Ritonga, Rika Amalia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 219 dan Surah Al- Maidah Ayat 90 tentang Larangan Zat Memabukkan dalam Perspektif Asbabun Nuzul Hariyati, Chindi Sri; Padang, Juliana Syarah; Nasution, Kurnia Shubuh; Ritonga, Rika Amalia; Damanik, Agusman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyalahgunaan narkoba dan zat merupakan permasalahan global yang mempunyai dampak besar terhadap kesehatan, kehidupan sosial dan stabilitas perekonomian masyarakat. Dalam konteks Islam, Al-Qur’an telah memberikan petunjuk mengenai larangan minuman yang memabukkan, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah, ayat 219 dan Surat Al-Maideh, ayat 90. Kedua ayat ini menekankan pentingnya menghindari khamr, yang pada waktu itu dikenal sebagai minuman yang memabukkan, sebagai salah satu bentuknya. Mencegah kerusakan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya kedua ayat tersebut dalam menangani permasalahan penyalahgunaan narkoba yang semakin marak di dunia modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis literatur, yaitu pengumpulan dan analisis berbagai terbitan serta tafsir yang menyertainya untuk memahami konteks ayat asbabun nuzul dan penerapan ajaran Al-Qur’an terhadap permasalahan tersebut. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pelarangan alkohol dalam Al-Quran tidak hanya didasarkan pada faktor agama, tetapi juga pada aspek sosial yang penting bagi konteks sosial saat ini. Ayat 219 Surat Al-Baqarah dan ayat 90 Surat Al-Ma’idah mengajarkan pentingnya kebijakan progresif untuk mengatasi masalah kecanduan narkoba melalui pendidikan moral dan kontrol sosial. Kesimpulannya, ajaran Al-Quran tentang larangan alkohol dapat menjadi rujukan bagi perancangan kebijakan pencegahan narkoba di Indonesia. Masyarakat dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan modern.
Perbedaan Orientalis dan Oksidentalisme Secara Geografis, Etnologis, Kultural, dan Metodologik Ramadhan, Muhammad Gilang; Ritonga, Rika Amalia; Arif, Muhammad Dasril; Sulidar, Sulidar
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/f6w2pr54

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis secara mendalam perbedaan antara Orientalisme dan Oksidentalisme berdasarkan empat aspek utama, yaitu geografis, etnologis, kultural, dan metodologik. Analisis ini dimaksudkan untuk menitikberatkan pada bagaimana kedua pandangan tersebut membentuk pola hubungan antara Timur dan Barat dalam memahami peradaban serta pengaruhnya terhadap perkembangan studi Alquran dan Tafsir. Orientalisme lahir di Barat dengan semangat ilmiah dan rasional yang sering kali disertai bias kolonial serta dominasi kultural. Sebaliknya, Oksidentalisme berkembang di Timur sebagai respons reflektif terhadap hegemoni Barat dengan menonjolkan nilai spiritualitas, keaslian budaya, dan keseimbangan intelektual. Pembahasan ini juga dihubungkan dengan nilai-nilai universal Alquran sebagaimana tercermin dalam QS. al-Ḥujurāt [49]:13, QS. ar-Rūm [30]:22, QS. al-Ḥadīd [57]:20, dan QS. an-Naḥl [16]:125 yang menegaskan pentingnya saling mengenal, menghargai perbedaan, dan berdialog dengan hikmah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan etnografi dan studi kepustakaan, melalui penelaahan literatur klasik dan kontemporer dari tokoh-tokoh seperti Edward Said, Hassan Hanafi, Seyyed Hossein Nasr, dan Ismail Raji al-Faruqi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Orientalisme menekankan objektivitas ilmiah dan analisis empiris dengan sudut pandang luar, sedangkan Oksidentalisme berupaya membangun pemahaman dari dalam yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Novelti atau keunikan analisis yang sangat signifikan ini terletak pada keterpaduan antara kajian akademik Orientalisme-Oksidentalisme dengan perspektif normatif Alquran, yang memandang perbedaan keduanya bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan dialog peradaban yang berkeadilan, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.