Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Pembelajaran Matematika Materi Lingkaran di Kelas 6 Masridah Masridah
Journal of Education Transportation and Business Vol 1, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v1i2.4406

Abstract

Tujuan  penelitian ini untuk menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika dianggap sangat menyulitkan, tingkat pemahaman siswa akan konsep lingkaran sangat rendah, ditambah lagi dengan ketidak aktifan siswa dalam belajar, juga sulitnya memecahkan masalah. Seorang pendidik dituntut mampu menerapkan model pembelajaran yang tepat. Dalam model  PBL, bukan hanya hafalan tentang fakta, tetapi mengajak siswa untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata (Heni Nafiqoh, 2021). Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Dalam PBL terdapat lima fase, yaitu fase kesatu orientasi pada masalah, fase kedua  mengorganisasikan siswa, fase ketiga membimbing penyelidikan idividual maupun kelompok, fase keempat  mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan fase kelima  menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Dampak positif dari penerapan PBL, yakni   semua siswa tampak aktif, berpikir kritis, juga dapat berinteraksi sosial dalam kelompoknya. Dalam penerapannya PBL memiliki beberapa hambatan, sehingga guru harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari sarana prasarana  juga siswanya.
Analisis Kecerdasan Majemuk pada Mata Pelajaran Matematika di Kelas 6 Masridah Masridah; Sri Nirmala Dewi
Indonesian Journal of Education and Development Research Vol. 2 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/ijedr.v2i2.2608

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kecerdasan majemuk pada siswa kelas 6 dalam pembelajaran matematika. Matematika dianggap pembelajaran yang menyulitkan, guru sering menganggap siswa yang pintar matematika pasti pintar dalam mata pelajaran yang lain, padahal anggapan itu salah besar, setiap orang sudah dibekali kecerdasannya masing-masing. Howard Garner  berasal dari Harvard University, mengemukakan  bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan kinestetik, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. (M. Fadillah, 2023). Disinilah seorang guru dituntut harus mampu menganalisis jenis kecerdasan yang dimiliki siswanya, dengan begitu maka guru dapat menentukan rancangan pembelajaran yang disesuaikan dengan kecerdasan siswa. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Implementasi penerapan kecerdasan majemuk menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Dampak dari implementasi teori kecerdasan majemuk adalah siswa merasa senang, termotivasi, tidak tertekan, dan lebih paham dalam pembelajaran matematika, meskipun dalam penerapannya memiliki beberapa hambatan.
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Pembelajaran Matematika Materi Lingkaran di Kelas 6 Masridah Masridah
Journal of Education Transportation and Business Vol. 1 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetbus.v1i2.4406

Abstract

Tujuan  penelitian ini untuk menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika dianggap sangat menyulitkan, tingkat pemahaman siswa akan konsep lingkaran sangat rendah, ditambah lagi dengan ketidak aktifan siswa dalam belajar, juga sulitnya memecahkan masalah. Seorang pendidik dituntut mampu menerapkan model pembelajaran yang tepat. Dalam model  PBL, bukan hanya hafalan tentang fakta, tetapi mengajak siswa untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata (Heni Nafiqoh, 2021). Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Dalam PBL terdapat lima fase, yaitu fase kesatu orientasi pada masalah, fase kedua  mengorganisasikan siswa, fase ketiga membimbing penyelidikan idividual maupun kelompok, fase keempat  mengembangkan dan menyajikan hasil karya dan fase kelima  menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Dampak positif dari penerapan PBL, yakni   semua siswa tampak aktif, berpikir kritis, juga dapat berinteraksi sosial dalam kelompoknya. Dalam penerapannya PBL memiliki beberapa hambatan, sehingga guru harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari sarana prasarana  juga siswanya.
Komparasi Sistem Penilaian Pendidikan Dasar di Indonesia, China dan Singapura (A Literature Review) Fitri Indriyani; Masridah Masridah; Rina Astuti; Rini Apriyanti; Iis Kurniasih; Emah Rahmawati; Dani Syehabudin
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v4i2.6674

Abstract

Artikel ini menyajikan tinjauan komparatif mengenai sistem penilaian pendidikan dasar di Indonesia, China, dan Singapura melalui metodologi studi literatur. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana penerapan sistem penilaian di ketiga negara tersebut, mengevaluasi kelebihan dan kelemahan masing-masing sistem, serta mensintesis kesamaan dan perbedaan yang ada guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional di Indonesia. Sistem penilaian di Indonesia cenderung berorientasi pada pendekatan holistik dan proses, menekankan pengembangan kompetensi, sikap, dan karakter siswa secara berkelanjutan melalui kebijakan Kurikulum Merdeka dan metode penilaian berbasis observasi, refleksi, dan penugasan. Di sisi lain, sistem pendidikan China lebih berfokus pada pengembangan keterampilan STEM dan pendidikan moral dengan reformasi yang bertujuan mengurangi ketimpangan dan meningkatkan kemajuan industri. Singapura menerapkan sistem penilaian yang mengintegrasikan penilaian formatif dan sumatif untuk memantau kemajuan siswa secara berkelanjutan, sekaligus mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas, serta menyeimbangkan keberhasilan akademik dengan perkembangan holistik siswa. Melalui analisis ini, diharapkan bisa dihasilkan rekomendasi strategis yang relevan untuk reformasi sistem penilaian di Indonesia demi meningkatkan mutu, daya saing global, dan kualitas sumber daya manusia di era masa depan yang semakin kompetitif.