Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Studi Numerik Pengaruh Aliran Aksial Terhadap Aliran Taylor Vortex Turbulent Dengan Perpindahan Kalor Assagaf, Iman Pradana A; Susanto, Hadi; Bachtiar, Marsellinus; Prasetiyo, Angger Bagus; Dahlan, Masbin; Sulfiana, Enni; Amaluddin, Muh Nurul Haq
Majamecha Vol. 6 No. 1 (2024): Majamecha
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/majamecha.v6i1.3249

Abstract

Pengaruh aliran aksial terhadap aliran Taylor Vortex Turbulent dengan perpindahan kalor  dengan teliti dengan menggunakan metode numerik. Parameter geometri pada penilitian dengan radius ratio 0, 714 dan aspect ratio 10 dengan bilangan Reynold melingkar  antara 2596 sampai dengan 9087, kemudian  Aliran aksial  dengan temperatur pada silinder dalam (Ti) yaitu sebesar 50 °C  dan temperatur silinder luar (To) adalah 90 °C . Hasil penelitian menunjukan bahwa Aliran turbulen dalam aliran Taylor-Couette dengan aliran aksial dicirikan oleh struktur vortex yang kompleks dan tidak beraturan. Koefisien perpindahan kalor  pada kondisi konveksi di sekitar silinder dalam lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sedangkan untuk silinder luar kondisi diam dengan no slip condition. Peningkatan torsi akibat putaran silinder dalam aliran dipengaruhi oleh sel-sel vortex dalam aliran turbulen, yang juga menyebabkan kenaikan torsi gesekan.
Analisis Perbandingan Kerugian Aliran Pada Pipa Jenis PVC dan Galvanis Dengan Menggunakan Elbow 90 Derajat Dahlan, Masbin; Duma, Gerard Antonini; Azis, Nasruddin; Assagaf, Iman Pradana A; Sulfiana, Enni; Amaluddin, Muh. Nurul Haq
Majamecha Vol. 6 No. 1 (2024): Majamecha
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/majamecha.v6i1.3262

Abstract

Pada suatu sistem perpipaan kerugian aliran (head losses) selalu terjadi. Kerugian aliran yang terjadi dalam pipa menyebabkan terjadinya pengurangan debit aliran. Hal ini, disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah kekasaran permukaan dinding pipa dan akibat adanya sambungan (fittings) pipa. Kekasaran permukaan dari dinding pipa tergantung dari jenis-jenis pipa yang digunakan, seperti pada pipa galvanis dan PVC keduanya memiliki nilai kekasaran permukaan yang berbeda, dimana pipa galvanis memiliki nilai kekasaran permukaan yang lebih besar. Pada pipa PVC dengan debit aliran 0,00027 m3/s menghasilkan total head losses terkecil bernilai 0,2438 m pada metode Hazen-Williams kemudian pada debit aliran 0,00047 m3/s  menghasilkan total head losses terbesar bernilai 1,4285 m pada metode Darcy-Weisbach. Pada pipa Galvanis dengan debit aliran 0,00027 m3/s menghasilkan total head losses terkecil bernilai 0,2623 m pada metode Hazen-Williams kemudian pada debit aliran 0,00047 m3/s  menghasilkan total head losses terbesar bernilai 2,4100 m pada metode Darcy-Weisbach. Sehingga hubungan antara debit aliran dengan kerugian aliran berbanding lurus dan kekasaran permukaan juga berbanding lurus dengan kerugian aliran. Kerugian aliran terbesar ada pada pipa Galvanis dengan debit aliran 0,00047 m3/s dan total head losses 2,4100 m di metode Darcy-Weisbach. Kerugian aliran terkecil ada pada pipa PVC dengan debit aliran 0,00027 m3/s dan total head losses 0,2623 m di metode Hazen-Williams.
Analisis Kekasaran Permukaan Hasil Permesinan CNC Milling Menggunakan Holder Face Mill dengan Insert SEET12T3-DF Sulfiana, Enni; Sukardin, Muh. Setiawan; Assagaf, Iman Pradana A; Dahlan, Masbin; Amaluddin, Muh. Nurul Haq; Hasan, Sahrul; AR, Fiqran Ramadhan
Majamecha Vol. 6 No. 1 (2024): Majamecha
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/majamecha.v6i1.3274

Abstract

Mesin CNC milling adalah mesin perkakas otomatis yang menggunakan sistem kontrol berbasis komputer. Tujuan penelitian ini adalah mengalisis secara visual kekasaran permukaan hasil permesinan CNC milling menggunakan holder face mill dengan insert SEET12T3-DF dengan variasi kecepatan potong dan kedalaman pemotongan. Pengujian dengan menggunakan tiga tingkatan parameter yang berbeda, yaitu parameter rendah, sedang, dan tinggi untuk membandingkan hasil kekasaran permukaan yang dihasilkan. Hasi penelitian menunjukan bahwa perbedaan kedalaman pemotongan mempengaruhi tingkat kekasaran permukaan, dengan permukaan yang lebih halus pada kedalaman pemotongan yang lebih kecil dan permukaan yang sedikit lebih kasar pada kedalaman pemotongan yang lebih besar. Namun, pada parameter tinggi, perbedaan kekasaran tidak terlalu signifikan, tetap memberikan hasil yang sangat halus.
Pengaruh Variasi Temperatur Pre-Heat Pada Pengelasan Resistance Spot Welding Terhadap Sifat Mekanik Stainless Steel AISI 304 Assagaf, Iman Pradana A; Prasetiyo, Angger Bagus; Pasolang, Novtricho Windy
Majamecha Vol. 6 No. 2 (2024): Majamecha
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36815/majamecha.v6i2.3538

Abstract

Perlakuan pre-heat yang kurang optimal dapat mempengaruhi sifat mekanik sambungan las pada material stainless steel AISI 304 yang dilas menggunakan pengelasan resistance spot welding. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh suhu pre-heat yang berbeda (130°C, 160°C, dan 190°C) terhadap kekuatan tarik, kapasitas beban maksimum, dan kekerasan pada sambungan las stainless steel AISI 304. Metode yang digunakan adalah pengelasan resistance spot welding pada material stainless steel AISI 304 dengan perlakuan pre-heat pada suhu yang ditentukan, diikuti dengan pengujian kekuatan tarik, kapasitas beban maksimum, dan kekerasan di daerah las, HAZ (Heat-Affected Zone), dan base metal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu pre-heat 160°C memberikan peningkatan sifat mekanik yang optimal, dengan kekuatan tarik meningkat 66% (78,98 Pa) dan kapasitas beban maksimum mencapai 1,974 kN. Suhu pre-heat 190°C justru menurunkan performa mekanis akibat overheating yang menyebabkan pembentukan butiran kasar. Hasil ini merekomendasikan rentang suhu pre-heat antara 130°C hingga 160°C untuk mencapai performa pengelasan yang optimal.
Analisis Cacat Las SMAW dengan Elektroda Berbeda Posisi 2G pada Baja ST 37 Metode FTA Assagaf, Iman Pradana A; Ariyanto, Ariyanto; Prasetyo, Angger Bagus; Fitrah, Muhammad Aqdar
IRA Jurnal Teknik Mesin dan Aplikasinya (IRAJTMA) Vol 4 No 3 (2025): Desember
Publisher : CV. IRA PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56862/irajtma.v4i3.334

Abstract

This study aims to analyze the types and causes of welding defects that occur during Shielded Metal Arc Welding (SMAW) using different electrodes in the 2G position on ST 37 steel. The research was conducted by students of the Diploma III Industrial Agro-Manufacturing Engineering Study Program at Politeknik ATI Makassar using both qualitative and quantitative approaches. A total of 10 welded samples were visually examined and tested using the liquid penetrant method to detect surface defects. The analysis employed the Fault Tree Analysis (FTA) method with a deductive approach to identify the top events representing major defect types, trace their root causes through the fault tree structure using AND and OR logic gates, and analyze the relationships among contributing factors. The results revealed five dominant defect types—spatter, stop-start, surface undercut, root concavity, and blow hole—which accounted for 61.7% of all detected defects. These defects were primarily caused by technical factors, including unstable arc control, improper welding angles and travel speeds, and poor cleanliness of electrodes and materials. Other defects, including root undercut, cold lap, excessive penetration, pin hole, and porosity, also affected weld quality. Based on the FTA findings, corrective actions were recommended, including operator retraining, proper parameter adjustment, equipment maintenance, and enhanced supervision to improve overall weld quality.