Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Paparan AC terhadap Faktor Risiko Kejadian Dry Eye Syndrome pada Mahasiswa FK UMI Jannah, St.Raodatul; Rahmah, Marlyanti Nur; Utami, Dian Fahmi; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Namirah, Hanna Aulia
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 2 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i2.145

Abstract

Dry Eye Syndrome merupakan kondisi multifaktorial yang ditandai oleh ketidakstabilan lapisan air mata dan gejala ocular lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan Air Conditioner (AC) di ruang kelas dengan risiko terjadinya Dry Eye Syndrome (DES) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI). Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional dengan total 182 responden, yang terdiri dari 91 mahasiswa yang terpapar AC dan 91 mahasiswa yang tidak terpapar AC. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara paparan AC dengan prevalensi Dry Eye Syndrome (p=0,001), di mana mahasiswa yang terpapar AC di ruang kelas memiliki prevalensi yang lebih tinggi. Terdapat pula hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan dry eye syndrome (p=0,001), dimana jenis kelamin perempuan lebih banyak megalami dry eye syndrome karena dipengaruhi oleh perbedaan molekuler pada struktur mata, hormon, metabolisme, gaya hidup, dan aktivitas fisik. Selain itu, terdapat pula hubungan signifikan antara tingkatan angkatan dengan kejadian dry eye syndrome (p=0,014), dimana angkatan 2021 lebih banyak mengalami dry eye syndrome karena dipengaruhi oleh lamanya terpapar AC, faktor usia, dan hormon.
Hubungan Paparan AC terhadap Faktor Risiko Kejadian Dry Eye Syndrome pada Mahasiswa FK UMI Jannah, St.Raodatul; Rahmah, Marlyanti Nur; Utami, Dian Fahmi; Kusumawardhani, Sri Irmandha; Namirah, Hanna Aulia
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 2 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i2.145

Abstract

Dry Eye Syndrome merupakan kondisi multifaktorial yang ditandai oleh ketidakstabilan lapisan air mata dan gejala ocular lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan Air Conditioner (AC) di ruang kelas dengan risiko terjadinya Dry Eye Syndrome (DES) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI). Penelitian ini menggunakan desain cross- sectional dengan total 182 responden, yang terdiri dari 91 mahasiswa yang terpapar AC dan 91 mahasiswa yang tidak terpapar AC. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara paparan AC dengan prevalensi Dry Eye Syndrome (p=0,001), di mana mahasiswa yang terpapar AC di ruang kelas memiliki prevalensi yang lebih tinggi. Terdapat pula hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan dry eye syndrome (p=0,001), dimana jenis kelamin perempuan lebih banyak megalami dry eye syndrome karena dipengaruhi oleh perbedaan molekuler pada struktur mata, hormon, metabolisme, gaya hidup, dan aktivitas fisik. Selain itu, terdapat pula hubungan signifikan antara tingkatan angkatan dengan kejadian dry eye syndrome (p=0,014), dimana angkatan 2021 lebih banyak mengalami dry eye syndrome karena dipengaruhi oleh lamanya terpapar AC, faktor usia, dan hormon.
Pengaruh Gangguan Pendengaran Terhadap Konsentrasi Belajar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Angkatan 2022 Abwah, Ratih Nurfatihasari; Rahmah, Marlyanti Nur; Pratama, Ahmad Ardhani; Arifuddin, Andi Tenri Sanna; Aisyah, Windy Nurul
Health and Medical Journal Vol 7, No 3 (2025): HEME September 2025
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v7i3.1856

Abstract

Latar Belakang: Gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan global yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Mahasiswa kedokteran sebagai kelompok dengan beban akademik tinggi rentan mengalami gangguan konsentrasi apabila terdapat gangguan pada fungsi pendengaran. Tujuan: Mengetahui pengaruh gangguan pendengaran terhadap konsentrasi belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia angkatan 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel sebanyak 96 mahasiswa dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui pemeriksaan garpu tala (tes Rinne, Weber, Schwabach) dan kuesioner Student Learning Concentration Questionnaire (SLCQ-I). Data dianalisis dengan uji Chi Square (p < 0,05). Hasil: Sebagian besar mahasiswa dengan pendengaran normal memiliki konsentrasi tinggi (94,7%). Sementara itu, mahasiswa dengan gangguan pendengaran, baik konduktif maupun sensorineural, menunjukkan tingkat konsentrasi yang lebih rendah. Hasil uji Chi Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara gangguan pendengaran dan konsentrasi belajar (p = 0,001). Kesimpulan: Gangguan pendengaran berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi belajar mahasiswa. Diperlukan perhatian dan intervensi pendidikan yang inklusif serta dukungan kesehatan untuk mengoptimalkan potensi akademik mahasiswa dengan gangguan pendengaran.
CHARACTERISTICS OF RETINOPATHY OF PREMATURITY IN MAKASSAR BETWEEN JANUARY 2020 AND DECEMBER 2022: Poster Presentation - Observational Study - Ophthalmologist RAHMAH, MARLYANTI NUR; MUHIDDIN, HABIBAH S.
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 49 No S2 (2023): Supplement Edition
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/07z7ka16

Abstract

Introduction & Objectives : Introduction: Retinopathy of Prematurity (ROP) is one of the leading causes of irreversible visual impairment in infants, especially in premature infants. Preterm birth leads to incomplete development of retina that will cause ROP. ROP screening is an early strategy to prevent irreversible blindness in ROP. Objective: The purpose of this study was to describe the characteristics of ROP in Makassar between January 2020 and December 2022. Methods : A multi-center observational descriptive study at ten hospitals in Makassar. Results : The total patients in this study were 168 infants (336 eyes) included 53.25% male and 46.15% female. The incidence of ROP in Makassar between January 2020 and December 2022 was 14.87%. Most of the patients had history of preterm birth with gestational age ranged from 28 to 33 weeks and low birth weight less than 1500 gram in 50% patients. Majority of patients had history of oxygen therapy (77.98%), and other risk factors such as sepsis, twin birth, history of transfusion, or apnea. About 98.81% patients had bilateral ROP and 33.93% were diagnosed with stage 3 at first screening. Photocoagulation laser was done in 41 patients (24.40%). Conclusion : The ROP screening in Makassar had a good outcome in managing the premature infants, so they can be diagnosed and got treated earlier. A sustainable screening program is required to prevent the irreversible blindness due to ROP.