Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perspektif Utilitas Teknologi Digital dalam Ruang-Ruang Kebudayaan Kasepuhan Ciptagelar Dibandingkan dengan Perspektif Ruang Dunia Konvensional Angesty, Chintya; Mukafi, Muhammad Hamdan
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v11i2.40029

Abstract

Masyarakat adat seringkali dikaitkan dengan ketakutan terhadap teknologi dengan pandangan bahwa mereka merupakan sebuah komunitas yang berperan sebagai tonggak utama pelestari tradisi dan adat istiadat. Ketakutan tersebut datang karena mereka khawatir dengan datangnya teknologi akan membuat mereka melupakan kewajibannya untuk melestarikan tradisi. Di sisi lain, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah berinovasi mengenai teknologi di lingkungan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis definisi teknologi sebagai budaya massa yang bergeser menjadi sebuah budaya yang justru dianggap adilihung bagi masyarakat adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan teori ruang Sarah Upstone dan relativisme budaya Franz Boas. Penelitian dilakukan melalui sistem wawancara terbuka, studi pustaka terhadap kajian literatur mengenai Ciptagelar, dan menyaksikan video dokumenter. Hasil dari penelitian ini terbukti bahwa perspektif manusia dalam ruang yang berbeda dapat mengubah suatu definisi atau indikator tertentu yang diyakini sebagai inovasi budaya dan reduplikasi budaya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman empirik dan linimasa yang tidak sama dalam mengenal perkembangan teknologi yang dianggap sebagai budaya massa. Ketidakterukuran indikator mengenai inovasi itu sendiri menjadi sebuah bukti bahwa budaya tidak dapat dikarakterisasi dengan hanya menggunakan sudut pandang satu dunia, misal dunia konvensional saja. Karena suatu kebudayaan harus dilihat menggunakan konteks kebudayaan yang tepat berdasarkan di mana ruang tersebut berada dan seperti apa karakteristiknya. 
Sengkarut kemiskinan masyarakat desa dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto Angesty, Chintya; Nurulhady, Eta Farmacelia; Waluyo, Sukarjo
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v7i1.914

Abstract

This research was carried out with the aim of analyzing (1) the structure of “Aib dan Nasib” with heuristic reding, (2) the village and its chaos in poverty according to Robert Chambers' view, and (3) the reasons why the village community experiences a chaotic life. This research was carried out using the literary sociology method with the help of the theory of poverty put forward by Robert Chambers and presented in a qualitative descriptive manner. This research is in the form of a literature study with the novel “Aib dan Nasib” as the main source or object of research. The results of this research prove that people in rural areas tend to experience poverty due to various factors such as proper poverty, helplessness, vulnerability in facing emergency situations, dependency, and alienation. People in villages also experience a messy life caused by the shackles of poverty that never escape. The tangled threads between events make their lives even more complicated because there is no way out that can be taken because of the limitations they have.
Perspektif Utilitas Teknologi Digital dalam Ruang-Ruang Kebudayaan Kasepuhan Ciptagelar Dibandingkan dengan Perspektif Ruang Dunia Konvensional Angesty, Chintya; Mukafi, Muhammad Hamdan
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v11i2.40029

Abstract

Masyarakat adat seringkali dikaitkan dengan ketakutan terhadap teknologi dengan pandangan bahwa mereka merupakan sebuah komunitas yang berperan sebagai tonggak utama pelestari tradisi dan adat istiadat. Ketakutan tersebut datang karena mereka khawatir dengan datangnya teknologi akan membuat mereka melupakan kewajibannya untuk melestarikan tradisi. Di sisi lain, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah berinovasi mengenai teknologi di lingkungan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis definisi teknologi sebagai budaya massa yang bergeser menjadi sebuah budaya yang justru dianggap adilihung bagi masyarakat adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan teori ruang Sarah Upstone dan relativisme budaya Franz Boas. Penelitian dilakukan melalui sistem wawancara terbuka, studi pustaka terhadap kajian literatur mengenai Ciptagelar, dan menyaksikan video dokumenter. Hasil dari penelitian ini terbukti bahwa perspektif manusia dalam ruang yang berbeda dapat mengubah suatu definisi atau indikator tertentu yang diyakini sebagai inovasi budaya dan reduplikasi budaya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman empirik dan linimasa yang tidak sama dalam mengenal perkembangan teknologi yang dianggap sebagai budaya massa. Ketidakterukuran indikator mengenai inovasi itu sendiri menjadi sebuah bukti bahwa budaya tidak dapat dikarakterisasi dengan hanya menggunakan sudut pandang satu dunia, misal dunia konvensional saja. Karena suatu kebudayaan harus dilihat menggunakan konteks kebudayaan yang tepat berdasarkan di mana ruang tersebut berada dan seperti apa karakteristiknya. 
Haunted spaces, failing myths: Spatial ecology and the collapse of environmental imagination in indonesian horror cinema Angesty, Chintya; Fauzi, Muhammad
Life and Death: Journal of Eschatology Vol. 3 No. 2: (January) 2026
Publisher : Institute for Advanced Science Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/lad.v3i2.2026.3110

Abstract

Background: The dystopian narrative that has long been used as a source of fear in Indonesian horror films has not been able to reduce the rate of environmental destruction. This phenomenon shows a gap between imagination and ecological awareness. This study attempts to address the failure of ecological myths through Indonesian horror film narratives in changing people's social behavior. Using Lefebvre's theory of the production of space, this study analyzes how haunted spaces are constructed as ideological arenas that reinforce fear without producing ecological reflection. This study aims to reveal how Indonesian horror cinema produces ecological spaces that are trapped in mysticism, and offers a new reading of the failure of Indonesian visual culture in building a critical ecological subjectivity. Methods: This study employs a qualitative design. Data were drawn from secondary sources in the form of Indonesian horror films released over the past two decades. Analysis involved repeated viewing and systematic note taking, with interpretations cross validated against ancillary sources. Findings: Analysis of three Indonesian ecological horror films, namely Angkerbatu (2007), Eva: Pendakian Terakhir (2025), and Kereta Berdarah (2024) shows that ecological space is represented in symbolic and mystical rather than reflective terms. Environmental issues are reduced to religious morality and local myth, and the relationship between humans and nature remains hierarchical and anthropocentric, reinforcing ritual ecology instead of encouraging a post-fear ecology. Indonesian cinematic space functions less as lived space and more as perceived space governed by the logics of industry, myth, and religion. Conclusion: These findings indicate that the failure to construct an ecological imagination is not merely a cinematic shortcoming but a reflection of social structures that struggle to envision nature beyond sacred or supernatural frames. Novelty/Originality of this article: The article advances a new reading of Indonesian horror cinema by integrating spatial production theory with cultural ecology and by introducing ritual ecology as a form of stagnant ecological consciousness. In doing so, it charts a new direction for ecocriticism and Southeast Asian cinema studies, showing how myth and fear configure an environmental imagination that resists reflection.