Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Perlindungan Hukum Bagi Guru Terhadap Tindak Pidana Penganiayaan Yang Dilakukan Siswa Soli Deo Glory O.Wagiu; Jocefina B. Tendean; R. Rigen Sumilat; Johanis L.S.S. Polii; Rinny Ante
Journal of Mandalika Literature Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v6i2.4587

Abstract

The teacher is an important component in the teaching and learning process. A teacher participates in efforts to form potential human resources in the field of development, and a teacher is a person who has authority and responsibility to guide and develop students. Teachers must also avoid punishing students by hitting or carrying out actions that could hurt students. This view of discipline is apparently not well accepted by students, which makes the relationship between students and teachers relatively worse along with the decline in the culture of politeness and the lack of success in character in the world of education. Understanding that bad character can influence students behavior and make them more likely to fight back or commit disgraceful actions that cross the line, this happens based on students who feel unhappy when receiving a reprimand whether it’s because the are embarrassed, feel unfair, or feel less appreciated and understandable. That is the reason why students are starting to carry out acts of resistance, ranging from ordinary protest to the most serious cases such as criminalization or criminal acts of abuse. So the research problem can be formulated as follows: 1. What are the legal regulations for teachers regarding criminal acts of abuse committed by students? 2. What are the legal protection measures for teachers against criminal acts of abuse committed by students. In writing this thesis, the author used qualitative methods with a normative juridical approach. Regulations regarding legal protection for teachers are often not in line with child protections law, making laws for teachers tend to be weakened. However, all government efforts are also supported by PGRI, the police and the courts so the protection for teachers from acts of students abuse can be carried out according to applicable procedures.
Penyalahgunaan Narkotika Serta Upaya Pencegahan dan Penanggulangannya Nita Ganap; Stella Maindoka; Johanis L. S. S. Polii; Rinny Ante; Grenaldo Ginting
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 6 No. 8 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol6iss8pp3327-3335

Abstract

How does the law relate to drug abuse? How does North Sulawesi handle and combat drugs? Research, also known as research, is a very educationally beneficial search effort because it teaches us to always be aware that we still do not know much about this world. What we search for, find, and know may not be completely true, because it still needs to be tested again. The method is the main way to achieve a goal, to achieve the expected level of accuracy, quantity, and type. Secondary data sources, consisting of primary, secondary, and tertiary legal materials, are used as normative legal research methods. To tighten supervision of the distribution and use of drugs, several laws have been made, such as Law No. 35 of 2009 concerning Narcotics. For users who qualify as victims of addiction, the justice system is expected to act not only repressively but also rehabilitatively. The use of legal sanctions together with a rehabilitation approach is considered more effective in combating the chain of drug abuse. In legal efforts to prevent and stop drug abuse, there are primary prevention, secondary prevention, and tertiary prevention. All people and levels of society, such as parents, teachers, and lecturers at schools and the entire community, can carry out prevention and control in various ways. Efforts to control drug abuse must be directed at prevention, strict but fair law enforcement, and recovery for users through rehabilitation.
KAJIAN HUKUM KEBERADAAN ORGAN PENGAWAS DALAM MENCEGAH PENYALAHGUNAAN FUNGSI DAN TUJUAN YAYASAN Joke Punuhsingon; Herts Taunaumang; Jocefina Adelleyda Tendean; Nopesius Bawembang; Rinny Ante
Paulus Law Journal Vol. 5 No. 1 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia Paulus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yayasan merupakan salah satu bentuk subyek hukum yang dibentuk bukan untuk tujuan mencari profit sebagaimana badan hukum lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dan tanggungjawab organ pengawas dalam mencegah penyalahgunaan fungsi dan tujuan Yayasan. Metode penelitian yang dipakai yakni penelitian hukum normatif atau lazim disebut dengan studi pustaka atau library research. Hasil penelitiannya dapat dikemukakan bahwa regulasi yang mengatur terkait dengan yayasan tersebut telah ditata dalam hukum Indonesia malahan sebelum dibentuknya atau diterbitkannya Undang-Undang Yayasan 16 Tahun 2001 jo Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 yang merupakan perubahan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001, yakni sumbernya berasal dari Yurisprudensi maupun dapat ditelusuri pada pasal-pasal di KUHPerdata atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pada pendirian yayasan harus lewat notaris yang akta pendiriannya itu diberikan kepada Kemenkumham lewat Sistem Administrasi Badan Hukum atau Sisminbakum. Undang-undang Yayasan sudah mengatur dengan tegas wewenang serta tanggung jawab bagi tiap organ yayasan sehingga bisa memperkecil ruang gerak terhadap mereka yang mau melakukan penyelewengan atau penyalahgunaan kewenangannya.
Aspek Hukum Pemberian Insentif Perpajakan bagi Investor di Kawasan Ekonomi Khusus: Studi di Provinsi Sulawesi Utara Joke Punuhsingon; Rinny Ante; Jocefina Adelleyda Tendean
Journal Scientific of Mandalika (JSM) e-ISSN 2745-5955 | p-ISSN 2809-0543 Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/10.36312/vol6iss1pp99-108

Abstract

This study aims to analyze the legal aspects of tax incentive policies for investors in the Special Economic Zone (SEZ) of North Sulawesi, Indonesia. Using a normative juridical approach combined with qualitative analysis, the research examines the harmonization of tax regulations between the central and local governments, the effectiveness of legal supervision in implementing tax incentives, and the legal implications of non-compliance with tax incentive regulations. The findings indicate that the implementation of tax incentives in the North Sulawesi SEZ has shown significant growth. Still, challenges remain in terms of regulatory harmonization, institutional capacity, and coordination among stakeholders. The analysis based on Fiscal Law Theory, Legal Certainty Theory, and Distributive Justice Theory highlights the importance of harmonizing regulations, simplifying administrative procedures, and strengthening institutional capacity to ensure the effectiveness and equity of the tax incentive policy. The study recommends strategic measures to enhance the performance of tax incentives in the North Sulawesi SEZ, including strengthening the regulatory aspect, developing institutional capacity, and optimizing coordination and supervision. These recommendations aim to contribute to the more effective and sustainable implementation of tax incentives to promote regional economic growth.
Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Surat Keterangan Hak atas Tanah yang Sedang dalam Sengketa Sulpaedi Alim; Johanis L. S. S. Polii; Rinny Ante; Melissa A. J. Suoth
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i2.9740

Abstract

Pemalsuan surat keterangan hak atas tanah dalam konteks sengketa pertanahan merupakan fenomena yang tidak hanya mencerminkan pelanggaran hukum pidana, tetapi juga menunjukkan kelemahan struktural dalam sistem administrasi pertanahan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis pengaturan hukum pidana terhadap pemalsuan surat tanah serta menilai konstruksi pertanggungjawaban pidana pelaku dalam praktik peradilan. Fokus utama diarahkan pada analisis penerapan Pasal 263 KUHP dalam kaitannya dengan sengketa tanah, dengan studi kasus Putusan Nomor 35/Pid.B/2025/PN Mnd.Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus. Sumber data meliputi peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta doktrin hukum pidana dan agraria. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan menekankan pada konsistensi norma dan praktik penegakan hukum.Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Pasal 263 KUHP secara normatif cukup memadai untuk menjerat pelaku pemalsuan surat tanah, penerapannya dalam praktik masih menghadapi problem inkonsistensi. Aparat penegak hukum kerap mencampuradukkan ranah perdata dan pidana, sehingga pemalsuan surat dalam sengketa tanah sering direduksi menjadi sekadar konflik keperdataan. Pendekatan ini tidak hanya keliru secara doktrinal, tetapi juga berpotensi menciptakan impunitas bagi pelaku. Padahal, pemalsuan surat merupakan delik formil yang telah sempurna sejak perbuatan dilakukan, tanpa bergantung pada adanya kerugian nyata.Lebih lanjut, penelitian ini menegaskan bahwa sengketa tanah justru memperkuat unsur kesengajaan (dolus) dan menunjukkan adanya itikad buruk (bad faith), sehingga layak dipertimbangkan sebagai faktor pemberat dalam pemidanaan. Kegagalan dalam memposisikan pemalsuan surat sebagai kejahatan terhadap kepercayaan publik berdampak pada terganggunya kepastian hukum dan legitimasi sistem pertanahan.Dengan demikian, diperlukan penegasan paradigma bahwa pemalsuan surat tanah adalah tindak pidana yang berdiri sendiri, disertai harmonisasi antara hukum pidana dan administrasi pertanahan guna mencegah reproduksi praktik mafia tanah secara sistemik.
ANALISIS YURIDIS PENYELESAIAN PERKARA TIDAK HADIR TANPA IZIN MELALUI HUKUM DISIPLIN MILITER Wilbertus Wilbertus; Johanis L. S. S. Polii; Rinny Ante; Nita C. Ganap
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v4i2.9828

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara yuridis penyelesaian perkara Tidak Hadir Tanpa Izin (THTI) melalui saluran hukum disiplin militer dalam Putusan Pengadilan Militer II-09 Bandung Nomor 130-K/PM.II-09/AD/IX/2022. Permasalahan utama terletak pada adanya ketegangan normatif antara kualifikasi perbuatan sebagai tindak pidana militer dengan mekanisme penyelesaiannya yang dialihkan ke hukum disiplin militer. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan studi kasus, yang didukung oleh bahan hukum primer, sekunder, dan tersier.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim tidak menegasikan sifat pidana dari perbuatan THTI, melainkan menempatkan hukum pidana militer sebagai ultimum remedium. Hakim menggunakan diskresi yudisial secara terukur dengan mempertimbangkan aspek yuridis, sosiologis, dan filosofis, termasuk tingkat kesalahan, motif pelaku, serta kepentingan pembinaan prajurit. Pengalihan penyelesaian ke hukum disiplin militer bukan merupakan bentuk depenalisasi, tetapi merupakan pilihan mekanisme pertanggungjawaban yang lebih proporsional dalam kerangka sistem hukum militer yang bersifat komplementer.Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut mampu memperkuat fungsi pembinaan dalam sistem militer tanpa mengabaikan prinsip legalitas dan kepastian hukum. Namun demikian, tanpa pedoman yang jelas, praktik ini berpotensi menimbulkan inkonsistensi dan multi-tafsir dalam penegakan hukum militer. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kerangka normatif dan pedoman yudisial untuk memastikan bahwa penggunaan hukum disiplin tetap berada dalam batas-batas yang terukur, transparan, dan akuntabel. Penelitian ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara kepastian hukum, keadilan substantif, dan kemanfaatan dalam penegakan hukum militer di Indonesia.