Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Coping Stress Guru Slb Dalam Menghadapi Orang Tua Siswa Autis: Studi Kasus Di Slbn Kota Gorontalo Nurul Hasanah; Imran Nihali; Asni Ilham; Siti Nurjanna Gani; Moh. Sarifudin S. Auna
Tut Wuri Handayani : Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59086/jkip.v5i2.1763

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi coping stres yang digunakan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam menghadapi orang tua siswa autis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan dua guru SLBN Kota Gorontalo sebagai partisipan yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan dua strategi coping utama, yaitu problem-focused coping melalui peningkatan komunikasi dengan orang tua, membangun kerja sama, berbagi pengalaman dengan rekan sejawat, serta mencari solusi bersama, dan emotion-focused coping melalui refleksi diri, penguatan religiusitas, penerimaan diri, serta pengelolaan emosi. Sumber stres utama berasal dari perbedaan ekspektasi dengan orang tua, tuntutan komunikasi, dan rendahnya keterlibatan orang tua dalam mendukung program pembelajaran di sekolah. Dukungan kepala sekolah dan rekan sejawat berperan penting dalam memperkuat kemampuan guru mengelola tekanan sehingga membantu menjaga stabilitas emosi dan kepuasan kerja. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan menunjukkan bahwa strategi coping guru SLB dalam menghadapi orang tua siswa autis bersifat dinamis melalui kombinasi problem-focused coping dan emotion-focused coping, serta dipengaruhi oleh faktor personal dan dukungan sosial. Temuan ini memperkaya kajian mengenai coping stres guru pada konteks hubungan guru–orang tua siswa autis yang masih relatif terbatas dalam penelitian sebelumnya.   This study aimed to explore the stress coping strategies employed by teachers in special schools (Sekolah Luar Biasa; SLB) when dealing with the parents of students with autism. A qualitative approach with a case study design was employed, involving two teachers from a public special school (SLBN) in Gorontalo City, Indonesia, who were purposively selected as participants. Data were collected through structured interviews and document analysis and were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing/verification techniques. The findings revealed that the teachers adopted two primary coping strategies: problem-focused coping, which included improving communication with parents, fostering collaborative partnerships, sharing experiences with colleagues, and seeking joint solutions; and emotion-focused coping, which involved self-reflection, strengthening religious beliefs, self-acceptance, and emotional regulation. The major sources of stress stemmed from discrepancies between teachers' and parents' expectations, communication demands, and parents' limited involvement in supporting school-based learning programs. Support from school principals and colleagues played a significant role in enhancing teachers' capacity to manage work-related stress, thereby contributing to emotional stability and job satisfaction. This study contributes to the literature by demonstrating that the coping strategies of special school teachers in managing interactions with the parents of students with autism are dynamic, integrating both problem-focused and emotion-focused coping, and are shaped by personal factors and social support. These findings extend the existing body of knowledge on teacher stress coping by providing empirical evidence from the relatively underexplored context of teacher–parent relationships in special education for students with autism.  
Pengalaman Dua Remaja Pengguna TikTok dalam Menghadapi Loneliness: Studi Fenomenologi di Kecamatan Boliyohuto Nur Ni’mat Salsabila; Sitriah Salim Utina; Moh. Sarifudin S. Auna; Sitty Khairun Nisa T. Rauf; Imran Nihali
Jurnal Riset Multidisiplin Agrisosco Vol 4, No 2 (2026): Vol 4 No 2 Agustus 2026
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengembangan, Pemberdayaan Potensi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61316/jrma.v4i2.373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi coping yang digunakan remaja pengguna TikTok dalam mengatasi loneliness, mengidentifikasi upaya yang dilakukan untuk mengurangi perasaan tersebut, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi munculnya loneliness pada remaja. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif remaja terkait loneliness dalam konteks penggunaan media sosial TikTok. Informan penelitian terdiri atas dua remaja pengguna aktif TikTok yang berdomisili di Kecamatan Boliyohuto. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness pada remaja ditandai oleh perasaan kosong, hampa, bosan, serta perasaan terasing dari lingkungan sosial. Munculnya loneliness dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kecenderungan melakukan social comparison terhadap konten yang ditampilkan di TikTok, kurangnya dukungan emosional dari lingkungan sekitar, serta penggunaan TikTok yang berlebihan sehingga mengurangi kualitas interaksi sosial secara langsung. Dalam menghadapi kondisi tersebut, remaja menerapkan berbagai strategi coping yang mencakup emotion-focused coping dan problem-focused coping. Strategi emotion-focused coping dilakukan melalui penerimaan terhadap perasaan loneliness, menangis sebagai bentuk pelampiasan emosi, serta mengalihkan perhatian pada hiburan atau aktivitas tertentu. Sementara itu, strategi problem-focused coping diwujudkan dengan membatasi penggunaan TikTok, meningkatkan kesibukan melalui kegiatan positif, berolahraga, dan memperluas interaksi sosial secara langsung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa remaja mampu menerapkan strategi coping yang adaptif untuk mengurangi dampak loneliness yang berkaitan dengan penggunaan TikTok serta meningkatkan kualitas hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.