Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LONG CASE SKIZOFRENIA PARANOID : LAPORAN KASUS Sobiyanto, Mohammad Nuh; Tadjudin, Noer Saelan; Frijanto, Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.36915

Abstract

Salah satu dari 15 penyebab utama morbiditas di seluruh dunia adalah skizofrenia, penyakit ini dikarakteristikkan dengan kumpulan gejala seperti halusinasi, waham, gangguan kemampuan kognitif, dan gangguan perilaku. Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kejadian skizofrenia, faktor risiko utama ialah faktor genetik dan psikososial. Kelainan neurotransmitter diotak merupakan patofisiologi utama yang mendasari terjadinya skizofrenia. Sangat penting untuk memahami penyakit ini agar diagnosa dapat ditegakkan sedini mungkin sehingga dapat diberikan penatalaksanaan yang sesuai. Disajikan laporan kasus pada laki-laki berusia 44 tahun dengan keluhan mengamuk. Pasien sudah pernah didiagnosa dengan skizofrenia paranoid sejak 22 tahun lalu. Ibu pasien juga memiliki keluhan serupa seperti pasien. Sejak 2013 pasien sudah jarang mengonsumsi obatnya dan keluhan semakin parah. Laporan kasus ini membahas ketiga kalinya pasien mendapatkan perawatan inap di RSJ Soeharto Heerdjan. Pemeriksaan status mental didapatkan perawatan diri dan kebersihan diri pasien kurang baik. Mood hipotim dengan afek tumpul. Terdapat gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik tipe phonema commanding dan commenting. Didapatkan bentuk pikir non realistik, arus pikir lancar, dan koheren, namun pasien sesekali mengalami blocking. Isi pikir didapatkan waham kendali (delution of control). Konsentrasi dan perhatian kurang baik. Tilikan pasien berada pada derajat 2, dimana pasien terkadang memahami bahwa dirinya sakit, namun terkadang menyangkal apabila dirinya sakit (ambivalensi).
Terapi Budaya: Putus Pengobatan pada Skizofrenia Paranoid Ulviena, Lulu; Frijanto, Agung; Agustina, Citra Fitri
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 2 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.052.10

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis dengan gejala positif, negatif, dan kognitif, dengan tipe paranoid paling sering dijumpai. Kekambuhan dialami sekitar 80% pasien, terutama akibat penghentian obat. Dilaporkan kasus pria 25 tahun dengan riwayat skizofrenia paranoid yang mengalami kekambuhan setelah 1 tahun putus obat. Gejala berupa halusinasi auditorik-visual, waham kejar dan pengendalian, perubahan perilaku, serta peniruan tokoh. Diagnosis ditegakkan sebagai F20.0 Skizofrenia Paranoid dengan GAF 51–60. Terapi diberikan risperidone 3 mg dua kali sehari serta edukasi kepatuhan. Diskusi menekankan bahwa kekambuhan umumnya dipicu putus obat, sehingga kepatuhan merupakan faktor kunci dalam pencegahan relaps. Optimalisasi terapi memerlukan kombinasi antipsikotik, intervensi psikososial, dan dukungan keluarga. Kasus ini menegaskan pentingnya terapi jangka panjang dan edukasi berkelanjutan untuk mempertahankan perbaikan gejala serta kualitas hidup pasien. Selain itu, terapi memerlukan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan lingkungan budaya.