Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTEGRATIVE TAXONOMY AND FISHING SEASON OF SCOMBRINI-SARDINI (FAMILY: SOMBRIDAE) FISHERY CAUGHT AROUND LAMONGAN, EAST JAVA Wiadnya, Dewa Gede Raka; Anam, M Choirul; Yulianto, Eko Sulkhani; Paricahya, Akhsan Fikrillah; Hariati, Anik Martinah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 31, No 3 (2025): (September 2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.31.3.2025.138-147

Abstract

The world finfish database reports that Indonesia has more than 3,647 species of marine fish in the finfish category. Fisheries statistical data divides marine fishery catches into 92 species categories. It is very possible for one species category to be composed of more than 15 different taxonomic species. This research aims to analyze the composition of kembung-mackerel species as representatives of the small pelagic group, including the composition of catches in the Purse Seine and the peak fishing season. A total of 15 specimens in the mackerel fish category were sampled to trace morphological and genetic characters (COI region DNA analysis). Other fish were also searched for local names and morphological characters. A total of 744 Purse Seine catch data were monitored from three TPIs in Lamongan: Kranji, Labuhan, and Lohgung between February to July 2023. At the same time, monthly data compilations were also collected from January 2018 to May 2023. The results of DNA analysis found four identified species often reported as mackerel fish, are: Rastrelliger brachysoma, R. faughni, Scomber australasicus, and Sarda orientalis. These results are in accordance with the morphological characters of the keel (caudal peduncle), inter-dorsal region (between the first and second fins), finlets, and combination of ornaments in the dorsal and ventral regions. All these characteristics make it different from other members within the Scombrid family. Mackerel as a whole constitutes 37.1±24.2% of the total catch after tongkol (little-tuna). The peak mackerel fishing season starts from April to July, preceding the peak tongkol fishing season which starts from October to February the following year. Knowledge about this season is often used as a basis by fishermen to change the size of fishing gear, in adaptation to environmental conditions.
POSISI FILOGENETIK IKAN KOTES (Channa gachua (Hamilton, 1822)) DAN IKAN KUTUK (Channa striata (Bloch, 1793)) DARI JAWA TIMUR BERDASARKAN URUTAN DNA MITOKONDRIA CYTOCHROME C OXIDASE SUBUNIT I Kusuma, Wahyu Endra; Widyawati, Yuni; Dailami, Muhammad; Kholil, Kiki Nur Azzam; Paricahya, Akhsan Fikrillah; Sufaichusan, Ifa; Wiadnya, Dewa Gede Raka
Berita Biologi Vol 23 No 2 (2024): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/beritabiologi.2024.2733

Abstract

Ikan kotes (Channa gachua) dan ikan kutuk (Channa striata) adalah spesies dari famili Channidae yang tersebar secara alami di perairan Indonesia. Kedua spesies tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena beberapa alasan, yaitu sebagai sumber protein bagi masyarakat setempat, memiliki kandungan albumin yang penting bagi kesehatan manusia, serta belakangan ini menjadi populer sebagai ikan hias. Penelitian ilmiah dasar seperti studi filogenetik penting untuk dilakukan guna mendukung upaya domestikasi maupun konservasi. Di penelitian ini, kami melakukan koleksi spesimen C. gachua dan C. striata dari beberapa lokasi berbeda di Jawa Timur untuk menjelaskan posisi filogenetiknya di antara spesies lain dari genus Channa. DNA mitokondria gen sitokrom c oksidase subunit I (COI) dari satu perwakilan individu untuk setiap lokasi telah diurutkan dengan metode sequencing. Dalam melakukan analisis filogenetik, sekuens DNA untuk banyak spesies dari genus Channa diperoleh dari penelitian sebelumnya. Pohon filogenetik maximum likelihood menunjukkan bahwa individu C. striata dari Jawa Timur mengelompok bersama dan membentuk clade dengan nilai bootstrap yang sangat tinggi (100%). Sebaliknya, C. gachua dari Jawa Timur berkerabat jauh dengan C. gachua dari Jawa Barat dan Kanchanaburi, Thailand, dengan divergensi genetik yang tinggi dengan jarak genetik > 2%. Hasil ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa C. gachua merupakan spesies kriptik yang terdiri dari dua spesies atau lebih. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan, misalnya mengenai keragaman genetik, struktur populasi, dimana data dapat digunakan untuk merancang manajemen konservasi atau program pemuliaan yang efektif untuk kedua spesies tersebut.