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia secara berkala dalam satu semester atau pun pertahun akademik. Sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dapat dilakukan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia adalah: “Sosialisasi Pemilahan Sampah di SIT Fajar Hidayah Integrated Boarding School Blang Bintang Aceh Besar”. Permasalahan sampah merupakan permasalahan yang cukup rumit karena melibatkan berbagai pihak. Masalah   sampah   di   Indonesia   juga mengalami tantangan yang besar khususnya dalam aspek kesadaran masyarakat terkait kebiasaan membuang sampah pada tempatnya serta memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Penanganan sampah yang baik dapat mengurangi dampak pencemaran lingkugan dan mewujudkan lingkungan sehat bagi seluruh masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu perlu adanya suatu tindakan untuk menangani permasalahan terkait sampah dengan meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tepatnya serta memilah sampah beradasarkan jenisnya. Dimana sampah secara umum di bagi menjadi dua yaitu sampah organik dan anorganik. Tindakan tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan pengabdian masyarakat yang bertujuan agar para siswa memiliki wawasan luas dan cakap serta cerdas memilah sampah dalam upaya menjaga lingkungan sehat di sekolah. Adapun metode pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini mengikuti teknis pelaksanaan tindakan yang terdiri dari 4 tahapan, yang terdiri dari tahap: persiapan atau perencanaan, pelaksanaan sosialisasi, evaluasi dan refleksi. Hasil pelaksanaan sosialisasi pemilahan sampah di sekolah ini menunjukkan (1) Adanya peningkatan kecakapan siswa dalam menjaga lingkungan sekolah sehat; (2) Para siswa antusias mengikuti kegiatan sosialisasi pemilahan sampah dan mengaku perlu adanya kegiatan-kegiatan lanjutan tentang Pendidikan kesehatan di sekolah; dan (3) Peningkatan wawasan dan kecakapan hidup sehat di SIT Fajar Hidayah Aceh akan ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan terkait menunjang terwujudnya SDM bangsa yang sehat dan berwawasan luas.Kata Kunci: Sosialisasi, Sekolah Sehat, Sampah Organik dan Anorganik In Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System, it is stated that Universities are obliged to implement the Tri Dharma of Higher Education, namely: teaching, research and community service. Community service programs are also carried out by the University of Ubudiyah Indonesia periodically in one semester or per academic year. As one form of community service that can be done by the University of Ubudiyah Indonesia is: "Socialization of Healthy Lifestyles for Students at SIT Fajar Hidayah Integrated Boarding School Blang Bintang Aceh Besar". Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) in Schools is a set of behaviors practiced by students, teachers and the school community on the basis of awareness as a result of learning, so that they can independently prevent disease, improve their health, and play an active role in creating a healthy environment. The waste problem is quite a complicated problem because it involves various parties. The waste problem in Indonesia is also experiencing big challenges, especially in the aspect of public awareness regarding the habit of disposing of waste in its place and sorting waste according to its type. Good waste management can reduce the impact of environmental pollution and create a healthy environment for the entire surrounding community. Therefore, it is necessary to take action to deal with problems related to waste by increasing people's insight and awareness in disposing of waste properly and sorting waste based on type. Where waste is generally divided into two, namely organic and inorganic waste. This action is realized through the implementation of community service which aims to ensure that students have broad insight and are competent and intelligent in sorting waste in an effort to maintain a healthy environment at school. The method for implementing this socialization activity follows the technical implementation of the action which consists of 4 stages, consisting of: preparation or planning, implementation of socialization, evaluation and reflection. The results of the socialization of waste sorting in this school show (1) There is an increase in students' skills in maintaining a healthy school environment; (2) The students were enthusiastic about participating in waste sorting socialization activities and admitted that there was a need for further activities regarding health education in schools; and (3) Increasing insight and healthy living skills at SIT Fajar Hidayah Aceh will be followed up with activities related to supporting the realization of healthy and broad-minded national human resources.Keywords: Socialization, Waste Selection, Healthy School, Organic and Inorganic Waste
FRAMEWORK PENCEGAHAN BULLYING BERBASIS EKOLOGI SOSIAL MASYARAKAT Rahmat Alimin; Herawati Herawati; Pardi Pardi; Heri Aprian Harahap; Muhammad Aqil
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bullying merupakan bentuk kekerasan yang umum terjadi pada anak usia sekolah dan berdampak serius terhadap perkembangan psikososial, kesehatan mental, serta iklim pembelajaran. Pendekatan ekologi sosial menekankan bahwa pencegahan bullying tidak cukup dilakukan oleh sekolah, melainkan membutuhkan intervensi berlapis mulai dari keluarga, masyarakat, hingga struktur sosial budaya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan membangun kerangka pencegahan bullying berbasis ekologi sosial masyarakat Gampong melalui workshop masyarakat dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal Aceh seperti meuripee, peusijuek, gotong royong, dan kontrol sosial adat gampong. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi literasi bullying, workshop komunitas, pemetaan peran masyarakat, dan penyusunan alur pencegahan berbasis gampong. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang tanda-tanda bullying, terbentuknya komitmen kolektif melalui perangkat gampong, serta meningkatnya keterlibatan tokoh adat dan tokoh agama dalam pengawasan sosial. Kegiatan ini menegaskan bahwa pendekatan ekologi sosial dan kearifan lokal Aceh dapat menjadi landasan strategis dalam membangun ekosistem gampong yang ramah anak dan bebas bullying. Kata kunci: bullying, ekologi sosial, gampong, kearifan lokal Aceh, pencegahan kekerasan. Abstract Bullying remains one of the most concerning forms of violence among school-aged children, threatening their mental well-being, social development, and the overall learning environment. The socio-ecological framework emphasizes that bullying prevention requires multilayered intervention involving families, communities, and cultural structures—not only schools. This community service program aims to develop a community-based bullying prevention framework within a Gampong context, integrating Acehnese local wisdom such as meuripee, peusijuek, social harmony, and traditional communal supervision. The program consisted of socialization sessions, community workshops, social role mapping, and the establishment of a village-based prevention mechanism. The results show increased community awareness regarding signs of bullying, strengthened collective commitment through village authorities, and heightened involvement of customary and religious leaders in child protection efforts. This program highlights that combining the socio-ecological approach with Acehnese local wisdom offers a strategic foundation for building child-friendly and bullying-free communities. Keywords: bullying, socio-ecological framework, community participation, Acehnese local wisdom, prevention.
PENINGKATAN KESADARAN SISWA UNTUK MENJAGA LINGKUNGAN SEHAT DI SIT FAJAR HIDAYAH INTEGRATED BOARDING SCHOOL BLANG BINTANG ACEH BESAR Herawati Herawati; Pardi Pardi; Rahmat Fajri; Nurmaida Nurmaida; Muhammad Rizky Ananda
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 6, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia secara berkala dalam satu semester atau pun pertahun akademik merupakan manisfestasi dari Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa Perguruan Tinggi wajib melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Adapun salah satu wujud pengabdian kepada masyarakat yang dapat dilakukan oleh Universitas Ubudiyah Indonesia adalah: “Peningkatan Kesadaran Siswa untuk Menjaga Lingkungan Sehat di SIT Fajar Hidayah Integrated Boarding School Blang Bintang Aceh Besar”. Berdasarkan pemetaan masalah yang dibutuhkan mitra diketahui bahwa siswa SIT Fajar Hidayah Integrated Boarding School (FHIBS) Blang Bintang Aceh Besar perlu ditingkatkan wawasan dan kesadaran akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat guna menciptakan dan meningkatkan lingkungan yang sekolah sehat. Sekolah bersih dan sehat merupakan langkah yang harus dilakukan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya. Kondisi sehat tidak serta merta terjadi, akan tetapi harus senantiasa diupayakan dari yang tidak sehat menjadi hidup yang sehat serta menciptakan lingkungan yang sehat. Upaya ini harus dimulai dari menanamkan pola pikir sehat kepada seluruh warga di sekolah terutama para siswa. Oleh karena itu dilakukan suatu tindakan untuk menangani permasalahan tersebut dengan pelaksanaan pengabdian masyarakat yang bertujuan agar para siswa memiliki wawasan luas dan berperilaku hidup sehat sehingga terwujudnya lingkungan sekolah yang sehat. Adapun metode pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini mengikuti teknis pelaksanaan tindakan yang terdiri dari 4 tahapan, yang terdiri dari tahap: persiapan atau perencanaan, pelaksanaan sosialisasi, evaluasi dan refleksi. Hasil pelaksanaan kegiatan peningkatan kesadaran siswa tentang menjaga lingkungan sehat di sekolah ini menunjukkan (1) Adanya peningkatan kecakapan siswa dalam menjaga lingkungan sekolah sehat; (2) Para siswa antusias mengikuti kegiatan sosialisasi menjaga lingkungan sehat dan mengaku perlu adanya kegiatan-kegiatan lanjutan tentang Pendidikan kesehatan di sekolah; dan tampak adanya (3) Peningkatan wawasan dan kecakapan hidup sehat siswa di SIT FHIBS Aceh yang nantinya akan ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan terkait guna terwujudnya SDM bangsa yang sehat dan berwawasan luas.Kata Kunci: Peningkatan Kesadaran, Lingkungan Sehat, Sekolah Sehat.The community service program carried out by Ubudiyah University Indonesia periodically in one semester or per academic year is a manifestation of Law Number 20 of 2003 concerning the National Education System which states that universities are obliged to implement the Tri Dharma of Higher Education. One form of community service that Ubudiyah University Indonesia can carry out is: "Increasing Student Awareness to Maintain a Healthy Environment at SIT Fajar Hidayah Integrated Boarding School Blang Bintang Aceh Besar". Based on the problem mapping needed by partners, it is known that SIT Fajar Hidayah Integrated Boarding School (FHIBS) Blang Bintang Aceh Besar students need to have increased insight and awareness of the importance of clean and healthy living behavior in order to create and improve a healthy school environment. A clean and healthy school is a step that must be taken to achieve optimal health for everyone who lives in it. Healthy conditions do not happen automatically, but efforts must always be made to move from being unhealthy to living a healthy life and creating a healthy environment. This effort must start from instilling a healthy mindset in all residents at school, especially students. Therefore, an action was taken to deal with this problem by implementing community service which aims to ensure that students have broad insight and behave in a healthy lifestyle so as to create a healthy school environment. The method for implementing this socialization activity follows the technical implementation of the action which consists of 4 stages, consisting of: preparation or planning, implementation of socialization, evaluation and reflection. The results of implementing activities to increase student awareness about maintaining a healthy environment in this school show (1) There is an increase in students' skills in maintaining a healthy school environment;  (2) The students enthusiastically took part in socialization activities to maintain a healthy environment and admitted that there was a need for further activities regarding health education in schools; and it appears that there is (3) an increase in students' insight and healthy living skills at SIT FHIBS Aceh which will later be followed up with related activities to create healthy and broad-minded human resources for the nation.Keywords: Increased Awareness, Healthy Environment, Healthy School. 
PENGUATAN PERAN AYAH-IBU DALAM PENDIDIKAN ANAK DI ERA DIGITAL Herawati Herawati; Kurnia Rahmayanti; Pardi Pardi; Anshar Iqlima; Nurul Salwa; Heri Aprian Harahap; Muhammad Aqil
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG PENDIDIKAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pola komunikasi keluarga di era digital menjadi tantangan bagi penguatan karakter anak Indonesia. Rendahnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan akibat kesibukan dan budaya patriarki mengakibatkan beban pendidikan anak lebih banyak ditanggung ibu. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya kolaborasi ayah dan ibu dalam pendidikan anak berbasis nilai Islam dan kearifan lokal Aceh. Kegiatan dilaksanakan pada 16 Juli 2025 di Aula LLDIKTI Wilayah XIII Aceh, dengan peserta sebanyak 50 orang pengurus dan anggota Dharma Wanita LLDIKTI XIII. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, refleksi, dan wawancara tindak lanjut. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep parenting kolaboratif serta kesadaran akan pentingnya peran ayah dalam membangun komunikasi keluarga yang sehat. Peserta juga berkomitmen menerapkan nilai meuseuraya (gotong royong) dan peumulia aneuk (memuliakan anak) dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Kegiatan ini menegaskan peran perguruan tinggi, khususnya Universitas Ubudiyah Indonesia, dalam mendorong penguatan keluarga Islami adaptif terhadap perkembangan era digital. Kata kunci: kolaborasi ayah-ibu, parenting Islami, kearifan lokal Aceh, era digital, pengabdian masyarakat. Abstract Changes in family communication patterns in the digital era pose challenges to strengthening children’s character in Indonesia. The low involvement of fathers in parenting-caused by busy work schedules and patriarchal culture has-led to mothers bearing most of the child-rearing responsibilities. This community service activity aimed to raise awareness of the importance of father–mother collaboration in children’s education based on Islamic values and Acehnese local wisdom. The program was conducted on July 16, 2025, at the LLDIKTI Region XIII Hall in Aceh, attended by 50 members of the Dharma Wanita organization. The methods included interactive lectures, group discussions, reflection sessions, and follow-up interviews. The results indicated an increase in participants’ understanding of collaborative parenting and awareness of the father’s essential role in fostering healthy family communication. Participants also committed to applying the values of meuseuraya (mutual cooperation) and peumulia aneuk (honoring children) in their daily parenting practices. This activity highlights the role of higher education institutions, particularly Universitas Ubudiyah Indonesia, in promoting Islamic family empowerment responsive to the digital era. Keywords: father–mother collaboration, Islamic parenting, Acehnese local wisdom, digital era, community service.
PEMANFAATAN LIMBAH RUMAH TANGGA MENJADI PRODUK BERNILAI JUAL SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT Pardi Pardi; Herawati Herawati; Siti Adila; Atdril Atdril
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 8, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan limbah rumah tangga menjadi isu penting yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai jual. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan pembuatan produk dari limbah, seperti kerajinan plastik dan kompos organik. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, serta terbentuknya produk yang memiliki nilai ekonomi. Program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengurangi limbah serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Kata Kunci: Limbah, Produk Bernilai Jual, Pengabdian Masyarakat, Ekonomi Kreatif. Abstract Household waste is a significant issue that impacts the environment and public health. This community service activity aims to enhance community awareness and skills in processing waste into marketable products. The implementation methods include socialization, training, and mentoring in creating products from waste, such as plastic crafts and organic compost. The results indicate an increase in participants' knowledge and skills, as well as the creation of economically valuable products. This program is expected to contribute to waste reduction and community income improvement. Keywords: Waste, Marketable Products, Community Service, Creative Economy.
PEMANFAATAN KITOSAN SEBAGAI BAHAN DASAR BIOPLASTIK RAMAH LINGKUNGAN Pardi Pardi; Herawati Herawati; Siti Adila; Atdril Atdril
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 12, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v12i1.5884

Abstract

PEMANFAATAN KITOSAN SEBAGAI BAHAN DASAR BIOPLASTIK RAMAH LINGKUNGAN
Model Integratif Pengelolaan Lingkungan Berbasis Komunitas melalui Nilai Sosial di Aceh Besar: Perspektif Hukum dan Kesehatan Lingkungan Zahrawati Zahrawati; Pardi Pardi; Azirah Azirah; Herawati Herawati; Tila Nelvia; Putri Ardila; Daffa Alqaira
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 12, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v12i1.5863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model integratif pengelolaan lingkungan berbasis komunitas melalui nilai sosial di Aceh Besar dengan mempertimbangkan aspek hukum dan kesehatan lingkungan. Permasalahan lingkungan di wilayah pesisir Aceh Besar, seperti pencemaran, kerusakan ekosistem, dan rendahnya kesadaran masyarakat, tidak hanya berdampak pada keberlanjutan lingkungan tetapi juga pada kesehatan masyarakat. Selain itu, lemahnya implementasi hukum lingkungan menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan yang efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi yang melibatkan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan aparatur desa. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai sosial seperti gotong royong, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis, kepatuhan hukum, serta perilaku hidup bersih dan sehat. Model integratif yang dikembangkan terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu internalisasi nilai sosial, penguatan kapasitas masyarakat, dan implementasi berbasis partisipasi. Model ini terbukti mampu meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat kepatuhan terhadap norma hukum lingkungan, serta meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan masyarakat. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi nilai sosial dalam pengelolaan lingkungan berbasis komunitas merupakan pendekatan yang efektif dan berkelanjutan. Model ini tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga pada penguatan sistem hukum dan peningkatan kesehatan masyarakat. Kata kunci: Model Integratif, Pengelolaan Lingkungan, Nilai Sosial, Kesehatan Lingkungan, Hukum Lingkungan, Aceh Besar. Abstract This study aims to develop an integrative model of community-based environmental management through social values in Aceh Besar by incorporating legal and environmental health perspectives. Environmental problems in the coastal areas of Aceh Besar, such as pollution, ecosystem degradation, and low community awareness, not only affect environmental sustainability but also public health. In addition, weak implementation of environmental law remains a major challenge in achieving effective environmental management. This research employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation involving community members, traditional leaders, religious leaders, and village officials. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that social values such as mutual cooperation, solidarity, and collective responsibility play a strategic role in shaping ecological awareness, legal compliance, and healthy living behavior. The developed integrative model consists of three main stages: internalization of social values, strengthening community capacity, and participatory-based implementation. This model has been proven to enhance community participation, strengthen compliance with environmental law, and improve environmental health conditions. In conclusion, integrating social values into community-based environmental management is an effective and sustainable approach. This model contributes not only to ecological sustainability but also to strengthening legal systems and improving public health. Keywords: Integrative Model, Environmental Management, Social Values, Environmental Health, Environmental Law, Aceh Besar.
Transformasi Pengelolaan Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal Melalui Pemberdayaan Masyarakat: Implikasi Hukum dan Kesehatan Masyarakat Azirah Azirah; Pardi Pardi; Zahrawati Zahrawati; Herawati Herawati; Tila Nelvia; Putri Ardila; Daffa Alqaira
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 12, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v12i1.5862

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal melalui pemberdayaan masyarakat dengan meninjau implikasi hukum dan kesehatan masyarakat. Permasalahan utama yang diangkat adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan, lemahnya implementasi hukum lingkungan, serta meningkatnya risiko kesehatan akibat degradasi lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi pada masyarakat yang masih mempertahankan nilai kearifan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal berperan sebagai sistem nilai yang efektif dalam membentuk kesadaran ekologis dan kepatuhan sosial. Transformasi pengelolaan lingkungan dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu internalisasi nilai kearifan lokal dan kesadaran hukum, penguatan kapasitas masyarakat berbasis kesehatan lingkungan, serta implementasi partisipatif berbasis regulasi dan praktik kesehatan masyarakat. Model ini terbukti mampu meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat kepatuhan terhadap hukum, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui perbaikan sanitasi dan pengelolaan lingkungan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal, hukum lingkungan, dan kesehatan masyarakat merupakan pendekatan strategis dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Kata kunci: Kearifan Lokal, Pemberdayaan Masyarakat, Hukum Lingkungan, Kesehatan Masyarakat, Keberlanjutan. Abstract This study aims to analyze the transformation of environmental management through local wisdom-based community empowerment by examining its legal and public health implications. The main issues addressed include low community participation in environmental conservation, weak enforcement of environmental law, and increasing health risks due to environmental degradation. This research employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and documentation within communities that maintain strong local wisdom values. The findings indicate that local wisdom serves as an effective value system in shaping ecological awareness and social compliance. The transformation process is carried out through three main stages: internalization of local wisdom values and legal awareness, strengthening community capacity based on environmental health, and participatory implementation based on regulations and public health practices. This model effectively enhances environmental awareness, strengthens legal compliance, and improves public health through better sanitation and environmental management. In conclusion, integrating local wisdom, environmental law, and public health is a strategic approach to achieving sustainable environmental management. Keywords: Local Wisdom, Community Empowerment, Environmental Law, Public Health, Sustainability
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN LIMBAH TIRAM BERBASIS KESEHATAN LINGKUNGAN DI WILAYAH PESISIR ACEH BESAR Pardi Pardi; Zahrawati Zahrawati; Azirah Azirah; Herawati Herawati; Tila Nelvia; Putri Ardila; Daffa Alqairi
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 12, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v12i1.5864

Abstract

Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah tiram berbasis kesehatan lingkungan di wilayah pesisir Aceh Besar. Limbah tiram yang dihasilkan dari aktivitas konsumsi dan usaha kuliner masyarakat pesisir berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Penumpukan limbah cangkang tiram dapat menyebabkan gangguan sanitasi, pencemaran air, serta menjadi media berkembangnya mikroorganisme yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap masyarakat pesisir, pelaku usaha, tokoh adat, dan aparatur desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah tiram diwujudkan melalui kegiatan gotong royong, pemanfaatan limbah secara sederhana, serta pengelolaan sampah berbasis komunitas. Partisipasi ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan lingkungan, seperti kebersihan lingkungan, pengurangan pencemaran, dan pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat meliputi kearifan lokal, kesadaran kesehatan lingkungan, pengalaman kolektif, serta dukungan kebijakan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berbasis kearifan lokal memiliki peran strategis dalam pengelolaan limbah tiram sekaligus meningkatkan kesehatan lingkungan masyarakat pesisir secara berkelanjutan. Kata kunci: Partisipasi Masyarakat, Limbah Tiram, Kesehatan Lingkungan, Aceh Besar, Kearifan Lokal. Abstract This This study aims to analyze community participation in environmental health-based oyster shell waste management in the coastal areas of Aceh Besar. Oyster shell waste generated from consumption and culinary activities in coastal communities has the potential to cause environmental pollution if not properly managed. The accumulation of oyster shell waste may lead to sanitation problems, water contamination, and the growth of harmful microorganisms that affect public health. This research employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and documentation involving coastal communities, business actors, traditional leaders, and village officials. The findings indicate that community participation is manifested through collective activities, simple waste utilization practices, and community-based waste management systems. This participation contributes to improving environmental health, including environmental cleanliness, pollution reduction, and prevention of environment-related diseases. Factors influencing community participation include local wisdom, environmental health awareness, collective experiences, and policy support. In conclusion, community participation based on local wisdom plays a strategic role in managing oyster shell waste while improving environmental health sustainability in coastal communities. Keywords: Community Participation, Oyster Shell Waste, Environmental Health, Aceh Besar, Local Wisdom.