Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Penundaan Pengelolaan Sampel Serum Terhadap Hasil Pemeriksaan Kadar Elektrolit Marsudi, La Ode; Aminuddin, Muhammad Fahmi; Harianja, Edison; Agustian, Muhammad
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v4i2.1652

Abstract

Laboratorium klinik sangat penting untuk menentukan keseimbangan elektrolit tubuh. Selama tahap pra analitik, pengendalian harus dilakukan untuk memastikan bahwa spesimen yang diterima benar dan memenuhi syarat. Tahap ini bertanggung jawab atas 60-70% kesalahan operasi di laboratorium klinik. Keterlambatan pemeriksaan sampel serum untuk pemeriksaan akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu penundaan sampel serum terhadap hasil pemeriksaan kadar elektrolit (Na+, K+, Cl-). Metode yang digunkana pada penelitian ini untuk pemeriksaan kadar elektolit yaitu metode Ion Selective Electroda (ISE) menggunakan alat AVL 9180 Electrolyte Analyzer. Hasil pemeriksaan diperoleh 25 sampel serum yang diperlakukan dengan tiga perlakuan, yaitu segera diperiksa, ditunda 120 menit dan ditundaan 150 menit. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa kadar Na+ pada sampel serum yang segera diperiksa rata-rata 133,40 mmol/L, pada sampel ditunda 120 menit rata-rata 133,56 mmol/L, dan pada sampel ditunda 150 menit rata-rata 133,80 mmol/L (p-value (0.966) > 0.05). Kadar K+ pada sampel serum yang segera diperiksa rata-rata 4,23 mmol/L, pada sampel ditunda 120 menit rata-rata 4,20 mmol/L, dan pada sampel ditunda 150 menit rata-rata 4,18 mmol/L (p-value (0.926) > 0.05). Kadar Cl- pada sampel serum yang segera diperiksa rata-rata 99,96 mmol/L, pada sampel ditunda 120 menit rata-rata 100,16 mmol/L, dan pada sampel ditunda 150 menit rata-rata 100,32 mmol/L (p-value (0.970) > 0.05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh waktu penundaan sampel serum yang segera diperiksa, ditunda 120 menit dan 150 menit terhadap hasil pemeriksaan kadar elektrolit (Na+, K+, Cl-).
Perubahan Tuturan Tokoh Alex Perazon dalam Novel Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori: Kajian Psikolinguistik Agustian, Muhammad; Emawati, Emawati
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 2 No. 8 (2026): Januari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v2i8.713

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan bahasa tokoh Alex Perazon dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan objek kajian berupa tuturan tokoh Alex dalam novel tersebut. Sampel penelitian terdiri atas sepuluh tuturan kalimat tokoh Alex, yang dibagi menjadi dua fase, yaitu lima tuturan sebelum peristiwa penculikan dan lima tuturan setelah peristiwa penculikan, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat terhadap teks novel. Variabel penelitian adalah perubahan bahasa tokoh, yang dioperasionalkan melalui perubahan pilihan leksikal, struktur kalimat, serta cara penyampaian tuturan yang dikaitkan dengan kondisi psikologis tokoh. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menginterpretasikan data berdasarkan perspektif psikolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan bahasa yang signifikan pada tuturan tokoh Alex sebelum dan sesudah peristiwa penculikan. Sebelum penculikan, tuturan Alex bersifat ekspresif dan komunikatif, sedangkan setelah penculikan tuturan menjadi lebih singkat, reflektif, dan sarat muatan emosional. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa perubahan bahasa tokoh mencerminkan dinamika proses psikologis yang dialaminya, sehingga bahasa dalam karya sastra dapat dipahami sebagai representasi kondisi kejiwaan tokoh.