Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UJI KADAR VITAMIN C DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI FRAKSI KULIT BUAH MELINJO (Gnetum gnemon L) Ibrahim, Kevvy Buana; Wardana, Fendi Yoga; Prasetiyo, Bagus Dadang; Puspitasari, Meyrika Dwi
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v16i1.2451

Abstract

Melinjo (Gnetum gnemon L) in Indonesia is widely used as a food ingredient but melinjo fruit peel is considered waste because there has been no effort to maximize its utilization and there has been no research details of the active compound content in it. Melinjo fruit peels are thought to have the potential to be a source of vitamin C and natural antioxidants that can suppress the activity of free radicals. The study aimed to determine the vitamin C content and antioxidant activity of melinjo fruit peel fraction. It was conducted from August to September 2023 at the Pharmacognosy and Chemistry Laboratory of ITSK RS DR. Soepraoen. Extraction using maceration method followed fractionation. Determination of vitamin C content using UV-Vis spectrophotometry, while determination of antioxidant activity using the DPPH method. The highest vitamin C content was 7.3483 μg/mL in ethanol fraction, followed by ethyl acetate 7.0285 μg/mL and n-hexane 3.6108 μg/mL. Antioxidant activity results with the highest IC50 value of 279.35 μg/mL in ethyl acetate fraction, followed by ethanol 333.98 μg/mL, and n-hexan 4077.31 μg/mL. Solvents with higher polarity can extract vitamin C compounds from simplisia more efficiently and semi-polar solvents can more effectively attract compounds that have antioxidant activity, the type of polarity of a solvent can affect the number and type of compounds to be extracted according to the polarity of compound. It is recommended that further research test the antioxidant active compounds of ethyl acetate fraction and other methods of testing the antioxidant activity melinjo fruit peel.
UJI ANTIBAKTERI FRAKSI DAUN CIPLUKAN (Physalis angulata L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Puspitasari, Meyrika Dwi; Wardana, Fendi Yoga; Widara, Ratih Tyas; Ibrahim, Kevvy Buana
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v16i1.2452

Abstract

Penyakit infeksi merupakan gangguan yang dapat menyebabkan atau menularkan penyakit. Pada 2019 diperkirakan 13,7 juta kematian berasal dari penyakit infeksi, 5 bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit infeksi adalah Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa. Ciplukan (Physalis angulata L.) diperkirakan dapat digunakan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini menguji aktivitas fraksi daun ciplukan terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian ini dilakukan pada Agustus - Oktober 2023 di Laboratorium Farmakognosi dan Laboratorium Mikrobiologi ITSK RS DR. Soepraoen. Penelitian ini merupakan kuantitatif eksperimental dengan sampel daun ciplukan yang dimaserasi kemudian dilanjutkan fraksinasi menggunakan n-heksana, etil asetat, dan etanol. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan kontrol negatif DMSO 50% dan kontrol positif kloramfenikol 30 μg. Aktivitas antibakteri ditandai dengan diameter zona bening pada sekitar cakram kemudian hasilnya dianalisis dengan One Way ANOVA. Hasil uji aktivitas antibakteri yang paling tinggi fraksi etanol 20% yaitu 8,4725 mm pada Staphylococcus aureus dan 11,6225 mm pada Escherichia coli. Pada fraksi n-heksana terhadap Escherichia coli tidak ditemukan aktivitas antibakteri. Berdasarkan hasil diketahui bahwa fraksi etanol konsentrasi 20% merupakan fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri paling efektif terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Berdasarkan uji One Way ANOVA pada setiap kelompok bakteri didapatkan perbedaan signifikan. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian yang sama namun menggunakan metode difusi sumuran.
EFEKTIVITAS DAUN KITOLOD (Isotoma longiflora) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR PADA MENCIT (Mus musculus) Anggyadinata, Frisma; Salmasfattah, Novyananda; Ardianto, Nanang; Ibrahim, Kevvy Buana
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v16i1.2472

Abstract

Luka bakar merupakan rusaknya jaringan, biasanya disebabkan beberapa faktor. Cara mengurangi resiko infeksi serta mencegah luka menjadi kronis yaitu mengobati luka secara tepat. Salah satu tumbuhan yang biasa digunakan dalam pengobatan tradisional adalah tanaman kitolod (Isotoma longiflora). ). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sediaan ekstrak etanol 96% daun kitolod (Isotoma longiflora) pada pemulihan luka bakar pada mencit jantan (Mus musculus). Penelitian dilakukan pada Agustus sampai September 2023 bertempat di Laboratorium Kimia, Farmakognosi dan Hewan ITSK RS DR. Soepraoen. Metode yang digunakan adalah ultrasonik dengan menggunakan sampel daun kitolod. Hasil menunjukkan percepatan penyembuhan luka bakar dalam uji One Way ANOVA dengan nilai signifikansi p=0,003 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada data diameter luka bakar, dengan hasil terbaik diameter terkecil pada kontrol positif sebesar 9,678 mm, diikuti kontrol negatif 12,477 mm, konsentrasi 10% 13,683 mm, kontrol 40% 16,237 mm, dan diameter terbesar pada kontrol 20% 16,280 mm.  Diketahui bahwa efektivitas salep ekstrak daun kitolod yang terbaik dalam proses penyembuhan luka bakar pada mencit adalah pada konsentrasi 10% dengan diameter luka bakar pada hari ke-14 sebesar 13,683 mm. Disarankan peneliti selanjutnya menguji efektivitas ekstrak daun kitolod menggunakan metode dan kosentrasi sediaan salep yang sama namun menempatkan hewan uji pada ruangan yang sesuai dengan ukuran mencit yang terkontrol suhu dan kelembaban lingkungannya.