Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HERBALOGI DALAM AL-QUR’AN, SEBUAH ANALISIS DALAM TAFSIR TEMATIK Raden Ayu Erika Septiana; Raden Ayu Ritawati
El-Mubarak: Islamic Studies Journal Vol. 1 No. 1 (2024): El-Mubarak - Islamic Studies Journal
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/emisja.v1i1.78

Abstract

Kesehatan adalah sesuatu yang wajib ada dalam tubuh seorang manusia. Kesempurnaan hidupnya harus didukung oleh Kesehatan yang paripurna. Tetapi dalam perjalanannya, manusia dihadapkan dengan ujian penyakit yang membuatnya harus berusaha mengentaskan permasalahannya agar kehidupan dapat berlanjut. Solusi nyata dari upaya menjaga Kesehatan ini adalah melalui obat-obatan. Dalam Islam pembahasan mengenai pengobatan bukanlah hal baru. Namun dalam kehidupan beragama menjaga diri dalam kondisi selalu sehat adalah ibadah. Memanfaatkan tetumbuhan dan buah yang Allah Swt sebarkan, plus menggunakannya untuk menjaga kesehatan, adalah gerbang munculnya ide-ide tentang herba. Oleh karena itu, kemunculan ilmu herbal dalam Islam bukan sesuatu yang mengejutkan. Al-Qur’an sendiri berbicara mengenai berbagai tanaman yang memiliki kandungan yang baik untuk Kesehatan, bahkan buah dan tanaman itu dikonsumsi sampai ke surga waktu akhirat nanti. Kabar ini dapat dilihat dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Adalah Bawang Merah, bawang putih, Jahe, Kurma dan buah Delima, disebut sebagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan herbal. Mereka memiliki kandungan nutrisi yang tepat untuk digunakan sebagai obat, yang menjadi jalan penyembuh untuk penyakit-penyakit tertentu. Disamping itu, petunjuk lainnya diperoleh dari berbagai riwayat yang disampaikan para sahabat mengenai kebiasaan Rasulullah SAW dalam mengkonsumsi makan sehat tersebut. Pada masa modern ini, penelitian ilmiah juga turut membuktikan keberadaan herbal yangs menjadi alat bantu penyembuh berbagai penyakit yang berkembang di masyarakat.
MAKNA HUJAN SEBAGAI SARANA PENYEMBUHAN DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS TAFSIR AL-AZHAR TERHADAP QS. AL-ANFAL AYAT 11 Noni Melinda; Kusnadi; Kamaruddin; Raden Ayu Erika Septiana
Journal of Multidiscipline and Equality Vol. 3 No. 1 (2026): JME: Journal of Multidiscipline and Equality
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/jme.v3i1.856

Abstract

Hujan merupakan salah satu fenomena alam yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan manusia. Selain sebagai sumber kehidupan, hujan dalam konteks tertentu juga digambarkan sebagai bagian dari pertolongan Allah kepada manusia. Salah satu ayat yang memperlihatkan fungsi tersebut adalah QS. Al-Anfal ayat 11. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menurunkan air hujan untuk menyucikan kaum Muslimin, menghilangkan gangguan setan, menguatkan hati, dan memperteguh kaki. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna hujan dalam QS. Al-Anfal ayat 11 berdasarkan penafsiran Hamka dalam Tafsir Al-Azhar serta mengkaji relevansinya dengan konsep penyembuhan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber utama penelitian adalah Al-Qur’an dan Tafsir Al-Azhar karya Hamka, sedangkan sumber pendukung berasal dari buku, jurnal, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tafsir, hujan, kesehatan, dan hubungan Al-Qur’an dengan kehidupan manusia. Analisis dilakukan dengan metode tafsir tahlili, yaitu mengkaji ayat berdasarkan konteks, makna kebahasaan, hubungan antarayat, dan kandungan penafsirannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan dalam QS. Al-Anfal ayat 11 memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar fenomena alam. Dalam penafsiran Hamka, hujan merupakan bagian dari pertolongan Allah yang berfungsi dalam aspek kebersihan fisik, ketenangan batin, penguatan hati, serta penguatan kondisi fisik kaum Muslimin. Oleh karena itu, istilah “penyembuhan” dalam penelitian ini lebih tepat dipahami secara integratif, yaitu mencakup dimensi fisik, psikologis, dan spiritual, bukan sebagai klaim bahwa air hujan merupakan obat medis bagi penyakit tertentu.
AKTUALISASI HADIS RISYWAH DALAM MASYARAKAT DESA SUKA CINTA KECAMATAN MUARA KUANG KABUPATEN OGAN ILIR: STUDI LIVING HADIS Wina Artika; Uswatun Hasanah; Hedhri Nadhiran; Raden Ayu Erika Septiana
El-Mubarak: Islamic Studies Journal Vol. 3 No. 1 (2026): El-Mubarak - Islamic Studies Journal
Publisher : CV. Cendekiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/emisja.v3i1.855

Abstract

Risywah atau suap merupakan praktik pemberian sesuatu kepada pihak tertentu dengan tujuan memperoleh keuntungan atau memengaruhi suatu keputusan. Dalam perspektif hadis, praktik risywah merupakan perbuatan yang dilarang, bahkan Rasulullah SAW melaknat pemberi, penerima, dan perantara suap. Namun, dalam kehidupan masyarakat, praktik tersebut masih ditemukan dan pada kondisi tertentu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat Desa Suka Cinta Kecamatan Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir terhadap hadis larangan risywah serta mengetahui aktualisasi hadis tersebut dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan pendekatan living hadis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat desa, tokoh politik, dan warga Desa Suka Cinta yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan teori verstehen untuk memahami makna subjektif yang melatarbelakangi tindakan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian masyarakat telah mengetahui dan memahami hadis larangan risywah, sedangkan sebagian lainnya belum mengetahuinya secara memadai. Meskipun demikian, pemahaman tersebut belum sepenuhnya teraktualisasi dalam perilaku. Sebagian masyarakat tetap menerima pemberian berupa uang atau barang menjelang pemilu dengan alasan pemberian tersebut dianggap sebagai rezeki, bentuk penghargaan, pertolongan sosial, atau dapat diterima selama tidak disertai permintaan secara langsung. Faktor kebiasaan, kondisi ekonomi, pemahaman keagamaan, dan lingkungan sosial turut memengaruhi penerimaan terhadap praktik tersebut. Dengan demikian, nilai hadis larangan risywah belum sepenuhnya hidup dalam praktik sosial masyarakat Desa Suka Cinta.