Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS GAYA BAHASA DAN MAKNA LIRIK LAGU DALAM ALBUM MERA LIDA Asraini, Asraini; Candrasari, Ratri; Mahsa, Masithah; Sari, Dewi Kumala
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jspm.v6i1.17711

Abstract

This research aims to describe the language style and meaning in the lyrics of the song on the album Mera Lida. This type of research is qualitative descriptive. The source of research data is 11 songs. The research data is in the form of words, phrases, sentences and verses. The research technique uses the techniques of reading, listening, and taking notes. The results of this study are: 1) The language styles found are; (1) comparative language styles include; metaphors, personifications, and antithesis. (2) The style of opposing language includes; hyperbole, litots, paradoxes, and sarcasm. (3) The style of the language of association includes; synecdoke, alusio, and euphymism. (4) Repetitive language styles include; assonance, anaphora, and epistrophae. The data in the study is marked by word markers, phrases, sentences, and stanzas. 2) The meaning of the lyrics of the Mera Lida album includes; (1) metaphorical comparative language styles, including; The metaphor is marked "Mumangani ate" meaning to eat the heart. It has the meaning of someone who experiences sadness or suffering. (2) The style of opposing language includes; sarcasm includes; "Ningko awah sabe mujelajah Antinamu kengon gere sawah. The lyrics have a meaning that expresses the thoughts of a person who is not "insane". (3) The style of the language of association includes; Synekdoke includes; in the lyrics "Nge gares ni pumu kao urum aku". The hand line has the meaning that it has been destined to be together. (4) Repetitive language styles include; Anaphora includes; lyrics "Ke naru pe tali sara we puncee Ke naru pe cerak sara mestikee". It has a meaning, even though there is a lot of talk, it is still one truth.
Kesantunan Berbahasa dalam Siaran Iklan RRI Samarinda: Kajian Pragmatik Asraini, Asraini; Wahyuni, Ian; Nugroho, Bayu Aji
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 7, No 2 (2023): Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v7i2.7290

Abstract

Salah satu aspek penting dalam berinteraksi dengan mitra tutur ialah penggunaan kesantunan berbahasa, khususnya dalam siaran iklan radio sebagai media elektronik yang digunakan dalam memperoleh informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk prinsip kesantunan berbahasa dan jenis tindak tutur kesantunan berbahasa yang terdapat dalam siaran iklan RRI Samarinda ditinjau dari pragmatik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini berupa tuturan penyiar dalam siaran iklan RRI Samarinda. Adapun sumber data penelitian, yaitu siaran iklan RRI Samarinda. Waktu penelitian yang digunakan dari bulan Desember tahun 2020 sampai Juli tahun 2021. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak, rekam, transkrip, dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis padan ekstralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk prinsip kesantunan berbahasa dalam siaran iklan RRI Samarinda, terdiri dari pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan. Bentuk pematuhan prinsip kesantunan yang ditemukan dominan dalam pematuhan maksim kebijaksanaan dan maksim permufakatan. Hal ini dikarenakan, siaran iklan RRI Samarinda berusaha untuk menginformasikan sesuatu kepada pendengar dan bermaksud agar pendengar menyetujui informasi yang disampaikan oleh penyiar. Sedangkan pelanggaran maksim yang ditemukan dominan dalam pelanggaran maksim penghargaan yang mengandung tuturan seperti mengkritik, menghina, dan merendahkan pihak lain. Kemudian, jenis tindak tutur kesantunan dalam siaran iklan RRI Samarinda, pada pematuhan maksim-maksim yang ditemukan ditandai dengan jenis tindak tutur representatif dengan maksud memberitahukan, menjelaskan, dan menyatakan. Sedangkan pelanggaran maksim yang ditemukan ditandai dengan jenis tindak tutur ekspresif dengan maksud mengkritik dan menghina.