Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

BINA’ AL-HAWIYYAH AD-DINIYYAH ‘ABRA AL-‘ARABIYYAH FI MA‘HAD AL-JAMI‘AH BIJAMI‘AT SYARIF HIDAYATULLAH AL-ISLAMIYYAH AL-HUKUMIYYAH: DIRASAH TAHLILIYYAH FI AL-LISANIYYAT AL-HAWIYYATIYYAH Inayatur Rosyidah; Gufron Gufron; Mohamad Rofik Fitrotulloh
Afshaha: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 5, No 1 (2026): Afshaha: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/afshaha.v5i1.41033

Abstract

This study examines the increasing institutional use of Arabic in Indonesian Islamic higher education and its role beyond administrative regulation. Although Arabic is commonly regarded as a marker of religious authority, its function in shaping students’ identities within institutional contexts has received limited scholarly attention. This study aims to analyze how Arabic language practices at Ma’had Al-Jami‘ah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, contribute to the construction of students’ religious–academic identities. Using a descriptive qualitative approach with interpretative analysis within the framework of identity linguistics, this study investigates institutional discourse, everyday linguistic interactions, and symbolic terminology employed in the ma’had environment. Data were collected through non-participatory observation, documentation, and field notes, and analyzed by identifying identity-related linguistic patterns in official announcements, instructional discourse, and daily communication. The findings indicate that institutionalized Arabic terms such as murabbi, ta‘lim, and halaqah function not only as administrative labels but also as linguistic markers that shape normative roles and value orientations within the ma’had structure. At the same time, differences between institutional discourse and students’ interpretations suggest that identity formation occurs through continuous negotiation rather than one-directional institutional control. Thus, Arabic operates both as a medium for transmitting institutional values and as a space in which religious–academic identity is dynamically constructed.
Perlawanan Kultural Dalam Lagu Sawf Nabqa Hona: Identitas Palestina dalam Perspektif Dekolonisasi Poskolonial Frantz Fanon Bima Sakti; Muhamad Amin; Gufron Gufron; Muhammad Nur; Muhammad Syarif Hidayatullah
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.114993

Abstract

Musik telah menjadi instrumen penting yang tidak hanya mendukung narasi alternatif dalam melawan upaya sistematis terhadap resistensi kebudayaan. Fenomena ini dapat ditemukan dalam gerakan melawan kolonialisme Zionis yang bertujuan menghapus identitas budaya Palestina. Gerakan tersebut juga  berkontribusi dalam memperkuat solidaritas kolektif dan menyuarakan harapan akan pembebasan. Penelitian ini membahas resistensi budaya yang tertanam dalam konflik Palestina-Israel, dengan fokus pada lagu Sawf Nabqa Huna sebagai medium perlawanan simbolis dan identitas. Penelitian ini enggunakan metode kualitatif melalui kerangka analisis wacana kritis untuk mengkaji lirik lagu Sawf Nabqa Huna dalam konteks kondisi sosial�politik Palestina. Data primer meliputi: lirik lagu beserta terjemahannya, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akademik mengenai teori pascakolonial dan pemikiran Fanon. Analisis data dilakukan melalui model Miles dan Huberman yang mencakup seluruh tahapan, meliputi: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu tidak hanya bernilai estetis, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen dekolonisasi yang menegaskan identitas, martabat, dan pengalaman kolektif rakyat Palestina. Lebih lanjut, ekspresi musik dipahami sebagai ranah perjuangan multidimensional yang bersifat politis, epistemologis, kultural, dan spiritual, yang melampaui ranah militer. Oleh karena itu, musik memainkan peran strategis yang penting dalam menyuarakan narasi alternatif, memperkuat ketahanan kolektif, dan merekonstruksi identitas autentik masyarakat Palestina di bawah pendudukan saat ini.
Perlawanan Kultural Dalam Lagu Sawf Nabqa Hona: Identitas Palestina dalam Perspektif Dekolonisasi Poskolonial Frantz Fanon Bima Sakti; Muhamad Amin; Gufron Gufron; Muhammad Nur; Muhammad Syarif Hidayatullah
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.114993

Abstract

Musik telah menjadi instrumen penting yang tidak hanya mendukung narasi alternatif dalam melawan upaya sistematis terhadap resistensi kebudayaan. Fenomena ini dapat ditemukan dalam gerakan melawan kolonialisme Zionis yang bertujuan menghapus identitas budaya Palestina. Gerakan tersebut juga  berkontribusi dalam memperkuat solidaritas kolektif dan menyuarakan harapan akan pembebasan. Penelitian ini membahas resistensi budaya yang tertanam dalam konflik Palestina-Israel, dengan fokus pada lagu Sawf Nabqa Huna sebagai medium perlawanan simbolis dan identitas. Penelitian ini enggunakan metode kualitatif melalui kerangka analisis wacana kritis untuk mengkaji lirik lagu Sawf Nabqa Huna dalam konteks kondisi sosial�politik Palestina. Data primer meliputi: lirik lagu beserta terjemahannya, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akademik mengenai teori pascakolonial dan pemikiran Fanon. Analisis data dilakukan melalui model Miles dan Huberman yang mencakup seluruh tahapan, meliputi: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu tidak hanya bernilai estetis, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen dekolonisasi yang menegaskan identitas, martabat, dan pengalaman kolektif rakyat Palestina. Lebih lanjut, ekspresi musik dipahami sebagai ranah perjuangan multidimensional yang bersifat politis, epistemologis, kultural, dan spiritual, yang melampaui ranah militer. Oleh karena itu, musik memainkan peran strategis yang penting dalam menyuarakan narasi alternatif, memperkuat ketahanan kolektif, dan merekonstruksi identitas autentik masyarakat Palestina di bawah pendudukan saat ini.