Annisa Darma Yanti
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI MA’ANTAU DALAM PERNIKAHAN MELAYU OCU: Legitimasi Sosial dan Integrasi Nilai Islam Yossi Adila; Khotimah Khotimah; Muhammad Yasir; Annisa Darma Yanti
Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies
Publisher : Institute for Southeats Asian Islamic Studies (ISAIS)Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/nusantara.v22i1.39414

Abstract

Penelitian ini mengkaji tradisi ma’antau dalam pernikahan Melayu Ocu sebagai bentuk legitimasi sosial sekaligus manifestasi integrasi antara adat dan nilai-nilai Islam. Tradisi ma’antau merupakan praktik adat yang mengatur bahwa pasangan yang telah melangsungkan akad nikah belum diperkenankan hidup serumah sebelum prosesi adat dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan tradisi ma’antau serta mengungkap makna sosial dan religius yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui proses reduksi, kategorisasi, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ma’antau berfungsi sebagai mekanisme legitimasi sosial yang menandai sahnya pasangan pengantin untuk memulai kehidupan rumah tangga secara penuh dalam perspektif adat. Selain itu, tradisi ini mencerminkan integrasi antara adat dan ajaran Islam yang tidak bersifat kontradiktif, melainkan saling melengkapi. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi tanggung jawab, kesabaran, penghormatan terhadap orang tua dan tetua adat, silaturahmi, serta religiusitas. Dengan demikian, tradisi ma’antau tidak hanya berperan sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai sosial dan keagamaan yang berkontribusi dalam menjaga keharmonisan keluarga dan keberlangsungan identitas budaya masyarakat Melayu Ocu.
THE GLORY OF A TEACHER IN THE PERSPECTIVE OF IMAM AL-GHAZALI Annisa Darma Yanti; Ellya Roza; Eva Dewi; Mohamad Aso Samsudin
Edupedia : Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam Vol. 8 No. 2 (2024): Edupedia: Jurnal Studi Pendidikan dan Pedagogi Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/edupedia.v8i2.4044

Abstract

The condition of Indonesian society lately is very complex in the field of education so that there are many brawls between students, undisciplined, dishonest, lazy, various bad behaviors that appear among the younger generation, plus low achievement, creativity and innovation. On the other hand, the very tough future challenges require this nation to remain enthusiastic, while being able to compete better in this global era. In this case, the role of the teacher is indispensable as a person in charge of educating and teaching in various scientific aspects. This research is a type of library research. What is called library research or often also called library studies, is a series of activities using library data collection methods, reading and recording and processing research materials. This research uses a qualitative approach to describe the problems and research focus. After the researcher collects a number of data related to the theme and discussion in this study, the researcher immediately starts the message of analyzing the data. The analysis technique used is the Content Analysis and Descriptive Analytic method. In this process, the first thing to do is classify the data. The teacher according to Imam al-Ghazali is someone who works to perfect, purify and purify and guide his students to get closer to God. He also said that from one point of view, teaching knowledge is an act of worship to Allah Ta'ala and from another point of view it is the duty of man to be the khalifah of Allah. In doing so, he has become the most honorable of the khalifs of Allah.