Suryanti, Suryanti
Department Of Plant Protection, Faculty Of Agriculture, Universitas Gadjah Mada, Jln. Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta 55281, Yogyakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penekanan Perkembangan Penyakit Bercak Ungu pada Bawang Merah oleh Cendawan Mikoriza Arbuskula Marlina Puspita Sari; Bambang Hadisutrisno; Suryanti Suryanti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 12 No 5 (2016)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.091 KB) | DOI: 10.14692/jfi.12.5.159

Abstract

Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) is known to improve the growth of shallot (Allium cepa var. aggregatum) and strengthen the resistance of plants toward disease infection.  This research aimed to find out the roles of AMF in suppressing the development of purple blotch disease caused by  Alternaria sp. on shallot in Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta.  Inoculation of AMF either on fertilization of N, P, K or without fertilization treatment resulted on higher plant height and number of leaves compared to those without AMF inoculation. The plant inoculated with AMF had lower purple blotch disease intensity and disease progression than control and fungicide treatment. The result showed that AMF, in addition to act as the bio-fertilizer, is a potential to be a biocontrol agent.
Ruang Pendingin Nol Energi untuk Pengelolaan Pascapanen Antraknosa pada Capsicum frutescens Nuzila Fitri Filaila; Suryanti Suryanti; Ani Widiastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.83-91

Abstract

Ruang Pendingin Nol Energi untuk Pengelolaan Pascapanen Antraknosa pada Capsicum frutescens Salah satu penyebab kehilangan hasil cabai pascapanen adalah penyakit antraknosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan ruang pendingin nol energi atau zero energy cool chamber (ZECC) dalam menekan keparahan penyakit antraknosa pada komoditi cabai rawit (Capsicum frustescens) serta memperpanjang daya simpan buah cabai. Penelitian dimulai dengan merancang dan membuat ZECC sebagai tempat penyimpanan cabai. Buah cabai diinokulasi Colletotrichum gloeosporioides dan tanpa inokulasi (kontrol) disimpan pada dua kondisi, yaitu di dalam ZECC dan tempat penyimpanan dengan suhu ruang. Pertumbuhan C. gloeosporioides mengalami penghambatan sebesar 40.48% setelah disimpan di dalam ZECC dibandingkan dengan pertumbuhannya pada suhu ruang. Penyimpanan cabai rawit di dalam ZECC mampu menekan keparahan penyakit antraknosa sebesar 56.2% pada hari ke-15, tidak memengaruhi kandungan vitamin C dan total padatan terlarut (TSS) serta mampu mengurangi susut bobot cabai selama penyimpanan. Berdasarkan uji organovisual dengan metode visual quality rating dan Hedonic sensory test, konsumen lebih menyukai cabai yang disimpan di dalam ZECC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan di dalam ZECC dapat memperpanjang umur simpan cabai rawit. Model tempat penyimpanan ini tidak menggunakan listrik atau bersifat zero energy sehingga dapat digunakan oleh petani berskala kecil. Ini adalah laporan pertama penggunaan ZECC untuk pengelolaan penyakit antraknosa pada cabai pascapanen di Indonesia.
Resistance of ten chili varieties againts Fusarium wilt diseases Ayu Lestiyani; Suryanti Suryanti; Arif Wibowo
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.3874

Abstract

Kendala utama dalam budidaya cabai salah satunya adalah penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxyporum. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui varietas cabai tahan terhadap penyakit layu Fusarium dilakukan dengan mengukur persentase tanaman sakit dan menentukan kriteria ketahanan. Sepuluh varietas cabai masing-masing adalah King chili, TM999, Red sable, Hot chili, Big chili, KB-2, Inko99, KB-1, HP 1072N dan Lado. Penelitian ini menggunakan isolat F. oxysporum dengan no isolate SMS4 dan umur cabai 1 bulan, pengamatan dilakukan setiap minggu selama 8 minggu dengan rancangan acak lengkap dan apabila beda nyata dilanjutkan uji DMRT 5%. Hasil uji tingkat ketahanan pada 10 varietas tanaman cabai menunjukkan bahwa King chili, TM999, Red sable dan Hot chili termasuk sangat rentan, Big chili dan KB-2 rentan; Inko99, KB-1 dan HP 1072N berkriteria moderat; seangkan Lado berkriteria tahan. Penelitian lebih lanjut yang dilakukan multi lokasi dan dalam beberapa musim dirasa sangat diperlukan.
Effects of relay intercropping model and application of biological agents on the growth and yield of hot pepper Nindy Sevirasari; Endang Sulistyaningsih; Budiastuti Kurniasih; Suryanti Suryanti; Arif Wibowo; Tri Joko
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2022): April
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ipas.69078

Abstract

Tiyung cultivar, the consumer preferences of hot pepper in Magelang Regency, is still low in productivity (7 ton.ha-1). This research aimed to determine the growth and yield of hot pepper planted in relay intercropping as affected by biological agent application as a technology to increase productivity. This research was arranged in a Factorial Randomized Complete Block Design with an intercropping pattern of hot pepper (two and three rows model). The second factor was the application of biological agents, consisting of Trichoderma asperellum, Bacillus velezensis B-27 and Arbuscular Mycorrhizal Fungi (with and without biological agents). The control was the monoculture of hot pepper without biological agent application. The data observed were analyzed using Analysis of Variance and followed by the Duncan's Multiple Range Test at α= 5 %. The results showed that the relay intercropping of hot pepper produced less numbers of branches and leaves.  It indicated more efficiency in the use of assimilates for the development of generative organs, thereby resulting in the high values fruits weight per plant, which were as high as those in monoculture. The productivity observed in relay intercropping was 12.93 ton.ha-1, which was 15.8 % higher than in monoculture. The application of biological agents significantly increased the stomatal density, the size of stomatal opening, the number of leaves, weight of fruits per plant and productivity of hot pepper. The productivity of plant applied with biological agents was 16.84 ton.ha-1, which was 86.50 % higher than that without biological agents application.
Effects of relay intercropping model and application of biological agents on the growth and yield of hot pepper Nindy Sevirasari; Endang Sulistyaningsih; Budiastuti Kurniasih; Suryanti Suryanti; Arif Wibowo; Tri Joko
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 7, No 1 (2022): April
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ipas.69078

Abstract

Tiyung cultivar, the consumer preferences of hot pepper in Magelang Regency, is still low in productivity (7 ton.ha-1). This research aimed to determine the growth and yield of hot pepper planted in relay intercropping as affected by biological agent application as a technology to increase productivity. This research was arranged in a Factorial Randomized Complete Block Design with an intercropping pattern of hot pepper (two and three rows model). The second factor was the application of biological agents, consisting of Trichoderma asperellum, Bacillus velezensis B-27 and Arbuscular Mycorrhizal Fungi (with and without biological agents). The control was the monoculture of hot pepper without biological agent application. The data observed were analyzed using Analysis of Variance and followed by the Duncan's Multiple Range Test at α= 5 %. The results showed that the relay intercropping of hot pepper produced less numbers of branches and leaves.  It indicated more efficiency in the use of assimilates for the development of generative organs, thereby resulting in the high values fruits weight per plant, which were as high as those in monoculture. The productivity observed in relay intercropping was 12.93 ton.ha-1, which was 15.8 % higher than in monoculture. The application of biological agents significantly increased the stomatal density, the size of stomatal opening, the number of leaves, weight of fruits per plant and productivity of hot pepper. The productivity of plant applied with biological agents was 16.84 ton.ha-1, which was 86.50 % higher than that without biological agents application.
Evaluasi Kompetisi Model Tumpang Gilir Cabai Rawit dengan Jagung dan Aplikasi Konsorsium Agens Hayati Nindy Sevirasari; Endang Sulistyaningsih; Budiastuti Kurniasih; Suryanti Suryanti; Arif Wibowo; Tri Joko
Vegetalika Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.101401

Abstract

Praktik budidaya yang intensif pada tumpang gilir antara cabai rawit–jagung perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui keunggulan lahan dan kompetisi di antara dua spesies yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai kompetisi dan keunggulan lahan dari model tanam tumpang gilir cabai rawit–jagung dan aplikasi agens hayati. Penelitian dilakukan di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia pada Mei 2019–Januari 2020. Penelitian menggunakan metode penelitian kuantitatif yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dua faktor; faktor pertama yaitu model tanam tumpang gilir (2 baris dan 3 baris cabai rawit) dan faktor kedua yaitu aplikasi agens hayati (dengan dan tanpa aplikasi agens hayati). Monokultur cabai dan jagung tanpa aplikasi agensi hayati merupakan kontrol. Data dianalisis menggunakan Analisis Varians dan Uji Lanjut Duncan's multiple range tests pada α = 5%. Tumpang gilir dinilai berdasarkan Nisbah Kesetaraan Lahan, Nisbah Kesetaraan Lahan berdasarkan Waktu, Agresivitas, Rasio Kompetisi, dan Kehilangan Hasil Aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model tanam 2 dan 3 baris cabai rawit pada pola tanam tumpang gilir cabai rawit dengan jagung dan pemberian agens hayati menghasilkan nilai Nisbah Kesetaraan Lahan dan Nisbah Kesetaraan Lahan Berdasarkan Waktu > 1. Cabai rawit memilki indeks Agresivitas dan Rasio Kompetisi yang lebih besar daripada jagung, namun memiliki nilai Kehilangan Hasil Aktual yang tinggi jika ditanam pada pola tumpang gilir tidak disertai pemberian agens hayati. Dari metode yang diterapkan pada penelitian ini, maka tumpang gilir cabai rawit dengan jagung model 2 baris dengan pemberian agens hayati direkomendasikan karena layak diterapkan dan menguntungkan untuk diusahakan terutama bagi pertanian skala kecil.