Hariyanto, Gabriella Charis
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Playful Desire of Gandana Ensemble in the Deliberation of Sounds Listiowati, Nensi; Hariyanto, Gabriella Charis; Soukotta, Ferdy Karel
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v7n2.p226-239

Abstract

Gandana is an experimental sound ensemble formed by Jogja Disability Art with instrument maker Nanang Garuda. Gandana together with the instrument maker has the concept of sound deliberation. Sound deliberation is a responsive tone-by-tone improvisation that is played spontaneously. Inclusive development in various sectors, including arts in Indonesia, accommodates the artistic expression of artists with disabilities, such as Suluh Sumurup Art Fest 2023 and Biennale 2023. Various stages of experimentation were passed by Gandana and the instrument maker as a forum for creative sound deliberation. This article shows that sound deliberation is Gandana’s desire to play. The relevance between social identity and play desires is used to get recognition from other communities. Data was obtained through literature study, interviews, documentation, and observations at two locations, Suluh Sumurup Art Fest and Jogja Biennale 2023 Interview was conducted at Rumah Museum Garuda with six informants, including Nanang Garuda as the instrument maker and Gandana’s members. The data is divided into two categories, primary and secondary. This research applies inductive logic, where the exploration began through field studies, interviews, and observations. The data then got into the analysis stage to produce a systematic description of the findings. This research reveals that sound deliberation is a playful desire used by Gandana to unite the sense and soul of others, as well as build meditative nuances through the repetition of sounds.
Proses Induksi Emosi Oleh Musik (Kajian Literatur) Hariyanto, Gabriella Charis
Tonika: Jurnal Penelitian dan Pengkajian Seni Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/tonika.v7i2.802

Abstract

Musik merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Keberadaan musik bukan hanya ada pada aktivitas sehari-hari namun merupakan hasil pemikiran manusia. Musik memiliki berbagai fungsi. Manusia dapat merasakan fungsi musik karena berkaitan dengan emosi manusia. Berbagai penelitian membuktikan bahwa musik dapat menginduksi emosi. Proses induksi emosi oleh musik hingga kini masih diteliti melalui berbagai bidang seperti musikologi, psikologi dan neurosains. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana emosi diinduksi oleh musik melalui mekanisme psikologis. Mekanisme psikologis yang terlibat dalam induksi musik terhadap emosi terdiri dari (1) refleks batang otak, (2) pengkondisian evaluatif, (3), penularan emosional, (4) perumpamaan visual, (5) ingatan episodik, dan (6) ekspektasi musikal. Induksi emosi oleh musik juga memicu aktivitas dalam otak khususnya amigdala. Amigdala merupakan bagian dari sistem limbik yang mengatur emosi manusia. Proses induksi emosi oleh musik secara biologis dan psikologis saling berkaitan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan proses dan organ spesifik yang bekerja agar dapat mengetahui proses induksi emosi oleh musik secara mendalam. Music is an inseparable part of human life. The existence of music is not only in daily activities but is the result of human thought. Music has a variety of functions. Humans can feel the function of music because it is related to human emotions. Various studies prove that music can induce emotions. The process of induction of emotions by music is still being researched through various fields such as musicology, psychology and neuroscience. This article aims to explain how emotions are induced by music through psychological mechanisms. The psychological mechanisms involved in musical induction of emotions consist of (1) brainstem reflexes, (2) evaluative conditioning, (3), emotional contagion, (4) visual imagery, (5) episodic memories, and (6) musical expectancy. Induction of emotions by music also triggers activity in the brain, especially the amygdala. The amygdala is part of the limbic system that regulates human emotions. The process of induction of emotions by music is biologically and psychologically interrelated. Further research is needed to explain the specific processes and organs that work in order to understand the process of induction of emotions by music in depth.
Proses Induksi Emosi Oleh Musik (Kajian Literatur) Hariyanto, Gabriella Charis
Tonika: Jurnal Penelitian dan Pengkajian Seni Vol. 7 No. 2 (2024): Volume 7 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/tonika.v7i2.802

Abstract

Musik merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Keberadaan musik bukan hanya ada pada aktivitas sehari-hari namun merupakan hasil pemikiran manusia. Musik memiliki berbagai fungsi. Manusia dapat merasakan fungsi musik karena berkaitan dengan emosi manusia. Berbagai penelitian membuktikan bahwa musik dapat menginduksi emosi. Proses induksi emosi oleh musik hingga kini masih diteliti melalui berbagai bidang seperti musikologi, psikologi dan neurosains. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana emosi diinduksi oleh musik melalui mekanisme psikologis. Mekanisme psikologis yang terlibat dalam induksi musik terhadap emosi terdiri dari (1) refleks batang otak, (2) pengkondisian evaluatif, (3), penularan emosional, (4) perumpamaan visual, (5) ingatan episodik, dan (6) ekspektasi musikal. Induksi emosi oleh musik juga memicu aktivitas dalam otak khususnya amigdala. Amigdala merupakan bagian dari sistem limbik yang mengatur emosi manusia. Proses induksi emosi oleh musik secara biologis dan psikologis saling berkaitan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan proses dan organ spesifik yang bekerja agar dapat mengetahui proses induksi emosi oleh musik secara mendalam. Music is an inseparable part of human life. The existence of music is not only in daily activities but is the result of human thought. Music has a variety of functions. Humans can feel the function of music because it is related to human emotions. Various studies prove that music can induce emotions. The process of induction of emotions by music is still being researched through various fields such as musicology, psychology and neuroscience. This article aims to explain how emotions are induced by music through psychological mechanisms. The psychological mechanisms involved in musical induction of emotions consist of (1) brainstem reflexes, (2) evaluative conditioning, (3), emotional contagion, (4) visual imagery, (5) episodic memories, and (6) musical expectancy. Induction of emotions by music also triggers activity in the brain, especially the amygdala. The amygdala is part of the limbic system that regulates human emotions. The process of induction of emotions by music is biologically and psychologically interrelated. Further research is needed to explain the specific processes and organs that work in order to understand the process of induction of emotions by music in depth.
“Duka Yang Tersembunyi” Komposisi Musik Berdasarkan Kisah Yakub dan Rahel Untuk Orkestra Hariyanto, Gabriella Charis
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 2 No. 2 (2024): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v2i2.225

Abstract

Kisah Yakub dan Rahel merupakan salah satu kisah Alkitab yang seringkali dianggap romantis dan manis namun penulis menginterpretasikan kembali kisah ini dan menunjukkan sisi lain yakni kesedihan. Dengan interpretasi yang baru, kisah ini kemudian menjadi ide penciptaan karya musik program naratif, yakni karya musik berdasarkan narasi. “Duka Yang Tersembunyi” merupakan karya musik program untuk orkestra dengan penggambaran tokoh melalui instrumentasi. Penulis menggunakan Adonai Malakh scale untuk menggambarkan tradisi Israel pada zaman itu. Proses penciptaan karya ini dilakukan dengan menentukan judul karya, mengobservasi karya-karya lama dengan ide penciptaan sejenis, merancang konsep karya, membuat sketsa untuk masing-masing movement, mempelajari warna suara instrumen, dan menentukan instrumentasi. Hasil akhir dari karya ini adalah tiga movement yang menggambarkan suasana dan peristiwa yang berbeda. Karya ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk karya program naratif berdasarkan sebuah kisah.
REVITALISASI LAGU ANAK BERSAMA UNEN UNEN KLINIK MUSIK KELILING DI DESA GUNUNGMOJO Fitria, Annas; Kustap, Kustap; Nugroho, Titis Setyono Adi; Listiowati, Nensi; Hariyanto, Gabriella Charis; Nindyasmara, Ken Ruri; Ramadhani, Azzahra; Situmeang, Amos Christian
RESONA : Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Muhammadiyah Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35906/resona.v9i2.2690

Abstract

Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi digital membawa dampak signifikan terhadap pergeseran selera musik anak di Indonesia. Lagu anak yang semula berfungsi sebagai sarana edukasi, hiburan, dan pembentukan karakter mengalami kemunduran akibat paparan konten digital yang tidak terkendali. Anak-anak usia dini hingga sekolah dasar kini lebih familiar dengan lagu orang dewasa, seperti jedag-jedug, remix, dan Kpop dibandingkan lagu daerah maupun lagu anak yang sesuai dengan kebutuhan psikologisnya. Unen Unen Klinik Musik Keliling hadir sebagai komunitas pemberdayaan yang berfokus pada pengenalan dan penciptaan lagu anak bersama anak-anak di desa-desa Yogyakarta. Tujuan pelaksanaan program ini adalah untuk merancang modul pembelajaran yang kontekstual untuk klinik musik, merevitalisasi lagu-lagu anak, serta membangun ekosistem kesenian musik desa yang lebih holistik, aplikatif, dan berkelanjutan. Adapun pendekatan yang digunakan dalam pengabdian ini melalui beberapa tahap, yaitu tahap sosialisasi, pelatihan dan pendampingan, serta evaluasi. Hasil dari kegiatan ini anak-anak desa dapat memperoleh ruang untuk berkembang, meningkatkan potensi diri, dan mengaktualisasikan dirinya secara setara.Abstract. The rapid advancement of digital technology and information systems has substantially transformed childrens musical preferences in Indonesia. Childrens songs, which traditionally served as media for education, entertainment, and character development, have undergone a marked decline as a result of uncontrolled exposure to digital content. Children from early childhood to primary school age are now more familiar with adult-oriented music, e.g., jedag-jedug (upbeat electronic dance music), remixes, and K-pop, than with local or developmentally appropriate childrens songs that align with their psychological needs. Unen-unen Klinik Musik Keliling serves as a community-based empowerment initiative dedicated to reintroducing and collaboratively composing childrens songs along with the children in rural areas of Yogyakarta. The program aims to develop a contextualized learning module for the music clinic, revitalize childrens songs, and foster a more holistic, practical, and sustainable rural music ecosystem. This community service initiative was implemented through three stages: socialization, training and mentoring, and evaluation. The results indicate that the program provided rural children with expanded opportunities to grow, enhance their individual potentials, and meaningfully actualize themselves within an equitable artistic learning environment.
Analisis Melodi Lagu Anak Dalam Kerangka Penciptaan Lagu Hariyanto, Gabriella Charis
Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni Vol. 4 No. 1 (2026): Cantata Deo: Jurnal Musik dan Seni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jmcd.v4i1.665

Abstract

Lagu anak saat ini kurang diminati oleh anak-anak akibat dari perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan media sosial di kalangan anak. Anak-anak cenderung berminat pada lagu populer bertema dewasa. Perlu adanya upaya untuk memopulerkan kembali lagu anak, salah satunya dengan memproduksi lagu anak baru yang sesuai dengan karakteristiknya. Salah satu karakteristik lagu anak adalah memiliki melodi yang sederhana dan mudah diingat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mencari formula pembuatan melodi lagu anak yang sederhana dan mudah diingat melalui studi literaratur dan analisis terhadap lagu anak yang sudah ada. Hasil penelitian ini adalah komposer perlu mempertimbangkan dua hal dalam menciptakan melodi lagu anak yakni aspek psikologis dan aspek musikologis. Aspek psikologis menjelaskan bagaimana musik diproses dalam otak yakni melalui tiga tahap, (1) sensori, (2) persepsi, (3) kognisi. Familiaritas dapat mempermudah pendengar memproses musik. Aspek musikologis melalui teori Gesalt memberi pertimbangan untuk komposer tentang bagaimana merangkai nada yang mudah diingat.